<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873</id><updated>2012-01-27T07:55:59.304-08:00</updated><category term='ESEI LITERASI'/><category term='RESENSI BUKU'/><category term='PROFIL'/><category term='Kiat Menulis Artikel'/><category term='TIPS MENULIS'/><category term='HELATAN LITERASI'/><title type='text'>KUBUKU BUKU</title><subtitle type='html'>Membaca Menebar Kekayaan Fikir dan Hati</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>146</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8866425234120496420</id><published>2012-01-08T20:01:00.002-08:00</published><updated>2012-01-17T00:12:26.144-08:00</updated><title type='text'>Tentang Buku Gempa Literasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-EEb_i-BkAKc/Twpn4pD-T8I/AAAAAAAAAUc/0PDwRz0o6dI/s1600/kover_gempa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-EEb_i-BkAKc/Twpn4pD-T8I/AAAAAAAAAUc/0PDwRz0o6dI/s200/kover_gempa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695478901556268994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: Gol A Gong dan Agus M. Irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreatifitas, ungkap almarhum Rendra, memiliki tiga syarat utama. Pertama adalah cinta kasih atau api peduli. Yang kedua, keterlibatan. Dan yang ketiga harus sesuai dengan nilai-nilai universal. Api peduli atau simpati itu penting. Tapi belum cukup. Ia baru merupakan potensi. Belum menghasilkan nilai (value) apapun sampai dengan ia mampu mengejawantahkan simpati itu menjadi empati. Berupa tindakan untuk melaksanakan atas segala sesuatu yang disebut kesadaran. Perpaduan antara kesadaran dan aksi ini ada juga yang menyebut komitmen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterlibatan yang mendalam akan menghasilkan—yang banyak disebut orang sebagai paradigma. Yaitu cara pandang seseorang mengenai kenyataan kehidupan serta pengalaman-pengalaman yang telah ia akrabi. Boleh jadi tiap kita menjalani jelujur waktu kehidupan dengan peran (role) sama. Misalnya sama-sama menjadi guru, dosen, jurnalis, pedagang, dan lain sebagainya. Namun saat diminta pendapat tentang apa yang dialami, tentu ceritanya akan lain-lain. Simpulan atas beragam pengalaman atas role yang sama itu akan beragam. Keberagaman simpulan itulah yang disebut paradigma.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Api peduli atau cinta kasih dan keterlibatan belumlah cukup. Keduanya harus sesuai dengan nilai-nilai universal. Wujud kontekstualnya macam-macam. Berupa kejujuran, sabar, pantang menyerah, sungguh-sungguh, dan sifat-sifat suci (noble) lainnya. Sublimasi atas ketiganya: cinta kasih, keterlibatan, dan nilai-nilai universial, oleh Rendra diikat ke dalam satu kalimat: Masuk ke dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Gempa Literasi ini, insyaAllah termasuk dalam sublimasi yang diutarakan Rendra tersebut. Bentuk dari cinta kasih dan keterlibatan kami di lapangan literasi. Kami mengartikan literasi sebagai keberaksaraan, dimana keaksaraan teknis menjadi salah satu pokok bahasannya—selain keaksaraan fungsional dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan dan perenungan atas apa-apa yang kami alami (transendensi aksi transformasi) di dunia literasi selalu menghasilkan sesuatu yang—kalau kami boleh sedikit hiperbolis—mencerahkan. Salah satu asnad atau bukti paling nampak, dan Anda dapat mendarasnya pula, adalah bentangan tema yang kami bicarakan. Literasi bukanlah semata-mata buku. Karena ia tidak hidup dalam ruang vakum udara, sebaliknya berjalin erat dengan kehidupan, bentangan pembicaraan tentang literasi pun menjadi dinamis, sedinamis kehidupan itu sendiri. Mulai dari dunia penerbitan, komunitas literasi, perpustakaan, kampanye membaca dan menulis, hingga isu perubahan sosial.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi tentu saja tema tentang buku itu sendiri, tetap menarik untuk kami hidangkan. Apalagi perkembangan industri perbukuan di Indonesia cukup menggembirakan. Dapat ditandai dari semakin banyaknya jumlah penerbit, strategi pemasaran buku, serta jumlah buku secara agregat (total/nasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, kami menghadirkan literasi dari dua sisi muka: konsepsi dan praksis. Sisi pertama memahamkan kita sekaligus memberikan pijakan yang erat tentang pentingnya melek literasi. Sisi ini juga memberikan panduan dan sistemasi (ikatan) atas perubahan dan perkembangan dunia literasi yang terjadi di Indonesia—yang dalam pandangan kami sudah memasuki generasi ketiga. Analisis yang kami berikan adalah analisis “lekuk siku kita”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengamati perkembangan literasi di Indonesia dengan pandangan yang berjarak. Keberjarakan ini penting, agar kami bisa dengan jernih memetakan persoalan, sekaligus merumuskan impian (cita-cita) atau solusi atas beragam persoalan tersebut. Dengan (sementara) berada di luar arena, kami juga bisa berlaku galak dalam memberikan kritik, karena tidak menjadi bagian dari persolan. Tidak mengalami konflik kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi mula ini juga mendedahkan kepada khalayak bahwa pentingnya membentuk masyarakat pembelajar (learner society) yang dilahirkan dari masyarakat pembaca (reader society) sudah tidak dapat dielakkan lagi. Sudah tidak ada celah lagi, terutama bagi pemegang kuasa politik (partai), birokrasi (pemerintah), budaya (masyarakat) untuk mengelak. Tidak menjadikan literasi sebagai prioritas utama ikhtiar melakukan rekayasa sosial—jika enggan menyebutnya sebagai pembangunan ke arah perbaikan dan kemajuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sisi muka pertama. Bagaimana dengan sisi muka yang kedua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah kedua dari buku ini adalah berupa contoh nyata bagaimana buku diupacarai, dan komunitas literasi merayakan buku. Kami lebih banyak menjadikan Rumah Dunia sebagai titik pijak. Entah ia sebagai Taman Bacaan Masyarakat, maupun sebagai Komunitas Literasi. Di Rumah Dunia kami melihat dan turut pula menjadi saksi kebenaran makna literasi yang dirumuskan Unesco sebagai kunci peningkatan kapasitas seseorang, dan memberikan banyak manfaat sosial, di antaranya cara berpikir kritis, partisipasi politik, serta meningkatkan kualitas kehidupan. Terutama ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks politik, pemilukada langsung misalnya, melek literasi (aksara budaya) itu berupa keberaksaraan politik. Yaitu kesanggupan untuk mendaras informasi, baik berupa teks maupun non teks di luar hal-hal yang bersifat teknis fungsional (profesi). Memungkinkan tumbuhnya kepedulian (empati), sikap kritis, sportif, dan kesediaan untuk turut ambil bagian dalam proses penyelesaian masalah-masalah kolektif—budaya demokrasi. Masyarakat akan mampu menggali, memilih dan memilah informasi, rumor, desas-desus, klaim politik. Melakukan cek, ricek, menganalisis informasi politik yang didapat, serta menggunakan itu semua sebagai pertimbangan sebelum menentukan satu pilihan, dari sekian banyak pilihan bentuk partisipasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat kepingan logam, dua sisi di atas sama-sama pentingnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan, alih-alih saling menegasi. Sebaliknya kehadiran keduanya saling menggenapkan dan membuat kepingan logam itu jadi bernilai. Kami berharap kepingan logam tersebut dapat sidang pembaca gunakan untuk memainkan “game” bernama gerakan Indonesia Membaca untuk Indonesia yang sejahtera dan bermartabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebab, kami menyebut buku ini sebagai buku sakti pegiat literasi. Karena kepingan logam itu memberikan pijakan kognitif, afektif, sekaligus praksis tentang dunia buku, perpustakaan, komunitas literasi, budaya membaca dan menulis, serta Taman Bacaan Masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan bentangan pembicaraan tentang literasi di buku ini ada 99 entry atau lema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa 99? Kok tidak digenapi saja menjadi 100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lebih senang menempatkan capaian kami saat ini sabagai sebuah perjalanan yang belum selesai. Ada banyak hal yang kami cita-citakan, dan itu belum tercapai.  Pengalaman dan temuan kami juga bukan sesuatu yang sudah final. Artinya seiring berjalannya waktu akan terus mengalami perubahan. Harap kami, tentu saja perubahan ke arah kemajuan. Kesadaran ini kami simbolkan dengan angka 99.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesempurnaan” buku ini sangat ditentukan oleh kesediaan Anda untuk mendayagunakan dan memanfaatkan informasi dan inspirasi yang kami semai di 99 esei. Angka tersebut bermakna undangan kami untuk Anda, para pembaca untuk menggenapi menjadi 100. Kedirian, kiprah, kesadaran yang diteruskan dengan aksi nyata, lantas Anda menuliskannya, itulah yang akan menggenapi temuan kami yang berjumlah 99 itu menjadi bilangan sempurna, seratus. Kesediaan Anda untuk bergerak dan ambil bagian dari rombongan besar pejuang literasi menjadi kesempuranaan buku ini. Kesempurnaan substansial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan kami, tulisan bukanlah semata-mata teks. Ia adalah anak rohani. Saat membaca tulisan, sejatinya kita sedang mendalami kedirian penulisnya. Paradigma berfikirnya. Kesadaran dan sikap laku hidupnya. Dan tiap diri itu diciptakan Tuhan dalam kondisi yang unik, khas, dan beda. Nah, pada titik itu, ungkapan bahwa tiap diri punya hak untuk menulis (buku) telah mendapati dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas pertanyaan pentingnya adalah: Dari mana datangnya kesadaran itu? Tentu dari sisi-Nya. Letak persoalannya ternyata bukan pada mereka, para penulis, yang lebih ahli ketimbang kita, para pembaca, sebagai orang awam. Tapi pada kesanggupan untuk senantiasa menganggap yang datang dari sisi Tuhan itu pasti bernilai besar. Tidak mengenal kata lumayan, apalagi hanya atau cuma. Menulis menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas karunia nikmat piranti hidup yang telah diamanahkan Tuhan kepada kita secara gratis (limpah, given).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan lema “Gempa” selain untuk menimbulkan efek kejut, juga bermakna konotatif. Selama ini lema “Gempa” selalu dilekati dengan pengertian yang buruk, merusak, dan menciptakan trauma. Kami mencoba “membebaskan” lema “gempa” tersebut dari makna buruk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, ungkap penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pengantar buku kumpulan puisinya: O Amuk Kapak. Bila kata-kata dibebaskan, lanjut Tardji, kreativitas pun dimungkinkan. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bingkai Kredo Puisi Tardji, Gempa Literasi bermakna proses penghancuran kesadaran magis dan naïf masyarakat akibat tuna baca—agar di kemudian hari berganti menjadi kesadaran kritis. Dan ajaibnya proses penghancuran itu berlangsung secara asyik dan menyenangkan: perayaan literasi! &lt;br /&gt;-----------------------------------------------&lt;br /&gt; :: Note di atas dicuplik dari Kata Pengantar buku Gempa Literasi: Dari Kampung untuk Nusantara. Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia; Harga Rp85ribu; Tebal buku 580-an Halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------&lt;br /&gt;Tertarik memiliki Bacaan Wajib Pegiat Literasi tersebut?&lt;br /&gt;Silakan email/SMS/inbox FB Nama Anda/Lembaga; Alamat; Nomor Telp dan HP serta Jumlah eksemplar pesanan. Total jumlah uang yang harus ditransfer dan nama BANK akan kami berikan saat buku sudah siap kirim. Jadwal terbit AWAL FEBRUARI 2012&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMESANAN&lt;/span&gt; bisa ke:&lt;br /&gt;E-mail: agus_irkham@yahoo.com&lt;br /&gt;HP: 0878 3228 5788 (agus irkham)&lt;br /&gt;------------------------------------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8866425234120496420?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8866425234120496420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2012/01/tentang-buku-gempa-literasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8866425234120496420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8866425234120496420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2012/01/tentang-buku-gempa-literasi.html' title='Tentang Buku Gempa Literasi'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EEb_i-BkAKc/Twpn4pD-T8I/AAAAAAAAAUc/0PDwRz0o6dI/s72-c/kover_gempa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2788305283289868672</id><published>2012-01-02T17:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T17:43:27.575-08:00</updated><title type='text'>Pembangunan Taman Bacaan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-_zUuMwMkWUc/TwJXfDVawwI/AAAAAAAAAUE/g1VTrUA0hfg/s1600/TBM_Oase_Baca.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-_zUuMwMkWUc/TwJXfDVawwI/AAAAAAAAAUE/g1VTrUA0hfg/s400/TBM_Oase_Baca.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5693209069932430082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang kami dirikan Taman Bacaan Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya punya lahan. Tidak luas. Hanya sekitar 5 x 25 meter berada persis di sebelah (barat) rumah saya. Saya dan istri berencana membangun ruang untuk taman baca/perpustakaan dan taman bermain. InsyaAllah peletakan batu pertama pembangunan Pekan Kedua Januari 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan taman baca ini adalah upaya kami membuka akses selebar-lebarnya kepada publik, terutama tetangga dan warga desa kami terhadap buku. Selama ini layanan baca dan pinjam berlangsung di rumah kami. Dan kami rasakan kurang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami undang kawan-kawan untuk ambil bagian dari gerakan literasi di tingkat lokal ini. Apapun. Baik itu berupa waqah Alat Permainan Edukatif (APE), buku, ide program, instruktur literasi, voucer belanja buku, majalah, komputer, LCD, rak buku, laptop, dana, bahan bangunan, maupun peliputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih,&lt;br /&gt;Agus M. Irkham&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;Taman Bacaan Masyarakat Oase Baca&lt;br /&gt;“Membaca Menebarkan Kekayaan Fikir dan Hati”&lt;br /&gt;Dusun Santren Rt. 02 Rw. 05 No. 50&lt;br /&gt;Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang&lt;br /&gt;Jawa Tengah 51281&lt;br /&gt;HP 0878 3228 5788 (Agus M Irkham)&lt;br /&gt;Email: oasebaca@gmail.com&lt;br /&gt;http://kubukubuku.blogspot.com/&lt;br /&gt;http://www.oasebaca.net/ (dalam pengerjaan)&lt;br /&gt;Bank Mandiri kcp Weleri norek. 136-00-0715405-4 an. Agus Muh. Irkham&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2788305283289868672?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2788305283289868672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2012/01/pembangunan-taman-bacaan-masyarakat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2788305283289868672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2788305283289868672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2012/01/pembangunan-taman-bacaan-masyarakat.html' title='Pembangunan Taman Bacaan Masyarakat'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_zUuMwMkWUc/TwJXfDVawwI/AAAAAAAAAUE/g1VTrUA0hfg/s72-c/TBM_Oase_Baca.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-1977583988591306972</id><published>2011-12-29T08:27:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T08:35:26.861-08:00</updated><title type='text'>Gempa Literasi: Langkah Kecil, Ubah Dunia!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-q7CN2Gia5yo/TvyWsiDK3LI/AAAAAAAAAT4/tPakkkLFKSg/s1600/Cover%2BGL%2Bbaru.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-q7CN2Gia5yo/TvyWsiDK3LI/AAAAAAAAAT4/tPakkkLFKSg/s200/Cover%2BGL%2Bbaru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691589720887975090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memberikan gambaran yang gamblang kepada kawan-kawan tentang gerakan GEMPA LITERASI, berikut saya dedahkan narasi helatan tersebut. Silakan dikreasi sesuai dengan potensi, dan kebutuhan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gempa Literasi: Langkah Kecil, Ubah Dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Manusia sebagai perseorangan mungkin bisa bertahan hidup tanpa membaca, tanpa berbudaya membaca. Namun sebuah demokrasi hanya akan berkembang, apalagi "survive", apabila para warganya adalah pembaca, dan individu-individu yang warganya merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar penggemar dan gemar berbicara." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1978-1983)—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tercipta dilingkupi dengan keterbatasan-keterbatasan. Baik Ilmu, informasi, ruang, dan waktu. Untuk menutup kekurangan itu, ia harus belajar. Dan salah satu sarana pembelajaran adalah buku. Di Indonesia aktivitas membaca buku indentik dengan aktivitas di sekolah dan saat kuliah. Padahal kalau dihubungankan dengan pengertian dasar belajar yang dirumuskan UNESCO (1945) haruslah seutuh usia (Life Long Learning).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Jadi kewajiban membaca buku itu tidak hanya pada usia sekolah dan kuliah tapi justru tahun-tahun sesudah itulah yang sangat menentukan.  Saat tidak lagi sekolah dan kuliah. Saat tidak lagi berada di lembaga pendidikan formal. Saat tidak lagi ada kewajiban membaca buku. Karena jika setelah usia belajar formal selesai, berhenti pula aktivitas membaca buku, lantas dari mana bahan ajar bisa didapat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah PR berat para pegiat komunitas literasi dan Taman Bacaan Masyarakat.  Yakni memberi kesadaran pada orang-orang yang sudah tidak lagi berada di usia belajar formal untuk terus membaca. Apalagi dalam kenyataannya pada masa seharusnya membaca saja, sementara kita jarang atau bahkan tidak baca, apalagi jika sudah masuk pada fase ”dibebaskan” dari kewajiban membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membaca sebagai media pembelajaran seumur hidup, membaca juga fitrah asasi setiap anak manusia. Kita semua lahir dibekali oleh yang namanya rasa ingin tahu atau curiosita. sebuah dorongan instingtif alamiah pemberian Tuhan yang harus dipenuhi. Sebagaimana makan untuk memenuhi rasa lapar, maka membaca adalah upaya untuk memberi makan kepada otak, dan jiwa kita agar tidak kelaparan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca, baik sebagai aktivitas maupun sebagai sebuah gerakan atau kampanye harus senantiasa diluncurkan. Baik di tingkat lokal (daerah) maupun di wilayah yang lebih luas lagi. Tujuannya sangat jelas, yaitu agar kesadaran tentang pentingnya kegiatan membaca terus tertanam di benak khalayak. Kesadaran yang di masa depan akan terejawantahkan menjadi beragam aksi bersifat kreatif, menumbuhkan, membangun, dan mengembangkan Indonesia ke arah yang semakin gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GEMPA LITERASI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah gerakan kebudayaan di tingkat lokal untuk Indonesia Membaca. Ini digagas oleh teman-teman pegiat literasi di seluruh Indonesia. Pada Ahad, 27 November 2011, di Bandung. Saat itu tak kurang dari 30 komunitas literasi yang tergabung di Forum Taman Bacaan  Masyarakat Indonesia mencanangkan penyulutan sumbu Gempa Literasi secara serentak di 33 titik provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tiap kota-kabupaten-provinsi menggunakan nama masing-masing. Misalnya “Banten Membaca”, “Padang Membaca”, “Batam Membaca”, “Lubuklinggau Membaca” dan seterusnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan lema “Gempa” selain untuk menimbulkan efek kejut, juga bermakna konotatif. Selama ini lema “Gempa” selalu dilekati dengan pengertian yang buruk, merusak, dan menciptakan trauma. Kami mencoba “membebaskan” lema “gempa” tersebut dari makna buruk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, ungkap penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam pengantar buku kumpulan puisinya: O Amuk Kapak. Bila kata-kata dibebaskan, lanjut Tardji, kreativitas pun dimungkinkan. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bingkai Kredo Puisi Tardji, Gempa Literasi bermakna proses penghancuran kesadaran magis dan naïf masyarakat akibat tuna baca—agar di kemudian hari berganti menjadi kesadaran kritis. Dan ajaibnya proses penghancuran itu berlangsung secara asyik dan menyenangkan: perayaan literasi!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menu Acara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ORASI LITERASI&lt;/span&gt; dari birokrat, tokoh panutan setempat, dan masyarakat umum (awam).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PANGGUNG EKSPRESI&lt;/span&gt; berisi pertunjukkan seni. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KLINIK LITERASI &lt;/span&gt;berupa pelatihan menulis, membaca kreatif, kewirausahaan dan pengelolaan taman bacaan-perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PESTA BUKU MURAH &lt;/span&gt;berwujud pameran buku.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;OBROLAN BUKU&lt;/span&gt; minimal dua kali: buku yang ditulis dari penulis lokal dengan penulis yang berasal dari luar daerah. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HIBAH BUKU &lt;/span&gt;berupa galang satu orang satu buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tujuan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mempopulerkan aktivitas membaca (dan menulis) di Indonesia.&lt;br /&gt;Menumbuhkan minat membaca, diskusi, cinta kehidupan dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Meningkatkan derajat kebutuhan masyarakat akan pustaka (perpustakaan).&lt;br /&gt;Mencerdaskan dan menerbitkan pencerahan kepada khalayak, khususnya para khalayak di lokasi Gempa Literasi dihelat. &lt;br /&gt;Menjadi wadah dan mensinergikan program antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dengan meningkatnya budaya baca masyarakat.  &lt;br /&gt;Memahamkan kepada khalayak luas bahwa aktivitas membaca dan menulis (literasi dasar) itu menarik dan asyik.&lt;br /&gt;Menciptakan ruang publik berupa acara perbukuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sasaran &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siswa Sekolah Dasar hingga SMA&lt;br /&gt;Mahasiswa&lt;br /&gt;Staf dan Karyawan Swasta&lt;br /&gt;Birokrat Pemerintah Daerah/Propinsi&lt;br /&gt;Warga umum&lt;br /&gt;Lembaga Swadaya Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waktu Pelaksanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gempa Literasi akan disulut pada SENIN 23 APRIL 2012 pukul 16.23 waktu setempat. Dan akan bergulir, sambung menyambung selama setahun penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendanaan – Penganggaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diserahkan sepenuhnya pada panitia lokal (wilayah masing-masing) dengan menggandeng seluruh stakeholders dan shareholders budaya membaca dan menulis untuk bermitra dan bahu membahu menyukseskan program Gempa Literasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Panitia Pelaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inisiator dan penggerak utamanya adalah para pegiat literasi (TBM Sejenis) dan Forum Taman Bacaan Masyarakat Pusat dan Wilayah. Baik kabupaten kota maupun provinsi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-1977583988591306972?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/1977583988591306972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/12/gempa-literasi-langkah-kecil-ubah-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1977583988591306972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1977583988591306972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/12/gempa-literasi-langkah-kecil-ubah-dunia.html' title='Gempa Literasi: Langkah Kecil, Ubah Dunia!'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-q7CN2Gia5yo/TvyWsiDK3LI/AAAAAAAAAT4/tPakkkLFKSg/s72-c/Cover%2BGL%2Bbaru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-1373686064351710752</id><published>2011-11-13T15:12:00.000-08:00</published><updated>2011-11-13T15:20:04.705-08:00</updated><title type='text'>MuDaers dan Optimisme Budaya Baca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-R1Pv-alBEEw/TsBQgB_mmwI/AAAAAAAAATs/cuUyVToUFvQ/s1600/logo-mudaers-aqua-versi-udimo.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 121px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-R1Pv-alBEEw/TsBQgB_mmwI/AAAAAAAAATs/cuUyVToUFvQ/s200/logo-mudaers-aqua-versi-udimo.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674624041708067586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompas melalui Kompas Muda mendapat penghargaan dari asosiasi surat kabar sedunia (WAN IFRA) untuk bidang public service dalam kategori World Young Reader Prize 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan diberikan oleh Jacob Mathew, President WAN IFRA, dalam acara “World Newspaper Congress” ke-63 dan “World Editors Forum” ke-18 di Vienna, Austria, Rabu (12/10/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam iktiradnya, juri menyebutkan, lewat salah satu kegiatannya yang melibatkan anak muda itu, Kompas ikut menarik perhatian kalangan muda pada pentingnya membaca dari usia dini. Ada dua cara yang dilakukan Kompas. Pertama melalui tulisan yang diterbitkan. Kedua, membangun komunitas perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan lewat program perpustakaan dan taman bacaan. Lewat perpustakaan dan taman bacaan, para kawula muda ini telah berbuat sesuatu yang nyata manfaatnya bagi masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya pembangunan perpustakaan dan taman baca tersebut bersifat partisipatif. Kompas melibatkan para volunter dan komunitas Kompas Muda bekerja sama dengan sejumlah pihak di delapan kota, yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, Denpasar, dan Medan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan itu telah membuat semakin banyak kalangan dapat membaca di berbagai tempat, tak hanya di perpustakaan yang resmi. Mereka bisa membaca di sekitar perumahan, di sekolah, sampai di museum sekalipun,” ujar juri dalam pertimbangannya, seperti dikutip Dr Aralynn Abare McMane, Executive Director Young Readership Development WAN IFRA.  (Kompas 13/10/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah MUDAers patut kita apresiasi. Bak oase. Apalagi di tengah meningkatnya “ketidakpercayaan” publik terhadap mereka. Mulai dari hasil survei perilaku seksual yang menghasilkan ikhtisar: moralitas anak muda merosot tajam, tata kerama yang kian lentur dan luntur, sikap asosial, tawuran pelajar, hingga soal rendahnya minat baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir disebut, berdasarkan temuan Programme for International Student Assessment-PISA (2009) menunjukkan skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia adalah 402. Artinya di bawah skor rata-rata negara Organization for Economic Cooperation and Development-OECD (493). Indonesia menempati peringkat ke 58 dari 65 negara peserta studi PISA 2009. Dengan begitu Indonesia berada di bawah Montenegro (408), Yordania (405), dan Tunisia (404). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, dari kabar penerimaan penghargaan di atas ada beberapa catatan kaki yang harus buru-buru saya bubuhkan.  Apa pasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama agar program perpustakaan dan taman tersebut terus berlanjut. Kedua, mampu mengembangkan program tambahan di perpustakaan dan taman bacaan sesuai dengan perkembangan kurun zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikon Budaya Pop&lt;br /&gt;Perkembangan dunia perbukuan dan gerakan membaca (buku) 4-6 tahun terakhir ini memang mengalami titik puncaknya. Semua merayakan buku. Toko buku tidak saja menjual, tapi kerap juga mengadakan acara perbukuan. Mulai dari peluncuran buku, bedah buku, hingga jumpa pengarang. Penerbit tidak mati gaya. Tiap tahun 3-4 pameran buku digelar.  Koran secara rutin juga menyediakan halamannya untuk memuat resensi , daftar buku baru, dan perkembangan yang berlangsung di dunia perbukuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penulis pemula dan muda—rerata berumur di bawah 27 tahun—juga terus bermunculan. Baik yang lahir dari proses individual maupun komunal.  Kini lebih kurang 2.000 judul buku terbit tiap bulannya. Beberapa buku menembus angka penjualan di atas 50.000 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca buku berhimpun dalam komunitas. Mereka saling bertukar informasi dan pengalaman membaca buku. Tak jarang, obrolan berujung pada kesepakatan membuat perpustakaan. Pemerintah, meskipun sering kali kalah langkah, turut pula memfasilitasi pendirian perpustakaan dan taman bacaan masyarakat (TBM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bertalian dengan perpustakaan dan taman bacaan (masyarakat)—keduanya saya sebut sebagai komunitas literasi—rupa-rupanya sekarang ini tidak semata-mata menjadikan buku sebagai pusat orbit kegiatan.  Para pegiatnya menjadikan ikon budaya pop (film, musik, jalan-jalan, game online) sebagai pintu masuk merayakan buku.  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi: www.udimo.blogspot.com&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-1373686064351710752?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/1373686064351710752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/mudaers-dan-optimisme-budaya-baca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1373686064351710752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1373686064351710752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/mudaers-dan-optimisme-budaya-baca.html' title='MuDaers dan Optimisme Budaya Baca'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-R1Pv-alBEEw/TsBQgB_mmwI/AAAAAAAAATs/cuUyVToUFvQ/s72-c/logo-mudaers-aqua-versi-udimo.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6899255132842809052</id><published>2011-11-03T08:44:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T09:21:05.552-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Menulis Artikel Melalui Email dan Facebook</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-b9rV8Y3iax0/TrK-wCQC1QI/AAAAAAAAATg/Bnw8QQ_ySlg/s1600/DREAM.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-b9rV8Y3iax0/TrK-wCQC1QI/AAAAAAAAATg/Bnw8QQ_ySlg/s400/DREAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670804613260039426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENGANTAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak ikhtiar yang tengah saya tempuh untuk menghimpun dana--pembebasan lahan seluas 900m2 di Desa Lebo, Kec. Gringsing, Kab. Batang, Jawa Tengah--yang akan saya manfaatkan untuk Taman Bacaan Masyarakat. Salah satunya adalah melalui pelatihan ini. Delapan puluh persen (80%) dari biaya pelatihan yang dikeluarkan peserta akan digunakan sepenuhnya untuk proses pembebasan lahan tersebut. (Agus M. Irkham). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MENGAPA MELALUI EMAIL DAN FB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak dibatasi wilayah geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya, tenaga dan waktu jauh lebih murah, efisien dan hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memungkinkan penanganan tiap individu peserta secara personal. Sesuai dengan keunikan diri masing-masing peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKTIVITAS PESERTA PELATIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirimkan tulisannya dalam bentuk ESEI/OPINI/ARTIKEL ke pembimbing: agus_irkham@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKTIVITAS PEMBIMBING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membaca tulisan para peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat catatan atau komentar-komentar pendek yang dibubuhkan langsung pada tulisan yang dikirim oleh peserta pelatihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengirim kembali naskah yang telah diberi saran/komentar tersebut kepada peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan tips dan trik pengiriman tulisan ke media/penerbit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WAKTU PELATIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu pelatihan, minimal selama 1 bulan, maksimal sampai dengan tulisan peserta dimuat di media massa offline (kertas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMBIMBING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agus M. Irkham&lt;br /&gt;Penulis; Instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca; Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lengkap, silakan mampir ke blog saya http://kubukubuku.blogspot.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;INVESTASI PROGRAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rp500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa ditransfer ke BANK MANDIRI kcp. WELERI 136-00-0715405-4 an. Agus Muh. Irkham. Setelah transfer mohon konfirmasi. By email atau SMS/telp ke nomor HP saya 0878 3228 5788&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta mengirimkan biodata diri ke agus_irkham@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KUOTA JUMLAH PESERTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maksimal 20 ORANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KURIKULUM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar kurikulum dibagi ke dalam tiga kategori: MOTIVASI, TEKNIS dan TIPS (trik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JADWAL KEGIATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PENDAFTARAN 3 - 10 NOVEMBER 2011&lt;br /&gt;PELATIHAN 12 NOVEMBER - 12 DESEMBER 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TARGET PELATIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peserta menghasilkan tulisan yang siap kirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan peserta dimuat di media massa. Minimal di tingkat regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam waktu 1 bulan semenjak pelatihan dimulai, tidak ada satu pun tulisan yang dimuat, waktu pelatihan akan diperpanjang sampai dengan dimuat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6899255132842809052?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6899255132842809052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/pelatihan-menulis-artikel-melalui-email.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6899255132842809052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6899255132842809052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/pelatihan-menulis-artikel-melalui-email.html' title='Pelatihan Menulis Artikel Melalui Email dan Facebook'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-b9rV8Y3iax0/TrK-wCQC1QI/AAAAAAAAATg/Bnw8QQ_ySlg/s72-c/DREAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-4292246744431692158</id><published>2011-11-01T19:48:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T20:01:52.734-07:00</updated><title type='text'>Mudahnya Menerbitkan Buku</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LqPPRgJCDVQ/TrCxxLi_CEI/AAAAAAAAATU/MF5HJwXTQII/s1600/nulis_BISA.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LqPPRgJCDVQ/TrCxxLi_CEI/AAAAAAAAATU/MF5HJwXTQII/s400/nulis_BISA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670227389330688066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-4292246744431692158?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/4292246744431692158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/mudahnya-menerbitkan-buku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4292246744431692158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4292246744431692158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/mudahnya-menerbitkan-buku.html' title='Mudahnya Menerbitkan Buku'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LqPPRgJCDVQ/TrCxxLi_CEI/AAAAAAAAATU/MF5HJwXTQII/s72-c/nulis_BISA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6172008289958756015</id><published>2011-11-01T19:29:00.000-07:00</published><updated>2011-11-01T19:38:09.174-07:00</updated><title type='text'>Minat Baca Remaja Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-o6-5gnkyxfg/TrCsQ7D8YQI/AAAAAAAAAS8/AdNhst9ETx4/s1600/library.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-o6-5gnkyxfg/TrCsQ7D8YQI/AAAAAAAAAS8/AdNhst9ETx4/s200/library.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670221337591570690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperingati Hari Aksara Internasional yang dirayakan-tunda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta pada 21 Oktober 2011, marilah kita menengok kemampuan keberaksaraan remaja kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Programme for International Student Assessment/PISA (2009) menunjukkan skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia adalah 402, di bawah skor rata-rata negara Organization for Economic Cooperation and Development (493). Indonesia menempati peringkat ke-58 dari 65 negara peserta studi PISA 2009. Dengan begitu, Indonesia berada di bawah Montenegro (408), Yordania (405), dan Tunisia (404). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berdasarkan studi PISA dari enam tingkatan (level) kemampuan membaca, dan menghubungkan satu atau banyak informasi, baik yang bertalian maupun bertentangan, lebih dari 50 persen siswa Indonesia berada pada level ke-2. Adapun kemampuan menafsirkan dan memadukan informasi skornya hanya 399 atau peringkat ke-56 dari 65 negara. Bagaimana dengan tingkat kemampuan memadukan atau menginterpretasikan informasi? Lebih parah lagi. Lebih dari 50 persen siswa Indonesia menempati peringkat di bawah level ke-2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil temuan PISA tidak berlebihan. Simpulan itu saya sandarkan, misalnya pada kecenderungan turunnya nilai ujian nasional bahasa Indonesia, baik pada siswa sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Pada 2006, rerata nilai UN bahasa Indonesia pada siswa SMP adalah 7,46, pada 2007: 7,39, dan pada 2008: 7,00. Adapun siswa SMA pada 2006: 7,40, pada 2007: 7,08, dan pada 2008: 6,56. Bahkan, ironisnya, rerata nilai bahasa Indonesia justru lebih rendah dibanding bahasa Inggris. Dan tidak sedikit pula siswa yang tidak lulus karena jatuh di nilai pelajaran bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab tingkat kemampuan membaca remaja Indonesia rendah, menurut PISA, adalah kemampuan membaca yang sudah dimiliki jarang dipraktekkan (digunakan). Dan benar saja, berdasarkan beberan perangkaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik, persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar dan majalah pada 2003 sebesar 23,7 persen. Turun menjadi 18,94 persen pada 2009. Adapun persentase penonton televisi meroket tajam. Pada 2009 sudah mencapai 90,27 persen, sedangkan pada 2003 "baru" berada di kisaran 84,94 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut laporan studi PISA, remaja dari berbagai kalangan, termasuk dari latar belakang ekonomi yang paling kurang mampu sekalipun, dapat lebih cemerlang daripada teman-teman sebaya mereka yang lebih kaya jika mereka secara teratur membaca buku, surat kabar, dan jenis bacaan lainnya di luar sekolah (Ella Yulaelawati, 2011). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lain mengapa kemampuan membaca remaja kita rendah, yang berarti linear dengan minat membaca buku yang rendah pula, adalah pesona simulasi pertandaan yang ditimbulkan oleh Internet dan telepon seluler--keduanya kini terintegrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, game online sudah diakrabi tak kurang dari 30 juta orang--yang tentu saja didominasi oleh kelompok umur muda atau remaja. Pengguna PlayStation 25 juta orang. Pengguna Facebook 38 juta orang, yang artinya peringkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat. Pengguna Twitter 5,1 juta orang (peringkat ke-2 setelah Jepang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengguna telepon seluler pada 2007 sebanyak 58 juta orang. Pada 2010 sudah menembus angka 180 juta orang. Dari total pengguna Internet di dunia, proporsi Indonesia pada 2006 sekitar 2,6 persen, dan naik menjadi 8,7 persen pada 2009. Artinya, secara absolut, selama tiga tahun naik lebih dari 300 persen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja deretan paparan di atas tidak serta-merta seluruhnya menghasilkan gelapnya masa depan budaya baca di Indonesia. Perkembangan Internet dan gadget justru membuka terobosan baru modus penumbuhan minat baca dan menulis pada para remaja. Persis karakteristik mereka sebagai generasi Platinum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Platinum, kata Bambang Trim (2011), memiliki karakteristik tumbuh bersama website, blog , dan media sosial. Mereka juga memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi, serta memiliki kemampuan lebih dalam pengembangan diri serta cepat akrab dengan teknologi tinggi. Selain itu, mereka punya potensi sebagai produsen, kreator, dan inisiator. Dan tak kalah penting, terkadang mereka lebih cerdas daripada yang kita duga. &lt;br /&gt;Wujud aktualnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IndoHogwarts adalah komunitas penggemar Harry Potter yang beranggotakan mayoritas anak usia SMP dan SMA. Mereka membangun sebuah sistem game online berupa permainan karakter dalam bentuk tulisan (berbasis teks). Harry Potter hanya digunakan sebagai pintu masuk, setelah itu mereka tinggalkan. Persis bunyi tagline mereka:empowering, netwriting and get value .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IndoHogwarts, peraih Anugerah Literasi World Book Day Indonesia 2009, merupakan representasi komunitas literasi generasi ketiga yang naga-naganya akan mendominasi bentuk dan arah gerakan budaya baca di masa mendatang. Tak terkecuali gerakan membaca yang diprakarsai oleh Taman Bacaan Masyarakat (TBM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TBM tidak berada dalam ruang vakum udara. Ia senantiasa berkait-jalin dengan kenyataan kehidupan. Karena itu, ia mesti bersifat pegas pula terhadap perubahan zaman. Salah satu bentuk kelenturan itu adalah kesediaan dan kesigapan TBM mengadopsi pola serta modus ikon budaya pop ke dalam aktivitas program membaca. TBM, mau tidak mau, suka tak suka, mesti masuk ke model gerakan membaca generasi ketiga. Gerakan membaca yang mampu menindih perkembangan teknologi informasi dan pergeseran adab masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Termuat di Koran Tempo, Sabtu, 22 Oktober 2011--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6172008289958756015?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6172008289958756015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/minat-baca-remaja-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6172008289958756015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6172008289958756015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/11/minat-baca-remaja-kita.html' title='Minat Baca Remaja Kita'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-o6-5gnkyxfg/TrCsQ7D8YQI/AAAAAAAAAS8/AdNhst9ETx4/s72-c/library.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8972864972461915257</id><published>2011-10-30T16:52:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T16:58:04.740-07:00</updated><title type='text'>Menggelindingkan Mimpi!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-MYO-sOgdecg/Tq3kR2tWD7I/AAAAAAAAASs/j7i5Ch2z1tk/s1600/Bakal_taman_baca.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-MYO-sOgdecg/Tq3kR2tWD7I/AAAAAAAAASs/j7i5Ch2z1tk/s400/Bakal_taman_baca.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669438501323935666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran dorongan yang kuat dari teman-teman pegiat taman baca, maka mulai hari ini--mimpi ini saya gelindingkan ke publik luas--yaitu membangun pusat belajar masyarakat melalui Taman Bacaan. Rumah inilah yang tengah saya incar untuk saya jadikan Taman Bacaan. Saya akan beri nama TBM OASE BACA--nama yang pernah saya gunakan sebagai label Toko Buku Independen dan Perpustakaan Komunitas di Semarang--saat saya masih kuliah di UNDIP, 8 tahun silam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Luas rumah + tanah kurang lebih 900m persegi. Terletak tidak jauh dari belakang rumah saya--sekitar 200m. Tepatnya di Dusun Lebo Wetan, Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Letaknya sangat strategis, dekat jalan utama desa dan masjid. Dan coba lihat, luas halaman dan rumput hijaunya--wuih tak kebayang anak-anak bakal senang sekali "merumput" di situ. Saat saya temui pemilik rumah, ditawarkan Rp250juta. Saya tawar Rp200juta. Dikasih. Deadline Maret 2012.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membersamai mimpi ini, secara khusus saya menulis buku berjudul &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GEMPA LITERASI: Dari Kampung untuk Nusantara&lt;/span&gt; (Dalam proses penimbangan akhir di penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, diperkirakan tebalnya 600 halaman) saya tulis bersama Gol A Gong berisi 99 Esei Bergizi tentang Buku, Perpustakaan, Komunitas Literasi, Budaya Baca-Tulis, dan Taman Bacaan Masyarakat. Keseluruhan royalti buku ini akan saya gunakan untuk membebaskan tanah di atas. Buku tersebut kami maksudkan sebagai buku referensi pegiat budaya baca. Karena tidak saja membahas persoalan budaya baca dari segi kognisi (informasi-pengetahuan) tapi juga dari sisi motivasi dan pratik di lapangan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mohon doa dan dukungan dari kawan-kawan.&lt;br /&gt;Jika berkenan mendonasikan sebagai dari rezeki Anda bisa ditransfer ke:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BANK MANDIRI kcp WELERI-KENDAL&lt;br /&gt;NOREK: 136-00-0715405-4&lt;br /&gt;Atas Nama AGUS MUH. IRKHAM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau norek istri saya:&lt;br /&gt;BANK BCA kcp KATAMSO, YOGYAKARTA&lt;br /&gt;NOREK: 445-064-0391&lt;br /&gt;Atas Nama SITI JAZIMAH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah transfer mohon konfirmasi melalui SMS atau TELPON&lt;br /&gt;ke 0878 3228 5788 (agus irkham) atau 08179 522 880 (Siti Jazimah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TERIMA KASIH, Salam literasi!&lt;br /&gt;Agus M. Irkham&lt;br /&gt;E-mail: agus_irkham@yahoo.com&lt;br /&gt;Twitter: @agusirkham&lt;br /&gt;FB: agus m irkham&lt;br /&gt;Blog: http://kubukubuku.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8972864972461915257?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8972864972461915257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/menggelindingkan-mimpi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8972864972461915257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8972864972461915257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/menggelindingkan-mimpi.html' title='Menggelindingkan Mimpi!'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MYO-sOgdecg/Tq3kR2tWD7I/AAAAAAAAASs/j7i5Ch2z1tk/s72-c/Bakal_taman_baca.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-56525294166850036</id><published>2011-10-18T15:32:00.000-07:00</published><updated>2011-10-18T15:41:08.551-07:00</updated><title type='text'>Menulis Sejarah Kampung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-C5aPw4Oqz3Y/Tp3_-lPpzAI/AAAAAAAAASQ/8bahXUq4JBU/s1600/Ngeteh-di-Patehan_COVER.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 201px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-C5aPw4Oqz3Y/Tp3_-lPpzAI/AAAAAAAAASQ/8bahXUq4JBU/s320/Ngeteh-di-Patehan_COVER.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664965356916689922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Judul Buku&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Ngeteh di Patehan, Kisah Beranda Belakang Keraton Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penulis/Periset &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alimudin Daing; Devi Dean Aw; Iffah Karimah; Ikrar Pribadiansyah; Jaya Adi Praptama; Nurhidayah; Nurul Khusnah; Satya Putranto; Tri Dewi Kartini; Teta Fathiyah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Supervisi&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Muhidin M. Dahlan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koordinator Riset&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Faiz Ahsoul&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penerbit&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Indonesia Buku, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cetakan Pertama &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2011&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tebal &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;520 halaman, termasuk indeks&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harga&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;Rp100.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah adalah biografi orang-orang besar. Berisi beberan peristiwa luar biasa. Heroik. Mengharu biru. Tidak saja penuh leleran keringat, tapi juga darah yang tertumpah. Ada yang kalah, ada pula yang menang. Ada menguat dan menjadi ingatan umum, ada pula yang melemah dan seterusnya pupus. Begitu makna sejarah yang dimengerti oleh sementara kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, tiap diri berhak menuliskan sejarahnya masing-masing.  Tiap orang berhak membubuhkan catatan kaki atas segenap peristiwa yang dialami. Baik pengalaman yang bersifat material—pengalaman yang diperoleh karena perpindahan wadag, maupun yang bersifat perenungan, pemahaman, dan persepsi. Tak terkecuali sejarah kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak buku yang mengulas Yogyakarta. Dan satu lema atau entri yang tidak pernah luput dari pembahasan adalah keraton. Di Yogyakarta keraton tidak saja menjadi tetenger fisik tapi juga simbol budaya. Hanya saja ada yang kurang dari berderet buku yang mengulas keraton Yogyakarta. Yaitu selalu menjadikan “beranda depan” keraton sebagai tema utama dan keseluruhan, sementara “beranda belakang” luput dari pandangan. Sehingga pemahaman khalayak pembaca terhadap keraton Yogyakarta tidak lengkap. Yang muncul kemudian adalah wacana tunggal (mainstream) atas penjelasan sosio-etnografis keraton Yogyakarta. Keraton tercerabut dari akar sosial di mana situs bersejarah tersebut berlokasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang menulis sejarah kampong Patehan, pada mulanya adalah soal kesadaran, tulis Muhidin M Dahlan di lembar kata pengantar, kesadaran memberi makna dan perspektif baru di mana warga berpijak, bernafas, dan melakukan kerja rutinnya tiap hari. (Hlm. 15). Menjadi salah satu media yang berpamrih menggali potensi yang ada di sekitar kita sekaligus mengenali, mempelajari, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai lokal sebagai identitas diri. (Hlm. 443) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patehan terletak di sebelah barat Alun-Alun Selatan. Kampung ini secara administrasi dibagi menjadi empat kampong kecil. Meliputi Patehan, Nagan, Ngadisuryan, dan Taman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patehan berasal dari bahasa Jawa yang artinya “the” atau “penyedia teh”. Mendapat perfek “pa” dan mendapat suviks “an”. Artinya bukan setiap hari membuat teh. Bukan berasal dari kata “Patih” seperti asumsi kebanyakan orang selama ini. (hlm 28 dan 461). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keterangan lesan Faiz Ahsoul—koordinator riset buku ini sekaligus penulis lembar penutup yang memuat cerita di balik penulisan Ngeteh di Patehan— saat bertemu dengan saya di Banten akhir September lalu, menjelaskan paling kurang ada lima tujuan dari program menulis sejarah kampung ini. Pertama—saya tulis secara verbatim—memberdayakan warga sebagai subjek yang otonom memberikan makna baru bagi kampung mereka, baik dalam segi sejarah maupun potensi-potensi yang ada dalam kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengampanyekan tradisi membaca dan menulis sejarah sebagai bagian dari kehidupan kolektif masyarakat yang memiliki multifungsi dan bisa dipelajari dalam proses belajar bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memberi kesempatan pada generasi sebuah zaman dalam komunitas warga untuk memberikan kontribusi positifnya, khususnya bagi penggalian, pengolahan, maupun pandangan masa depan atas sebuah masyarakat. Dengan demikian diharapkan tumbuh cara berfikir historis (manusia yang berkesadaran sejarah).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, melestarikan kearifan lokal dengan mendokumentasikan peristiwa dan komponen sejarah lainnya melalui media tulisan (buku). Kelima, masyarakat bisa membandingkan kegagalan dan keberhasilan masa lalu kampungnya dengan situasi kekinian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linear dengan judulnya, buku ini memuat sisik melik bertalian dengan Kampung Patehan. Mulai dari asal usul yang memuat sejarah nama kampung serta meneruka jejak cerita di balik setiap artefak  bersejarah. Mulai dari Alun-Alun Kidul, Siti Hinggil, Pesanggrahan Taman Sari, Pojok Benteng Kulon, Joglo Lawak, Kemagangan hingga Plengkung Nirbaya (hlm 23-60). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagina ke-91 hingga 165 buku ini menguak hal ihwal Sistem Sosial. Secara khusus Sistem Sosial membabar soal Bahasa, Sistem Teknologi, Sistem Pengetahuan, Sistem Ekonomi, Sistem Religi, dan Organisasi Sosial. Tentang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Ekonomi Kreatif, mulai dari makanan tradisional, obat-obatan, kerajinan, kesenian hingga permainan anak-anak dapat didaras pada lembar 81 s.d. 303. Tak kalah memikat, buku yang dicetak dengan bentuk dan kualitas yang eksklusif ini, juga memuat peta komunitas yang ada di Patehan. Ada banyak beragam komunitas. Baik komunitas literasi (taman baca, media), hobi (memancing, bersepeda), seni (karawitan) maupun kelompok umur (lansia, bala muda taman). Keseluruhan ada 28 komunitas (hlm 317-380). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebab lema komunitas ini perlu dibabar secara khusus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas adalah kumpulan atau himpunan orang yang peduli satu sama lain lebih dari yang semestinya. Relasi atau pertalian yang berlangsung antar eksponennya bersifat pribadi, erat, dan emosional. Biasanya mereka dipersatukan oleh kesamaan hobi, kepentingan dan nilai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan komunitas ibarat potongan-potongan puzzle yang jika disusun akan membentuk satu gambar utuh. Gambar utuh dalam konteks sejarah kampung adalah menyangkut sistem norma, kekerabatan , sistem sosial, religi, dan ekonomi. Termasuk untuk menyimpulkan kecenderungan warganya dalamnya menggunakan waktu senggang (leisure time).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, pada bab terakhir, memuat tokoh-tokoh “pembuat sejarah” di Kampung Patehan. Pamrihnya hanya satu, peran tiap tokoh tersebut dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi selanjutnya. Sekaligus menegaskan pula bahwa tiap diri punya hak untuk menuliskan atau dituliskan sejarah jelujur kiprah hidupnya.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-56525294166850036?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/56525294166850036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/menulis-sejarah-kampung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/56525294166850036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/56525294166850036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/menulis-sejarah-kampung.html' title='Menulis Sejarah Kampung'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-C5aPw4Oqz3Y/Tp3_-lPpzAI/AAAAAAAAASQ/8bahXUq4JBU/s72-c/Ngeteh-di-Patehan_COVER.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-7587397772562696375</id><published>2011-10-01T06:39:00.000-07:00</published><updated>2011-10-01T06:44:47.364-07:00</updated><title type='text'>TBM, dari Membaca ke Menulis</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;--termuat di Koran Tempo, Selasa 27 September 2011--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang silap. Berbilang komunitas baca mengkampanyekan pentingnya kegiatan membaca (buku) tapi tidak disertai pula dengan pengaksentuasian budaya menulis. Bahkan di kalangan para pegiatnya sekalipun, keprigelan menulis kerap menjadi nomor sepatu—dalam prioritas penguasaan keterampilan yang harus dimiliki. Tak terkecuali para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Mereka asyik mengumpulkan dan meminjamkan buku, mengajak khalayak membaca buku, menggelar beragam acara, tapi giliran diminta menuliskan beberan aktivitas literasi itu mereka tertatih-tatih. Jarak otak dan tangan laksana ratusan kilometer.  Meski satu tulisan, lama sekali dirampungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TBM merupakan salah satu program aksi peningkatan dan pengembangan budaya baca. Program ini digagas sebagai bentuk sikap afirmatif pemerintah Indonesia terhadap Prakarsa Keaksaraan untuk Pemberdayaan (Literacy Initiative for Empowerment-LIFE) canangan UNESCO. Harapan terjauh dari keberadaan TBM adalah menumbuhkan minat, kecintaan, serta kegemaran membaca dan belajar masyarakat, sehingga dapat memperkaya pengetahuan, wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, pemahaman norma dan aturan, sekaligus juga dalam hal pemberdayaan masyarakat. (Dikmas, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan akhir 2010, secara nasional tak kurang ada 4.700-an TBM. Dalam bingkai berfikir yang simplistis berarti tak kurang ada 4.700 orang—asumsi paling pahit, satu TBM dikelola oleh satu orang—yang berpotensi untuk menjadi pemasar budaya membaca melalu aktivitas menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan “gempa” literasi yang bakal terjadi jika 4.700 pengelola TBM tersebut secara rutin menulis—taruhlah minimal sepekan sekali—dan tulisan itu diterbitkan di media. Baik dalam cakupan lokal, regional, maupun nasional. Tentu lema keberaksaraan (baca tulis) akan menjadi entry berita  yang patut diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi menulis adalah “membaca dua kali”, demikian bunyi nubuat para munsyi. Dengan begitu, para pengelola TBM sejatinya telah memiliki modal penting untuk memasuki dunia menulis, yaitu  api peduli atau kecintaan terhadap aktivitas membaca serta keterlibatan mereka dalam gerakan budaya membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna memberikan bekal transformasi bagi pengelola TBM, dari pembaca ke penulis, kami, Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat (PP FTBM) mulai Rabu-Jumat (21-23/9) menyelenggarakan pelatihan menulis bagi pengelola TBM. Ada 25 peserta dari 20 propinsi. Pelatihan berlangsung di Kota Serang, Banten. Berderet nama-nama yang memiliki kompetensi tinggi di bidangnya kami hadirkan untuk memberikan materi kepada peserta. Mulai dari Ali Muakhir, penulis buku bacaan anak yang sangat produktif. Tak kurang 300 judul buku telah ia tulis, hingga pada tahun 2010 diganjar MURI sebagai penulis bacaan anak paling produktif se-Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi, Faiz Ahsoul, pegiat TBM Gelaran Ibuku Jogya yang telah sukses menggelar program Belajar Bersama Menulis Sejarah Kampung (BABERSKU). Sebuah program yang bertujuan menarik minat membaca dan menulis warga (kampung) dalam satu helaan nafas (berbarengan).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pula wartawan Koran Tempo, yang secara khusus memberikan materi tentang bagaimana menulis kolom, terutama yang tujukan untuk diterbitkan di media cetak. Menariknya, di sesi ini, dibahas pula saban esei yang telah peserta tulis sebelumnya. Kami menamainyai sesi itu sebagai sesi pembengkelan karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek akhir dari pelatihan ini adalah para peserta kami minta untuk merevisi kolom mereka. Dan dua minggu kemudian dikirim kembali, untuk kami seleksi dan terbitkan menjadi satu buku utuh berisi kumpulan kolom tentang budaya membaca, menulis dan kiprah mereka di masing-masing TBM &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan ini bertujuan memberikan asupan pengetahuan, dorongan motivasi, sekaligus segi-segi teknis menulis bagi para pengelola TBM. Tentu saja kami tidak sedang meminta mereka untuk menjadi penulis atau pengarang. Tapi keterampilan menulis akan semakin mengefektifkan upaya untuk menyebarkan “virus” budaya baca pada khalayak luas. Termasuk menciptakan bacaan sendiri. Jadi para pengelola TBM tidak akan selamanya menjadi konsumen teks (bacaan, buku) tapi mampu pula menciptakan alternatif bacaaan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna (pengunjung TBM). Bisa berupa bulletin, newsletter, majalah, bahkan buku sekalipun. Jadi ada transformasi dari konsumen bacaan ke produsen bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis juga akan menciptakan kesadaran baru pada tingkat yang lebih tinggi. Dengan begitu, karir kemanusiaan—dari sisi kejiwaan—akan meningkat. Seperti yang diungkapkan Karlina Supelli (1999)—mengafirmasi pendapat Virginia Woolf—cara terbaik untuk membaca adalah dengan (juga) menulis. Dengan menulis, seorang mencoba bereksperimen dengan bahaya kata-kata dan kesukarannya. Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan penalaran individual, pemikiran kritis yang independen, pembangkit kepekaan terhadap kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan menulis juga akan memperkuat kapasitas individu—pengelola, yang pada gilirannya akan memperkuat pula kapasitas lembaga. Karena saat para pegiat literasi ini berinteraksi dengan stakeholders, tak jarang mengharuskan untuk menulis. Entah berupa proposal program, laporan kegiatan, maupun sekadar profil lembaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi di akhir tahun 2011 nanti, Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal PAUD-NI akan menggulirkan program TBM Elektronik. Melalui program ini diharapkan tiap TBM memiliki akses internet dan dapat memanfaatkannya untuk melancarkan dan memangkuskan gerakan membaca dan menulis. Sebuah harapan yang mengandaikan adanya keterampilan menulis yang harus dimiliki oleh tiap-tiap pengelola TBM.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-7587397772562696375?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/7587397772562696375/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/tbm-dari-membaca-ke-menulis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7587397772562696375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7587397772562696375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/10/tbm-dari-membaca-ke-menulis.html' title='TBM, dari Membaca ke Menulis'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-989977554234457716</id><published>2011-09-14T12:52:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T16:35:03.390-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Mabulir, Budaya Baca, dan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mUtWBAfMR3w/TnEGlHHXpUI/AAAAAAAAARI/COLknq8siI8/s1600/mabulir.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mUtWBAfMR3w/TnEGlHHXpUI/AAAAAAAAARI/COLknq8siI8/s200/mabulir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652306241961567554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minjami kok buku, mana bisa bikin kenyang. Minjami itu mbok yao uang, kan bisa untuk makan.” Demikian ucap Dauzan Farook menirukan komentar orang-orang ketika pertama kali ditawari pinjaman buku. Mbah Dauzan, demikian ia karib disapa adalah pendiri perpustakaan keliling Mabulir di Kauman, Yogyakarta. Mabulir singkatan dari Majalah Buku Bergilir. Mbah Dauzan, meskipun telah berusia 80 tahun lewat, tetap bersemangat menyebarkan virus membaca. Bahkan hingga hari-hari terakhir sebelum malaikat maut menjemputnya (6/10/2007). Mabulir dijalankan melalui—sesuai dengan namanya—sistem multilevel reading. Sistem itu dipilih lantaran menurutnya minat baca masyarakat kita tergolong rendah, sehingga masih harus disuapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak main-main, lebih dari 100 kelompok baca telah ia bentuk. Tiap kelompok baca beranggota 4 - 20 orang. Tiap kelompok mendapat satu kardus buku. Tiap 2 minggu sekali, isi kardus diganti dengan buku yang baru. Tidak ada syarat apapun untuk menjadi  anggota kelompok baca perpustakaan Mabulir. Jangankan uang, foto kopi KTP pun tidak. Tak soal jika buku yang ia pinjamkan hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ShadS1oDzqk/TnExUqAxHQI/AAAAAAAAARQ/meHo_RIFIm0/s1600/mabulir2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ShadS1oDzqk/TnExUqAxHQI/AAAAAAAAARQ/meHo_RIFIm0/s320/mabulir2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652353238271335682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Mengelola perpustakaan keliling adalah bisnis dengan keuntungan abstrak. Landasannya kepercayaan, sehingga aturannya tidak perlu birokratis. Dagangan Tuhan. Tidak perlu ada KTP atau apa. Sesama manusia saudara, harus bisa dipercaya," ujar mbah Dauzan dalam sebuah perbincangan dengan Ahmad Arif (2004). "Risiko mati saja berani, kok cuma kehilangan buku," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat disangkal, mbah Dauzan menjadi sosok yang menginspirasi dunia literasi di Indonesia. Perjuangan tak kenal lelah selama 25 tahun memasarkan budaya membaca mengantarkannya menerima beberapa penghargaan seperti Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tahun 2005, Paramadina Award 2005 dan Lifetime Achievement Award dari Sabre Foundation, sebuah NGO di Massachusetts, Cambridge, Reksa Pustaka Bhaktitama dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Dan pada April 2007 di Jakarta saat perhelatan World Book Day Indonesia, mbah Dauzan mendapat gelar sebagai Pejuang Literasi Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-2cI_dFJk1Sk/TnEx97AB4RI/AAAAAAAAARY/o8mfwdQZJr8/s1600/mabulir1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-2cI_dFJk1Sk/TnEx97AB4RI/AAAAAAAAARY/o8mfwdQZJr8/s320/mabulir1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652353947206279442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Mabulir memahamkan kita pada beberapa kenyataan: pertama, minat baca masyarakat masih rendah. Memang minat baca terkait dengan kesadaran masyarakat terhadap arti penting informasi, sehingga tidak bisa dibanding-bandingkan dengan negara lain. Tapi meskipun begitu, tetap saja secara faktual minat baca masyarakat kita masih rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa besaran yang dapat dijadikan bukti atas simpulan itu: akses masyarakat terhadap koran hanya 2,8 persen. Rasio jumlah penduduk dengan surat kabar hanya 1 : 43. Jumlah judul buku sastra yang dibaca siswa SMA setiap tahunnya 0 (nol) judul. Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan hanya sekitar 1 persen, sedangkan SLTP dan SLTA sekitar 54 persen. Dan menurut sebuah survei pada tahun 2003, minat baca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-3 dari bawah. Survei yang diprakarsai UNDP itu melibatkan 41 negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, harapan memeroleh kemajuan akan mustahil, selama minat baca masyarakat masih rendah. Terlebih sekarang ini era informasi. Jalan yang memberikan kesempatan melakukan mobilitas vertikal—misalnya dari keluarga pra sejahtera ke agak sejahtera, lantas beralih menuju sejahtera—nyaris semuanya bergayut erat dengan kemampuan keberaksaraan (literasi). Satu diantaranya berupa kegemaran membaca (buku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eu4NGS9Zvts/TnEy-hmvrBI/AAAAAAAAARg/kvvcYOG8EMI/s1600/mabulir3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eu4NGS9Zvts/TnEy-hmvrBI/AAAAAAAAARg/kvvcYOG8EMI/s320/mabulir3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652355057080839186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kepergian mbah Dauzan mewasiatkan kepada kita agar tidak berhenti memasarkan budaya baca kepada masyarakat. Terutama masyarakat tingkat akar rumput, yang merupakan irisan terbesar dari struktur bangsa ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kesadaran masyarakat terhadap manfaat membaca masih rendah. Semuanya masih diukur dengan perolehan ekonomi (uang). Jika dengan membaca tidak mendatangkan materi, ya membaca nanti dulu. Jika ada hasilnya, dan itu berwujud fisik (tangible), dapat dinikmati seketika itu juga, baru mau membaca. Komentar orang yang ditirukan mbah Dauzan di awal tulisan ini bisa menjadi sedikit bukti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini secara tidak langsung memberikan rekomendasi kepada kita, khususnya para pegiat literasi untuk “membumikan” gerakan membaca. Aktivitas membaca secara langsung harus berhubungan dengan kegiatan keseharian masyarakat. Terutama kegiatan berekonomi. Pada titik ini, memfungsikan taman baca sebagai rumah belajar masyarakat menjadi jalan yang tak dapat ditawar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah dilakukan Tobucil &amp; Klabs di Bandung dan Rumah Belajar Bergema di Wonosobo. Keduanya memosisikan buku sebagai tools atau sarana mengembangkan keterampilan, hobi dan profesi anggota/pengunjungnya. Dari mendisain kartu ucapan hingga merajut. Dari klinik pranata acara hingga pelatihan membuat telur asin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tanpa ada perubahan strategi pemasaran, kampanye budaya baca hanya akan dicibir, diremehkan, tidak dianggap penting, dan memunculkan sikap fatalis di masyarakat. Karena yang ditawarkan ke mereka (buku) jauh panggang dari api dengan kondisi keseharian yang mereka akrabi. Mudahnya kalau dulu ada pameo di lingkup para aktivis pergerakan mahasiswa: makan tidak makan yang penting baca buku, maka sekarang harus dibalik: baca buku biar bisa makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qy3QTUSCcfw/TnE52NxqCUI/AAAAAAAAASI/80y_G911PdE/s1600/mabulir4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qy3QTUSCcfw/TnE52NxqCUI/AAAAAAAAASI/80y_G911PdE/s320/mabulir4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652362610900339010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, masih sangat diperlukan inisiatif gerakan/kampanye membaca buku yang tumbuh dari dalam masyarakat sendiri dengan sistem gethok tular (multilevel reading). Sistem yang digagas dan sudah diuji cobakan mbah Dauzan melalui Mabulir selama 25 tahun. Dengan sistem jemput bola memungkinkan orang yang semula tidak butuh buku jadi butuh. Pemasar budaya baca menjadi semacam salesman-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modusnya kira-kira seperti ini: menyemangati satu orang untuk membentuk kelompok baca. Setelah terbentuk dan jalan, pada jangka waktu tertentu para anggotanya didorong untuk membentuk kelompok baca lagi dengan merekrut anggota yang berbeda. Demikian seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, besar harapan saya, kepergian mbah Dauzan hampir genap 4 tahun lalu itu bukan berarti kematian pula buat Mabulir, satu-satunya “anak ideologis” simbah. Baik dalam arti fisik maupun sistem.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-989977554234457716?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/989977554234457716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/09/mabulir-budaya-baca-dan-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/989977554234457716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/989977554234457716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/09/mabulir-budaya-baca-dan-kita.html' title='Mabulir, Budaya Baca, dan Kita'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mUtWBAfMR3w/TnEGlHHXpUI/AAAAAAAAARI/COLknq8siI8/s72-c/mabulir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8331981448652534511</id><published>2011-09-14T10:57:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T16:30:29.426-07:00</updated><title type='text'>Laporan dari Peninjauan (Bagian 1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-38PEfFX9WEc/TnE0VQaYhDI/AAAAAAAAARo/YD2b28xWhlE/s1600/TBM1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-38PEfFX9WEc/TnE0VQaYhDI/AAAAAAAAARo/YD2b28xWhlE/s200/TBM1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652356547114206258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;:: agus m irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “peninjauan” di atas bukan bermakna sidak layaknya yang biasa dilakukan pejabat. Melainkan  nama salah satu kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kebetulan Rabu 27 Juli 2011 saya—mewakili Pengurus Pusat Forum TBM—menghadiri acara peluncuran TBM Mitra Ogan yang terletak di kecamatan tersebut. Tepatnya di Desa Karangdapo.  Apa saja yang berlangsung saat peluncuran, bagaimana kondisi TBM yang diluncurkan, makna strategis dan taktis apa yang bisa dipetik oleh PP FTBM dari peluncuran TBM Mitra Ogan tersebut? Bagaimana tindak lanjutnya? Simak laporan lengkap saya berikut ini. Agak saya dramatisir sedikit, biar tambah enak bacanya, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------- ---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad 23 Juli 2011 sepulang dari acara Rembuk Budaya Baca di Yogya, saya disms Gol A Gong. Mengabarkan tentang undangan penerbit Balai Pustaka, agar salah satu PP FTBM hadir dalam acara peluncuran TBM di Baturaja. SMS tidak saya balas. Selang 15 menit kemudian, Gol A Gong  SMS lagi, kali ini berisi terusan SMS yang ditujukan ke Balai Pustaka bahwa saya yang bakal hadir di acara tersebut. Sambil mengingatkan bahwa hari Selasa (22/7) saya harus sudah tiba di lokasi acara. Untuk lebih menyakinkan lagi, sejurus kemudian Gol A Gong menelpon saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pula saya membuka peta sumatera. Baturaja ternyata terletak di perbatasan antara Sumatera Selatan dan Lampung. Saya coba kontak teman yang berasal dari Liwa, Lampung, Baturaja, dan Palembang. Kira-kira lebih dekat mana, Palembang-Baturaja, atau Lampung-Baturaja. Termasuk jalur dan pilihan dan alat transportasi.  Berdasarkan keterangan teman semasa SMA yang sudah menetap cukup lama di Baturaja, saya jadi mahfum, Baturaja lebih pendek didekati dari Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya senin pagi saya cari tiket pesawat. Inginnya yang langsung dari Semarang. Tapi semua airlines habis. Akhirnya saya pilih yang berangkat dari Cengkareng (SOETTA) – Sultan Mahmudi Badaruddin II (Palembang).  Itu pun saya mendapat jadwal penerbangan sore.  Begitu tiket saya dapat, saya langsung menelopon trevel jalur Pasar 16 (Palembang) ke Baturaja. Paling sore jam 5. Duh! Dapat dipastikan tidak akan kekejar. Karena jarak Bandara ke Pasar 16 sekitar 10 KM, yang membutuhkan waktu tempuh minimal 40 menit. Lama karena macet. Harap maklum, guna mengejar deadline persiapan penyelenggaraan SEAGAMES, jalan  dari Bandara yang menghubungkan ke kota sedang diperbaiki. Digali, diperlebar, dan diaspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin malam saya berangkat ke Jakarta naik kereta dari Weleri, Kendal.  Dari sini kereta yang tersedia hanya kelas Ekonomi dan Bisnis. Tempat duduk habis. Tak apalah. Meskipun harus berulang kali terusir oleh penumpang yang naik dari stasiun setelahnya dan punya tiket. Pilihan akhir bisa ditebak:  segera menggelar koran, terlelap di atas lantai kereta. Jam 9 malam kereta berangkat menuju Stasiun Senen, Jakarta.  Sekitar jam setengah 4 pagi, kereta tiba. Sambil menunggu jemputan saudara yang rencananya akan saya singgahi (transit) sebelum ke bandara, saya holat subuh berjamaah dengan mushola stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumben, Garuda delay. Semula jadwal terbang pukul 14.45 wib menjadi 15.05 WIB.  Benar-banar take off sekitar jam setengah 4 sore. Tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pukul 16.45 WIB. Demi meretas waktu, tas besar berisi baju terpaksa saya tenteng-tenteng. Karena kalau harus masuk bagasi, bakal lama lagi berada di Bandara. Begitu berada di selasar jemputan, saya langsung mencari ojek menuju Pasar 16.  Sebelumnya saya menelpon kembali travel. Langsung dijawab: telat pak! Terus saya tanya, apakah ada travel lain yang jam berangkatnya jam setengah 6 atau jam 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba pak hubungi BW 2000! Sepertinya mereka punya jadwal berangkat sampai jam 6 sore.  Saya langsung bilang ke pak Ojek (saat saya tanya namanya: Anjas. Saya juga minta nope-nya, siapa tahu suatu waktu saya butuhkan) harus sudah sampai di Pasar 16 paling telat jam setengah. Kontan saja, ia memacu motornya. Meliak-liuk mencari sela-sela jalan di antara mobil yang membuat kondisi jalanan saat itu sangat padat dan macet.  Beberapa kali diselingi dengan insiden ngerem ndadak, yang membuat helm yang saya pakai kepentok helm Kak Anjas—di Palembang sapaan paling sopan kepada yang lebih tua sedikit adalah Kak. Kepanjangan dari Kakak. Kalau jawa: mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulilah jam 17.15 WIB saya tiba di Pasar 16. Dengan bertanya ke dua –tiga orang, saya menuju travel BW 2000. “Ke Baturaja, masih ada Kak?” Tanya saya. “Masih”! Plong hati saya. Jam setengah 6 sore lebih sedikit, mobil (travel) berangkat ke Baturaja. Berhenti untuk makan di Prabumulih.  Di sini ternyata ada restoran Sunda loh. Tiga puluh kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalanan dari Palembang ke Baturaja padat, kebanyakan dipenuhi truk pengangkut batubara. Sekitar pukul 11 malam, saya tiba di Baturaja.  Saya turun di depan Kodim Baturaja. Sepuluh menit kemudian, datang teman SMA saya dengan mobil NISSAN PAJERO-nya menjemput saya. Semula saya hendak diinapkan di rumahnya.  Tapi karena tengah direnovasi, akhirnya saya menginap di hotel Nirata. Berjarak selemparan batu dari lokasi rumah teman saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung mengabarkan kedatangan saya ke orang Balai Pustaka (Mery) bahwa saya sudah tiba di Baturaja. “Besok pagi siap-siap jam 7 mas, akan dijemput oleh mbak Putri dari Mitra Ogan. Lokasi TBM dari Baturaja masih 2 jam perjalanan” Tulis SMS Mery. Setelah  diantar ke hotel dan mengobrol sebentar, pukul 1 dini hari, saya coba istirahat, meskipun agak sulit. Kebiasaan saja—kalau terlalu capai justru susah tidur. Lebih-lebih kalau jauh dari anak, eh istri nding, hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu pagi (27/7) jam 7 saya sudah siap dijemput. Lama saya menunggu. Ternyata Putri tidak jemput. Sebagai gantinya saya dijemput oleh Pak Dar dari Rajawali Nusantara Indonesia. Nama BUMN yang digandeng BP untuk mengehelat program TBM. Saya pun memperkenalkan diri. Termasuk sounding tentang PP FTBM, dan peran apa yang bisa kita mainkan (bentuk kemitraan) dalam konteks  keberadaan TBM Mitra Ogan.  Pukul setengah sebelas, saya tiba di Balai Serba Guna Kecamatan Peninjauan. Sebelum acara peresmian TBM, ada pemberian penghargaan siswa siswi SD, SMP, dan SMA berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-rJb5UqrnfUM/TnE2PkNSIzI/AAAAAAAAARw/pBnlaVGgluk/s1600/ogan1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-rJb5UqrnfUM/TnE2PkNSIzI/AAAAAAAAARw/pBnlaVGgluk/s320/ogan1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652358648372011826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pukul 14.10 wib, acara peluncuran TBM Mitra Ogan dimulai. Banyak masyarakat yang hadir. Hitungan kasar saya ada sekitar 300 orang. Para pejabat, mulai dari kepolisian, kodim, diknas, juga hadir. Sebelum pengguntingan pita peresmian, ada acara penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba penulisan cerita untuk siswa sekolah, dan puisi untuk ibu-ibu. Temanya menarik: Suamiku matahariku.  Yang membuat hingar adalah saat pemenang pertama didaulat membacakan puisinya. Penuh rasa haru ia membaca puisinya. Ada beberapa ibu yang hadir turut terharu. Mata mereka berkaca-kaca.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nq3nW_U8UvA/TnE42eB6-KI/AAAAAAAAASA/KKBEiJz4rKQ/s1600/puisi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nq3nW_U8UvA/TnE42eB6-KI/AAAAAAAAASA/KKBEiJz4rKQ/s320/puisi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652361515751897250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8331981448652534511?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8331981448652534511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/09/laporan-dari-peninjauan-bagian-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8331981448652534511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8331981448652534511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/09/laporan-dari-peninjauan-bagian-1.html' title='Laporan dari Peninjauan (Bagian 1)'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-38PEfFX9WEc/TnE0VQaYhDI/AAAAAAAAARo/YD2b28xWhlE/s72-c/TBM1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3295883390755902529</id><published>2011-06-30T07:10:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T07:18:36.693-07:00</updated><title type='text'>Sahabat Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-UPRZ84RjYtU/TgyFal5OEQI/AAAAAAAAAQ4/1iiwI5YNfUw/s1600/friends%2Bof%2Bthe%2Blibrary.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 199px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-UPRZ84RjYtU/TgyFal5OEQI/AAAAAAAAAQ4/1iiwI5YNfUw/s200/friends%2Bof%2Bthe%2Blibrary.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624016726574108930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tulisan sebelumnya (Desentralisasi Layanan Perpustakaan), saya menelurkan paparan tentang pentingnya memberikan hak berpartisipasi kepada pemustaka. Kali ini, saya akan melengkapi dedahan tersebut dengan cara atau strateginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan memfasilitasi pembentukan komunitas pemustaka. Untuk sementara, namanya taruhlah “Sahabat Perpustakaan” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Friends of Library)&lt;/span&gt;. Inisiatifnya bisa datang dari pengelola perpustakaan, pemustaka, atau bisa juga keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai namanya, SP terdiri atas anggota perpustakaan. Jadi semacam Klub Pecinta Perpustakaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Library Lovers Club)&lt;/span&gt;. “Tugas” utamanya adalah memasarkan perpustaaan, mitra pengelola perpustakaan, dan mengoptimalkan pemanfaatakan piranti, fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki perpustakaan. Bentuk optimalisasi itu bisa berupa kegiatan layanan tambahan. Serta produksi pengetahuan yang dilahirkan. Sehingga dalam lalu lintas wacana nilai, ilmu, dan pengetahuan segenap pemustaka perpustaan tersebut tidak melulu menjadi objek atau penikmat, dan penonton belaka. Tapi juga bermain, dan turut meramaikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;FoL &lt;/span&gt;adalah menjadikan perpustakaan menjadi pusat episentrum kreasi value, dan knowledge para pemustaka. Terutama produksi pengetahuan berupa tulisan. Bisa berupa jurnal, artikel, maupun buku. Selain memasarkan perpustakaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;FoL &lt;/span&gt; sekaligus berposisi sebagai mitra perpustakaan saat menyelenggarakan kegiatan tambahan di dalam ruang perpustakaan.  Jadi semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;event organizer &lt;/span&gt;acara literasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara otonom &lt;span style="font-style:italic;"&gt;FoL &lt;/span&gt;juga bisa merancang sendiri kegiatannya. Mulai dari Workshop Edukasi untuk Pemustaka,  Studi Banding ke Perpustakaan Lain yang lebih maju, Workshop Katalogisasi Buku (sehingga nanti bisa membantu petugas perpustakaan), Perayaan Bulan Bahasa, Perayaan Hari Buku, Lomba &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Design &lt;/span&gt;PIN dan Kaos &lt;span style="font-style:italic;"&gt;FoL&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, Pelatihan Menulis, Menyelenggarakan Pelatihan Workshop Optimalisasi Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Pembelajaran Siswa,  Kerja Bakti Buku—membantu menata, dan membenahi sistem perpustakaan lembaga lain yang dirasa kurang baik, dan lain sebagai. Termasuk workshop nulis buku, puisi, musikalisasi puisi, skenario dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk perpustakaan sekolah,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; FoL&lt;/span&gt; bisa diformalkan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Seperti yang terjadi di SMA 49 Jakarta. Sedangkan di perguruan tinggi, Sahabat Perpustakaan bisa diformalkan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3295883390755902529?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3295883390755902529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/sahabat-perpustakaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3295883390755902529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3295883390755902529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/sahabat-perpustakaan.html' title='Sahabat Perpustakaan'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-UPRZ84RjYtU/TgyFal5OEQI/AAAAAAAAAQ4/1iiwI5YNfUw/s72-c/friends%2Bof%2Bthe%2Blibrary.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8048785201127264618</id><published>2011-06-25T23:16:00.000-07:00</published><updated>2011-06-27T18:38:52.045-07:00</updated><title type='text'>Desentralisasi Layanan Perpustakaan</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-v_0Rhxes_9k/TgbPd62SNlI/AAAAAAAAAQw/Az9RUEIVQHc/s1600/foto%2Bwien.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-v_0Rhxes_9k/TgbPd62SNlI/AAAAAAAAAQw/Az9RUEIVQHc/s200/foto%2Bwien.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622409297738741330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Mei 2010 lalu, perpustakaan Kabupaten Temanggung diresmikan. Perpustakaan ini menjadi perpustakaan terbesar di Jawa Tengah. Kabar itu patut diapresiasi. Perpustakaan Kabupaten Temanggung dapat dipandang sebagai bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap upaya mencerdaskan masyarakat. Cerdas melalui aktivitas membaca buku. Lalu lintas informasi yang dibutuhkan masyarakat pun akan dengan mudah didapat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian di banyak negara Afrika yang dilakukan UNESCO, kecerdasan yang identik dengan kegemaran membaca serta kelincahan mencari dan memanfaatkan informasi dapat meningkatkan kualitas hidup. Terutama berupa peningkatan kesejahteraan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu dalam konteks pembangunan di Kabupaten Temanggung khususnya, dan di Propinsi Jawa Tengah pada umumnya, revitalisasi perpustakaan Kartini dapat menjadi sarana mengentaskan kemiskinan dan ketebelakangan sosial. Menariknya, proses pengentasan itu tidak dengan memberikan ikan (sejumlah dana segar), tapi berupa kail. Berupa  pengetahuan melakukan sesuatu (procedural knowledge) melalui buku dan bahan bacaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi fasilitas lengkap, biaya operasional besar tidak akan banyak membantu kemajuan perpustakaan jika tidak disertai dengan kualitas layanan. Dan ini ditentukan oleh pustakawan dan staf yang bekerja di perpustakaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas itu menyangkut dua hal. Pertama kemampuan teknis (hard skill), dan yang kedua kemampuan lunak (soft skill). Kemampuan keras, yang paling baku adalah melakukan katalogisasi buku, serta menyusun sistem pelayanan (sirkulasi) yang efisien sekaligus efektif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, proses katalogisasi dan sistem sirkulasi ini lambat laun sudah mulai diambil alih oleh komputer. Lazim disebut sebagai SOP atau sistem otomasi perpustakaan. Keterampilan keras lainnya adalah kemampuan menulis. Era talk less do more (sedikit bicara banyak bekerja) sudah berakhir. Berganti ke kurun talk more do more (banyak bicara, banyak bekerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap prestasi, dan pencapaian harus diceritakan ke publik luas. Jangan disimpan sendiri. Atau hanya berhenti pada kumpulan album foto kegiatan yang bisu. Bentuk penceritaan itu adalah dengan menulis. Baik di koran, blog, mailing list, maupun website. Termasuk di situs jejaring sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reportase itu jangan dianggap sebagai bentuk kesombongan, sebaliknya menjadi bagian dari upaya untuk memberi penghargaan terhadap prestasi diri. Serta untuk lebih memperluas cakupan inspirasi yang dapat dipetik dari kegiatan atau prestasi tersebut. Sehingga informasi yang berseliweran—yang dikonsumsi masyarakat—tidak melulu tentang kriminalitas, gosip artis, tapi juga tentang perkembangan budaya membaca (dan menulis). Semangat dan keseriusan pengelola pun pada akhirnya akan turut pula terbaca oleh masyarakat. Dan harapannya masyarakat akan memberikan dorongan sekaligus ”advokasi” kepada perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kemampuan lunak, yang paling penting adalah kemampuan berkomunikasi dan membangun jaringan dengan pemustaka (pengunjung perpustakaan). Baik pribadi, institusi, maupun kelompok hobi dan komunitas literasi. Ini penting, karena ke depan, perpustakaan akan tersegmentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan lebih banyak memanfaatkan perpustakaan adalah para pemustaka yang identifikasi preferensi bacaannya jelas dan tertentu. Misalnya para pencinta buku filsafat, olahraga, agama, politik, sastra dan seterusnya. Bukan pemustaka yang minat bacaannya tidak terdeskripsikan dengan jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat lanjutannya, para pencinta buku-buku tertentu ini akan membentuk komunitas. Mereka akan ke perpustakaan pada jam dan hari tertentu dan agenda tertentu pula. Tidak hanya membaca, dan meminjam buku, tapi mungkin berdiskusi, bedah buku, mendatangkan penulis atau bisa juga menggelar klinik penulisan. Nah, pengelola perpustakaan harus jeli melihat kecenderungan ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para komunitas pencinta buku tersebut dapat dijadwalkan dan difasilitasi untuk mengisi kegiatan tambahan di perpustakaan (desentralisasi isi layanan). Dengan demikian, perpustakaan akan lebih hidup, dinamis, dan kemanfaatan yang diberikan kepada publik luas akan semakin optimal. Perpusatakaan yang sarat kegiatan juga akan meningkatkan loyalitas pemustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desentralisasi tidak saja terjadi pada ranah penadbiran (tata kelola) pemerintah. Tapi juga dalam domain layanan publik. Salah satunya perpustakaan. Ikhtiar menaikkan kasta perpustakaan di mata khalayak hanya menjadi tanggung jawab pustakawan dan staf adalah masa lalu. Sudah tidak relevan lagi. Pemustaka juga harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi. Sehingga mereka akan memunyai rasa memiliki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, semoga kemegahan dan kelengkapan sarana yang dimiliki perpustakaan Kabupaten Temanggung diikuti pula dengan kesiapan para staf dan pemustakanya untuk berani membuka peluang selebar-lebarnya kepada publik untuk bersama-sama memanfaatkan dan memaksimalkan sarana dan fasilitas yang ada. Termasuk kesediaan untuk mendesentralisasikan isi layanan. Yang semula dari pengelola untuk pemustaka. Menjadi dari pemustaka (masyarakat) untuk sesama pemustaka (masyarakat). Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto: Wien Muldian&lt;br /&gt;* Versi cetak tulisan ini dapat dibaca di Suara Merdeka (Senin, 27/6/2011).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8048785201127264618?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8048785201127264618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/desentralisasi-layanan-perpustakaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8048785201127264618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8048785201127264618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/desentralisasi-layanan-perpustakaan.html' title='Desentralisasi Layanan Perpustakaan'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-v_0Rhxes_9k/TgbPd62SNlI/AAAAAAAAAQw/Az9RUEIVQHc/s72-c/foto%2Bwien.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5520439845126911356</id><published>2011-06-18T04:39:00.000-07:00</published><updated>2011-06-18T06:38:46.541-07:00</updated><title type='text'>Bedah Buku IPK di UMK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jHJVZgJu4ag/TfyqOi1gMjI/AAAAAAAAAQo/yKxb06sNwxk/s1600/24%2BCara%2BMendongkrak%2BIPK-500x500.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jHJVZgJu4ag/TfyqOi1gMjI/AAAAAAAAAQo/yKxb06sNwxk/s200/24%2BCara%2BMendongkrak%2BIPK-500x500.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619553601897640498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya buku 24 Cara Mendongkrak IPK-Sebuah Diary Mantan Mahasiswa Bodoh dibedah. Kali ini atas inisiatif &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UPT Perpustakaan UNIVERSITAS MURIA KUDUS. &lt;/span&gt;Acara akan berlangsung pada hari Kamis 23 Juni 2011 pukul 9 pagi hingga selesai. Bertempat di Ruang Seminar Lantai IV, Gedung Induk Universitas Muria Kudus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama terbit, Oktober 2010, Buku IPK telah menyapa para pembacanya di kampus-kampus. Di antaranya di Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Sriwijaya Palembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini saya tulis sebagai bagian dari ikhtiar melahirkan Indonesia yang lebih baik. Yaitu Indonesia yang ditopang oleh keberadaan golongan menengah yang berkesadaran. Para mahasiswa, setelah diwisuda (sarjana), akan menjadi golongan menengah. Sementara, di mana-mana, perubahan lebih banyak diinisiasi dan digerakkan oleh golongan menengah. Jadi secara given kaum sarjana ini, nanti memiliki peran atau posisi sebagai aktor perubahan. Mau tidak mau. Suka tidak suka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Cara Mendongkrak IPK tidak saja memberikan tips bagaimana kuliah agar mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi. Tidak kalah penting dengan itu adalah memberikan acuan strategi menggarap diri agar memiliki Indeks Peradaban Kumulatif yang tinggi pula. Tercermin dari kemampuan berkomunikasi, memperlakukan orang, cara berfikir, kesadaran lingkungan, tanggung jawab social, inisiatif, dan besaran-besaran kualitatif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kesediaan untuk menggeser pusat perhatian, yang semula kepentingan diri (moral mikro), menjadi kebutuhan semesta (moral makro).  Sehingga kehadirannya dalam kehidupan memberikan peran signifikan.  Posisi kehadiran dirinya buat lingkungan berhukum wajib. Bukan makruh. Alih-alih haram. Bukan sebaliknya. Kehadirannya tidak menggenapkan. Keabsenannya tidak mengganjilkan.  Alias mubah belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika silaturahim dikatakan sebagai salah satu bentuk keberkahan, maka buat saya buku ini mendatangkan banyak keberkahan. Salah satu bentuk silaturahim itu adalah berupa banyaknya SMS berisi apresiasi para pembaca setelah mendaras buku tersebut.  Seperti yang dapat Anda baca di bagian akhir tulisan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salam kax. Nama saya Aisyah Habsyie (Icha) sedang kuliah di UNSRI Fakultas Kedokteran Gigi. Saya senang dengan tips-tips yang ada di buku mendongkrak IPK.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt; [08980874xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sangat menyentuh Pak. Buku bapak memberikan semangat baru untuk mengikuti kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum. Terima kasih Mas Irkham. Saya sudah baca buku Anda tentang 24 Cara Mendongkrak IPK, luar biasa bukunya. Subekti Ridho, Purwokerto, Banyumas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[085647724xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat malam Pak. Saya Midun Sihombing. Mahasiswa Fakultas Pertanian Unpad. Saya senang telah membaca buku bapak, yaitu 24 Cara Mendongkrak IPK. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[089655175xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum mas Irkham. Saya Ayu, salah satu pembaca buku 24 Cara Mendongkrak IPK. Saya mahasiswa S1 Keperawatan semester 3. Saya kecewa dan sedih dengan nilai IP saya semester 1 dan 2. Karena masih dua koma. Saya sudah belajar sedemikian rupa, tapi mungkin cara belajar saya tidak efektif.  Sehingga menjadikan saya kesulitan saat mengerjakan soal, dan nilai jeblok. Ini sangat menyedihkan buat saya, dan kedua orangtua saya. Setelah mmebaca buku mas Irkham, saya niat dari hati paling dalam, dari detik ini saya harus bias bangkit dari keterpurukkan. Saya harus bisa. Semoga dari ke-24 jurus ini bisa saya kuasai untuk mendongkrak IPK saya. Saya tunggu buku mas Irkham selanjutnya, yang banyak memberikan motivasi dan signyal positif untuk saya dan pembaca lainnya. Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[085742478xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaykum. Buku Anda yang berjudul 24 Cara Mendongkrak IPK luar biasa dahsyatnya, walaupun saya belum menyelesaikan membaca keseluruhan isi buku. Terima kasih.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; [085726422xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum. Hingga larut begini saya masih tetap belum ingin tidur karena ingin mengkhatamkan buku yang baru saya beli: 24 Cara Mendongkrak IPK. Buku ini sekiranya sangat memotivasi. Memang betul teori-teori yang ada di sini. Karena selama ini saya berhasil mendapatkan IPK tinggi dengan cara-cara yang ada di buku ini.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nisa, Mahasiswa UNSRI, 085269692xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdullah. Dahsyat luar biasa bukunya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[085261015xxx] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum. Maaf mas. Sebelumnya kenalkan saya Nila, Mahasiswa UNIB, Semester 1. Saya baru saja memabca buku mas Irkham. Sangat memotivasi saya. Syukron.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[087794034xxx]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum. Salam ukhuwah akh. Ana Sigid Sopandi. Mahasiswa Universitas Lampung. Jazakallah untuk ilmunya di 24 Cara Mendongkrak IPK. Mudah-mudahan jadi ilmu yang bermanfaat, dan ana juga bisa merealisasikannya. Ditunggu karya selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[087899866xxx]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5520439845126911356?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5520439845126911356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/bedah-buku-ipk-di-umk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5520439845126911356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5520439845126911356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/06/bedah-buku-ipk-di-umk.html' title='Bedah Buku IPK di UMK'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jHJVZgJu4ag/TfyqOi1gMjI/AAAAAAAAAQo/yKxb06sNwxk/s72-c/24%2BCara%2BMendongkrak%2BIPK-500x500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3043366794131916491</id><published>2011-05-30T21:58:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T22:13:06.451-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Menulis Artikel melalui Email</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-71_69I05umc/TeR4uCR7rfI/AAAAAAAAAP8/dQbUclrPq_A/s1600/gambar7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 93px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-71_69I05umc/TeR4uCR7rfI/AAAAAAAAAP8/dQbUclrPq_A/s200/gambar7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612743767891881458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa melalui email dan fb &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak dibatasi wilayah geografis.&lt;br /&gt;Biaya, tenaga dan waktu jauh lebih murah, efisien dan hemat.&lt;br /&gt;Memungkinkan penanganan tiap individu peserta secara personal. Sesuai dengan keunikan diri masing-masing peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aktivitas peserta pelatihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menulis artikel.&lt;br /&gt;Mengirimkan artikelnya ke pembimbing: agus_irkham@yahoo.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aktivitas pembimbing/mentor &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Membaca artikel para peserta.&lt;br /&gt;Membuat catatan atau komentar-komentar pendek yang dibubuhkan langsung pada artikel yang dikirim oleh peserta pelatihan&lt;br /&gt;Mengirim kembali naskah (artikel yang telah diberi saran/komentar tersebut kepada peserta.&lt;br /&gt;Memberikan tips dan trik pengiriman tulisan ke media/penerbit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Waktu Pelatihan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu pelatihan,  minimal selama 2 bulan, maksimal sampai dengan artikel peserta dimuat di media massa offline (kertas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pembimbing &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;agus m. irkham &lt;br /&gt;Menulis sejak akhir tahun 1999. Dua ratus lebih tulisan saya (kolom, esai, artikel, resensi)telah termuat di banyak media. Baik offline maupun online. Regional maupun nasional. Beberapa buku yang saya tulis Prigel Menulis Artikel; 24 Cara Mendongkrak IPK; Bestseller Sejak Cetakan Pertama; Wawancara Bisa-Kerja Diterima; Ajari Aku Mencintai Kata;  Teladani Akhlak Rasul Yuk; dan Mantera Penjinak TV. Buku lain menyusul: Membaca Menebar Kekayaan Fikir dan Hati; 100 Program Asyik TBM Kreatif. Itu belum termasuk buku dalam bentuk antologi. Instuktur literasi (budaya baca dan tulis) tingkat nasional. Lebih lengkap, silakan mampir ke blog saya http://kubukubuku.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Investasi Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rp1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) &lt;br /&gt;Bisa ditransfer ke BANK MANDIRI kcp. WELERI 136-00-0715405-4 an. Agus Muh. Irkham. Setelah transfer mohon konfirmasi. By email atau SMS/telp ke nomor HP saya 0878 3228 5788 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar kurikulum dibagi ke dalam tiga kategori: MOTIVASI, TEKNIS dan TIPS (trik)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jadwal Kegiatan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran          30 Mei – 10 Juni 2011&lt;br /&gt;Periode Pelatihan  13 Juni s.d 13 Agustus 2011&lt;br /&gt;atau sampai dengan artikel peserta dimuat media&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Target pelatihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peserta menghasilkan artikel yang siap kirim.&lt;br /&gt;Artikel peserta dimuat di media massa. Minimal di tingkat regional.&lt;br /&gt;Jika dalam waktu 2 bulan semenjak pelatihan dimulai, tidak ada satu pun artikel yang dimuat, waktu pelatihan akan diperpanjang sampai dengan dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilustrasi: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;galliciouz.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3043366794131916491?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3043366794131916491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/05/pelatihan-menulis-artikel-melalui-email.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3043366794131916491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3043366794131916491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/05/pelatihan-menulis-artikel-melalui-email.html' title='Pelatihan Menulis Artikel melalui Email'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-71_69I05umc/TeR4uCR7rfI/AAAAAAAAAP8/dQbUclrPq_A/s72-c/gambar7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3557740396829015887</id><published>2011-04-18T19:02:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T19:15:19.667-07:00</updated><title type='text'>KBT Unissula: Dari Tatap Muka ke Dunia Maya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-WnNH5RQAkK0/Tazu1qxMlUI/AAAAAAAAAPk/x51SQPLLyiQ/s1600/KBT5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-WnNH5RQAkK0/Tazu1qxMlUI/AAAAAAAAAPk/x51SQPLLyiQ/s320/KBT5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597111042695796034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kelemahan dari pelatihan penulis adalah pada tindak lanjut atau follow up. Saat pelatihan berlangsung, para peserta begitu bersemangat. Namun begitu pelatihan selesai. Satu, dua hari, sepekan. Menulis kembali menjadi aktivitas yang paling sulit dilakukan. Tidak hanya secara teknis, tapi juga soal waktu. Oleh karena itu, efektifitas pelatihan menulis tatap muka yang hanya dua-tiga jam, atau satu hari sekalipun masih sangat rendah. Efektif atau tidak dapat dilihat dari seberapa besar suatu pelatihan mampu menghasilkan alumni yang berhasil menulis, minimal satu tulisan utuh. Dan diterbitkan. Satu tulisan itu bisa berupa buku, cerpen, atau pun esei. Di luar itu, para alumni pelatihan tetap bersemangat menulis. Tidak mogok di tengah jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas muncul konsep baru, yaitu pelatihan tatap muka yang dilakukan lebih dari satu kali pertemuan. Misalnya selama sebulan dengan frekuensi pertemuannya sepekan satu kali. Model pelatihan menulis demikian biasa disebut dengan kelas penulisan. Dibanding pelatihan tatap muka yang hanya sehari, kelas menulis lebih efektif. Karena memiliki frekuensi lebih banyak. Dan durasi atau masa pembelajarannya pun relatif lama. Hanya saja, salah satu kelemahan model ini adalah, biayanya relatif mahal. Dan proses saling belajar antar peserta juga kurang. Karena kecenderungan penulis (pemula), merasa malu jika tulisannya diperlihatkan sama orang lain. Terlebih jika dibedah (dibicarakan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Migrasi wadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi satu pendekatan pelatihan menulis. Yaitu menggabungkan antara tatap muka dengan sistem kelas. Namun sistem kelas dijalankan tidak dengan tatap muka, tapi online. Tentang ini, saya ada pengalaman tersendiri. Kebetulan dua pekan lalu (Jumat, 1 April 2011) saya diminta mengisi pelatihan menulis esei di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang. Model pelatihannya saya upayakan seasyik mungkin, kontekstual, memberdayakan, sekaligus memiliki manfaat filosofis dan praktis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sepekan sebelum hari H pelaksanaan pelatihan. Para peserta yang telah terseleksi sebelumnya, saya minta membuat satu esei dengan tema Internalisasi BudAI (Budaya Akademik Islam) di Unissula. Begitu esei terkumpul, saya cetak (print) dalam langsung saya bengkeli. Caranya? Saya langsung membubuhi komentar di kertas esei mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan menulis tatap muka dilakukan di Perpustakaan Pusat Unissula. Diikuti sekitar 16 mahasiswa. Meliputi mahasiswa Fakultas Bahasa, Kedokteran, Ekonomi, dan Agama Islam. Berlangsung mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Materi pelatihan saya bagi menjadi tiga ranah/sesi. Yaitu meliputi aspek afeksi atau motivasi menulis. Kemudian aspek kognisi atau pengetahuan dan informasi seputar penulisan (esei). Dan yang terakhir adalah simulasi atau pembengkelan karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknis simulasi adalah dengan merevisi tulisan yang sepekan sebelumnya mereka kirimkan ke saya. Dari mana mereka mendapat bahan revisi? Selain berdasarkan esei yang sudah saya corat-coret, adalah dari materi yang saya berikan saat pelatihan di hari itu. Simulasi plus pembengkelan karya ini masih tetap berlangsung di Pepustakaan Pusat Unissula. Hanya saja, kalau pas materi pelatihan bertempat di plaza utama, sekarang bergeser. Menepi sedikit. Yaitu di antara rak buku yang berjajar. Dengan meja yang ditata sedemikian rupa, dan kursi ditata dengan berhadap-hadapan, simulasi berjalan sangat menggairahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-EFcFcURAaz8/Tazu1ltXAHI/AAAAAAAAAPs/LzkYQ9t6lVM/s1600/aku_unissula.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 98px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-EFcFcURAaz8/Tazu1ltXAHI/AAAAAAAAAPs/LzkYQ9t6lVM/s320/aku_unissula.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597111041337524338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat simulasi saya berseloroh. ”Kalau Anda ingin pintar, tolong nanti tidurnya di dekat rak buku.” Lho kok bisa pak? Tanya salah satu peserta. ”Iya, kalau tidurnya di dekat rak buku, nanti mimpinya akan lain: seminar, pelatihan, sarasehan, studium general. Jadi saat terjaga, Anda akan langsung (merasa) lebih lebih cerdas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seloroh saya dijawab dengan tawa semua peserta. Lumayan, bisa jadi obat kantuk. Batin saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, yang artinya pelatihan harus sudah diakhiri. Saya pun meminta pada seluruh peserta untuk menyelesaikan proses revisi esei-nya masing-masing. Dan paling telat Ahad sore (3 April) harus sudah dikirim ke group di Facebook. Secara khusus, saya membuat akun group di FB untuk melanjutkan proses pembengkelan esei—bagian dari tindak lanjut pelatihan. Group itu saya beri nama Klinik Baca Tulis Unissula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus pakai FB? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman saya membuktikan pelatihan menulis online melalui media FB jauh lebih efektif ketimbang melalui email. Kebetulan saya mengasuh pula pelatihan menulis online di DUNIA KATA (nama group yang saya buat di FB). Tentang DUNIA KATA ini insyaAllah lain waktu akan saya ceritakan ke Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur inteaktif, interaksi, dan intekoneksitas antar peserta menjadi pesona tersendiri buat para peserta. Mereka tinggal posting tulisan dokumen KBT Unissula. Dan saya langsung memberikan komentar di lembar komentar. Di antara peserta bisa membaca tulisan dan komentar saya. Sehingga dari sini, mereka bisa saling belajar. Melihat dan mengukur diri, sudah sejauh mana perkembangan kemampuan menulis yang dimiliki orang lain dan diri sendiri. Dengan begitu mereka bisa saling memotivasi. Saya juga tidak perlu mengulang-ulang. Karena pola pembengkelannya sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Online di rumah sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha mendisiplinkan diri untuk secepat mungkin memberikan komentar (pembengkelan) tulisan yang mereka kirim. Proses pembengkelan meliputi judul, lead pembuka, pilihan kata, keterpaduan antar kalimat dan paragraf, serta teknik pemaparan isi dan penutup esei. Di luar itu, juga menyangkut pemilihan angle (sudut pandang) dari suatu ide tulisan dan akurasi cara dan penulisan huruf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-U1N2MJwKg0w/Tazu1cG1S6I/AAAAAAAAAPc/8FTiCAV7DAg/s1600/KBT1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-U1N2MJwKg0w/Tazu1cG1S6I/AAAAAAAAAPc/8FTiCAV7DAg/s320/KBT1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597111038760012706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah, suatu kali, saya harus mengantar mertua adik saya operasi katarak di Eye Center RSI Sultan Agung Semarang. Saat menunggu operasi selesai, saya sempatkan untuk online. Beruntung di ruang tunggu ada satu unit komputer yang online. Meskipun harus berdiri terus, karena tidak ada kursi, saya langsung masuk ke kelas KBT Unissula, dan memberikan pembengkelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembengkelan berlangsung selama dua pekan (4 s.d 16 April). Sampai dengan tulisan saya anggap sudah cukup layak jika akan di-publish, rerata harus merevisi hingga 4 (empat) kali. Alhamdulilah semua antusias menjalani proses pembengkelan esei via dunia maya ini. Bahkan ada beberapa nama yang saya catat, memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata. Artinya jika mau ”digosok” lagi, saya yakin beberapa nama ini ke depan akan menjadi penulis (buku) produktif. Dan itu mereka capai saat masih menyandang status sebagai mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau dikemanakan esei-esei para peserta itu? Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh panitia (Bagian Kemahasiswaa), kumpulan esei tersebut akan diteruskan ke Bagian Peradaban (Rektorat) untuk dilihat seberapa besar layak tidaknya diterbitkan. Andai jadi diterbitkan jadi satu naskah buku utuh, bayangan saya judulnya seperti ini: Selama Datang di Kampus Kasih Sayang—Himpunan Testimoni Penerapan BudAI di Unissula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Unissula menulis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada ada satu cerita lagi. Ini saya dapatkan sebelum pelatihan esei berlangsung. Kebetulan saya sempat mengobrol sebentar dengan Bapak Seno, selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan Unissula sekaligus ketua panitia pelatihan esei. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau cerita soal susahnya mempertahankan kontinuitas semangat mahasiswa untuk menekuni aktivitas membaca dan menulis. Padahal sudah difasilitasi. Saat itu saya katakan ke beliau, ada beberapa sebab, mengapa para mahasiswa tidak bersemangat. Pertama karena tidak ada komunitas yang menghimpun mereka. Kedua, jika sudah ada komunitas, komunitas tersebut tidak dijalankan secara optimal. Optimalisasi bisa didekati dengan kopdar alias kopi darat yang bersifat reguler, terus harus ada even, program dan proyek-proyek yang harus mereka kerjakan. Karena dengan beraktivitaslah, sebuah komunitas akan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, setiap pelatihan penulisan yang digelar seyogianya ada tindak lanjut. Ini bertujuan selain mengikat para peserta-menggabung dalam satu komunitas, di luar itu, tindak lanjut bisa menjadi sarana merawat dan menajamkan kemampuan menulis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pelatihan esei, bentuk perawatannya adalah pembengkelan karya secara online, dan ikhtiar mengemas tulisan-tulisan mereka menjadi satu naskah untuk untuk kemudian akan diterbitkan menjadi satu buku utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk perawatannya lainnya, adalah dengan mengukuhkan alumni pelatihan esei dalam satu komunitas. Disusul dengan program selanjutnya, misalnya membuat E-Magz (elektronic magazine). Jadi semacam majalah atau terbitan tingkat universitas yang diisi dan dikelola murni oleh para mahasiswa. E-Magz ini merupakan salah satu bentuk terjemahan kontekstual dari kehendak Unissula untuk go mondial. Karena E-Magz bisa diterbitkan dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Bentuknya kemasannya yang memungkinkan bisa diakses melalui HP dan ipad. Saya kira support teknologi dan teknisi di Unissula sudah bisa meng-create "mimpi" tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hal-hal teknis serta konsepsi tentang E-Magz ini, saya usulkan untuk ketemuan kembali dengan para peserta kemarin--yang nanti saya juga hadir untuk memompakan semangat, inspirasi, dan pengetahuan tentang managemen media. Termasuk mengawal penerbitkan E-Magz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu bisa dilanjutkan dengan pelatihan penulisan buku (utuh). Sesi pelatihan ini bisa diberikan secara periodik (bisa sepekan atau dua pekan sekali). Yang mengikuti adalah (terutama) para peserta esei kemarin. Harapannya ke depan, dari pihak rektorat (Bagian Kemahasiswaan dan Peradaban Islam) bisa mengadakan kompetisi penulisan buku, atau bisa juga pemberian beasiswa penulisan buku. Para mahasiswa diberi kesempatan mengiriman gagasan penulisan buku, berupa kerangka atau outline penulisan buku, sedikit abstraksi tentang isi buku, sasaran pembaca, dan seberapa penting tema (buku) tersebut ditulis/diangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari seluruh pengirim, misalnya dipilih 5 mahasiswa yang berhak mendapatkan beasiswa penulisan buku. Para pemenang ini berhak mendapatkan uang pembinaan yang dapat digunakan untuk membiayai proses penulisan buku, sekaligus fasilitas khusus lainnya. Misalnya kartu perpustakaan antar perguruan tinggi dan sebagainya. Proses penulisan dibatasi, taruhlah maksimal 6 bulan. Jika skenario ini berhasil, paling kurang dalam setahun, Unissula bisa meluncurkan 5 buku utuh yang ditulis oleh para mahasiswanya. Sebuah pencapaian yang saya kira, universitas lain di Indonesia belum ada yang bisa menggapainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar sistematis dan terukur KBT Unissula nantinya bisa membuat semacam program kerja selama satu atau dua semester. Intinya program kerja tersebut yang akan menjamin mereka tetap eksis dan memberikan value (nilai tambah) buat Unissula. Berarti KBT Unissula sepertinya harus menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa. Sehingga landasan yuridisnya lebih kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBT Unissula juga bisa menjadi salah satu bentuk dari program sahabat perpustakaan (Friends of Library). Yaitu program yang digagas untuk memasarkan perpustakaan Unissula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;Batang, 19/4/2011&lt;br /&gt;Jelang waktu dhuha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3557740396829015887?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3557740396829015887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/kbt-unissula-dari-tatap-muka-ke-dunia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3557740396829015887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3557740396829015887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/kbt-unissula-dari-tatap-muka-ke-dunia.html' title='KBT Unissula: Dari Tatap Muka ke Dunia Maya'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-WnNH5RQAkK0/Tazu1qxMlUI/AAAAAAAAAPk/x51SQPLLyiQ/s72-c/KBT5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2964107126854102927</id><published>2011-04-13T15:48:00.000-07:00</published><updated>2011-04-13T15:53:06.949-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>TBM Generasi Ketiga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BLrJ4m_m3dE/TaYo1NlGqLI/AAAAAAAAAPU/MmH1SNcdBuk/s1600/hadi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-BLrJ4m_m3dE/TaYo1NlGqLI/AAAAAAAAAPU/MmH1SNcdBuk/s200/hadi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5595204481697884338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Yang utama sebenarnya bukan membaca, melainkan mengerti makna sebuah buku kemudian didayagunakan untuk satu langkah karsa dan karya nyata produktif dan konstruktif.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaya Suprana, Buku: Sebuah Kontemplasi (2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling kurang ada dua lema atau entry yang telebih dahulu harus saya bicarakan. Sebelum bercakap lebih jauh tentang tema implementasi pendekatan empati mitra pada pengembangan budaya baca. Dua masukan tersebut adalah budaya baca dan empati mitra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya mulai terlebih dahulu dengan entry pertama: budaya baca. Dalam konteks tujuan kampanye membaca (dan menulis), frase budaya baca memiliki arti yang lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan dua frase lainnya, yakni kemampuan membaca, dan minat membaca. Kemampuan membaca berpusat pada ikhtiar membuat orang yang sebelumnya buta aksara menjadi melek aksara. Lazim disebut dengan keaksaraan teknis. Pamrihnya masyarakat memiliki kemampuan membaca secara alfabetis (literasi teknis). Ini menjadi tahapan pertama, dasar bagi kampanye membaca selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Generasi pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM), program  gelombang pertama kampanye membaca ini adalah berupa aktivitas membaca, meminjam, dan mengembalikan buku. Itu saja. Untuk memudahkan pengidentifikasian, TBM berciri demikian bolehlah kita sebut sebagai TBM generasi pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan saat ini saya belum mengantongi data sahih tentang seberapa besar TBM generasi pertama ini. Tapi dugaan sementara saya, TBM jenis ini menjadi irisan terbesar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kemampuan membaca. Bagaimana dengan minat membaca? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat membaca berarti masyarakat yang telah mampu membaca secara teknis, memiliki niat pula untuk mempraktikkan kemampuannya itu. Rasa makna minat baca bersifat datar, sekadar menggambarkan tingkat ketertarikan seseorang (bangsa) terhadap teks. Tidak harus buku. Yang penting teks, medianya bisa macam-macam: buku, koran, majalah, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidikan gerakan peningkatan minat baca lebih tertuju pada dorongan atau motivasi membaca. Jadi masih bersifat potensi. Maka varian kampanye yang dilancarkan pada fase ini adalah mengentalkan manfaat kegiatan membaca. Pada titik ini, muncul konsep keaksaraan (literasi) fungsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaksaraan fungsional dapat dimengerti sebagai kemampuan seseorang mengenal aksara (huruf) dan memanfaatkannya untuk  meningkatkan perolehan materi atau pendapatan (ekonomi). Dalam bingkai literasi fungsional pengetahuan tentang sesuatu (declarative knowledge) itu belum cukup. Masyarakat juga harus diberi bekal tentang melakukan sesuatu (procedural knowledge).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus membaca? Ada (rahasia) apa di balik sebuah buku atau teks? Seberapa besar sumbangan aktivitas membaca buat perbaikan hidup (terutama ekonomi) pembacanya? Adalah beberapa pertanyaan filosofis yang menjadi titik pijak pembuatan program aksi peningkatan minat baca. Jadi lebih berpusat pada kegiatan-kegiatan yang bersifat kognitif dan afektif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buku sebagai rujukan dan mentor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika pengertian minat baca dipertalikan dengan aktivitas dan keberadaan TBM, maka pada tahapan kedua kampanye ini akan mendorong TBM untuk memasuki generasi kedua. Wujud aktual kegiatannya adalah berupa program turunan perbukuan. Jika buku kita tandai dengan simbol huruf A maka program TBM generasi kedua adalah A’ (A aksen). Bentuknya mulai dari pelatihan kepenulisan, jumpa penulis, penandatangan buku, peluncuran buku, diskusi minat baca, bedah buku, serta keaksaraan wirausaha. Yaitu berupa kegiatan usaha produktif (berekonomi) yang menjadikan buku (teks) sebagai rujukan sekaligus mentor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih dapat memberikan gambaran tentang TBM generasi kedua ini, saya akan memberikan beberapa contoh nyata. Beberapa di antaranya adalah TBM Bergema, TBM Warung Pasinaon, dan TBM Guyub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergema singkatan dari Bersama geliat masyarakat. Bergema berada di desa Patak Banteng, kecamatan Kejajar, sekitar 27 kilometer sebelah utara kota Wonosobo. Atau hanya sekitar 2 kilometer sebelum komplek Candi Dieng. Terletak persis di lembah Dieng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi gerakan minat baca yang dilancarkan Bergema adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang dapat dijadikan rujukan bertani dan berkebun. Selain itu bekerjasama dengan gabungan kelompok tani, secara periodik Bergema diberi kepercayaan menggulirkan sejumlah dana pinjaman mikro. Cara ini telah berhasil mengikis pelan-pelan praktik ijon, serta menjauhkan petani dari para lintah darat (rentenir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Bergema, ada TBM Warung Pasinaon. Pasinaon bermakna tempat belajar. TBM ini berlokasi di Bergaslor, kecamatan Bergas, kabupaten Semarang.  Pasinaon menjadikan, terutama, ibu-ibu paruh baya sebagai sasaran utama. Mereka membuat media bernama Koran Pasinaon. Koran Pasinaon terbit sebulan sekali. Sampai dengan edisi 22 April - 21 Mei 2010 ketebalannya sudah mencapai 20 halaman. Padahal di awal terbitnya, sekitar awal 2010, hanya 10 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Koran Pasinaon, secara tidak langsung TBM Warung Pasinaon mengabarkan kepada publik luas bahwa salah satu cara untuk mempertahankan sekaligus mengasah kemampuan membaca adalah dengan menulis. Dalam konteks pendidikan keaksaraan, TBM Pasinoan menjadi sarana pembelajaran dan hiburan masyarakat, serta sarana untuk memperoleh dan memproduksi informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah TBM Guyub. Berbeda dengan Bergema dan Pasinoan, TBM yang beralamat di jalan raya Bebengan 221 Boja, Kendal ini memusatkan aktivitasnya pada pendarasan karya sastra. Sasaran pembacanya pun kebanyakan adalah para remaja. Meskipun tidak sedikit pula yang datang ke Guyub adalah mereka yang sudah sepuh dan masih anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Guyub berlokasi di desa, koleksi bacaan yang dimiliki tak kalah dengan isi koleksi perpustakaan perguruan tinggi.  Orhan Pamuk, Satanic Verses anggitan Salman Rushdie, bertumpul buku karya Franz Kafka, dan Garcia Marquez dapat ditemui di Guyub. Daftar karya-karya kelas dunia itu dapat diperpanjang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi karya sastra berupa dramatic reading, bedah buku, pelatihan menulis (puisi) dan pementasan menjadi beberapa strategi Guyub merawat minat baca para remaja. Dengan begitu kegiatan para remaja tidak melulu datang, baca, pinjam, dan mengembalikan buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca sebagai gaya hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan ketiga kampanye membaca adalah agar kegiatan membaca (dan menulis) menjadi bagian dari jelujur waktu hidup sehari-hari. Membaca menjadi gaya hidup. Inilah yang disebut dengan budaya baca. Aktivitas membaca sudah menjadi budaya. Menjadi bagian yang lekat dan mengikat kehidupan sehari-hari seseorang. Pendek kata, untuk seseorang yang sudah berbudaya baca, buatnya tiada hari tanpa membaca! Dan rujukan teks yang dibaca biasanya buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena budaya baca sangat bertalian erat dengan gaya hidup maka modus kampanyenya pun harus menyesuaikan kecenderungan adab keseharian masyarakat. Berbicara tentang gaya hidup, kita tidak bisa lagi menutup mata: bahwa kini ikon aktivitas budaya populer telah menjadi ritual keseharian sebagian besar orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak saja menyasar masyarakat golongan tengah dan atas, tapi juga bawah. Deretan ritual paling menonjol adalah:  menonton film, gadget, mendengarkan musik, belanja, berjejaring sosial (komunitas, kolaborasi), makan enak (kuliner), animasi, berkerumun, fotografi, nge-game (online), penjelajahan (adventure), nginggris, isu-isu lingkungan (go green), serta plesir (traveling). Dan biasanya dalam pandangan publik (awam), budaya pop ini dimengerti sebagai sesuatu yang secara absolut bertentangan dengan budaya baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif gelombang ketiga—tujuan gerakan membaca—TBM generasi ketiga, keberaksaraan (literasi) tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis (performative), namun bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum, teknologi (fuctional),  serta pendidikan, sejarah, dan gaya hidup (informational-epistic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buku kita tandai dengan huruf A maka program TBM generasi ketiga adalah A’’ (A aksen dua). Yaitu berupa program kegiatan yang secara langsung tidak ada kaitannya dengan buku atau kegiatan membaca. Tapi sejatinya berhubungan erat. Sekadar contoh—sebagai mana yang terjadi pada beberapa komunitas literasi: Komunitas Historia Indonesia, komunitas IndoHogwarts, FotoStereo-ID, Indo-Startrek, komunitas Jelajah Budaya, ReadingBugs, dan Komunitas Jelajah Budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bersifat pegas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TBM tidak berada dalam ruang vakum udara. Ia senantiasa berkait jalin dengan kenyataan kehidupan. Oleh karenanya ia musti bersifat pegas pula terhadap perubahan zaman. Salah satu bentuk kelenturan itu adalah kesediaan dan kesigapan TBM untuk mengadopsi pola dan modus ikon budaya pop ke dalam aktivitas program membaca. TBM mau tidak mau, suka tak suka musti masuk ke fase terakhir kampanye membaca—TBM generasi ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Empati mitra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya ajak Anda memahami lema kedua: empati mitra. &lt;br /&gt;Secara mudah empati mitra dapat dimaknai sebagai strategi komunitas baca (TBM) dalam melaksanakan agenda program kegiatannya secara berkelanjutan, guna mencapai kondisi ideal dengan melibatkan pihak di luar dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam tilikan empati mitra, kondisi yang dimiliki oleh TBM bukan dianggap sebagai bentuk kekurangan, tapi kelebihan (prestasi). Berbeda dengan pendekatan SWOT—seorang teman menyederhanakan dengan istilah ”kekepan” (kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman)—yang menganggap hidup adalah masalah, empati mitra mereken hidup sebagai nikmat (limpah, berkah). Fokus perhatiannya adalah pada setengah penuh (optimisme), bukan setengah kosong (pesimisme). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan empati mitra menganggap TBM lain, lembaga sosial, institusi bisnis maupun pribadi-pribadi yang ada di luar diri TBM menjadi bagian yang turut pula akan membantu memuluskan tujuan TBM. Jadi antar TBM tidak mengenal persaingan. Sebaliknya saling melengkapi. Tidak ada TBM yang melewati persaingan untuk memperoleh identitasnya, ungkap Goenawan Mohammad dengan sedikit revisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah teknis empati mitra terdiri atas empat tahapan: 4i. Yaitu informasi, impian, ikhtiar, dan ihsan. Kondisi senyatanya yang dimiliki TBM dianggap sebagai bentuk informasi. Tidak disimpulkan sebagai kekurangan atau cacat yang justru bisa membuat ciut hati. Informasi tersebut digunakan sebagai pijakan untuk menetapkan impian (imaji). Yaitu capaian ideal yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat daratan, antara informasi dan impian itu dipisahkan oleh sungai, maka untuk mempertemukan keduanya perlu jembatan. Dalam amatan empati mitra, jembatan tersebut disebut sebagai ikhtiar. Pada langkah yang ketiga inilah, TBM dituntut untuk berani dan lincah menentukan pihak-pihak mana saja yang dapat dijadikan mitra untuk mewujudkan impian itu. Juga bermakna ketekunan TBM mencari titik temu dengan stakeholder dan shareholder yang berbeda itu serta mengeksekusinya melalui beragam inisiatif program sinergis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tahapan keempat, ihsan, yaitu sebuah kondisi (hasil) yang mengandaikan adanya pertumbuhan antara aktivis (relawan, aktor, pelaku) dengan lembaga yang menaunginya—pada tiap-tiap pihak yang bermitra. Keduanya berkembang berbarengan. Lahir, menjadi sesuatu yang sama sekali baru, jika dibandingkan dengan sebelum pendekatan empati mitra diterapkan. Jadi antara personal building dengan capacity building antar lembaga yang bermitra mekar bersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana implementasi empati mitra jika digunakan sebagai pendekatan untuk melakukan pengembangan budaya baca (TBM) yang sudah memasuki gelombang ketiga tersebut? Baik untuk penguatan internal TBM itu sendiri maupun dalam bentuk program keluar (eksternal)—kemasan program literasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu bentuk pengejawantahannya adalah berupa program residensi relawan—meminjam istilah yang diberikan oleh aktivis TBM Rumah Dunia, Firman Venayaksa. Sesama TBM bisa saling belajar melalui program silang satu dua pengelola. Waktunya bisa disepakati. Sebulan, dua bulan, atau lebih dari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari program residensi relawan ini, keduanya bisa saling bertukar informasi sekaligus melihat secara langsung bagaimana suatu TBM dikelola. Baik menyangkut manajemen relawan, sistem rekrutmen, strategi pendanaan, maupun kontinuitas program. Selain itu dapat juga saling bertukar data pihak ketiga (stakeholder dan shareholder) yang dimiliki masing-masing TBM dan telah terjalin kerjasama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang residensi relawan ini, sarana lain yang bisa digunakan sebagai wadah pelaksanaan pendekatan empati mitra dalam konteks pengembangan budaya baca adalah program peminjaman relawan. Layaknya peminjaman pemain dalam olahraga sepakbola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya, melalui relawan yang dipinjam ini, kapasitas TBM yang dipinjami meningkat. Baik lembaga, maupun pengelolanya. Tentu ”pemain” pinjaman tersebut harus memiliki kualifikasi kompetensi yang mumpuni. Baik dalam ranah personal, sosial, manajerial, maupun kewirausahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk penerapan berikutnya adalah berkaitan dengan pengelolaan dan penambahan koleksi, serta strategi pendanaan dan sistem pelaporan. TBM bisa bermitra dengan institusi mapan yang memiliki kompetensi tinggi di bidang itu. Misalnya perpustakaan daerah (provinsi, kabupaten dan kota), (asosiasi) penerbit buku, kantor akuntan publik, dan lembaga donor (yayasan filantropi). Bentuknya bisa berupa anjangsana (presentasi), pelatihan (workshop), maupun pendampingan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama TBM bisa saling bertukar program, berkolaborasi, bahkan membuat helatan bersama yang bersifat masif. Pertukaran program bertujuan untuk memberikan variasi program dalam suatu TBM. Sehingga akan selalu ada kebaruan. Gambaran teknisnya seperti ini. TBM x mengundang TBM y untuk menggelar acara di TBM x. Di lain waktu, TBM x yang menggelar acara di TBM y. Kedua TBM tersebut hendaknya memiliki karakteristik yang berbeda. Sehingga pamrih kesan kebaruan program dapat terlunasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk lain rekayasa pendekatan empati mitra untuk mengembangkan budaya baca dapat digagas sesuai dengan kebutuhan, potensi, dan imaji atau impian masing-masing TBM. Serta seberapa luas jejaring relasi yang dimiliki.♦&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;Esei ini dirakit sebagai bahan stimulasi diskusi pada acara Rembuk Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan Nasional—Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat. Dihelat di Solo, 18 s.d. 21 April 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2964107126854102927?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2964107126854102927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/tbm-generasi-ketiga.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2964107126854102927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2964107126854102927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/tbm-generasi-ketiga.html' title='TBM Generasi Ketiga'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BLrJ4m_m3dE/TaYo1NlGqLI/AAAAAAAAAPU/MmH1SNcdBuk/s72-c/hadi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8630875328144034342</id><published>2011-04-03T09:57:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T10:03:54.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PROFIL'/><title type='text'>Manifesto KUBUKU BUKU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-0Vtd4JqRrGg/TZioZHp4ZiI/AAAAAAAAAPM/tXbRfxz-YRc/s1600/fotoAGUS%2Birkham.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0Vtd4JqRrGg/TZioZHp4ZiI/AAAAAAAAAPM/tXbRfxz-YRc/s200/fotoAGUS%2Birkham.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591404086885377570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KUBUKU BUKU &lt;/span&gt;saya lahirkan sebagai sarana untuk menggelindingkan virus membaca dan menulis, terutama di Indonesia. Dalam pandangan saya, tulisan bukanlah semata-mata teks. Ia adalah anak rohani. Saat membaca tulisan, sejatinya kita sedang mendalami kedirian penulisnya. Paradigma berfikirnya. Kesadaran dan sikap laku hidupnya. Dan tiap diri itu diciptakan Allah Swt dalam kondisi yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UNIK, KHAS, &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BEDA&lt;/span&gt;. Nah, pada titik itu, ungkapan bahwa tiap diri punya hak untuk menulis (buku) telah mendapati dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas pertanyaan pentingnya adalah: Dari mana datangnya kesadaran itu? Tentu dari sisi-Nya. Letak persoalannya ternyata bukan pada mereka, para penulis, yang lebih ahli ketimbang kita, para pembaca, sebagai orang awam. Tapi pada kesanggupan untuk senantiasa menganggap yang datang dari sisi Allah Swt itu pasti bernilai besar. Tidak mengenal kata lumayan, apalagi hanya atau cuma. Menulis menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas karunia nikmat piranti hidup yang telah diamanahkan Tuhan kepada kita secara gratis (limpah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;given&lt;/span&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam ucapan penyair Rendra—dengan sedikit modifikasi—menulis menjadi sarana/upaya untuk masuk ke dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah. Pada titik itu era penulis menjadi rahib telah usai. Ia harus menjumpai (calon) pembacanya. Mendengar pendapat dan keberatan-keberatan mereka. Ada dialog. Dengan begitu ilmu pengetahuan akan terdesentralisasi. Oleh karenanya menjadi kian berkembang. Pada titik itu menulis menjadi (salah satu) cara paling efektif untuk mengkuantum pahala—momen transendensi sekaligus transformasi. Yang semula--ibarat ukuran suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;file&lt;/span&gt;-- hanya satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kilobyte&lt;/span&gt;, setelah ditulis menjadi ber&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tera-tera byte.&lt;/span&gt; Bahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unlimited byte.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8630875328144034342?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8630875328144034342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/manifesto-kubuku-buku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8630875328144034342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8630875328144034342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/manifesto-kubuku-buku.html' title='Manifesto KUBUKU BUKU'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0Vtd4JqRrGg/TZioZHp4ZiI/AAAAAAAAAPM/tXbRfxz-YRc/s72-c/fotoAGUS%2Birkham.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6313853216033614464</id><published>2011-04-02T09:55:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T07:58:14.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Bom Buku dan Masadepan Budaya Baca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-FZTJ1hDQKu0/TZdXaqIIX1I/AAAAAAAAAPA/xXFjy-xaKm8/s1600/Bom%2BBuku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 137px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-FZTJ1hDQKu0/TZdXaqIIX1I/AAAAAAAAAPA/xXFjy-xaKm8/s200/Bom%2BBuku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591033577900367698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku, ungkap Mochtar Lubis, adalah senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial. Termasuk perubahan nilai-nilai manusia dan kemasyarakatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu yang dimaksudkan penulis novel Harimau-Harimau dengan ungkapan “senjata berdaya hebat untuk melakukan serangan” itu bukan dalam bentuk bom buku yang dikirim ke aktivis Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Bos Republik Cinta Management Ahmad Dhani, Ketua Pelaksana Harian Badan Nasional Narkotika Komjen Gories Mere dan Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto S Suryosoemarmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya baca keseluruhan isi surat yang ditujukan ke Ulil—seperti yang dilansir laman detik.com—nampaknya si pembuat surat adalah seseorang yang sudah akrab dengan dunia kata (perbukuan). Terlihat mulai dari struktur surat, gaya bahasa yang dipakai, pilihan kata, hingga akurasi huruf. Termasuk prosedur (SOP) meminta kata pengantar. Pada bagian “Hal” tertulis: Permohonan memberikan kata pengantar buku dan interview—yang ditulis dengan huruf cetak tebal dan diberi garis bawah—menampakkan si pengirim berkemampuan menulis surat yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada keganjilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja yang agak ganjil—paling kurang saya belum bisa menemukan pertaliannya—adalah antara permintaan kepada Ulil untuk memberikan kata pengantar dengan judul buku Mereka harus dibunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin itu. Masih berdasarkan isi surat pengirim bom buku, buku tersebut memuat deretan nama dan dosa-dosa tokoh Indonesia yang pantas dibunuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas, apakah Ulil termasuk satu dari deretan nama tokoh berdosa tersebut. Tapi kalau membaca rekam jejak Ulil di masa lalu, lantaran salah satu artikel yang termuat harian Kompas, darahnya pernah dihalalkan untuk ditumpahkan (dibunuh). Bisa jadi Ulil termasuk salah satu dari deretan tokoh pendosa itu. Namun jika Ulil termasuk salah satu tokoh pendosa, kenapa dimintai kata pengantar? Kalau tidak termasuk, apa pasal buku dilengkapi dengan bom? Yang berarti Ulil pantas dibunuh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai, si pengirim serius dengan niatannya untuk menerbitkan buku tersebut, tentu ia akan lebih memilih orang yang pro atau setuju dengan pendapatnya (isi buku) untuk memberikan kata pengantar. Karena sejauh yang saya tahu, lazimnya kata pengantar diberikan oleh tokoh yang sevisi dengan penulisnya. Atau dipastikan akan mengafirmasi bukan menegasi isi buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah selama ini publik mengenal sosok Ulil sebagai pribadi “usil”. Melalui komunitasnya Jaringan Islam Liberal ia getol menggelar diskusi dan menulis artikel dan buku yang isinya mendekonstruksi berbagai cara pemahaman umat terhadap definisi dan praksis beragama. Terutama Islam. Ingatan pendek banyak orang terhadap sosok Ulil yang demikian ini tentu akan mendatangkan simpulan.  Ikhtisar bahwa Ulil (kemungkinan besar) menjadi salah satu dari deretan tokoh yang pantas dibunuh itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan, apakah si penulis tidak paham dengan jejak rekam Ulil, hingga begitu naif memintanya memberikan kata pengantar terhadap buku yang hampir pasti berseberangan dengan cara berfikir, pandangan hidup, dan paradigma beragama Ulil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan naga-naganya, kalau memang buku ini benar-benar terbit, akan diterbitkan secara swakelola (selfpublishing) dengan model distribusi gerilya. Minimal tidak menggunakan jaringan toko buku besar. Mustahil toko buku dan distributor mapan akan menerima dan memasarkan buku yang saat membaca judulnya saja, orang sudah merinding. Walaupun kalau dilihat dari sisi potensi serapan pasar, sepertinya akan laris manis (bestseller). Bukan saja lantaran ada kasus bom buku, tapi karena judulnya yang provokatif dan menantang rasa penasaran publik untuk mengulik isinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahmad Dhani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama nampaknya juga berlaku pada bom buku yang dikirim ke pentolan grup band Dewa, Ahmad Dhani. Ia diminta memberikan kata pengantar buku berjudul Yahudi Militan. Paket bom buku untuk Dhani diledakkan tim Gegana Polda Metro Jaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampul bom buku berupa foto Dhani yang memakai jubah warna hitam sedangkan tangan kanannya yang memegangi tongkat terangkat ke atas. Menurut pengakuan mantan suami Maya Estianty itu surat pengantar bom buku itu sangat profesional. Berdasarkan isi surat, Dhani diminta memberikan sekapur sirih tentang ada tidaknya kaitan antara ia dengan gerakan zionis (Yahudi). Ganjil. Kata pengantar tapi berisi sanggahan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang siapa penulis dan pengirim paket bom buku itu, tentu lebih baik kita percayakan pada aparat kepolisian untuk menyigi. Justru kekuatiran saya atas rentetan kasus bom buku tersebut adalah jika membawa akibat kepada masa depan gerakan membaca di Indonesia, yang 2-3 tahun terakhir ini nampak memberikan pencapaian hasil yang signifikan. Jangan sampai hasil yang sudah dicapai dengan susah payah itu dilumerkan kembali dengan kasus bom buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan yang dulu masih alergi (menghindari) buku, kini tidak menjadi phoby (takut). Serta semoga saja tidak berakibat pula terhadap munculnya aksi sweeping aparat maupun warga terhadap buku bertema ”Islam Garis Keras”—seperti yang pernah terjadi pada 4-5 tahun lalu. Karena itu akan menjadi kabar buruk buat kampanye peningkatan minat membaca (buku) di tanah air.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6313853216033614464?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6313853216033614464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/bom-buku-dan-masadepan-budaya-baca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6313853216033614464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6313853216033614464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/04/bom-buku-dan-masadepan-budaya-baca.html' title='Bom Buku dan Masadepan Budaya Baca'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FZTJ1hDQKu0/TZdXaqIIX1I/AAAAAAAAAPA/xXFjy-xaKm8/s72-c/Bom%2BBuku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5533641847543111420</id><published>2011-03-16T21:06:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:02:22.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Sisi Terang Buku Pak Beye</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CtDaZTJxbno/TYGKYCc0DYI/AAAAAAAAAO4/C7zSGrUrNQI/s1600/buku-sby.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 198px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CtDaZTJxbno/TYGKYCc0DYI/AAAAAAAAAO4/C7zSGrUrNQI/s200/buku-sby.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584897158495341954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding para presiden sebelumnya, Pak Beye-lah (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono)—meminjam sapaan yang dipopulerkan wartawan Kompas, Wisnu Nugroho—yang paling getol menelurkan buku. Paling buncit adalah sepuluh judul buku tentangnya yang membuat heboh di Purwokerto, Tegal, Magelang, dan beberapa tempat di Jakarta dan Jawa Barat. Kesepuluh judul buku itu terselip di antara ratusan judul buku proyek yang biayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2010. Kehebohan berujung pada penarikan, bahkan di Magelang berakhir pembakaran. Sebuah respon yang menurut saya lebay, kelewat emosional, dan sungguh terlalu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak silang pendapat menanggapi terselipnya kesepuluh buku itu. Mulai dari aspek isi maupun distribusi. Bahkan lebih mundur lagi, mempersoalkan bagaimana buku-buku itu ditulis dan lulus penilaian buku pengayaan. Sepintas, argumentasi yang dikemukan rasional. Tapi kalau mau ditilik lebih jauh, semuanya bermuara pada satu titik: wujud luar saja dari sak wasangka politis. &lt;br /&gt;Selama ini Pak Beye dikenal sebagai sosok yang sangat mengedepankan pencitraan. Hingga keseluruhan dirinya menjadi tidak alamiah. Semua berkesan dibuat-buat. Tidak mengalir. Dan ujung pencitraan adalah kepentingan politik (kekuasaan). Maka semua yang keluar darinya, entah anak akal (kebijakan), anak emosi (ucapan, gesture), maupun anak rohani (buku-buku) selalu saja dicurigai sebagai bentuk humas kekuasaan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan presiden sebelumnya, Gus Dur misalnya. Tahun 2001, Yoga Ad. Attarmidzi menulis buku berjudul: Gus Dur, Dari Pesantren ke Istana. Diterbitkan oleh PT. Remaja Rosda Karya, Bandung—yang juga menerbitkan kesepuluh buku Pak Beye itu. Dibandingkan dengan buku Pak Beye, buku ini lebih kental nuansa kehumasannya. Hal itu dapat dilihat dari ilustrasi kover depan buku: Gus Dur disunggi banyak orang, sambil berjejal berjalan menuju istana. Tapi lantaran Gus Dur tidak lekat dengan politik pencitraan, buku itu melenggang begitu saja. Sepi dari serapah dan keberatan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mempersoalkan isi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dalih yang menyebabkan penarikan dan pembakaran buku Pak Beye adalah soal isi. Pokok bahasan dan bahasa yang digunakan terlalu canggih. Sehingga siswa SMP, bahkan SMA tidak akan paham. Taruhlah kilah itu sahih. Pertanyaan saya, apa salahnya? Apakah tidak boleh siswa SMP dan SMA membaca buku-buku berat? Terus, bacaan seperti apa yang dibilang cocok dengan kemampuan berbahasa siswa-siswa itu? Padahal yang saya tahu sampai sekarang belum ada ukuran yang pasti dan akurat tentang kemampuan berbahasa berdasarkan level usia dan jenjang pendidikan.   &lt;br /&gt;Dan yang musti dipahami, membaca (buku) bukanlah suatu kegiatan yang terpisah atau yang ditambahkan, melainkan berkelindan dengan proses pembentukan makna kata. Para pembaca adalah pencipta makna. Ungkap Karlina Leksono (Alfon Taryadi, Edit, 1999). Setiap penerbitan buku sudah dengan sendirinya membawa serta dekontekstualisasi suatu teks, tulis Ignas Kleden (1999). Dalam bahasa yang lebih terang—dalam bingkai pemikiran Kleden—kebingungan para siswa justru bisa menjadi sarana mereka belajar bahasa. Memotivasi dan menggerakkan mereka untuk mencari arti entry (lema). Baik dari kamus, bertanya ke guru, maupun paman Google. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itu, membaca bukanlah kegiatan pasif. Sebaliknya, aktif. Ia memungkinkan menjadi pintu gerbang bagi upaya untuk membaca buku-buku lainnya. Apalagi fitrah sebuah buku, ia tak pernah sendiri. Ia akan selalu dikaitkan dengan buku-buku sebelumnya. Termasuk deretan kenyataan yang belum dipadatkan dalam bentuk himpunan teks (buku).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Antimarketing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan, sekali lagi, katakanlah, isi buku Pak Beye bohong semua, justru itu bisa menjadi sarana membangun sikap kritis para siswa. Menjadi ufuk-ufuk baru munculnya matahari kesadaran mereka: bahwa tidak selamanya apa yang tertulis itu (teori), sebangun dengan apa yang berlangsung di lapangan. Dengan begitu, di hadapan seorang pembaca yang kritis, buku yang sejak mula diperuntukkan sebagai sarana me-marketing-kan diri pun, justru bisa berubah menjadi sarana anti-marketing diri. Senjata makan tuan. Bumerang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya pribadi, menganggap para siswa SMP dan SMA tidak bakal bisa memahami buku-buku Pak Beye, berarti menganggap remeh kemampuan berfikir generasi kini. Kalau buku cerita bergambar (foto) saja sudah dikatakan akan sulit dipahami, lantas para siswa itu mau diberi bacaan macam apa? &lt;br /&gt;Tengok kehidupan Gus Dur saat belia. Sejak usia 10 tahun, Ia sudah akrab dengan buku filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra. Apakah Gus Dur paham? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi itu tak jadi soal buat kedua orangtuanya. “Jangan terlalu banyak membaca nanti matamu rusak,” itu saja yang dikatakan Sang bunda. Tanpa mempersoalkan apakah buku-buku yang dilahap Gus Dur membuatnya tercerahkan (paham), atau sebaliknya tergelapkan, pusing, tidak paham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Saat SMEP—setingkat SMP (?)—Gus Dur sudah karib dengan buku What is To Be Done-nya Lenin, Das Kapital karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thales, novel William Bochner, serta Romantisme Revolusioner karangan Vladimir Ilych. Tak terkecuali buku-buku karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner ia lahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman membaca Gus Dur mengabarkan kepada kita bahwa semakin sulit suatu bacaan, serta merta si pembaca akan berjuang untuk memahaminya. Dan perjuangan itu akan membuahkah hasil berupa kayanya perbendaharaan kata. Terbiasa dengan teks sulit juga akan membantu memahami gagasan-gagagasan abstrak. Serta tertantang pula untuk membaca buku lainnya yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Nah, pada titik ini, mempesoalkan isi buku Pak Beye sebagai buku yang “jaka sembung naik ojek” alias tidak nyambung jek—dengan tingkat kebutuhan bacaan siswa SMP menjadi tidak relevan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;foto : politikana.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5533641847543111420?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5533641847543111420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/sisi-terang-buku-pak-beye.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5533641847543111420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5533641847543111420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/sisi-terang-buku-pak-beye.html' title='Sisi Terang Buku Pak Beye'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CtDaZTJxbno/TYGKYCc0DYI/AAAAAAAAAO4/C7zSGrUrNQI/s72-c/buku-sby.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8835659499833677637</id><published>2011-03-13T21:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:03:21.619-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS MENULIS'/><title type='text'>Tiga Syarat Proses Kreatif Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-U5XHQqHhKTA/TX2WO42R-mI/AAAAAAAAAOw/xyE4moxi7k0/s1600/196369_1887880873927_1148582869_2319660_7523345_a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-U5XHQqHhKTA/TX2WO42R-mI/AAAAAAAAAOw/xyE4moxi7k0/s400/196369_1887880873927_1148582869_2319660_7523345_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583784295531674210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menulislah dari sumber yang tidak pernah kering, SAMUDRA. Bukan dari sumber yang suwaktu-waktu bisa kerontang, SUNGAI"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Nasihat Seorang GURU di tahun 2001--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tulisan berasal dari aktivitas membaca. Baik secara tekstual, maupun kontekstual. Yang dihasilkan dari cara membaca tekstual adalah pengetahuan akan fakta-fakta. Orang menyebutnya sebagai data dan informasi. Sedangkan cara membaca kontekstual menghasilkan pemahaman. Disebut pula sebagai realita. Apa itu realita? Realita adalah rangkaian peristiwa yang jalin menjalin hingga memungkinkan berlangsungnya suatu kejadian atau fakta. Cara membaca yang kontekstual disebut pula sebagai membaca di balik yang nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGAI adalah ide tulisan yang berasal dari cara membaca tekstual. Berbasis pada materi. Instan, cepat diperoleh. Tapi juga bisa menghambat. Jika Anda menyandarkan referensi tekstual sebagai bahan utama tulisan, dan andai saja referensi buku yang Anda butuhkan tidak ada, sulit menyelesaikan tuisan. Seringkali tiadanya teks acuan saat akan menuliskan sesuatu inilah yang saya sebut sebagai SUNGAI yang kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan SAMUDRA. Ia tak pernah kenal kering. Biar stunami sekalipun. SAMUDRA adalah cara membaca kontekstual yang berarti kehidupan ini, termasuk kedirian Anda. Menjadikan SAMUDRA sebagai sumber ide, berarti menjadikan kehidupan ini dan diri Anda sebagai sumber inspirasi. Itu sebab, untuk sebagian orang, meskipun jarang sekali bahkan tidak pernah membaca teks, tetapi produktif menghasilkan tulisan. Karena tulisan adalah KEHIDUPANNYA itu sendiri. Sehingga ia tak perlu mencari teks-teks di luar dirinya. Nah kalau yang dijadikan sumber ide adalah SAMUDRA, maka dapat dipastikan, dalam kondisi dan situasi apapun, Anda tidak akan kesulitan mendapatkan ide. Ide tidak lagi Anda cari dan kejar. Sebaliknya Anda yang akan dikejar-kejar ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian cara membaca kontekstual akan mempertajam matabatin Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pentingnya, bagaimana caranya (metodologinya) agar dapat melakukan pembacaan kontekstual itu? Hingga memiliki matabatin (kesadaran) yang tajam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama harus ada API PEDULI atau CINTA KASIH. Banyak orang menyebutnya sebagai SIMPATI. Kedua, diri Anda musti hadir dan lumer dengan kehidupan; KETERLIBATAN atau boleh disebut sebagai EMPATI. dan yang KETIGA harus sesuai dengan NILAI-NILAI UNIVERSAL. Pelumeran (sublimasi) atas ketiganya oleh WS. RENDRA diikat ke dalam satu kalimat: Masuk ke dalam kontekstualitas sambil meraih ridha Allah!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ilustrasi: ressay.wordpress.com&lt;br /&gt;Gringsing, Batang&lt;br /&gt;14/3/2011&lt;br /&gt;08:21 wib&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8835659499833677637?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8835659499833677637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/tiga-syarat-proses-kreatif-menulis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8835659499833677637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8835659499833677637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/tiga-syarat-proses-kreatif-menulis.html' title='Tiga Syarat Proses Kreatif Menulis'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-U5XHQqHhKTA/TX2WO42R-mI/AAAAAAAAAOw/xyE4moxi7k0/s72-c/196369_1887880873927_1148582869_2319660_7523345_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3183009511863824736</id><published>2011-03-10T19:16:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:04:27.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HELATAN LITERASI'/><title type='text'>Melongok Minat Baca Warga Batang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LyM50K_Is70/TXmUpPMwhHI/AAAAAAAAAOo/m1JyTFD3vlU/s1600/Usaha_perpustakaan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LyM50K_Is70/TXmUpPMwhHI/AAAAAAAAAOo/m1JyTFD3vlU/s200/Usaha_perpustakaan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582656649278030962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui seberapa tinggi minat baca warga suatu kota. Pertama melalui pameran buku dan kegiatan yang berkaitan dengan buku. Kedua melalui kondisi perpustakaannya. Terutama perpustakaan daerah (kota/kabupaten). Kondisi yang saya maksudkan, terutama adalah jumlah kunjungan per harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya tinggal di Gringsing, wilayah paling timur dari wilayah kabupaten Batang. Jika harus ke perpustakaan daerah, yang terletak di sebelah selatan kantor bupati—sekitar 2 km—berarti saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 50 km. Dari ujung timur ke ujung barat Batang. Meskipun jauh di mata, tapi karena dekat di hati, beberapa kali saya sempatkan berkunjung ke perpustakaan. Tujuannya ada dua. Pertama bertamu ke pengelola perpustakaan. Saling bertukar informasi tentang perkembangan budaya baca, terutama pada warga kota Batang.  Kedua, melihat sendiri, seberapa tinggi antusiasme masyarakat kota Batang terhadap aktivitas membaca/berkunjung ke perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan temuan saya, hasil beberapa kali berkunjung ke perpustakaan kabupaten Batang tersebut, secara umum dapat saya simpulkan, minat baca warga Batang, khususnya mereka yang tinggal di sekitar wilayah kota Batang, cukup tinggi. Mengapa saya katakan cukup tinggi, karena belum sampai pada kondisi yang sangat tinggi—misalnya ditandai dengan tingkat kesibukan pustakawan, dan pegawai perpustakaan yang luar biasa sibuk. Sampai kuwalahan, kekurangan tenaga guna melayani masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara faktual, tingkat kunjungannya cukup menggembirakan. Tidak saja dari sisi kuantitas atau jumlah pengunjung yang rata-rata per hari tak kurang dari 100 orang, tapi juga kualitas kegiatan para pengunjung (pemustaka). Mereka tidak sekadar datang mengembalikan buku,  pinjam lagi, terus pulang. Banyak di antara pengunjung yang bertahan lama, membaca di ruang baca. Apalagi jika dibandingkan dengan perpustakaan kabupaten lainnya, Kendal, Grobogan atau Magelang misalnya, ruang perpustakaan kabupaten Batang terhitung luas. Ada ruang bermain anak yang disediakan khusus, yang penuh dengan alat permainan eduktif. Ada juga ruang referensi, yang menjanjikan kenyamanan buat pengunjung yang sedang melakukan penelitian. Ruang bacanya pun luas, nyaman, tidak panas. Meskipun tidak ber-AC.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saya, ini menurut salah satu pustakawannya, penggunaan ruang-ruang tersebut belum sepenuhnya optimal. Satu contoh, ruang bermain anak. Ruang ini sebenarnya bisa digunakan untuk kelas pembelajaran tentang kepengasuhan (parenting) bagi orangtua. Yang dapat dihelat secara periodik atau rutin. Tapi karena ada beberapa kendala, ide-ide seperti itu belum bisa dilaksanakan. Termasuk misalnya paket-paket mini pelatihan untuk orangtua, misalnya seni melipat kertas (origami), atau teknik mendongeng, juga belum dapat dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, secara umum ada harapan. Ada potensi, kalau di masa datang, perpustakaan Batang akan lebih berdaya.Varian layanan yang diberikan kepada masyarakat akan semakin beragam. Sehingga meningkatkan loyalitas pemustaka, yang pada akhirnya secara umum bisa menjadi sarana untuk menguatkan dan mengembangkan kampanye budaya baca di kabupaten Batang. &lt;br /&gt;Selain perpustakaan, ukuran lain yang bisa dijadikan titik pijak simpulan terhadap seberapa tinggi minat baca suatu warga kota adalah dengan melihat antusiasme warga saat ada pameran buku. Ada dua kegiatan perbukuan yang pernah saya datangi. Dua kegiatan tersebut yang pertama adalah pameran buku. Dan yang kedua adalah Batang Book on The Street. Yang pertama disebut, bertempat di gedung persis sebelah barat perpustakaan Batang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pameran buku di Batang, selalu menjadi even yang dinanti-nanti masyarakat. Demikian pengakuan salah satu pustakawan perpustakaan Batang kepada saya. Dan memang, pengakuan itu tidak berlebihan. Berdasarakan temuan saya menyaksikan pameran buku yang digelar pada akhir 2010 lalu, masyarakat Batang tumpah ruah di area pameran. Terutama saat acara pendamping berlangsung.  Hanya saja, acara pendamping yang dimaksud, adalah adalah acara pendamping yang secara langsung tidak berkaitan dengan buku. Misalnya, festival dolanan bocah. Giliran acara pendamping yang menawarkan ilmu, pengetahuan, informasi, kesadaran, wacana—seperti bedah buku, dan peluncuran buku, jumlah pengujung yang hadir dapat dihitung dengan jari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri buat event organizer dan perpustakaan kabupaten Batang. Bagaimana meramu acara yang menawarkan keseriusan, tapi disajikan dengan tampilan yang menarik. Sehingga pengunjung merasa percaya diri untuk ikut bergabung mengikuti acara. Tidak memiliki jarak, baik psikologi maupun  intelektual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain pameran buku, lain pula Batang Book on The Street (terselenggara pada Agustus 2010 lalu). Semangat yang hendak dimunculkan dari program ini adalah mengkampanyekan aktivitas membaca buku secara terbuka, di ruang publik, dan secara ekstrovet. Sekaligus harapannya menjadi wacana sanding buat warga Batang, ternyata acara perbukuan itu tidak harus berlangsung di gedung tertutup, tapi bisa di luar gedung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan Batang Book on The Street berlangsung di sebelah selatan-barat alun-alun Kabupaten Batang. Acaranya pun beragam. Justru pameran buku hanya menjadi aksesoris (pendamping). Yang utama adalah acara-acara yang menekankan partisipasi pengunjung. Beberapa diantaranya adalah Aksi Dongeng Jalanan, Festival Mewarnai, lomba tebak jumlah buku, kuis berburu buku, dan lain-lain. Lantaran kegiatan yang ditawarkan sangat beragam, nan asyik, banyak warga Batang yang berduyun-duyun memadati acara tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan akhir saya atas temuan-temuan di atas: minat baca warga Batang, mulai meningkat. Kecenderungan ini harus terus dikembangkan. Sehingga kesadaran masyarakat akan pentingnya aktivitas membaca kian menembal. Harapannya, tidak sekadar berminat membaca, tapi aktvitas membaca berubah menjadi budaya. Membaca menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Semoga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka, 25/2/2011 dengan judul Mengapresiasi Budaya Baca&lt;br /&gt;Foto : Ilustrasi—Wien Muldian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3183009511863824736?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3183009511863824736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/melongok-minat-baca-warga-batang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3183009511863824736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3183009511863824736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/03/melongok-minat-baca-warga-batang.html' title='Melongok Minat Baca Warga Batang'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LyM50K_Is70/TXmUpPMwhHI/AAAAAAAAAOo/m1JyTFD3vlU/s72-c/Usaha_perpustakaan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6549402503388679486</id><published>2011-02-26T17:13:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:05:26.148-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Agar Minat Baca Masyarakat Meningkat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-zuVID_eJJCU/TWmndirh6EI/AAAAAAAAAOg/T8FGFF8tuBU/s1600/nailabuku.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-zuVID_eJJCU/TWmndirh6EI/AAAAAAAAAOg/T8FGFF8tuBU/s400/nailabuku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578173739442497602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat Baca Publik Cukup Tinggi. Demikian judul hasil jajak pendapat Kompas (8/11/2008) tentang minat baca masyarakat di Kota Semarang, Solo, Purwokerto, dan Tegal. Sebanyak 38,1 persen mengaku setiap hari selalu membaca. Hanya 10 persen responden yang mengatakan tidak terlalu suka membaca. Dalam sebulan mereka hanya menggunakan satu dua hari untuk membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rilis hasil jajak pendapat tentang minat baca tidak sekali itu saja dilakukan Kompas. Dua tahun lalu, tepatnya 20 November 2006, Kompas melansir hasil jajak pendapat serupa. Berbeda dengan tahun ini, pada jajak pendapat tahun 2006 terungkap: minat baca buku masyarakat masih rendah. Tak kurang 67,16 persen responden menyatakan tidak pernah mengunjungi perpustakaan, baik untuk meminjam, maupun sekadar baca-baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun hasil jajak pendapat tersebut tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh populasi, dan besar kemungkinan sampel (responden) yang dicuplik antara tahun 2006 dengan 2008 juga beda, sehingga secara absolut keduanya tidak bisa diperbandingkan, tetap saja hasil jajak pendapat 2008 menumbuhkan optimisme tersendiri. Pengharapan itu penting, mengingat di tahun 2005 secara nasional, Jawa Tengah dinyatakan sebagai propinsi dengan angka buta huruf tertinggi kedua. Tak kurang dari tiga juta jiwa, di mana 20,42 persennya (680.768 orang) adalah usia produktif. Mereka meriap menjadi generasi nol buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pendidikan&lt;br /&gt;Membaca hasil jajak pendapat tahun 2008, saya menemukan beberapa kenyataan menarik. Pertama, ternyata responden yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki minat baca yang tinggi pula. Tercatat responden berpendidikan pascasarjana, seluruhnya (100 persen) membaca buku setiap hari. Kebiasaan yang sama juga dimiliki responden berpendidikan sarjana (48,5 persen), dan diploma (35,4 persen).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberan perangkaan di atas dapat disimpulkan bahwa tingginya tingkat pendidikan yang ditamatkan memiliki pengaruh yang sangat berarti (siginificant) terhadap meningkatnya minat baca publik. Penali  itu diikatkan berdasarkan asumsi: dengan tingginya tingkat pendidikan, semakin tinggi pula kesadaran terhadap pentingnya informasi, ilmu, dan pengetahuan. Dan ketiganya dapat diperoleh melalui aktivitas membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, lebih dari 50 persen responden menyatakan bahwa motivasi mereka membaca adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan ditempatkan sebagai tugas belaka. Temuan itu mengarah pada satu simpulan: sifat aktivitas membaca golongan menengah tersebut (pascasarjana, sarjana, dan diploma) masih terbatas pada hal-hal yang berwatak fungsional. Belum menjadi hobi, dan kebiasaan. Hanya 17,6 persen responden yang menempatkan kegiatan membaca buku sebagai gaya hidup (aktivitas budaya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ukuran, seseorang tergolong sudah berbudaya atau tidak—dalam konteks buku dan minat baca—adalah kesediaan ia untuk membaca buku bertema di luar pekerjaan dan menganggarkan beli buku di tiap bulannya. Dalam bingkai itu, hasil jajak pendapat tahun 2008 tidak beda jauh dengan tahun 2006. Pada tahun 2006, lebih dari separuh responden (58,21 persen) tidak memiliki anggaran beli buku di tiap bulannya. Hanya 15,52 persen responden yang mengaku tiap bulan menganggarkan beli buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbesar golongan menengah&lt;br /&gt;Bertolak dari ikhtisar di atas, paling tidak ada empat hal penting yang harus dipahami.  Pertama, pamrih meningkatkan minat baca (buku) pada masyarakat, berada dalam satu garis lurus dengan kemampuan pemerintah menyediakan sarana-prasarana  pendidikan, serta kemudahan untuk mengaksesnya. Hendaknya pendidikan dijadikan pula sebagai tempat berlangsungnya inisiasi dan internalisasi pentingnya membaca. Bukan hanya dengan memperbanyak jumlah taman baca. Karena membaca hanya sebatas akibat, bukan sebab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kemiskinan adalah bentuk paling ampuh dari kampanye antibuku. Alur pertaliannya seperti ini: karena miskin, tak punya uang, akhirnya tidak bisa mencecap bangku sekolah. Karena tidak sekolah, kesadaran tentang pentingnya pengetahuan, dan informasi tidak tumbuh. Lantaran tidak tumbuh, otomatis kegiatan membaca (buku) dianggap tidak penting. Maka tujuan meningkatkan minat baca, berbanding lurus dengan upaya mengikis angka kemiskinan. Karena, selama angka kemiskinan tinggi, selama itu pula, minat baca rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, agar level motivasi membaca meningkat, dari yang sekadar teknis, dan fungsional menjadi budaya, pemerintah harus memperbesar jumlah golongan menengah. Baik berdasarkan kategori tingkat kesejahteraan ekonomi maupun tingkat pendidikan. Caranya dengan menyediakan lapangan kerja yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, pemberian gaji dan upah yang memadai,  pemberian jaminan/asuransi kesehatan, perumahan, serta pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa pentingnya memperbesar golongan menengah serta mengarahkan kegiatan membaca sebagai aktivitas budaya? Tak salah lagi, karena keduanya selama ini kerap didaulat menjadi aktor (hardware) dan otak (software) yang mampu membuka pintu bagi datangnya modernisasi, partisipasi, empati, kepedulian, demokratisasi, desentralisasi ilmu pengetahuan, perbaikan taraf hidup, kesadaran arti penting membaca, serta kemajuan suatu bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, agar hasil jajak pendapat minat baca bisa menjadi input kebijakan yang akurat, responden hendaknya dipecah-pecah berdasarkan kategori kelas. Taruhlah, ini contoh saja, berdasarkan tingkat pendidikan, gaji, dan belanja bulanan, responden terbagi menjadi  kelas atas, menengah, dan bawah. Setelah responden tiga kategori itu terbentuk, baru dilakukan jajak pendapat. Saya membayangkan hasilnya tentu akan lebih menarik dan penuh kejutan-kejutan aneh. Termasuk perbedaan rekomendasi program peningkatan minat baca di tiap-tiap kelasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6549402503388679486?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6549402503388679486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/agar-minat-baca-masyarakat-meningkat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6549402503388679486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6549402503388679486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/agar-minat-baca-masyarakat-meningkat.html' title='Agar Minat Baca Masyarakat Meningkat'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zuVID_eJJCU/TWmndirh6EI/AAAAAAAAAOg/T8FGFF8tuBU/s72-c/nailabuku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6714842801214468092</id><published>2011-02-24T16:12:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:06:08.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HELATAN LITERASI'/><title type='text'>Sisa Arti Peluncuran The Art of Libary</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QdkeYzJ4wOk/TWb1eh9bdpI/AAAAAAAAAOA/0wpM4Sl87H0/s1600/bedah1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QdkeYzJ4wOk/TWb1eh9bdpI/AAAAAAAAAOA/0wpM4Sl87H0/s400/bedah1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577415093405841042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kini bukan lagi karya personal, tapi komunal, bahkan industrial. Guna menerbitkan satu judul buku saja, memerlukan campur tangan banyak pihak. Mulai dari pemeriksa aksara, penyunting, pembaca halaman proof, layouter, designer kover, hingga pekerja percetakan. Karena memerlukan campur tangan banyak pihak, tentu saja dalam proses pengerjaannya memerlukan komunikasi yang memadai antara penulis dengan pihak-pihak yang turut membantu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya sejak awal ketika seseorang memutuskan diri untuk menerbitkan buku, ia sudah siap untuk berinteraksi dengan pihak lain. Membuka diri untuk menerima beragam pendapat, usulan, dan ide dari orang lain. Dan semuanya dimaknai sebagai bentuk proses sinergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan, termasuk di dalamnya adalah buku, bukanlah semata-mata teks. Ia adalah anak rohani. Saat membaca tulisan sejatinya kita sedang mendalami kedirian penulisnya. Paradigma berfikirnya. Sikap laku hidupnya. Maka menjadi penulis adalah menjadi sosok yang igaliter, menyetara, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;friendly, open mind. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai seorang penulis itu adalah pustakawan, maka dapat saya simpulan ia seorang pustawakan yang “tercerahkan”. Selalu berusaha memberikan nilai tambah (value added) atas apa-apa yang telah dikerjakan. Menjadi sosok pertama yang hidupnya terinspirasi oleh buku. Dengan frase yang padat: Buku melangitkan ku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit selain sebagai metafora dari cita-cita tinggi, ia juga bermakna berkesadaran Tuhan (transenden). Yang didalamnya terkandung niat dan kesadaran untuk memelihara, mengembangkan, dan memuliakan kehidupan (ego semesta). Menganggap pihak lain bukan sebagai lian (others) tapi pihak yang dihadirkan Tuhan untuk bersama-sama memakmuran kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana pun ia hadir, akan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Salah satu bukti terdekat adalah apa yang terjadi pada Selasa (22/2) lalu. Bertempat di ruang belajar UPT. Perpustakaan UNDIP, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Art of Library,&lt;/span&gt; buku anggitan Endang Fatmawati diluncurkan dan didiskusikan. Endang adalah koordinator (mungkin lebih tepat disebut sebagai Kepala) Perpustakaan FE Undip, Semarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengakuan Endang, ia belum sempat memberitahukan ke teman-teman, terutama Kepala UPT. Perpustakaan Undip, tentang kelahiran anak rohani pertamanya itu. Tapi tiba-tiba ditelpon untuk hadir dalam acara peluncuran. Tentu ini kabar menggembirakan. Keberhasilan Endang menelurkan buku mendapatkan respon yang melegakan dari teman-temannya, terutama di lingkungan perpustakaan Undip. Dan yang musti saya catat, panitia pelaksana, yaitu para pustakawan di UPT. Perpustakaan Undip berjibaku meng-create sendiri acara. Mulai dari pendanaan hingga teknis acara. Mereka bela-belain membuat proposal, masuk dari satu pintu satu ke pintu lembaga lainnya, institusi (bisnis) yang mau diajak kerjasama, mensponsori acara peluncuran buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatan lurus. Hati bersih. Energi positif selalu saja bisa memberikan dorongan orang lain dan lingkungan untuk berbuat kebaikan pula. Itu simpul saya saat ditelpon, diminta menjadi pembedah atau pembahas buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Art of Library&lt;/span&gt;, sekitar satu bulan  sebelum hari H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat para pustawakan yang hadir, tak kurang 40 peserta dari perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi di Semarang dapat saya baca pula sebagai bentuk keinginan mereka pula untuk bisa menulis dan menelurkan buku. Hampir seluruh peserta tidak berajak dari tempat duduknya, mengikuti sepenuh sesi acara. Dari pembukaan hingga penutupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-obWPK9W5GHo/TWb1D11U3QI/AAAAAAAAAN4/9_ZrhFSTp2c/s1600/bedah2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-obWPK9W5GHo/TWb1D11U3QI/AAAAAAAAAN4/9_ZrhFSTp2c/s400/bedah2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577414634884095234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman saya yang sudah tidak berbilang menghadiri peluncuran buku, kenyataan ini sangat jarang saya temui. Biasanya peserta betah mengikuti acara yang menawarkan keseriusan ini kalau yang datang sebagai penulis dan pembicara adalah artis atau sosialita dari ibukota. Kalau hanya “orang biasa-biasa”, kebanyakan para mereka yang datang tidak dengan segenap semangat. Dan sangat longgar. Mereka dengan enteng saja meninggalkan acara meskipun, baru dalam hitungan menit acara berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan optimisme masa depan pustakawan dan perpustakaan (perguruan tinggi) juga saya dapatkan dari lontaran-lontaran pertanyaan saat sesi diskusi (sharing). Mulai dari yang mempertanyakan proses kreatif penulisan, mengapa kumpulan esai, bukannya buku utuh, hingga masukan untuk melengkapi kekurangan buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Art of Library&lt;/span&gt; yang dalam pandangan saya, justru bisa menjadi ide menulis buku utuh tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk obrolan saya dengan salah satu pustawawan (panitia, Ibu Yuven) sebelum acara berlangsung. Saya bercerita soal pergeseran ruang kelas untuk belajar menulis. Yang semula kelas fisik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(offline)&lt;/span&gt; menjadi kelas maya (online)—salah satunya melalui situs jejaring sosial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Facebook&lt;/span&gt;—dan justru hasilnya sangat efektif. Karena peserta dituntut untuk aktif. Efektifitas pelatihan sepenuhnya ditentukan oleh peserta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dinamis, heboh, ramai, ”meledak” suatu kelas, semakin banyak pula kemanfaatan dan informasi yang dapat diserap. Tidah hanya oleh para siswa (peserta pelatihan), tapi juga si pelatih (guru/instruktur literasi). Apa pasal? Karena internet memiliki sifat intekoneksitas. Semua boleh beriur rembuk. Semua yang terlibat adalah pemilik ”otoritas” kebenaran. Sehingga semua boleh berpendapat, dan mengeluarkan ”fatwa” (desentralisasi pengetahuan).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar menulis melalui internet atau online menjadi wujud paling efektif dari apa yang disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;learning by doing.&lt;/span&gt; Salah satu yang saya sarankan ke siswa-siswa saya, saat memberi komentar, atau update status di wall kelas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(groups) &lt;/span&gt;adalah jangan pernah menulis kata dengan disingkat-singkat. Misalnya saya menjadi sy; harus menjadi hrs. Kamu menjadi km. Dan yang sejenis dengan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menekankan pada mereka untuk tidak asal memberi komentar. Komentar pun harus ditulis dengan ejaan/huruf yang benar dan kalimat yang tegas tidak nggantung—misalnya dengan mengetik banyak tanda titik di akhir kalimat. Manfaatnya ada dua, kebiasaan (habit) ini akan memudahkan mereka saat betul-betul sedang menulis satu bentuk tulisan utuh. Tingkat akurasi hurufnya tinggi. Manfaat berikutnya berupa kelapangan dalam berfikir, dan tuntas dalam mengerjakan segala sesuatu. Jadi menulis dengan tidak disingkat-singkat itu ada makna filosofisnya. Mendengar cerita saya tersebut, pustakawan Undip yang sahabat saya pula ini tertarik. Mudah-mudahan kesadaran itu linear dengan keberanian untuk menempuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-QIvUS4hPzvU/TWb3GBBpcwI/AAAAAAAAAOI/g4qe2ShkQ5w/s1600/bedah4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-QIvUS4hPzvU/TWb3GBBpcwI/AAAAAAAAAOI/g4qe2ShkQ5w/s400/bedah4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577416871271559938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup catatan ini saya akan sedikit bercerita. Suatu waktu saya ditanya oleh seorang ibu muda. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Begini pertanyaannya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selama ini sebenarnya saya sangat senang dengan hal-hal yang berkaitan tema pareting. Mimpi saya, suatu hari nanti saya ingin bisa menulis buku-buku parenting. Tapi apa kompetensi saya ada di situ ya? Modal saya ya karena saya ibu rumah tangga (dan melihat kemirisan pola pendidikan anak di sekitar saya). Kalau mengingat latar belakang pendidikan, ya barangkali yang bisa saya lakukan adalah mengaitkannya dengan agama dan komunikasi (karena saat ini saya juga sedang s2 komunikasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa bisa saya masuk ke situ? Atau diterima sebagai orang yang berkompeten di bidang itu? Tapi di sisi lain, saya juga takut Kaburo Maqtan. Saya takut berbicara tentang “Bagaimana mendidik anak yang baik bla…bla..” padahal saya juga belum tentu sebaik itu. Toh hasilnya belum kelihatan. Anak saya masih 4 tahun dan masih dalam proses pemupukan. Ah dilematis memang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegasnya, pertanyaan saya : &lt;br /&gt;1. Bisakah saya memasuki bidang parenting?&lt;br /&gt;2. Bagaimana saya harus menyikapi perasaan takut kaburo maqtan dalam setiap hal yang saya tulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dan ini jawaban saya: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Parenting berarti tentang kepengasuhan. Kalau kita mau sederhanakan lagi, yaitu tentang bagaimana mengasuh anak. Di indonesia pengasuhan anak, lazimnya yang paling punya kontribusi besar adalah kaum ibu. Tapi coba Anda ke toko buku. Berderet buku parenting justru ditulis oleh kaum bapak, yang notebene-nya mereka lebih banyak berkiprah di dunia publik. Tidak begitu lekat berinteraksinya dengan anak-anak. Mereka orang-orang sibuk semua. ada Fauzil Adzim, Kak Seto, Wahyudin, dan sebagainya. Bukankah mustinya mereka tidak punya hak untuk menulis tema itu? Artinya jauh lebih punya hak kaum ibu buat menulis tema parenting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya ternyata bukan pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;expert&lt;/span&gt; atau tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;expert&lt;/span&gt; tapi kesadaran untuk berbagi atas pengalaman yang sedikit itu. Dan kalau diruntut-runtut, sebenarnya dari mana sih, kesadaran itu datang? Dari Allah bukan? Dan kalau yang datang dari Allah tidak ada istilah kecil, atau sedikit. Mereka syukuri kesadaran itu. Caranya? Dengan berbagi, dituliskan dalam bentuk kolom, esai, atau buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi&lt;span style="font-style:italic;"&gt; expert &lt;/span&gt;itu bukan sesuatu yang sudah selesai, tapi berperjalanan. Dan yang menilainya bukan kita. Tapi orang lain. Tugas kita hanya berproses. Berjalan. Melangkah. Lebih baik. Lebih baik. Begitu seterusnya. Dan jangan salah, salah satu pakar parenting di Indonesia, Fauzil adhim, keenam anaknya masil kecil-kecil lho. Toh beliau tidak pernah terserang penyakit kaburo maqtan itu. Setting diri saat menulis seperti ini. Tiap kesadaran dan sumber ilmu pasti datangnya dari Allah. Saat menuliskannya, hakikat sekadar juru ketiknya Allah. Dan itu juga diniatkan bagian dari menyampaikan amar Allah (dakwah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap diri itu unik, khas, dan beda. Dan tulisan hakikatnya adalah representasi dari ketiga itu. Wujud luar dari paradigma (cara berfikir) penulisnya tentang hidup dan kehidupan. Oleh karenanya tiap diri pasti beda. Itu sebab, buku parenting banyak jenisnya. Ditulis oleh banyak penulis pula. Tapi toh semuanya laku dan dibaca. Mengapa? Karena yang dibeli bukan teks atau ahli/tidak ahli tapi paradigma atau nilai-nilai hidup yang dipunyai dan ditawarkan penulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jawaban pendek saya atas dua pertanyaan di atas adalah: &lt;br /&gt;1. Sangat bisa!&lt;br /&gt;2. Sekadar menjalankan amarnya Allah dan bagian dari syukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Art of Libray, &lt;/span&gt;ia tak lebih dari ungkapan rasa syukur penulisnya, Endang Fatmawati atas karunia piranti (otak untuk berfikir, hati untuk merasa, fisik untuk bekerja) yang telah diberikan Tuhan secara limpah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;given&lt;/span&gt;, gratis). Karena syukur adalah upaya untuk melaksanakan amar Tuhan yang berada di balik setiap amanahnya. Mencari dan menemukan rahasia perintah Tuhan di balik setiap ciptaannya. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6714842801214468092?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6714842801214468092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/sisa-arti-peluncuran-art-of-libary.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6714842801214468092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6714842801214468092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/sisa-arti-peluncuran-art-of-libary.html' title='Sisa Arti Peluncuran The Art of Libary'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-QdkeYzJ4wOk/TWb1eh9bdpI/AAAAAAAAAOA/0wpM4Sl87H0/s72-c/bedah1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3505335716312660901</id><published>2011-02-22T10:58:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:10:06.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Himpunan Peta Literasi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-kOl437RzVkA/TWQIeKGrPYI/AAAAAAAAANw/qqkuR6TPgFI/s1600/Best%2BSeller_COVER.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-kOl437RzVkA/TWQIeKGrPYI/AAAAAAAAANw/qqkuR6TPgFI/s320/Best%2BSeller_COVER.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576591552792968578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: Lulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini saya temukan terselip di tumpukan buku salah satu stand Islamic Book Fair awal Maret lalu. Bukunya tipis, tidak sampai 200 halaman, dengan warna sampul yang cukup mencolok—merah, biru, kuning. Judulnya cukup menantang, "Best Seller Sejak Cetakan Pertama". Saya jadi tergugah dan menariknya dari tumpukan buku. Terus terang, saya ingin tahu tentang seluk-beluk penerbit, mengingat pekerjaan saya sebagai penerjemah bersinggungan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya buka halaman demi halaman. Buku ini terdiri atas tiga bagian, dengan setiap bagian menampung sejumlah artikel. Bagian pertama, “Dunia kecil yang begitu indah,” bercerita tentang penerbitan dari pengalaman pribadi penulis. Judul artikel terdepan sama dengan judul buku ini. Dalam artikel itu, penulis menyampaikan bagaimana beberapa penerbit tidak lagi membubuhkan “best seller” pada buku yang sukses terjual setelah dicetak sekian eksemplar. Namun, cap ini sudah ditambahkan sejak cetakan pertama sebuah buku, dan dianggap sebagai doa, yang terkabul atau tidak urusan nanti. Intinya, taktik best seller sejak cetakan pertama ini jangan dilihat sebagai bentuk kebohongan penerbit kepada pembaca. Hmm, artikel yang cukup menantang, walau cukup membuat saya mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel-artikel berikutnya tidak sekonfrontatif artikel tadi. Malah, banyak yang membuat saya tersentuh. Penulis memaparkan dunia penerbit dari pengalaman pribadinya, mengenai posisi endorsement pada sebuah buku, mengenai buku yang dikemas dalam bentuk komik untuk menyikapi semakin sedikitnya waktu membaca orang-orang, mengenai buku skill writing yang banyak beredar sekarang, hingga tentang self-publisher yang didasari pengalaman pribadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua, “Mata baru komunitas literasi,” berisi sejumlah artikel tentang komunitas atau sosok yang berhubungan erat dengan dunia buku. Seperti Mbah Dauzan Farook, penggiat perpustakaan keliling di daerah Kauman, Yogyakarta. Atau komunitas Klub Pencinta Perpustakaan SMAN 49 Jakarta yang mengubah citra perpustakaan sebagai tempat yang kuper dan terpencil menjadi ajang berkumpul dan mengasah diri, bahkan dalam perkembangannya diubah menjadi kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu yang memikat saya adalah Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang), sekelompok kartunis dengan markas nomaden dan kadang menumpang di rumah salah satu anggota, namun mampu mengukir prestasi di tingkat internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir, “Bahaya bangsa tanpa minat baca.” Sesuai dengan judulnya, penulis menyampaikan opininya tentang generasi sekarang yang lebih akrab dengan televisi, tentang budaya membaca yang semestinya diperkenalkan sejak dini, dan yang menarik, tentang perpustakaan dan gaya hidup, terutama perpustakaan sekolah yang dikatakan penulis “hidup segan mati tak mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti salah satu tulisan di dalamnya, “Buku yang bukan buku,” tentang buku sebagai kumpulan artikel, buku ini sendiri punya ciri yang persis sama. Kelihatannya penulis hanya mengumpulkan beberapa artikel yang pernah ditulisnya untuk disatukan ke dalam buku ini. Namun, buat saya pribadi yang tidak terlalu paham dunia penerbitan, buku ini cukup asyik. Ibarat orang yang ingin belajar catur, saya langsung diberikan papan catur dan bidaknya, alih-alih buku teori tentang catur. Membaca apa yang dialami orang lain buat saya lebih menyenangkan daripada disuguhi teori berbab-bab mengenai dunia penerbitan. Mungkin tidak berlebihan jika buku ini disebut “tambang emas,” sebagaimana yang tercantum pada endorsement di sampul depan. Sebuah tambang emas yang terselip di antara tumpukan buku-buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Judul tulisan ini, diberikan oleh saya Agus M. Irkham&lt;br /&gt;--Dikronik dari http://www.goodreads.com/book/show/3657306.Bestseller_Sejak_Cetakan_Pertama--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3505335716312660901?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3505335716312660901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/himpunan-peta-literasi-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3505335716312660901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3505335716312660901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/himpunan-peta-literasi-indonesia.html' title='Himpunan Peta Literasi Indonesia'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-kOl437RzVkA/TWQIeKGrPYI/AAAAAAAAANw/qqkuR6TPgFI/s72-c/Best%2BSeller_COVER.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5533187456721769115</id><published>2011-02-22T10:46:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:11:17.155-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS MENULIS'/><title type='text'>Tiga Komponen Penting Artikel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gqAxXDPPB-g/TWQFTk1YPUI/AAAAAAAAANo/1cWevNH_CLA/s1600/prigel.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gqAxXDPPB-g/TWQFTk1YPUI/AAAAAAAAANo/1cWevNH_CLA/s320/prigel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576588072454733122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--dicuplik dari buku Prigel Menulis Artikel--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel merupakan salah satu jenis tulisan yang unik. Berisi tentang suatu yang ilmiah, tapi dikemas dengan bahasa yang cair, ngepop dan menarik. Tidak membuat dahi berkerut. Bahasa artikel adalah bahasa pinter. Jika ada pameo orang pintar membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dipahami. Pameo tersebut berlaku untuk seorang penulis artikel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pembaca artikel di koran memunyai tingkat mamah kertas (kemampuan memahami teks) yang yang berbeda-beda, Anda harus betul-betul bisa membayangkan karakteristik pembacanya. Sehingga bisa menentukan gaya penulisan seperti apa yang akan Anda gunakan. Ini bertujuan untuk mengurangi resiko banyaknya jumlah pembaca yang  tidak memahami tulisan Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengetahui apakah artikel Anda bisa dipahami oleh orang lain/pembaca, adalah dengan berempati menjadi orang lain. Kemudian Anda membaca artikel tersebut. Anggap artikel itu adalah tulisan orang lain. Jika Anda merasa bingung, berarti tingkat keterbacaan artikel itu tergolong rendah. Anda harus revisi, agar lebih mudah lagi dipahami. Kalau tidak terpaksa sekali, jangan menggunakan kata-kata sulit (asing). Gantilah kata-kata asing tersebut menjadi kata yang mudah dipahami oleh pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada aturan tunggal atau baku, suatu artikel disebut bagus. Karena bagus-jeleknya sebuah artikel sebenarnya terletak pada suka tidak suka (like and dislike) redaktur, lebih tepatnya pembaca. Sekadar penggambaran saja, Anda suka makan bakso, ketika main ke rumah teman, Anda ditraktir mie ayam. Anda tidak terlalu bersemangat memakannya. Lalu apakah mie ayamnya tidak enak? Belum tentu. Karena ternyata teman Anda memakannya dengan sangat lahap, sampai keluar keringat. Persoalan sebenarnya sederhana: Anda lebih suka dan mengharapkan ditraktir bakso. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti artikel. Ketika artikel Anda tidak dimuat, lalu apakah artikel itu jelek? Belum tentu. Siapa tahu artikel Anda belum sesuai dengan keinginan dan kebutuhan sebagaian besar pembaca. Atau gaya tulisan Anda sulit dipahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, kalau ”dipaksa-paksa” ada sih sedikit rumusan tentang sebuah artikel yang baik itu seperti apa. Pertama, apabila artikel yang ditulis mampu menggerakkan pembacanya. Setiap kalimat yang tersusun membiak menjadi sebuah dialog yang hangat, akrab, dan membahagiakan. Gaya tulisannya khas dan beda hingga terus melekat di ingatan. Ia merupakan gabungan antara teks yang dibaca dan pengalaman penulisnya. Buah dari mengakrabi kehidupan.  Membuat pembaca mendapatkan sesuatu setelah ia selesai membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya cara jitu bagaimana melatih menulis artikel yang bagus. Yaitu dengan (awalnya) meniru penulis lain yang saya anggap pas banget dengan gaya yang saya maui. Cara demikian disebut bencmarking.  Meniru bukan berarti, lantas saya sekedar copy paste saja, atau hanya sekedar mengekor. Saya coba “meniru” berbagai gaya menulis, lalu menggabungkannya menjadi satu tulisan utuh. Sampai kapan peniruan itu saya lakukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan latihan menulis terus menerus. Ternyata proses latihan yang terus tiap hari tanpa putus, membuatku mulai berani untuk menulis dengan gaya saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tulisan penulis-penulis lain membantu menemukan gaya tulisan saya sendiri. Seperti itulah arti tulisan orang lain. Ia hanya sekedar menunjukkan jalan saja, tapi untuk sampai pada yang tujuan, saya harus berproses sendiri. Karena satu metode menulis tertentu untuk satu orang tepat, tapi belum tentu untuk orang lain. Meski begitu sebagai sebuah pilihan cara belajar, teramat sayang kalau harus dilewatkan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel yang baik dilihat dari judul, lead atau pemantiknya atau ada yang menyebut entry point, gaya penyajian isi serta dan paragraf akhir penutup artikel. Dua hal pertama yang saya sebut, peranannya sangat paling, tapi bukan berarti dua hal terakhir tidak penting. Judul dan pemantik menjadi sangat penting, karena menjadi perhatian pertama (calon) pembaca. Pembaca memutuskan untuk membaca artikel secara lengkap atau tidak biasanya setelah membaca judul dan paragraf pertama artikel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, berilah judul artikel dengan judul yang mudah diingat sekaligus “menggigit.” Sebab pembaca hanya perlu 4 detik untuk menyimak. Intimidasilah pembaca agar tergerak untuk membaca saat itu juga.  Agar menggigit judul harus relevan, ada hubungannya dengan isi artikel yang Anda tulis. Provokatif, dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pembaca. Di dalamnya terkandung-sebuah kesimpulan. Singkat, mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan enteng diingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul bisa memakai plesetan frase-frase yang sudah terkenal misalnya: “Preman Tapi Mesra”. Plesetan dari lagunya grup musik Ratu, Teman Tapi Mesra. “Buruk Muka Struktural, Cermin Sosial Dipecah”. Plesetan dari peribahasa Buruk Muka, Cermin Dibelah. “Jaring Pengamen Sosial”. Plesatan dari Jaring Pengaman Sosial. Atau menggunakan kata yang memunyai kesamaan rima seperti: “Kekerasan, Keti dan Rok Mini.” “Televisi, Kaya Laba Miskin Wacana.” “Manajemen Kurangajar Buku Ajar.” “Bahaya Bangsa Tanpa Minat Baca.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah judul, sekarang giliran pemantik. Pemantik harus mampu “berbicara,” meninju, menerbitkan rasa penasaran, hingga pembaca bersemangat untuk membaca paragraf-paragraf selanjutnya.  Pemantik jangan terlalu panjang cukup dengan 3-5 kalimat pendek. Tiap kalimat antara 5 hingga 10 kata. Salah satu cara menguji apakah sebuah pemantik “bicara” atau tidak adalah dengan membacanya keras-keras. Kalau nafas Anda terasa habis dan tersengal-sengal ketika membacanya, berarti pemantik itu terlalu panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantik bisa berupa kutipan langsung. Tujuanya untuk mengagetkan pembaca, sambil mengajak mereka langsung masuk ke dalam tulisan Anda. Sumber kutipan bisa dari buku, ucapan orang lain yang kita dengar, atau pengalaman Anda sendiri, ketika berbicara dengan orang lain. Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mas, coba nulis tentang budaya baca warga Semarang, tapi yang mengarah pada optimisme, jangan sebaliknya, justru mendatangkan rasa pesimis dan apatis.” Pinta Joko Pinurbo, penyair asal Yogya, peraih penghargaan Katulistiwa Literary Award 2005, sekaligus wakil pemimpin redaksi majalah Matabaca. Saat itu kami satu mobil dalam perjalanan dari Depok menuju Jakarta. Usai menghadiri talk show “Membangun Komunitas Baca dan Tulis” di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia 20 Maret 2003. Saya mengiyakan saja permintaan itu, saya tampung, untuk kemudian…lupa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Budaya Baca Warga Semarang, Kompas, 30/5/2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi artikel yang disukai pembaca adalah artikel yang tidak berkesan menggurui, tidak bertele-tele, mengandung unsur humor, dan jika memaparkan data, tidak membuat pembaca bingung. Buatlah paparan data itu mudah dipahami oleh pembaca yang paling awam sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ada yang namanya kaedah jurnalisme presisi. Secara sederhana, oleh Eriyanto (1999) diartikan sebagai metode penulisan (dan atau artikel) dengan menggunakan penelitian ilmu sosial kuantitatif. Peristiwa, karakteristik, tingkah laku, atau sikap diubah menjadi angka-angka untuk ditelaah dan dianalisis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa guna meneliti sebelum menulis? Pertama membantu kita mengurangi kesalahan, ketidakakuratan, ketidakobjektifan tulisan. Kedua, kita benar-benar menjadi orang yang tahu bukan sekadar pengamat atau pembuat analisis. Paparan data bisa berwujud tabel, diagram, grafik, dan sebagainya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakir adalah penutup atau closing. Tutup tulisan Anda dengan kalimat (paragraf) yang mengundang pembaca tersenyum sekaligus merenung. Membuat penasaran, mengompori pembaca untuk memberikan tanggapan (polemik), atau berupa penegasan sikap yang bersifat mengajak. Contoh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;“Masyarakat cilukba adalah masyarakat hangat-hangat tahi ayam. Gampang heboh, latah, emosinya gampang tersulut, tapi juga gampang lupa. Kemarin ramai bicara soal kenaikan harga BBM, sekarang sibuk berbicara soal impor beras, besok soal reshuffle kabinet, lusa entah larut tentang apalagi. Ketika ditanya soal itu semua, modus jawabannya hanya satu: sudah lupa tuh! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari Buta Huruf Sampai Cilukba, Kompas 17 Februari 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;“Di tengah rencana pemerintah menghidupkan kembali komando teritorial (KOTER), pengawasan ketat terhadap pesantren-pesantren, dan setiap warga negara dihimbau untuk segera mendaftarkan nomor ponsel yang dimiliki—himbauan berbau paranoid. Tentu upaya melejitkan potensi humoris yang dimiliki tiap individu menjadi begitu relevan. Namun, ini harapan Saya, mudah-mudahan saja kita tidak meninggal gara-gara Mati Ketawa Cara Rus… eh Indonesia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mari Menertawai Diri Sendiri, Kaltim Post, 22/11/2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersihkan tulisan Anda dari kesalahan penulisan huruf, terutama kesalahan ejaan kata asing. Jangan sampai artikel yang Anda kirim penuh dengan “bedak” yang menutup kesalahan penulisan yang kelewat banyak. Endapkan saja sehari-dua hari, baca lagi. Baca versi cetaknyadi (print out), karena akurasinya lebih tinggi dibandingkan membaca langsung di layar komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebersihan” tulisan sangat membantu redaktur membaca dan menyeleksi tulisan. Jika baru membaca judulnya saja, sudah menemukan kesalahan huruf, tentu untuk membaca tulisan selanjutnya menjadi malas. Memastikan tulisan bersih dan benar (clear and correct) akan sangat membantu kenyamanan pembaca. Karena berdasarkan pengalaman, saya pernah mengirim tulisan, meskipun sudah mati-matian saya edit, tetap saja ada satu dua huruf yang kelewat. Padahal artikel sudah kadung saya kirim. Singkat cerita ketika dimuat, ternyata kesalahan itu belum dibetulkan. Meski tidak mengurangi substansi isi keseluruhan tulisan, tetap saja saat dibaca terasa mengganggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5533187456721769115?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5533187456721769115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/tiga-komponen-penting-artikel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5533187456721769115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5533187456721769115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/tiga-komponen-penting-artikel.html' title='Tiga Komponen Penting Artikel'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gqAxXDPPB-g/TWQFTk1YPUI/AAAAAAAAANo/1cWevNH_CLA/s72-c/prigel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-4054257833110481385</id><published>2011-02-09T20:12:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:12:04.495-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Blog Sebagai Media Pembelajaran di Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-efgykaPgqNE/TVNmPrlPdqI/AAAAAAAAANg/fWtwiRrXGwY/s1600/forum1c.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 319px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-efgykaPgqNE/TVNmPrlPdqI/AAAAAAAAANg/fWtwiRrXGwY/s320/forum1c.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571909583570433698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru dan internet. Saat ini dua lema itu menarik untuk diulas. Maklum saja, tanpa ada upaya menguasai internet, cepat atau lambat fungsi guru akan tergantikan. Minimal jatuh wibawa. Karena untuk belajar dan bertanya, siswa akan lebih memilih mengetik kata kunci di google, atau wikipedia. Terlebih sejak 2006 pemerintah menerapkan Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP). Kurikulum tersebut memberikan keleluasaan siswa untuk memperkaya sumber-sumber materi pelajaran. Tak terkecuali dari internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu entry paling menonjol saat berbicara tentang penguasaan internet bagi guru  adalah Blog. Seminar dan workshop pembuatan Blog untuk guru seringkali digelar. &lt;br /&gt;Di Jawa Tengah misalnya.  Klub Guru Jawa Tengah menggelar Seminar Nasional dan Workshop Pembuatan Blog (8/3/2009). Workshop yang berlangsung di auditorium balai kota Semarang itu dihadiri lebih dari 300 peserta, sebagian besar guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, di awal Februari 2009, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMA RSBI (Rencana Sekolah Berstandar Internasional) Jawa Tengah menghelat workshop pembuatan Blog dan penulisan artikel. Ada sekitar 60 peserta berasal dari 34 SMA di Jawa Tengah antusias mengikuti pelatihan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ada apa dengan Blog? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana Blog dapat dimaknai sebagai satu  halaman  web  yang  berisi  tulisan  pribadi  atau  kelompok  yang secara otomatis telah diurutkan berdasarkan kronologis waktu. Di dalam Blog terdapat beragam fitur yang memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi antara pemilik dengan pengunjung Blog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal kemunculannya, Blog lebih banyak berisi curhat, dan catatan harian (diary) pemiliknya yang bersifat pribadi. Tapi seiring berjalannya waktu, isi Blog kian beragam. Ada yang digunakan sebagai gerai dagangan jasa dan barang, media berbagi dan bertumbuh (sharing and growing) sesama anggota komunitas, tandon informasi beasiswa, lowongan kerja, termasuk sebagai ajang komunikasi antar guru, guru dengan siswa, dan antar siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan jumlah Blog di Indonesia terbilang cepat. Setiap enam bulan sekali bertambah dua kali lipat. Jika pada Oktober 2007 jumlah Blog masih 130 ribu, maka per Maret 2008 sudah mencapai 400 ribu. Salah satu sebab meledaknya jumlah Blog adalah tabiat asli Blog itu sendiri. Yaitu gratis, memudahkan, dan fitur-fitur yang tersedia cukup lengkap. Dengan demikian bagi seorang yang awam internet, dan tidak tahu bahasa pemrograman sekalipun, tetap bisa dengan mudah memanfaatkan Blog.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Blog sebagai media pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga situasi paling tidak, yang membuat Blog bisa menjadi alternatif media pemelajaran di sekolah. (1) KTSP yang mengharuskan guru dan siswa memperkaya materi dan sumber pemelajaran. (2) Keterbatasan sumber pemelajaran yang berbasis pada atom/kertas (buku teks pelajaran). (3) Tingginya angka pengguna internet dari kalangan pelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui, sampai dengan Oktober 2007 pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angka 25 juta. Dari angka tersebut, 30 persennya adalah pelajar. Jika kita ambil rerata jumlah Blogger (pemilik Blog) dari kalangan pelajar adalah 10 persen saja dari 30 persen tersebut, maka ada 750.000 pelajar yang setiap harinya nge-Blog. Mereka  menulis, mengedit, mengirim tulisan, mempercantik Blog dengan beragam fitur maupun sekadar memberi komentar di Blog orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar catatan statistik di atas, pemanfaatan Blog sebagai sarana pen-desentralisasian ilmu pengetahuan di sekolah tentu saja bukan menjadi sesuatu yang di atas langit sana. Apalagi, secara eksplisit Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Muhammad Nuh pernah mengatakan bahwa hendaknya Blog dapat dijadikan sebagai sarana edukasi, pemberdayaan, dan pencerahan. Melalui fungsi edukasi tersebut, Blog bisa dimanfaatkan untuk mendukung proses pemelajaran di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa wujud nyata Blog sebagai media pemelajaran? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teknis pemelajaran yang akan diterapkan, paling kurang ada tiga bentuk (Ayu Setyautami, dkk, 2008). Pertama, Blog guru sebagai pusat pemelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru membuat satu Blog khusus yang diisi dengan materi pemelajaran tertentu. Siswa diminta memberikan komentar, kritik/revisi atas materi tesebut. Tidak hanya komentar, siswa juga diberi keleluasaan untuk menuliskan link yang dapat memperkaya materi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain materi, Blog juga bisa digunakan untuk memuat tugas-tugas yang harus diselesaikan para siswa. Agar menarik, guru dapat melengkapi tampilan tugas itu dengan animasi lagu, video, dan fasilitas  multimedia  lainnya. Penilaian akhir hendaknya tidak didasarkan hanya pada pengerjaan tugas, tapi juga kuantitas dan kualitas siswa dalam memberikan komentar/kunjungan ke Blog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Blog guru dan siswa yang saling terintegrasi. Guru kelas/mata pelajaran dan siswa sama-sama memunyai Blog. Blog siswa digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Siswa juga diberi kebebasan untuk memperkaya pelajaran yang diperoleh, dengan cara menuliskannya di Blog masing-masing. Dan itu akan dinilai oleh guru. Sehingga tanpa sadar para murid telah digiring ke dalam dalam situasi saling berkompetisi. Untuk mengentalkan gairah kompetisi, di tiap bulannya guru bisa memberikan hadiah (reward) untuk tiga Blog terbaik. Integrasi antara Blog guru dengan murid bisa dilakukan dengan cara saling nge-link. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Blog sekolah sebagai pusat pemelajaran. Guru dan siswa di satu sekolah memunyai satu Blog.  Blog itu dikelola dan dimanfaatkan secara bersama-sama, menjadi pusat pemelajaran (learning center) seluruh penghuni sekolah. Blog sekolah juga bisa ditempatkan sebagai humas-nya sekolah ketika berinteraksi dengan pihak luar, sekolah lain, misalnya. Nah, jika sekolah lain itu memunyai Blog, dan sepakat untuk saling nge-link (terintegrasi), maka telah terbentuklah komunitas Blog sekolah yang lebih mapan disebut sebagai komunitas Blogger pembelajar.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-4054257833110481385?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/4054257833110481385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/blog-sebagai-media-pembelajaran-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4054257833110481385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4054257833110481385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/blog-sebagai-media-pembelajaran-di.html' title='Blog Sebagai Media Pembelajaran di Sekolah'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-efgykaPgqNE/TVNmPrlPdqI/AAAAAAAAANg/fWtwiRrXGwY/s72-c/forum1c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2377068361527509693</id><published>2011-02-09T17:06:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:13:10.527-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Habis Komunitas Terbitlah Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ezkxrJmOmro/TVM76FUEfHI/AAAAAAAAANY/6uRtuA7LFT8/s1600/komunitas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ezkxrJmOmro/TVM76FUEfHI/AAAAAAAAANY/6uRtuA7LFT8/s320/komunitas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571863033032244338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;—pernah tersurat di majalah girlyzone—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sulit menerbitkan buku, bergabunglah ke dalam komunitas. Begitu nubuat sementara penulis senior untuk penulis mula. Tilikan yang mengandung sangka: mereka yang tergabung ke dalam komunitas berarti orang-orang yang tidak memunyai keberanian untuk berproses seorang diri. Termasuk menghadapi kegagalan dan penolakan dari media massa dan penerbit buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar begitu? Nanti dulu. Nujum itu itu benar jika komunitas yang dimasuki memang sudah jadi, punya nama. Sehingga oleh anggota yang baru masuk dapat dijadikan gerbong penarik. Memeroleh tambahan daya tawar. Nama besar komunitas menjadi semacam stempel kualitas tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akan lain ceritanya kalau komunitas yang dimasuki terbilang bayi, belum  mapan. Tentu pamrih numpang nama menjadi tidak relevan. Lantaran posisi komunitas lebih kental sebagai wadah berproses, ketimbang tukang stempel.  Menjadi semacam masterminds. Ajang saling ledek, memprovokasi, menyemangati, sekaligus belajar menulis. Isi (anggota) dan wadah (komunitas) tumbuh berbarengan. Jenis komunitas terakhir inilah yang biasanya lebih berpotensi memiliki anggota loyal. Dan lebih penting lagi, tidak menghasilkan penulis karbitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ke dalam ragam komunitas terakhir disebut,  beberapa di antaranya: Komunitas Bambu, Komunitas Pecinta Bunga Matahari, Komuntas Rumah Malka, serta Rumah Dunia. Dan yang menarik, berdasarkan  hasil pendarasan saya atas lebih dari 20-an komunitas literasi di Indonesia, baik yang bersifat online maupun offline, termasuk empat komunitas tersebut di atas, rupa-rupanya mereka bermula pada satu titik yang sama: kegemaran terhadap (membaca) buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modusnya kira-kira seperti ini: awalnya suka buku, ngumpul, berdiskusi, ngobrol soal buku, obrolan direkam, dicatat. Lantas diketik, diedit, dan dikemas dalam bentuk buku. Bahkan tidak berhenti di buku hasil transkripsi diskusi saja, tapi juga buku utuh. Buku yang memang sejak awal menulis diniatkan untuk diterbitkan. Jadilah dari buku ke komunitas ke buku lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ngobrol berkembang menjadi pusat aktivitas budaya. Membaca, berdiskusi, meneliti, menulis, dan menerbitkan buku. Komunitas Bambu (Jakarta) misalnya. Komunitas yang proses kelahirannya dibidani oleh Ihsan Abdul Salam, Donny Gahral Ahdian, dan JJ Rizal ini tergolong produktif menghasilkan buku. Berlarik judul di antaranya: Strategi Menjinakkan Diponegoro, Lembah Kekal, Seikat Kata yang Beku, Kisah Surat Dari Legian, Pura-Pura dalam Perahu, dan Paris di Kala Malam. Kerjasama menyangkut kelonggaran pembayaran biaya cetak, membuat gairah mereka menelurkan buku semakin meninggi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya, adalah Komunitas Pencinta Bunga Matahari. Akrab disebut dengan nama Komunitas Buma. Komunitas pencinta puisi ini sebelumnya juga hanya sekadar ngumpul-ngumpul. Berdiskusi melalui mailing list, saling bertukar dan membaca puisi. Berbagi cerita proses kreatif, dan bersilang komentar atas satu dua judul buku kumpulan puisi. Ujungnya? Mereka meluncurkan buku kumpulan puisi: Antologi Bunga Matahari (avatar Press, 2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh salah satu pendirinya, Gratiagusti Chananya Rompas, yang lebih karib disapa Anya Rompas, Buma dimaksudkan sebagai tempat bagi semua orang untuk secara bebas mengapresiasi puisi. Tidak terbatas hanya pada mereka yang mencipta, tapi juga yang sekadar penikmat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Buma membuat semua orang dapat berpuisi”, jawab Anya, ketika saya tanya tujuan ia menggagas komunitas itu. ”Sehingga tidak ada lagi olok-olokan, penulis puisi lebih banyak ketimbang pembacanya.” tambahnya. Di telinga saya, kalimat itu terdengar lain: ”Buku kumpulan puisi menjadi buku yang paling tidak laku.”  Sayangnya, saya tidak melanjutkannya dengan bertanya: apakah Antologi Bunga Matahari laku di pasaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berbicara tentang pertalian antara buku dan komunitas, “dosa besar hukumnya” jika tidak menyebut Forum Lingkar Pena. Dunia perbukuan Indonesia telah berhutang banyak pada komunitas yang disebut sastrawan gaek, Taufik Ismail sebagai “hadiah dari Tuhan untuk Indonesia” itu. FLP sejak kelahirannya hingga kini telah menelurkan ribuan judul buku. Baik sasta (fiksi), maupun non fiksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah yang dapat kita kunyah dari fenomena—kalau boleh disebut demikian—buku-buku yang dilahirkan oleh komunitas literasi, pertama menulis buku sangat dekat dengan aktivitas membaca, berdialog, merenung, dan meneliti. Ia merupakan gabungan antara teks dan konteks. Buah dari mengakrabi kehidupan. Itu sebab, buku disebut sebagai anak rohani manusia. Bukan lawanannya: menulis buku adalah kerjaan orang yang kuper, penyendiri, dan fatalis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kecintaan terhadap buku tidak membuat pencintanya larut dalam tindakan konsumtif, berupa sekadar membeli untuk memperbanyak jumlah koleksi. Sebaliknya, justru merembetkan rasa iri. Berupa keinginan untuk menulis buku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena membaca buku bukan suatu kegiatan yang terpisah atau yang ditambahkan, melainkan berkait jalin dengan proses makna teks. Para pembaca adalah pencipta makna.” Demikian tulis Karlina Leksono dalam esainya, Membaca dan Menulis: Sebuah Pengalaman Eksistensial (1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, buku yang terbit saat ini sejatinya adalah hasil pemaknaan atas buku yang terbit saat lalu. Simpulan itu sekaligus sangkalan terhadap adanya pendapat bahwa membaca buku itu tidak produktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bahwa proses kreatif menulis buku bersifat sangat personal, itu betul. Tapi jangan lupa, menulis buku membutuhkan nafas panjang. Dan nafas panjang itu berasal dari motivasi yang terus terjaga. Merujuk pada pengalaman tak berbilang penulis, motivasi paling sering datang dari orang-orang yang memunyai kesamaan minat dan tujuan—menjadi penulis. Di dalam komunitaslah ”kemewahan” itu dapat dicecap. Gratis lagi. Dalam pengertian yang terakhir itulah, kita dapat memahami fatwa: ketika Anda sulit menulis atau tidak berani menerbitkan (buku), bergabunglah ke dalam komunitas.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2377068361527509693?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2377068361527509693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/habis-komunitas-terbitlah-buku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2377068361527509693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2377068361527509693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/habis-komunitas-terbitlah-buku.html' title='Habis Komunitas Terbitlah Buku'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ezkxrJmOmro/TVM76FUEfHI/AAAAAAAAANY/6uRtuA7LFT8/s72-c/komunitas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3659328672220953881</id><published>2011-02-09T16:21:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:14:01.041-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Menggenapi Nama Allah yang Keseratus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVMv7FzNHuI/AAAAAAAAANA/ysTmp4C1plA/s1600/buku_mencari_nama_Allah_100.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 251px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVMv7FzNHuI/AAAAAAAAANA/ysTmp4C1plA/s400/buku_mencari_nama_Allah_100.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571849856203169506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. rkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Mencari Nama Allah yang Keseratus&lt;br /&gt;Penulis : Muhammad Zuhri&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Pertama, Juli 2007&lt;br /&gt;Tebal : 215 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pertama untuk menjadi muslim adalah mengucapkan kalimat syahadat. Momen meniadakan yang lain dan mengukuhkan yang satu, ialah Allah. Namun deklarasi itu belum final sampai dengan ia berhasil mengejawantahkan keyakinan ketuhanannya dengan perilaku keseharian. Hadir tidak sebagai anak struktur (akibat) tapi makhluk sejarah (sebab). Ia mampu memosisikan diri sebagai bukti keberadaan Tuhan. Bukti hadirnya kuasa kemanajerialan—Nya. Melalui sarana apa? Melalui 99 nama yang digunakan Tuhan untuk mencipta, memelihara, dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna. Dengan 99 nama Tuhan, ia menggarap diri, berupaya mengenapinya menjadi bilangan sempurna, 100.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di dalam mencari nama Allah yang keseratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan, atau menempuh cara-cara jalan kerahiban maka dapat dipastikan kita akan gagal memerolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah objek di luar diri kita, melainkan subjek pencari itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa wujud aktualnya? Mengupayakan kesembuhan bagi yang sakit, membimbing yang jumud, menyantuni yang dhuafa, melindungi yang teraniaya, menjadi mata buat yang buta. Menjadi penerang buat yang gelap. Dengan begitu, kita telah dipakai Tuhan sebagai saksi bahwa Tuhan itu ada. Jika tidak, maka berdosalah kita. Sebab setiap orang yang sedang menderita sakit, lapar, atau teraniaya pasti berharap, berdoa, dan jika harapannya tidak terlaksana, bisa jadi dia pun bersyak wasangka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuhan ini ada apa tidak? Saya merintih, meminta, tapi Dia tidak mengutus siapapun dari hamba-hamba—Nya untuk menyelamatkan saya.” Saya sudah memohon kepada—Nya ribuan kali, tapi Dia tidak menjawab. Apakah doa-doa saya tidak didengar Tuhan ataukah memang Tuhan itu tidak ada?”. (hal. 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah malangnya kita, bukannya menjadi agen Allah untuk terbitnya matahari kesadaran menghamba, sebaliknya justru menjadi kontributor tumbuhnya sifat iblis (kesombongan) dan syetan (serakah) dalam diri manusia. Hingga tanpa sadar, kita termasuk ke dalam golongan yang diperingatkan Al-Quran. “Mereka memunyai hati yang tidak digunakan untuk mengerti. Mereka memunyai mata yang tidak digunakan untuk melihat. Mereka memunyai telinga yang tidak digunakan untuk mendengar. Seperti binatang-lah mereka, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan seperti itu oleh Pak Muh, penulis buku ini dikatakan: meskipun mereka masih dapat melangsungkan hidup secara fisikal, namun sebagai manusia sebenarnya mereka itu telah mati. Karena ruang yang dijelajahinya tinggal ruang yang bersifat fisikal. Sedang ruang gerak dan bertumbuhnya umat manusia adalah tanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah peran diri kita diciptakan Tuhan di muka bumi ini, tidak lain untuk menyempurnakan struktur ciptaan—Nya yang kondisinya nyaris sempurna (diibaratkan angka 99), dan kita berkewajiban menyelesaikannya (menggenapinya menjadi 100). Kita mesti menerjunkan diri membantu mereka keluar dari penderitaan, turun ke bawah sebagaimana sifat air yang senantiasa turun ke bawah menyuburkan tanah dan menghidupi tanaman. Selebihnya , ia akan mengalir menuju ke samudra menciptakan sebuah keagungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3659328672220953881?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3659328672220953881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/menggenapi-nama-allah-yang-keseratus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3659328672220953881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3659328672220953881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/menggenapi-nama-allah-yang-keseratus.html' title='Menggenapi Nama Allah yang Keseratus'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVMv7FzNHuI/AAAAAAAAANA/ysTmp4C1plA/s72-c/buku_mencari_nama_Allah_100.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-7387661982367297748</id><published>2011-02-08T23:44:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:14:43.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Buku Berbalas Buku*)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVJGi8PTE6I/AAAAAAAAAM4/iRN5o_xYQAk/s1600/power.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVJGi8PTE6I/AAAAAAAAAM4/iRN5o_xYQAk/s400/power.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571593255110513570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;Sudah jamak buku yang memproduksi perdebatan lantas dibalas dengan menerbitkan buku pula. Hingga ada fenomena buku berbalas buku. Namun sangat jarang perdebatan itu melahirkan buku tandingan yang intensitasnya menyamai novel Da Vinci Code anggitan Dan Brown, seorang penulis Amerika. Da Vinci Code diterbitkan pada 2003 oleh Doubleday Fiction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya fiksi yang versi Indonesinya diterbitkan Serambi pada tahun 2004 itu,&lt;br /&gt;merupakan salah satu buku terlaris di dunia. Berdasarkan catatan saya, sampai dengan Agustus 2005 telah laku sebanyak 36 juta eksemplar dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, serta menjadi salah satu subjek studi kebudayaan (cultural studies).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus rahasia dalam novel ini adalah akurat," tulis Dan Brown membuka sapa. Penegasan yang semakin membuat banyak pihak gemetar, skeptis, sekaligus tak kuasa menunggu untuk segera membantahnya. Dan Brown disebut sebagai antikristus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka lahirlah beragam buku yang dimaksudkan sebagai revisi, bahkan tulis ulang atas apa yang sudah ditulis Dan Brown dalam Da Vinci Code. Anehnya bantahan itu tidak dalam bentuk novel, melainkan buku serius alias non fiksi: Mematahkan Teori-teori Spekulatif dalam The Da Vinci Code (Bhuana Ilmu Populer, 2005). Buku ini merupakan terjemahan Cracking Da Vinci's Code, karya James Garlow dan Peter Jones (Colorado Springs: Victor, 2004). Fakta dan Fiksi dalam The Da Vinci Code, Da Vinci Code Decoded: Menguak Kisah Di Balik Fiksi Da Vinci Code (Martin Lunn), Menjawab The Da Vinci Code, dan Pengakuan Maria Magdalena (Lie Chung Yen, Kanisius, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren buku berbalas buku itu paling tidak menerbitkan tiga pemaknaan.&lt;br /&gt;Pertama, Tidak ada kebenaran tunggal atas satu atau banyak situs sejarah. Tak ada pihak manapun yang memiliki otoritas kebenaran. Buku berbalas buku sekaligus bentuk optimisme terhadap pencarian kebenaran sejarah. Wujud nyata dari perjuangan melawan lupa. Karena kepemilikan tunggal atas klaim kebenaran sejarah sering kali memproduksi keberaturan yang meniadakan partisipasi dan kemerdekaan. Semua hendak didisiplinkan. Tidak hanya baju yang harus seragam, tapi juga isi kepala.  Buku berbalas buku adalah ruang (bagi) publik untuk menyatakan kebebasannya berpendapat. Entah dalam bentuk gunjingan, perdebatan, atau sekadar nggeremeng. Ia menjadi ukuran pada tingkat mana sebenarnya kemerdekaan individu itu diakui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, buku memungkinkan terjadinya perdebatan yang produktif. Perdebatan yang dilakukan tidak dengan semangat menyakiti. Sebaliknya, saling mengingatkan dan melengkapi. Ada keinsyafan betapa cara pandang terhadap satu persoalan itu begitu beragam. Wujud persaudaraan sebagai sesama makhluk Tuhan yang secara given telah diberi bekal untuk mengaktualisasikan potensi kebenaran yang dimiliki tiap diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan apa yang terjadi di bumi ini tidak ada satu dan sesuatu pun yang baru—karena jelujur kisah kehidupan sering kali berulang—sampai dengan seseorang bisa bersyukur atas apa-apa yang sudah diperoleh. Maka pada sudut ini, buku berbalas buku sebenarnya adalah bagian dari ungkapan rasa syukur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui menulis buku balasan, membuat seseorang berjarak dengan apa yang sedang ia sebut sebagai masalah. Keberjarakan itu diperlukan agar ia terhindar dari situasi kalis, bisa lebih jernih dan merdeka ketika melihat sesuatu. Itu sebab, isi buku balasan bukannya cemooh, syak wasangka, dan ejekan-ejekan nyinyir yang ditonjokkan pada penulisnya, tapi pemikirannya. Isi bukunya.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berbalas membuktikan kepada khalayak pembaca bahwa ternyata tema buku tidak akan pernah habis. Meskipun ada kesan semua tema dari a sampai z sudah pernah ditulis. Tapi ternyata ada saja, sela-sela tema, bagian atau sudut pandang tulisan yang belum dimasuki, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh penulis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dari sisi strategi pemasaran buku, buku berbalas buku adalah modus paling mudah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Karena pasar sudah terbentuk sejak mula. Perdebatan yang muncul, dapat dibaca sebagai potensi pasar yang masih terbuka lebar. Pada kasus Da Vinci Code, penerbit Bhuana Ilmu Populer yang merupakan kelompok Kompas Gramedia, serta Kanisius posisinya sebagai pembonceng gratis. Mereka tak perlu lagi bermain keberuntungan. Pada segi ini buku berbalas buku akan melahirkan istilah: penulis kejar tayang dan penerbit kejar setoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) judul esai ini diberikan oleh Anita Ba'daturohman, salah satu peserta pelatihan menulis artikel dan buku ONLINE yang tengah saya asuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-7387661982367297748?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/7387661982367297748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/buku-berbalas-buku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7387661982367297748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7387661982367297748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/02/buku-berbalas-buku.html' title='Buku Berbalas Buku*)'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TVJGi8PTE6I/AAAAAAAAAM4/iRN5o_xYQAk/s72-c/power.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-9007880861628183104</id><published>2011-01-30T16:28:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:15:33.794-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Dari Huruf ke Gambar Hidup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUYC9kZmaHI/AAAAAAAAAMs/3meH6N9KZTY/s1600/BROWNIES.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUYC9kZmaHI/AAAAAAAAAMs/3meH6N9KZTY/s400/BROWNIES.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568141246056523890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah. Protes. Ngomel. Beragam ekspresi keberatan seperti itu sering kali muncul ketika sebuah novel laris akan difilmkan. Alasannya bermacam-macam. Dari soal pemain yang tidak sesuai dengan karakter tokoh novel, hingga jalan cerita film yang dikuatirkan tidak sama dengan isi novel. Contoh paling dekat adalah film Ayat Ayat Cinta, dan Laskar Pelangi. Sampai-sampai Andrea Hirata, penulis novel Laskar Pelangi mengatakan: pembaca buku di Indonesia sangat bersifat personal, sentimental, dan cenderung emosional.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, para pengarang dan sineas nekat, tidak menuruti keberatan para pembaca. Dan kenekatan itu, sebagian besar terlunasi. Film adaptasi novel yang mereka putar didatangi jutaan penonton. Kemarahan, protes, omelan pun berganti sanjungan, dan acungan ibu jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, adaptasi novel menjadi film sebenarnya bukanlah barang baru. Seperti film berjudul Kampus Biru (Ami Priyono), Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya), Kabut Sutra Ungu (Syumanjaya)—untuk sekadar menyebut contoh. Bahkan film terakhir disebut, menjadi film paling laris dan menembus box-office. Hal yang sama juga berlaku pada Kampus Biru, film hasil adaptasi novel karya Ashadi Siregar, Cintaku di Kampus Biru.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, kemunculan berbagai film adaptasi itu justru dinanti-nanti orang penuh gairah. Mengapa bisa begitu? Ada dua kemungkinan. Pertama, meskipun secara jumlah, tidak terlalu besar, masyarakat pembaca saat itu sudah dewasa, pintar, dan mapan. Tidak bersifat personal, sentimental, dan cenderung emosional—meminjam istilah Andrea. Mereka sadar betul bahwa film adaptasi adalah sesuatu yang berbeda dengan bukunya. Film adaptasi bukanlah buku dalam bentuk film. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, masyarakat penonton saat itu bukanlah sebagai masyarakat pembaca sekaligus. Karena belum membaca bukunya, benak mereka tidak dipenuhi oleh sak wasangka tentang film yang benar yang begini-begitu. Mereka menempatkan film adaptasi itu sebagai film yang betul-betul orisinil/baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hubungan mutualisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberan asnad di atas memahamkan kepada kita bahwa buku rupa-rupanya tidak semata-mata produk budaya yang steril dari pengaruh budaya lain. Namun telah menjadi  bagian dari budaya pop lainnya, layaknya musik, film, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungannya pun bersifat mutualisme. Saling menguntungkan. Bisa saja seseorang  karena sudah membeli dan membaca, ia lantas penasaran ingin menonton versi filmnya. Maka tak berlebihan, jika angka keterjualan buku sebelum difilmkan sering menjadi titik pijak produser ketika menghitung potensi jumlah penonton (keuntungan).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebaliknya. Orang tergerak membeli dan membaca buku seusai menonton. Pada kasus buku yang sudah laris, tambahan penjualan itu akan semakin membuat kacang goreng iri. Hal itu juga dapat dimengerti: film yang kerap disalah sangkai dengan sesuatu bersifat massal, dangkal, dan konsumtif, dapat dijadikan pintu masuk upaya meningkatkan minat baca buku (personal, dalam, dan produktif) pada masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideal—dilihat dari kepentingan sineas dan pengarang—pun antara buku dan film saling memengaruhi. Di satu sisi isi film ditentukan oleh isi buku. Film menjadi bersifat personal, ada kedalaman, inspiratif, dan menerbitkan semangat berkreasi. Di segi lain perkembangan tema, isi, dan gaya penceritaan buku dipengaruhi pula oleh perturutan budaya pop dalam masyarakat yang terlipat dalam bentuk layar film maupun kaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang terjadi adalah saling mengadaptasi. Kini, melipat buku ke dalam film atau mengemas film dalam bentuk helaian buku sudah menjadi sesuatu yang jamak. Pengarang membaca film, sineas menonton buku. Dengan begitu justru semakin memperkaya antar keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca buku yang kemudian menonton film, dan penonton film yang lantas membaca buku, tanpa sadar keduanya juga melakukan proses adaptasi. Nikmati saja proses transformasi dari buku ke film atau sebaliknya itu. Tidak perlu menonton sambil mencocok-cocokan dengan isi buku. Justru hanya akan membebani, dan tidak bisa menikmati isi film. Jangan paksakan film yang sudah ada dalam bayangan kita—didapatkan saat membaca buku—mengganti film yang sedang ditonton. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Dekontekstualisasi teks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap penerbitan buku sudah dengan sendirinya membawa serta dekontekstualisasi suatu teks, tulis Ignas Kleden dalam esai berjudul Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Tentang Kebudayaan (1999). Nah,  film adaptasi sejatinya merupakan hasil dekontekstualisasi itu. Hasil darasan itu diolah, lalu dihadirkan kembali dalam wadah (media) yang berbeda, yaitu film. Sineas, sebagaimana pembaca lainnya, memunyai kebebasan penuh menafsirkan teks itu. Sesuai dengan piranti kebahasaan yang ia punyai (film), tanpa harus berkonsultasi dengan pembaca lainnya. Dengan begitu sikap keberatan atas transformasi huruf ke gambar hidup, saya kira menjadi tidak relevan. Meskipun, taruhlah hasil adaptasi ternyata sangat berbeda dengan isi buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberikan kebebasan kepada para sineas untuk menjajaki kemungkinan suatu buku diadaptasi ke dalam bentuk film, simpul saya justru akan meningkatkan produktivitas para pengarang dan sineas. Dan harapannya, tentu saja kualitasnya juga kian meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—pernah tersurat di Suara Merdeka—&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-9007880861628183104?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/9007880861628183104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/dari-huruf-ke-gambar-hidup.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/9007880861628183104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/9007880861628183104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/dari-huruf-ke-gambar-hidup.html' title='Dari Huruf ke Gambar Hidup'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUYC9kZmaHI/AAAAAAAAAMs/3meH6N9KZTY/s72-c/BROWNIES.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5584058662314456395</id><published>2011-01-28T23:30:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:16:24.322-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Ketika Si Ceriwis Menulis (Buku)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPCoxmJxGI/AAAAAAAAAMk/eqykPlnvPro/s1600/kaverBUKU.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPCoxmJxGI/AAAAAAAAAMk/eqykPlnvPro/s400/kaverBUKU.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567507570123981922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus . irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naga-naganya, nasib penulis pemula akan semakin merana. Di saat mereka suntuk mengasong naskah kian ke mari, para pesohor/seleb dengan begitu mudah menerbitkan buku. Sebagai penampil, ternyata mereka tidak saja ceriwis bicara tapi juga “pintar” menulis. Bahkan, tidak sedikit dari buku mereka yang laris manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Rieke Diah Pitaloka, melalui Renungan Closet: Dari Cengkeh sampai Utrecht (Gramedia Pustaka Utama). Cetakan pertama (3000 eksemplar) buku itu ludes hanya dalam waktu dua bulan. Melly Goeslaw, dengan buku kumcer bertitel 10 Arrrrrgh... (Gagas Media), telah diserap pasar hingga 10.000 eksemplar dalam waktu kurang dari setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling membuat iri adalah buku Debby Sahertian berjudul Kamus Bahasa Gaul. Buku berisi lingo atau bahasa prokem komunitas gay terbitan Pustaka Sinar Harapan itu, tak kurang 100.000 eksemplar telah dibeli orang. Keberuntungan Debby bak pinang tak berbelah dengan Supernova-nya Dewi Lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebab barangkali, banyak seleb mengikuti jejak Rieke dan kawan-kawan. Sys NS meluncurkan Yesterday, Today, Tomorrow, Inggrid Widjanarko merilis Surat untuk Rumput, Kris Biantoro menulis kisah pribadinya-Manisnya Ditolak, Katon Bagaskara memunculkan Bulan Dibuai Awan, Tamara Geraldine menerbitkan Kamu Sadar, Saya Punya Alasan untuk Selingkuh kan Sayang, Yon Koeswoyo membukukan pengalaman hidupnya-Panggung Kehidupan Yon Koeswoyo. Daftar tersebut masih dapat diperpanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polusi perbukuan&lt;br /&gt;Beragam tudingan muncul, menanggapi kecenderungan si ceriwis yang menulis itu. Mulai dari sangkaan bahwa seleb hanya menerapkan jurus aji mumpung. Penerbit, demi laba jadi abai kualitas. Hingga ada yang menyebut seleb nulis buku sebagai bentuk polusi di dunia  perbukuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dimungkiri, modal sosial berujud ketenaran para seleb punya arti tersendiri bagi penerbit. Penggemar yang dimilikinya menjadi semacam captive market. Walaupun jumlah pasti sering kali tidak dapat ditentukan, minimal sudah dapat dijadikan dasar penghitungan kasar jumlah kisaran serapan pasar. Jadi karakteristik konsumen yang hendak dibidik adalah konsumen emosional. Mereka tidak saja membeli isi buku, tapi sekaligus penulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah sosial pesohor yang sangat karib dengan media massa (wartawan), juga memudahkan penerbit mengkreasi promosi buku. Misalnya ketika menggelar acara peluncuran buku. Jika pada penulis pemula, wartawan/media diundang saja belum tentu datang. Tapi kalau penulisnya adalah seleb, tanpa diundangpun besar kemungkinan datang. Mengingat seleb yang menulis memang memunyai nilai berita lebih tinggi dibandingkan penulis (pemula) awam.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu, lantas apakah dapat disimpulkan, penerbit mengabaikan kualitas tulisan demi mengejar target keuntungan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira penerbit tidak akan gegabah dengan semata-mata memandang nama bukan karya. Kualitas tulisan akan tetap menjadi sesuatu yang penting, hanya saja menjadi tidak paling penting. Tidak lagi menjadi syarat absolut, tapi relatif. Artinya, jika di sana sini masih terdapat kelemahan dan kekurangan, sejauh tidak terlalu esensial, tak soal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku curhat&lt;br /&gt;Kebijakan itu disandarkan pada beberapa pengertian. Pertama, menulis bagi seleb hanya sebatas cara mengungkap rahasia kehidupan pribadi. Meskipun buku yang dihasilkan seolah-olah karya sastra, sesungguhnya karya biografi. Cuma ujud presentasinya saja yang melalui cara non biografis. Praktisi perbukuan, Frans M. Parera pernah menyebut bahwa buku biografis lebih condong pada pengembangan provokasi tentang pesona kehidupan privasi. Sebaliknya, karya sastra ditujukan pada kebermampuan menggugat dan memprovokasikan pesona kehidupan pribadi dan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahasa yang lebih gamblang, menulis buku bagi seleb adalah sebatas curhat dan bentuk perayaan kesuksesan hidup. Tanpa dibebani oleh banyak pretensi. Termasuk motif ekonomi (aji mumpung). Mereka menulis bukan untuk menjadi penulis, atau ingin disebut penulis. Kedirian mereka tetap seleb. Dan yang demikian sah-sah saja. Kalau sudah begitu, terhadap karya mereka, keseriusan macam apa yang masih dapat kita harapkan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, misteri buku laku. Ternyata buku bagus tidak menjamin akan cepat ludes. Tidak jarang justru terkena angka kutukan 3000 eksemplar. Dalam waktu satu tahun, tumpukan buku cetakan pertama berjumlah 3000 eksemplar itu tidak kunjung menipis. Kebalikannya, ada banyak buku disangka sementara pihak jelak (seperti halnya buku karya para seleb), eh ternyata penjualannya bagus. Tingkat preferensi orang terhadap konsumsi buku yang sulit ditebak itulah yang membuat penerbit menempatkan kualitas tulisan menjadi sesuatu yang bisa dinegosiasikan—dalam konteks seleb menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang pikiran dipenuhi sak wasangka, lebih baik tren seleb menulis buku kita tempatkan saja sebagai asnad bahwa ruang dunia perbukuan demikian terbuka. Ada saja bilik-bilik yang belum terulik. Satu bukti juga bahwa keberaksaraan (literasi, buku) memungkinkan terjadinya desentralisasi pengetahuan, sekaligus menumbuhkan sikap kesetaraan-kemanusiaan. Siapa saja punya kebebasan untuk datang, masuk, atau meninggalkan dunia perbukuan. Termasuk seleb. Bukankah seleb juga manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—pernah tersurat di Suara Merdeka—&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5584058662314456395?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5584058662314456395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/ketika-si-ceriwis-menulis-buku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5584058662314456395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5584058662314456395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/ketika-si-ceriwis-menulis-buku.html' title='Ketika Si Ceriwis Menulis (Buku)'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPCoxmJxGI/AAAAAAAAAMk/eqykPlnvPro/s72-c/kaverBUKU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-1859309954841706769</id><published>2011-01-28T23:27:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:17:20.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Dari Kover Turun ke Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPB3ir0M-I/AAAAAAAAAMc/0gmlSD1YwzY/s1600/hati_kover.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPB3ir0M-I/AAAAAAAAAMc/0gmlSD1YwzY/s400/hati_kover.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567506724307612642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat orang, maka kover buku adalah wajah. Meskipun ada yang mengingatkan: don’t judge by the look! Tetap saja, wajah adalah masukan penting pertama yang sering dijadikan seseorang ketika menilai pihak lain. Itu sebab, untuk sementara orang, mengurusi wajah sama pentingnya, bahkan lebih penting ketimbang diri si pemilik wajah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia perbukuan juga berlaku demikian. Isi memang penting, tapi itu tidak cukup. Ada satu lagi yang tidak boleh tercecer, yaitu kover depan. Karena kover menjadi jembatan penghubung antara calon pembaca (baca: pembeli) dengan isi buku. Bagaimana mungkin orang mau membaca isi, jika menyentuh kovernya saja enggan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, perkembangan disein kover buku berbunyi demikian nyaring. Seiring dengan nyaringnya capaian kemajuan di ranah teknologi publikasi. Meskipun begitu, teknologi, secanggih apapun, ia hanya sekadar alat. Bukan faktor penentu. Karena berdasarkan temuan saya, ternyata nama penulis (kompentensi, kredibilitas, keterkenalan, wilayah sosial) masih menjadi salah satu pertimbangan terpenting ketika menentukan model disein. Dalam konteks tulisan ini adalah menyangkut soal ukuran huruf dan pilihan warna yang digunakan untuk menulis nama penulis, dan judul buku. Termasuk pilihan ilustrasi yang digunakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mendasarkan pada ukuran-ukuran itu, saya mendapatkan tiga kategori kover. Pertama kover buku penulis pemula. Disebut pemula ukurannya bisa disandarkan pada jumlah buku yang sudah diterbitkan, atau derajat ke”artisan”nya. Nah, karena pemula, tentu ia harus tahu diri kalau namanya ditulis dengan ukuran huruf lebih kecil ketimbang judul buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan guna mendongkrak kualitas buku, penerbit berasa perlu meminta tokoh terkenal untuk memberi kata pengantar. Dan hasil akhirnya pun dapat ditebak. Nama penulis kata pengantar terpampang dengan ukuran huruf yang lebih besar, lengkap dengan pilihan warna yang mencolok ketimbang nama penulisnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda tergolong penulis pemula dan diperlakukan demikian, Anda tak perlu tersinggung, uring-uringan apalagi pakai acara ngambek segala. Ambil saja segi positifnya. Berbesar hatilah. Anggap perlakukan demikian sebagai tantangan untuk terus meningkatkan kualitas karya. Justru ketika buku terbit, sedang nama Anda dalam kancah dunia kepenulisan/perbukuan terdengar saja tidak, berarti kualitas tulisan Anda memang bagus. Pun ketika ada orang yang membeli buku Anda, dapat dipastikan ia membeli bukan karena nama tapi karya (isi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kover buku penulis mapan. Simpul-simpul penanda kategori penulis mapan, beberapa diantaranya, jumlah buku yang diterbitkan sudah bertumpuk-tumpuk, sebagian besar bestseller, sudah melakukan spesialisasi, ketika menelurkan buku lebih sering diminta penerbit ketimbang melamar penerbit, dan memunyai pembaca yang loyal. Sehingga apapun yang ia tulis, akan selalu dibeli. Tanpa reserve. Buku-buku terbarunya senantiasa dinanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama penulis mapan, di kover buku akan ditorehkan dengan ukuran huruf yang lebih besar ketimbang judul. Sehingga buat pembaca yang benar-benar awam dapat membingungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian buat penulis, terutama penerbit tentu sangat menggembirakan. Dapat memacu produktivitas karya. Tak perlu kuatir buku tak laku. Penulis dapat berkonsentrasi pada isi, sedang penerbit kualitas cetakan. Namun, kegembiraan itu bukannya tanpa cela. Karena kebanyakan pembaca adalah beli nama bukan isi, menjadi konsumen irrational, kekuatiran saya sikap itu buat penulis akan melahirkan perilaku aji mumpung, abai kualitas. Sedang buat pembaca, memproduksi gaya hidup snobisme. Beli buku Nurcholish Madjid agar disebut cendekia, memborong buku Emha agar disangka berbudaya, menumpuk buku Habiburrahman agar dinilai beriman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kover buku penulis kategori seleb, yang tidak saja mapan tapi juga telah menjadi ikon. Tidak saja dikenal sebagai writer, tapi juga trainer, speaker dan er er lainnya. Kisah hidupnya diangkat di koran, majalah dan televisi. Jika pada penulis mapan, konsumennya tergolong irrational (membeli nama), maka pada penulis seleb, konsumennya sangat irrational. Penulisnya sekalian ”dibeli”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan agaknya itu dipahami oleh penerbit. Terbukti, kover buku penulis seleb tidak lagi bermain-main di besar kecilnya ukuran huruf, tapi langsung menampilkan foto penulis sebagai ilustrasi kover depan.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-1859309954841706769?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/1859309954841706769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/dari-kover-turun-ke-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1859309954841706769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/1859309954841706769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/dari-kover-turun-ke-hati.html' title='Dari Kover Turun ke Hati'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TUPB3ir0M-I/AAAAAAAAAMc/0gmlSD1YwzY/s72-c/hati_kover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2215837310311186395</id><published>2011-01-23T06:29:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:18:08.135-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Pengalaman Membangun Komunitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw9CX43DOI/AAAAAAAAAMU/n8RFNwhz4Qc/s1600/Glonggong3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw9CX43DOI/AAAAAAAAAMU/n8RFNwhz4Qc/s320/Glonggong3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565390350504627426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2007, oleh Perpustakaan Kota Magelang saya diminta menjadi instruktur (trainer) menulis di program Klinik Baca Tulis. Program tersebut menjadi salah satu varian layanan perpustakaan. Kebetulan perpustaan memiliki satu ruang yang diperuntukkan khusus untuk kegiatan, terutama pengunjung/pemustaka. Ruang belajar tersebut cukup untuk menampung 20 orang. Klinik Baca Tulis berlangsung selama 8 kali pertemuan. Lantaran peserta yang ikut banyak, kurang lebih 40 orang, pelatihan di bagi menjadi dua kelompok. Pagi dan Siang. Peserta berasal dari bermacam-macam latar belakang sosial dan profesi. Mulai dari guru, polisi, bidan, wirausahawan, mahasiswa, hingga ibu rumahtangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan berlangsung selama satu bulan. Tiap pekan dua kali pertemuan, berdurasi satu setengah jam. Karena peserta tidak memiliki keberangkatan yang sama soal kemampuan menulis, maka materi pelatihan saya masuki dengan persoalan paling mendasar, yakni tentang motivasi. Mencari dorongan paling kuat dan emosional yang menyebabkan mereka harus menulis (willingness to write). Selain tentang kepenulisan, terutama menulis artikel, peserta juga saya latih menggunakan email. Mulai dari membuat email, mengirim surat, membuka surat, mengunggah lampiran, dan mengunduh lampiran. Pendek kata segala hal berkaitan dengan email dan proses atau cara pengiriman tulisan melalui email ke media massa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelatihan tersebut, saya juga mengembangkan pola komunikasi yang partisipatif. Melalui pendekatan pendidikan untuk orang dewasa, peserta saya libatkan di setiap subjek pembelajaran. Mulai dari motivasi, definisi, aturan teknis, dan seterusnya. Hingga kesadaran banyak hal tentang filosofi menulis mereka hasilkan (konstruksi) sendiri. Suasana kelas saya kelola sedemikian rupa sehingga tiap peserta saling mengenal lebih dekat dan akrab. Sehingga relasi yang terjalin antara saya dengan mereka, di antara mereka sendiri berlangsung guyub. Seperti ada ikatan emosional, meskipun banyak di antara peserta yang baru saling kenal saat pelatihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling seru adalah saat sesi pembengkelan karya. Secara acak saya mengambil contoh artikel yang telah dibuat peserta untuk kemudian saya bedah di kelas. Sesi ini menjadi sesi paling mendebarkan sekaligus ger-geran. Karena tak segan-segan saya mengkritisi sekaligus mencandai artikel yang tengah saya bedah. Saat pelatihan berlangsung saya juga mengatakan bahwa belajar menulis tidak harus pada akhirnya menjadi penulis. Tapi melalui kegiatan menulis bisa membantu melancarkan aktivitas  atau profesi yang sebelumnya telah dijalani. Karena aktivitas menulis memiliki banyak manfaat yang sifatnya tidak kentara. Mulai dari membuat berfikir dan berbicara lebih runtut, lebih fokus, mampu memetakan persoalan dan mencari beragam pilihan jalan keluar, berani berbicara di depan banyak orang, bicara tidak belepotan, dan lain-lain faedah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita pelatihan berjalan dengan sukses. Sejauh ini, sebatas pengetahuan saya, ada dua peserta yang aktif mengisi kolom opini di koran. Dua peserta tersebut adalah Nur Khafid, dan Budi Sulistiyono. Yang pertama disebut adalah seorang pendidik sekaligus wirausahawan, sedangkan Budi bekerja sebagai PNS Polri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya perlu saya tambahkan, ada salah satu peserta yang kebetulan memiliki usaha cetak sablon berinisiatif membuatkan kaos untuk saya dan seluruh peserta. Kami tinggal mengganti ongkos kain saja. Kalau tidak ingatnya biayanya hanya Rp10.000. Kaos tersebut di bagian belakang tertulis : Magelang Membaca, sekarang atau tidak sama sekali. Sedangkan yang di depan : KLINIK BACA TULIS Perpustakaan Kota Magelang. Kaos ”gratisan” di kemudian ini menjadi seragam resmi para peserta pelatihan saat menjadi panitia acara bedah buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan sebelum pelatihan usai, saya mencermati deretan nama peserta yang tertulis di daftar hadir. Saat membaca nama demi nama, ingatan saya langsung tertuju pada suasana kelas (palatihan) yang penuh kegembiraan. ”Sayang sekali, kalau keakaban itu terhenti setelah pelatihan selesai.” Pikir saya dalam hati. Lantas seketika terbetik di benak saya untuk menawarkan pada seluruh peserta, bagaiamana kalau dibentuk komunitas kepenulisan. Anggotanya adalah seluruh alumni peserta pelatihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja, ide saya itu disetujui oleh seluruh peserta. Tidak hanya itu, ide pembentukan komunitas penulisan juga saya perdengarkan ke kepala perpustakaan Kota Magelang (Ibu Sugiarti). Saya katakan ke beliau, teman-teman peserta pelatihan ini nanti akan menjadi pengunjung loyal perpustakaan sekaligus menjadi mitra perpustakaan saat akan menggelar beragam acara internal. Mereka juga akan menjadi agen pemasaran perpustakaan. Mengabarkan kepada publik Kota Magelang tentang keberadaan, variasi, dan kualitas layanan perpustakaan Magelang. Dan di awal-awal saya minta kesediaan beliau, untuk menjadikan salah satu ruang perpustakaan, khusus panggung baca dan ruang belajar sebagai tempat untuk kopdar alias ngumpul bareng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut. Ibu Sugiarti menerima usul saya. Tepat di hari terakhir pelatihan, seluruh peserta dan beberapa staf perpustakaan, termasuk Ibu Sugiarti, berkumpul di perpustakaan Desa Buku, Taman Kyai Langgeng Magelang. Pengelolaan Desa Buku kebetulan masih menjadi tanggung jawab perpustakaan Kota Magelang. Untuk lebih memberikan gambaran kepada peserta pelatihan tentang komunitas penulisan, secara khusus saya mengundang salah satu generasi awal Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta, Ika Nugrahaini. Mengapa saya pilih Yogya? Karena Yogya pada tahun 2005 pernah terpilih menjadi wilayah terpuji se-Indonesia. Sebab lain, secara geografis lebih dekat dengan Kota Magelang, dibandingkan misalnya Semarang atau Solo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalu Ika inilah, teman-teman peserta pelatihan semakin paham arti penting berkomunitas. Dengan berkomunitas membuat semangat mereka semakin terteguhkan. Dan satu sama lain saling memberikan informasi penting bahkan tawaran solusi ketika ada yang tengah menghadapi masalah dan kesulitan seputar menulis. Teman-teman di komunitas menjadi semacam masterminds. Jadi semangatnya akan terus terjaga. Dapat mempercepat kemajuan kualitas dan kuantitas artikel yang kita hasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sesi presentasi Ika selesai, saya tawarkan lagi kepada peserta, apakah akan membentuk komunitas sendiri, atau menggunakan wadah yang sudah ada, yakni FLP. Karena kebetulan sekali FLP Kota Magelang belum ada. Akhirnya semua sepakat untuk berhimpun ke FLP. Dan secara khusus, meminta Ika (FLP Yogya) menjadi mentor FLP Kota Magelang. Dan alhamdulilah permintaan itu diiyakan oleh Ika. Dengan demikian, hari itu menjadi hari lahirnya FLP Kota Magelang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang waktu 1 hingga 2 bulan usai pembentukan komunitas, FLP Kota Magelang tidak langsung saya lepas. Saya turut memberikan masukan, apa-apa saja yang musti dikerjakan setelah komunitas terbentuk. Beberapa di antaranya adalah pembentukan pengurus atau stuktur organisasi sekaligus pembagian kerja, dan program jangka pendek. Untuk program jangka pendek saya usulkan segera bersilaturahmi ke penulis. Dekat saja yang tinggal di Yogya dan Magelang. Lantas tersebutlah nama Joni Ariadinata dan Ajip Rosidi. Joni tinggal di Gamping, Yogya. Sedangkan Ajip tinggal di Pabelang, Magelang. Joni dikenal sebagai Presiden Cerpen Indonesia. Bekerja sebagai redaktur Majalah Horizon. Mantan penarik becak. Sedangkan Ajip terkenal sebagai ahli sastra Sunda, pendiri penerbit Pustaka Jaya, mengajar Bahasa Indonesia di Jepang, dan berderet label lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw7ugMv62I/AAAAAAAAALs/8Gd17MlJmWo/s1600/ajip_01.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw7ugMv62I/AAAAAAAAALs/8Gd17MlJmWo/s320/ajip_01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565388909626518370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto bersama sebelum pamitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8CkQviqI/AAAAAAAAAL0/GNBoN1vN91s/s1600/ajip_ROSIDI2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8CkQviqI/AAAAAAAAAL0/GNBoN1vN91s/s320/ajip_ROSIDI2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565389254314396322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saatnya yang yunior mendengarkan dulu:). Pak Ajip ternyata jauh dari kesan sementara orang: agak ketus bin judes. Sebaliknya, ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya usulkan untuk berkunjung ke penulis? Ada dua sebab, pertama mengetahui kepribadian si penulis. Menyakut kebiasaan hidup (habits) dan pandangan hidupnya, terutama dalam berkarya (menulis). Kedua, bagaian dari ikhtiar membangun jaringan (koneksi). Dan dihari yang ditentukan, FLP Kota Magelang, meskipun tidak semua, berkunjung ke mas Joni dan Pak Ajip. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya masih menyakini, sebuah organisasi/komunitas akan tetap eksis, jika ada kegiatan atau proyek. Kegiatan juga bisa menjadi ajang mempererat ikatan kerjasama dan emosi antara eksponen atau anggota komunitas. Atas dasar pemahaman yang demikian, saya meloby ke Ibu Sugiarti, agar perpustakaan mengadakan Bedah Buku. Saya yakinkan ke beliau, perpustakaan cukup menyediakan tempat, sound symtem dan kursi, lainnya akan ditanggung oleh FLP. Setelah agak ragu, akhirnya beliau berhasil saya yakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera meminta teman-teman FLP Kota Magelang berkumpul. Saya wacanakan tentang rencana Bedah Buku yang telah disetujui pihak perpustakaan, karena akan bertempat di perpustakaan. Semua diam. Tanda setujukah? Tidak! Mereka bingung. Karena usulan saya itu adalah betul-batul hal baru. Mereka bingung harus mulai dari mana. Bagaimana caranya mencari buku yang akan dibedah, menghubungi penulisnya, menggaet sponsor, mencari pembicara kedua (pembedah), hingga konsep acaranya seperti apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendapati suasana beku tersebut, pertemuan itu saya gunakan secara khusus untuk memberikan pengetahuan, informasi, dan strategi mengadakan bedah buku. Tak lupa memberikan contoh proposal kegiatan bedah buku yang bisa mereka copas dan modifikasi. ”Untuk saat ini, saya nanti yang akan menanggung honorarium pembicara kedua, menghubungi penerbit sekaligus mengatur teknis kedatangan penulisnya.” Ucap saya. ”Teman-teman hanya bertanggungjawab mempersiapkan tempat acara, undangan, dan publikasi.” Tambah saya.  ”Niatkan acara ini sebagai sarana belajar mengorganisasi kegiatan, membuat jaringan, dan meningkatkan kapasitas FLP Kota Magelang.” Pungkas saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka setuju. Buku yang dibedah berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Bertempat di panggung baca perpustakaan Kota Magelang. Acara berlangsung dengan sukses—paling kurang untuk ukuran pemula. Panitia sampai kehabisan kursi. Saat sesi tanya jawab pun, banyak guru dan siswa yang bertanya. Dari sini, mulai timbul rasa percaya diri dari para anggota FLP Kota Magelang. Saya katakan kepada mereka, saat menghelat acara, apapun termasuk bedah buku jangan pernah hanya menjadi penonton, atau panitia tanpa ikut berpartisipasi mengisi acara. Maka saat bedah DTS, mulai dari pembawa acara, moderator, pengisi dramatic reading, hingga pembacaan puisi saya harapkan itu semua dilakukan oleh para panitia (FLP Kota Magelang). Dan apa yang saya sarankan mereka jalankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8QIXbxRI/AAAAAAAAAL8/B05XpUpeH1E/s1600/DTS.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8QIXbxRI/AAAAAAAAAL8/B05XpUpeH1E/s320/DTS.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565389487344436498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DTS menjadi buku perdana yang dibedah di perpustakaan Kota Magelang--dengan konsep baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya berhenti di situ, untuk kali kedua, saya wacanakan ulang tentang bedah buku. Tapi kali ini lebih besar. Tempatnya pun tidak di dalam lingkungan perpustakaan, tapi di luar. Kemasannya juga agak lain dengan konsep pertama bedah buku DTS. Konsep bedah buku kedua saya beri tajuk: ZIARAH DIPANEGARA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya. Tapi bukan berarti generasi sekarang harus terus mengelus-elus hingga mengkilat sejarah masa lalu, bukan itu. Jauh lebih penting adalah menjadikan sejarah itu sebagai cermin diri. Sehingga kita bisa melihat diri lebih dekat dan dalam. Mengukur diri sejauh mana karir peradaban yang sudah kita capai. Pada titik itu kebijakan hidup akan hadir. Kebijakan yang dibentuk bukan dari kepingan-kepingan masa lalu, namun tanggung jawab kita atas masa depan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan apa yang terjadi di bumi ini tidak ada sesuatu yang baru—karena jelujur kisah kehidupan sering kali berulang—sampai dengan seseorang bisa bersyukur atas apa-apa yang sudah diperoleh. Maka menghormati jasa para pahlawan sebenarnya adalah bagian dari rasa syukur itu. Tentu saja tidak sampai di situ, tapi perjalanan harus dilanjutkan dengan berbagai macam bentuk aktivisme yang memberi kemanfatan kepada khalayak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah penting mencari cermin diri di tengah pikuk kehidupan yang tidak banyak memberikan kesempatan melakukan jeda, kontemplasi. Maka “Ziarah Dipanegara” sebenarnya bagian dari upaya menciptakan ruang publik untuk bersama-sama melakukan perenungan atas karir kemanusiaan masing-masing diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah Dipanegara saya rencanakan berisi bedah dan diskusi novel Glonggong karya Junaedi Setiyono; dramatic reading penggalan isi novel glonggong; aksi teatrikal penangkapan diponegoro;  pembacaan puisi diponegoro karya chairil anwar oleh pelajar sma; ziarah museum diponegoro; bedah lukisan pieneman dan raden saleh tentang peristiwa penangkapan diponegoro. Novel Glonggong adalah novel yang latar belakang kejadian perang Depangera, awal hingga akhir. Novel tersebut diterbitkan oleh Serambi. Merupakan novel pemenang sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari bedah buku kali ini adalah, membedah novel tentang peristiwa penangkapan Dipanegara, bertempat di serambi eks kediaman residen Magelang, tempat pangeran dipanegara ditangkap yang kini sebagian ruangannya digunakan sebagai Museum Dipanegara— berlatar persis lukisan pieneman dan raden saleh tentang peristiwa penangkapan diponegoro, dan berlangsung pada tanggal 28 Maret 2008, bertepatan dengan tanggal penangkapan Dipanegara, 178 tahun lampau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8iBQCuEI/AAAAAAAAAME/UoWTt1RElCU/s1600/Glonggong1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8iBQCuEI/AAAAAAAAAME/UoWTt1RElCU/s320/Glonggong1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565389794672031810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para pelajar, guru, seniman, dan masyarakat umum memenuhi Ziarah Dipanegara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8xbE__jI/AAAAAAAAAMM/38VuE2Q_u1c/s1600/Glonggong2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw8xbE__jI/AAAAAAAAAMM/38VuE2Q_u1c/s320/Glonggong2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565390059303075378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Usai bedah buku, para peserta masuk ke ruang yang menyimpan benda-benda bersejarah saat penangkapan Pangeran Dipanegara. Pria berpeci adalah Junaedi Setiyono, penulis novel Glonggong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun acara berjalan tidak sepenuhnya sesuai skenario, tapi secara umum berhasil memberikan wacana sanding kepada publik Magelang. Bahwa acara bedah buku yang identik dengan keseriusan ternyata dapat disandingkan dengan wisata sejarah yang dekat dengan kesan pendidikan dan keriangan. Tidak kurang 300 peserta memenuhi tempat duduk yang telah disediakan panitia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------&lt;br /&gt;Menjelang waktu ashar, Batang 23/1/2011&lt;br /&gt;ami&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2215837310311186395?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2215837310311186395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/pengalaman-membangun-komunitas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2215837310311186395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2215837310311186395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/pengalaman-membangun-komunitas.html' title='Pengalaman Membangun Komunitas'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw9CX43DOI/AAAAAAAAAMU/n8RFNwhz4Qc/s72-c/Glonggong3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3430578416458004953</id><published>2011-01-23T06:26:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:18:53.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS MENULIS'/><title type='text'>Tulis yang Paling Dekat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw7MEl500I/AAAAAAAAALk/iz4RZIXPbVU/s1600/180688_1799744590575_1148582869_2158059_7379471_a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw7MEl500I/AAAAAAAAALk/iz4RZIXPbVU/s320/180688_1799744590575_1148582869_2158059_7379471_a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565388318100280130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;First keys on writing is to write. Not to think!” &lt;/span&gt;Kunci pertama menulis adalah  menulis. Bukan berfikir. Demikian ucap William Forrester di depan Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Ada kata bijak mengatakan begini: cara belajar yang terbaik adalah dengan mempraktikkannya. Sama halnya dengan olah raga berenang. Anda sudah menguasai segala macam gaya, teori gerakan, sudah nglotok, hafal di luar kepala. Tapi Anda tidak pernah nyemplung ke kolam renang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sekali nyemplung, yang ada gaya batu alias tenggelam. Banyak membaca buku berisi teori bagaimana menulis artikel, memang penting. Tapi yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. Saya mengkategorikan penulis ke dalam tiga jenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pertama mereka yang tidak tahu teori tapi terus belajar/praktik menulis. Trail dan error terus dicoba, lama sekali golongan pertama ini bergelut dengan huruf, kesalahan-kesalahan terus terjadi. Tapi mereka menjadikan kesalahan dan kegagalan itu sebagai guru. Bukankah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dengan mental baja dan semangat empat lima, akhirnya mereka menemukan cara yang paling tepat untuk menulis. Termasuk menemukan gaya tulisan yang paling pas dan khas untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kedua, tahu teori tapi tidak pernah menulis. Segala macam teori menulis dikuasai, tapi sangat malas praktik nulis. Hasil akhir dari penulis jenis kedua ini, menjadi penulis hanya berhenti in your dream! Hanya ada dalam mimpi. Nasibnya persis seperti perenang gaya batu tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis ketiga adalah mereka yang tahu teori tapi juga praktik. Ini jenis yang paling ideal. Karena dengan tahu teori, Anda tidak perlu melakukan kesalahan-kesalahan yang sudah pernah terjadi pada penulis lain. Tidak perlu memakan waktu yang sangat lama untuk bisa betul-betul menulis. Anda bisa memintas waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tetap saja senjata yang paling ampuh untuk bisa menulis adalah menulis. Persis seperti yang dikatakan Kuntowijoyo (alm): ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan menulis, menulis, dan menulis. Terlepas apakah Anda menguasai teori atau tidak. Terserah jenis tulisan apa yang akan Anda tulis. Menulis catatan harian, tips belajar mudah, cara menulis catatan kuliah yang menarik sehingga kalau membaca ulang tidak bikin ngantuk. Menulis rencana harian aktivitas Anda, menulis surat...cinta, menulis daftar buku-buku yang harus dibeli dan dibaca, dan lain-lain terserah Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus ditulis, pada awal-awal belajar menulis? Tentu saja Anda harus memulai menulis sesuatu yang paling dekat denganmu. Dekat bisa berarti kedekatan fisik, tempat tinggal. Misalnya Anda bertempat tinggal di daerah dekat pantai, tulis saja tentang pantai. Atau dekat pabrik yang mengeluarkan limbah hingga mencemari sungai. Tulis saja tentang dampak limbah pabrik terhadap Anda dan tetangga-tetanggamu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat yang kedua berarti kedekatan rasa,dan minat. Misalnya Anda sangat menyukai sepakbola, menulislah tentang sepakbola. Menyukai olahraga naik gunung, tulis suasana riang dan dingin udara ketika Anda berada di puncaknya. Tulis yang menjadi bagian dari keseluruhanmu pengalaman hidupmu. Hingga Anda tidak perlu mencari-cari sumber-sumber informasi atau bahan tulisan dari lain tempat atau lain orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Anda adalah referensi itu sendiri. Pengalaman yang Anda rasakan akan menjadi referensi yang tidak akan habisnya. Ibarat air, kisah hidupmu adalah samudra, yang airnya tidak akan pernah habis, meskipun sering diambil. Dan tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman biasanya, ada semacam aura yang dapat menyihir pembacanya. Mereka larut ketika membaca tulisan itu. Seluruh emosi, simpati dan empatinya ikut masuk, mengikutimu. Karena tulisan itu ditulis tidak dengan teknis saja, sebenarnya merupakan suara hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis harus jujur. Tulis yang paling tahu, paling tidak yang paling menjadi perhatian. Tidak usah ikut-ikutan tren. Karena keberagaman justru menjadi penting.” Ujar Dewi “Dee” Lestari dalam sebuah diskusi di Semarang akhir Mei 2006 lalu. Apalagi jika membaca batasan yang diberikan beberapa penulis tentang artikel: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“…anggap saja anda menulis untuk siapa saja. Untuk menteri pekerjaan umum, untuk tetangga sebelah, untuk penata rambut, untuk anak SMA yang tidak suka merokok. Dan untuk anda sendiri di waktu sakit.…”&lt;/span&gt; Demikian terang Eka Budianta, penulis buku Menggebrak Dunia Mengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lebih sederhana lagi, rumusan dari Slamet Soeseno, penulis rutin rubrik ilmiah populer di majalah Intisari:  “Artikel adalah tulisan yang berisi sikap atau pendirian subyektif mengenai masalah yang sedang dibahas dilengkapi alasan dan bukti yang mendukung pendirian itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mulailah menulis sesuatu yang paling Anda sukai. Yang paling dekat dengan dirimu. Anggap saja artikel itu surat pribadi untuk sahabat karibmu atau untuk dirimu sendiri. Bukankah setiap orang paling suka jika diminta untuk menceritakan (dengan omongan atau tulisan), tentang sesuatu yang menjadi kesukaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Dikronik dari buku Prigel Menulis Artikel, Agus M. Irkham, 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3430578416458004953?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3430578416458004953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/tulis-yang-paling-dekat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3430578416458004953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3430578416458004953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/tulis-yang-paling-dekat.html' title='Tulis yang Paling Dekat'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTw7MEl500I/AAAAAAAAALk/iz4RZIXPbVU/s72-c/180688_1799744590575_1148582869_2158059_7379471_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-417255668608001831</id><published>2011-01-17T18:52:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:19:39.950-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Banjir Lahar di Ibnu Hajar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUGDD4uJEI/AAAAAAAAALc/OwWY041w2R4/s1600/IH7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUGDD4uJEI/AAAAAAAAALc/OwWY041w2R4/s400/IH7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563359564338701378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat 14 Januari 2011. Sekitar pukul tujuh malam, bersama anak kedua saya, Naila berusia dua setengah tahun, saya berangkat ke Magelang. Tujuan saya ada dua. Pertama, sabtu pagi saya berniat berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ibnu Hajar. Tepatnya ingin mengetahui kondisi terkini setelah ahad malam (9/1) dihajar banjir lahar dingin Gunung Merapi. Dan kebetulan saya ada amanah dari Pengurus Pusat Forum TBM, menyerahkan uang hasil penggalangan dana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kedua, kebetulan hari ahad pagi hingga sore (16/1) saya diminta mengisi pelatihan pembuatan koran anak di desa Sudimoro, kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Terletak sekitar 13 kilometer persis sebelah selatan Gunung Merapi. Sudimoro termasuk kawasan yang wajib dikosongkan saat Merapi erupsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, saya akan bercerita tentang tujuan pertama, berkunjung ke TBM Ibnu Hajar. TBM ini terletak di dusun Jetis, desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang. Kalau anda tengah berperjalanan dari Magelang ke arah Yogya, maka setelah Muntilan sekitar 1 kilometer anda akan tiba di perempatan Gulon (nama desa). Nah dari gulon ini ada jalan ke arah selatan. Sirahan terletak sekitar 5 KM dari perempatan Gulon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirahan termasuk daerah yang terkena abu merapi. Banyak pohon tumbang di daerah ini. Termasuk pepohonan yang berada di halaman depan rumah Ida Fajar Lusiana—&lt;br /&gt;oleh para tetangganya akrab disapa Bu Ida—ketua pengelola TBM Ibnu Hajar. Tak terkecuali pepohonan yang berada di depan bangunan TBM yang terletak kurang lebih 15 meter sebelah timur rumah Bu Ida. Padahal sejuknya suasana di bawah pepohonan yang berada di area sekitar Ibnu Hajar menjadi salah satu magnet pengunjung. Saat menggelar acara pun, tidak harus mendirikan tenda atau tratak yang luas. Anak-anak, setelah meminjam buku mereka membacanya sambil main ayunan yang diada di depan rumah Bu Ida. Bahkan ada juga yang datang ke Ibnu Hajar, awalnya hanya sekadar main ayunan. Kemudian karena melihat banyak buku, akhirnya mereka nimbrung. Turut membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kiprah Ibnu Hajar, kebetulan saya pernah melakukan reportase. Laporannya dapat anda simak di link berikut: http://ypr.or.id/id/berita/pondok-baca-ibnu-hajar-jalan-yang-semula-buntu-tiba-tiba-punya-seribu-pintu-.html&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUBX6JyY8I/AAAAAAAAAKs/MGhPjETn9Do/s1600/IH8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUBX6JyY8I/AAAAAAAAAKs/MGhPjETn9Do/s400/IH8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563354424945042370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan di Ibnu Hajar: Bedah Novel Glonggong, Karya Junaedi Setiyono, pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, paska merapi batuk berat, suasana sejuk itu hilang. Berganti dengan suasana gersang. Udara terasa kering.  Ibnu Hajar menjadi kehilangan pesonanya. Beberapa minggu setelah merapi erupsi, saya sempat main ke Ibnu Hajar, dan turut merasakan kering dan gersangnya suasana. Dan rupa-rupanya, kegersangan itu belum cukup. Ahad malam (sekitar jam 7), Sirahan, yang termasuk daerah aliran sungai Kali Putih—sungai yang menjadi jalan turunnya lahar dingin Merapi, dihajar banjir lahar. Jalan utama desa yang semula aspal dan di kanan kiri rumah, habis. Yang nampak hanya bukit-bukit pasir, reruntuhan rumah, dan rumah yang terkubur pasir hingga ketinggian 2-3 meter. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUCVNyenNI/AAAAAAAAAK0/HI_bQqIaRio/s1600/IH10.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUCVNyenNI/AAAAAAAAAK0/HI_bQqIaRio/s400/IH10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563355478188006610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jalan raya desa yang semula digunakan masyarakat Sirahan, kini berubah menjadi padang pasir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUCxzbr9aI/AAAAAAAAAK8/evxgcP69sdY/s1600/IH9.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUCxzbr9aI/AAAAAAAAAK8/evxgcP69sdY/s400/IH9.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563355969329296802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah jalan kecil menuju TBM Ibnu Hajar yang telah berubah bentuk menjadi bukt pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sampai ke dusun Jetis, Sirahan, saya harus naik ojek. Itu harus mencari jalan i di sela-sela yang tertimbun pasir, dan kebetulan masih bisa dilalui. Kalau naik mobil hanya bisa sampai Salakan. Nama desa sebelum Sirahan. Dari sini, perjalanan menuju dusun Jetis, Sirahan harus dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Sampai dengan saya datang (Sabtu 15/1) desa Sirahan, dan beberapa desa sesudahnya (di sebelah selatan Sirahan) masih terisolir. Hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah Bu ida sendiri, meskipun pondasinya cukup tinggi, tetap saja lumpur lahar dingin bercampur pasir tetap masuk hingga ke dalam rumah. Dan halaman rumahnya yang luasnya tak kurang dari 700 meter persegi, dipenuhi pasir dengan ketinggian sekitar 70 cm. Jalan menuju TBM Ibnu Hajar sudah layaknya perbukitan pasir. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Bagaimana dengan kondisi TBM Ibnu Hajar? Alhamdulilah sebagian besar koleksi buku terselamatkan. Sebelum banjir lahar datang, Bu Ida sempat ”mengungsikan” nya ke bagian rumahnya yang paling tinggi. Dan tak dinyana, lumpur dan pasir tidak sampai masuk ke ruang baca. Hanya mengubur teras depan dan memporak-porandakan properti yang sebelumnya ditaruh di teras. Termasuk ruang yang sedianya akan digunakan sebagai ruang redaksi Koran Anak TBM Ibu Hajar.  &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUD0si3J3I/AAAAAAAAALE/1f2Jd-B2Hzw/s1600/IH3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUD0si3J3I/AAAAAAAAALE/1f2Jd-B2Hzw/s400/IH3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563357118531577714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TBM Ibnu Hajar nampak dari depan-sebelah barat. Seluruh teras tertutup pasir setinggi kurang lebih 30cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya saya bertemu Bu Ida Sabtu siang (15/1), tidak ada ekspresi sedih yang terlalu muncul dari wajah beliau. Padahal selain kondisi TBM yang tetap saja harus direhabilitasi, gedung PAUD (Playgroup, dan TK) yang dikelola PKBM Ibnu Hajar rubuh. Hanya tinggal setengahnya. Itu pun dalam kondisi yang sangat tidak layak dipakai. ”Pak agus, melihat kondisi seperti ini, berarti saya harus mulai dari nol kembali, seperti 11 tahun lalu. Tapi saya yakin nol yang sekarang, kualitas, pengalaman, dan kesiapan mental saya jauh lebih baik ketimbangkan 11 tahun lalu.” Terang Bu Ida. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUE0_csscI/AAAAAAAAALM/5Lu9vd0FFq4/s1600/IH2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUE0_csscI/AAAAAAAAALM/5Lu9vd0FFq4/s400/IH2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563358223117627842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nampak gedung PAUD Ibnu Hajar tinggal puing-puing. Ada sekitar 120 siswa (Playgroup, dan TK) yang hingga kini tidak bisa belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu Ida sedih?” Tanya saya naif. ”Kesedihan itu sudah saya lampui pak Agus. Justru saya sekarang bisa menertawakan kondisi seperti ini.” Jawabnya. ”Dulu saat, pepohonan tumbang karena abu merapi, saya sedih, bahkan menangis, karena tanaman-tanaman yang setiap hari saya rawat juga mati semua.” Lanjut Bu Ida. ”Dan kini, saat saya sudah bisa ikhlas menerimanya, malah Tuhan memberikan yang lebih lagi, yaitu lahar dingin Merapi. Justru sekarang ini saya sedang bertanya-tanya, Tuhan sedang berencana apa atas diri saya, hingga diberi cobaan yang bertubi-tubi seperti ini. Mungkin setahun, atau dua tahun lagi, pertanyaan ini baru akan terjawab.” Terang Tandas Ibu Ida. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memperkirakan akan memakan waktu yang lama, untuk memulihkan kondisi  di Sirahan. Termasuk perbaikan jalan yang menghubungkan antara Desa Salakan menuju Sirahan. Karena selain timbunan lumpur dan pasir, di beberapa tempat, jalan dan dan rumah warga juga tergenang air—sisa air banjir yang terjebak, tidak bisa mengalir/keluar—setinggi pinggang orang dewasa.. Sampai dengan hari saya datang, aliran listrik masih padam. Tian-tiang penyambung kabel aliran listrik hanya menyisakan onggokan tiang. Di malam hari, Sirahan menjadi desa mati. Gelap. Mencekam. Hampir semua warganya mengungsi. Lantaran 90 persen dusun-dusunnya habis diterjang banjir lahar dingin Merapi.  &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUFgB_hgpI/AAAAAAAAALU/DeOajojrBBM/s1600/agus3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUFgB_hgpI/AAAAAAAAALU/DeOajojrBBM/s400/agus3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563358962534941330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Bu Ida di depan TBM Ibnu Hajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai di Magelang, dan diakhiri di Batang&lt;br /&gt;15-18 Januari 2011&lt;br /&gt;irkham&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-417255668608001831?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/417255668608001831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/banjir-lahar-di-ibnu-hajar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/417255668608001831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/417255668608001831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/banjir-lahar-di-ibnu-hajar.html' title='Banjir Lahar di Ibnu Hajar'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTUGDD4uJEI/AAAAAAAAALc/OwWY041w2R4/s72-c/IH7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-740946520936050258</id><published>2011-01-17T18:40:00.001-08:00</published><updated>2011-04-03T08:20:28.880-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS MENULIS'/><title type='text'>Migrasi Etalase Tulisan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTT9xoXMBuI/AAAAAAAAAKk/JGas9QnxKHk/s1600/facebook-notes2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTT9xoXMBuI/AAAAAAAAAKk/JGas9QnxKHk/s200/facebook-notes2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563350468799497954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui media teks berbasis pohon (kertas) tidak akan sepenuhnya ditinggalkan masyarakat. Meskipun demikian, adanya pergeseran dan perubahan cara orang mengonsumsi informasi, dari kertas ke byte (digital, internet) juga tidak dapat dianggap sepi. Bahkan perkembangan dunia maya, tidak saja menggeser adab kebiasaan orang mendaras informasi, tapi juga bagi si produsen informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun belum menjadi kecenderungan umum yang bersifat masif, migrasi etalase tulisan (penulis) sudah berlangsung. Untuk menulis dan mempublikasikannya, kini koran dan majalah tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Calon penulis, bahkan penulis mapan pun sekarang ini mulai memanfaatkan halaman catatan (note) di facebook, blog, dan mailing list sebagai sebagai wadah melenturkan otor menulisnya. Sekaligus menjadi wahana menernak ide dan tulisan untuk kemudian hari akan dijahit menjadi satu buku utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, facebook, sebagai situs jejaring sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia, juga digunakan penerbit untuk menghimpun naskah, dan mencari penulis-penulis baru. Tak sedikit pula buku yang terbit, awal kemunculan idenya dari gunjingan yang berlangsung di dinding (wall) laman buatan Mark Zuckerberg ini. Sekadar menyebut contoh, Emak-Emak Fesbuker Mencari Cinta (Leutika, 2010), Mendengarkan Dinding Fesbuker, dan Selaksa Makna Cinta (Pustaka Puitika, 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa facebook, blog, dan mailing list mulai disukai, bahkan telah menjadi alternatif utama etalase tulisan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dekonstruksi otoritas. Layak muat tidaknya tulisan tidak lagi diserahkan pada satu dua orang (redaktur), tapi sepenuhnya berada pada diri si penulisnya. Begitu ia menekan tombol publish (terbitkan), maka seketika itu pula tulisannya bisa di baca orang dari segala penjuru arah mata angin. Dekonstruksi otoritas ini juga menipiskan kemungkinan si penulis (pemula) ini terluka, lantaran kritikan pedas redaktur. Juga mengurangi tingkat kemungkinan mogok, apatis tidak mau menulis lagi, lantaran tulisannya tidak pernah dimuat, sudah begitu tidak ada kabar atau pemberitahuan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sifat interaktif dan interkonektisitas. Selain kecepatan proses terbit, kecepatan respon atau komentar atas tulisan juga menjadi magnet tersendiri buat para penulis. Komentar itu menjadi semacam bensin yang akan menambah besar nyala api semangat menulis. Apapun komentarnya. Baik sekadar like, komentar pendek, asal, maupun panjang nan analitik. Dan rupa-rupanya bagi sebagian besar penulis pemula, kebutuhan apresiasi ini jauh lebih penting ketimbang honorarium yang lazimnya hanya bisa diperoleh saat menulis di koran dan majalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat interkoneksitas juga memungkinkan terjadinya dialog, baik afirmasi, negasi maupun perluasan dan pelengkapan atas tulisan yang di-posting. Pembaca tidak sekadar atau semata-mata membaca, berhenti hanya sebagai objek, tapi dalam waktu berbarengan juga bisa sama-sama menjadi subjek. Dengan cara turut pula menampilkan tulisan yang berkaitan atau membagi pengalaman membacanya atas satu tema yang sama melalui penulisan tautan (link) ke note atau laman pribadinya. Yang terjadi kemudian adalah desentralisasi informasi dan pengetahuan. Tiap diri memiliki hak yang sama untuk mengonsumsi, menginterpretasi, sekaligus memproduksi (ulang) informasi. Pada titik itu lumerlah apa yang disebut dengan kolonialisme pengetahuan.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menulis di facebook, blog, dan mailing list bisa menjadi sarana—meminjam istilah yang diberikan Hernowo—mengikat makna. Kalau sebelumnya pengikatan makna hanya di buku harian, yang sifatnya pribadi dan rahasia. Kini hasil pengikatan itu ditawarkan dan digelindingkan kepada publik. Laksana bola salju, tulisan itu saat turun ke bawah akan menggelinding kian cepat, dan ukurannya bertambah besar. Kiat cepat dan besarnya ukuran bola salju ini dapat dianalogikan sebagai bertambah luasnya perspektif yang didapatkan oleh penulis saat isi diary itu dibuka ke ruang publik. Tentu ini menjadi masukan, dan materi berharga jika ikatan-ikatan tersebut akan disambung menjadi seutas tali utuh bernama buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis di koran dan majalah menjadi jalan yang baku bagi seseorang yang ingin merintis karir menjadi penulis. Itu dulu. Sekarang, tidak harus begitu. Sudah muncul berderet nama penulis mula yang telah berhasil menelurkan bukunya, tanpa terlebih dahulu menulis di koran. Jadilah migrasi etalase tulisan itu menjadi modus baru penerbitan buku. Menjadi jalan pintas berkarir di dunia ideas. Dan saya kira sah-sah saja. Toh pada akhirnya secara alamiah nanti akan terseleksi dengan sendirinya. Para pembaca buku di Indonesia sudah semakin pintar. Mereka bisa membedakan mana buku yang bermutu, dan mana yang sekadar proyek pecah telur alias asal terbit dan berburu label sangat laku (bestseller). Yang begitu, menurut pandangan saya akan menambah gairah dunia penerbitan. Membentuk titik keseimbangan baru (kualitas, harga, dan kuantitas) pada level yang lebih tinggi. Dan justru cara baru ini bisa menjadi sarana agar perkembangan dunia perbukuan di Indonesia kian bergegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi : technorati.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-740946520936050258?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/740946520936050258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/migrasi-etalase-tulisan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/740946520936050258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/740946520936050258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/migrasi-etalase-tulisan.html' title='Migrasi Etalase Tulisan'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TTT9xoXMBuI/AAAAAAAAAKk/JGas9QnxKHk/s72-c/facebook-notes2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-421415773335427534</id><published>2011-01-13T20:34:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:21:08.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TIPS MENULIS'/><title type='text'>Belajar Menulis dari Teny dan Vivi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_T345CPuI/AAAAAAAAAKc/N0oWW2wEnkQ/s1600/teni3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_T345CPuI/AAAAAAAAAKc/N0oWW2wEnkQ/s200/teni3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561897021943725794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;Peristiwa ini berlangsung sekitar empat tahun lalu. Saat itu saya menjadi instruktur pelatihan menulis di klinik baca tulis perpustakaan kota magelang. Salah satu pesertanya adalah guru di SLB. Pak Budi namanya. Saya lupa, tepatnya SLB jenis atau kategori apa. Yang jelas seusai pelatihan, spontan saya diajak Pak Budi ini berkunjung ke SLB tempat ia mengajar. Untuk pertama kali, ketika saya mengiyakan ajakan tersebut, yang ada dalam benak saya adalah: siswa-siswa SLB ini harus aku dorong untuk menulis. Menceritakan tentang dunia mereka. Pandangan mereka terhadap diri mereka sendiri. Serta pandangan lingkungan sekitar menanggapi keberadaan mereka. Dapat dibayangkan inspirasi seperti apa yang bakal ditimbulkan ketika siswa-siswa berkebutuhan khusus ini. Saat mereka mampu menceritakan harapan, cita-cita, kekuatiran, pendek kata segenap apa yang mereka pikirkan kepada dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat seperti itulah saya memasuki satu ruang kelas yang diampu Pak Budi. Olehnya, saya diperkenalkan kepada murid-muridnya. Kelas yang saya masuki adalah jenjang SMA.Teny, Vivi, Ferdy, dan Agung, adalah empat nama siswa, dari sekitar 10 siswa, yang masih saya ingat. Khusus untuk terakhir yang disebut, memiliki keterampilan khusus, yaitu pandai menggambar kartun, dan karikatur.  Sedangkan dua nama awal disebut, oleh Pak Budi dikatakan sebagai murid yang menonjol. Memiliki kecerdasan dan rasa percaya diri yang lumayan tinggi ketimbang teman-teman yang lain. Tentu Anda jangan membayangkan kecerdasan yang saya maksud sebagaimana kecerdasan kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, saya memperkenalkan diri. Mencoba berbicara dan menyapa mereka yang seluruhnya bisu dan tuli. Tentu saja mereka tidak mendengar suara saya. Beruntung, di samping saya ada Pak Budi yang menerjemahkan ucapan saya dengan bahasa/isyarat jari. Berbarengan dengan itu, saya langsung minta diajari berkomuninasi dengan isyarat jari. Tapi tetap saja saya mengandalkan bahasa ucap, dengan cara pengucapan sedemikian rupa sehingga Teny dan teman-temannya mampu membaca gerak bibir saya. Dengan tetap ditemani ”penerjemah” saya, Pak Budi, saya terus mengajak mereka berdialog. Memberi kesempatan mereka bertanya. Oh iya, untuk pertanyaan dengan jawaban yang agak panjang, misalnya soal di mana alamat rumah saya, saya menuliskannya di papan tulis. Lalu mereka pun sambil riuh penuh ekspresi menyalin tulisan saya ke buku tulis masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, waktu sudah menjelang dzuhur. Saya terus mencoba untuk berdialog. Saya beranikan diri untuk bertanya soal cita-cita setelah lulus sekolah. Ada yang mau menjadi penjual nasi goreng, ada yang mau bekerja di bengkel, banyak pula yang tidak berani menyebutkan cita-citanya. Saya tercenung mendapati kenyataan itu. Cita-cita mereka begitu sederhana dan “sepele” jika dibandingkan kebanyakan anak-anak seusia mereka di luaran sana. Bahkan kebanyakan murid-murid Pak Budi ini tidak berani bercita-cita. Mereka merasa tidak pantas bercita-cita. Menurut pak Budi salah satu kelebihan anak-anak didiknya adalah memiliki perasaan yang peka. Sensitivitasnya tinggi. Barangkali mereka tahu diri. Karena tak jarang, meskipun mereka di sekolah terlihat percaya diri, tapi ketika tinggal di rumah, atau di lingkungan rumah, mereka jadi minder. Karena tak jarang “keunikan” mereka jadi sasaran olok-olokan banyak orang. Makanya ada beberapa siswa yang terutama rumahnya jauh, lebih memilih untuk tinggal di sekolah. Yang memang fasilitas untuk itu telah disediakan pihak sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tibalah saatnya saya pada misi utama, yaitu mengajak mereka menulis. Tapi demi mengetahui kondisi mereka, saya urungkan niat itu. Sebagai gantinya saya mulai membagikan kartu berukuran 10 cm persegi ke masing-masing siswa. Mereka saya minta menuliskan apa saja tentang saya. Mereka saya berikan kebebasan, sebebas-bebasnya untuk memberikan komentar tentang saya. Di luar dugaan semua mau menulis, hanya saja susunan katanya tidak beraturan. Seperti yang dapat Anda baca di gambar berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_TSbZ09-I/AAAAAAAAAKM/O0FxUy-5A7Q/s1600/teni1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_TSbZ09-I/AAAAAAAAAKM/O0FxUy-5A7Q/s400/teni1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561896378373044194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda paham yang dimaksudkan Teny dalam tulisan tersebut? Kalau belum berhasil menangkap maksud tulisan itu, coba Anda baca tulisan Vivi berikut, yang menurut saya tingkat kerumitannya di bawah tulisan Teny.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_TkZTO7jI/AAAAAAAAAKU/htbubu6Vt3w/s1600/teni2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_TkZTO7jI/AAAAAAAAAKU/htbubu6Vt3w/s400/teni2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561896687046159922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Masih juga sulit memahami maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kartu itu sering saya tunjukkan pada peserta pelatihan menulis. Sekaligus saya gunakan sebagai shock terapy peserta yang tidak pede dengan tulisannya. Merasa tulisannya jelek, tidak enak dibaca, kurang sistematis, dan lain-lain alasan. Tentu, saya tidak sedang berniat menjelek-jelekkan tulisan komentar Teny dan Vivi pada saya. Saya hanya ingin mengatakan, separah-parah Anda, manusia normal, pasti tulisannya tidak akan setidak urut Teny dan Vivi. Saya jadi paham, bisu dan tuli adalah menyangkut kerja saraf, dan ini juga sangat mempengaruhi kemampuan otak/syaraf untuk mengolah, merasakan, dan menggunakan bahasa, lebih spesifik adalah kata-kata. Jadi dapat dikatakan Teny dan Vivi ini memang sudah ”ditakdirkan” untuk tidak bisa menulis. Tapi, ini simpulan saya pribadi, yang tentu saja sangat subjektif, dan belum berhasil saya cari referensi penguat atas simpulan tersebut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya, Anda ini kan manusia normal, tentu akan jauh lebih mudah menguasai kata-kata ketimbang Teny dan Vivi kan?!. Maka sebagai bentuk rasa syukur atas karunia kenikmatan dan kelengkapan piranti hidup yang telah diberikan Tuhan tersebut, sudah selayaknya Anda menulis. Dan jangan lagi beralasan tulisan saya jelek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dan yang mengharukan di saat saya pamit pulang, Agung maju ke depan menyerahkan gambar karikatur saya yang tengah duduk bersila dengan kedua tangan saya tengah memegang buku. Saya salami dia, sambil mengucapkan kata terima kasih. Ia pun tersenyum, sama-sama. Lalu, Teny, Ferdi, Vivi, dan siswa-siswa lain bergiliran menyalami saya, lengkap dengan senyum lepas mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Batang, 29/12/2010&lt;br /&gt;22.57 wib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-421415773335427534?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/421415773335427534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/belajar-menulis-dari-teny-dan-vivi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/421415773335427534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/421415773335427534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/belajar-menulis-dari-teny-dan-vivi.html' title='Belajar Menulis dari Teny dan Vivi'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_T345CPuI/AAAAAAAAAKc/N0oWW2wEnkQ/s72-c/teni3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-3739425525092281998</id><published>2011-01-13T19:57:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:22:38.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Para Guru, Menulislah!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_KAcodHsI/AAAAAAAAAJ8/Q7a8kEq0JU0/s1600/menulis2.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 296px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_KAcodHsI/AAAAAAAAAJ8/Q7a8kEq0JU0/s320/menulis2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561886173860536002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widodo namanya. Guru SMP Negeri di wilayah Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia yang kebetulan menjadi salah satu murid di Klinik Baca Tulis asuhan saya itu, suatu waktu bertutur. Isi tuturan berkisah tentang adanya lomba pemilihan guru teladan tingkat SMP se-kapupaten Batang. Diharapkan paling kurang, tiap sekolah ada satu guru yang mewakili. Ia pun berniat ikut. Dan menjadi satu-satunya kandidat dari sekolah tempat ia mengajar. Namun, begitu mengetahui salah satu syarat seleksi adalah membuat esai/tulisan tentang pendidikan, ia pun merasa kecut. Lantas mundur teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah enambelas tahun mengajar, buat Widodo jarak antara otak ke saraf tangan tetap saja terasa jutaan kilometer. Menulis adalah pekerjaan super sulit. Secara hiperbolis, susahnya menulis ia ibaratkan: tengah duduk menghadap meja. Di atas meja ada kertas dan pena. Sebuah pistol mengarah persis ke kepalanya. Hanya ada dua pilihan buatnya, menulis atau di-dor. Maka dengan berat hati, tawaran terakhirlah yang ia pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud melakukan penyederhanaan kesimpulan—kebanyakan guru lumpuh menulis—kurang lebih, hal itu pula yang saya temui di Semarang akhir juni lalu. Saat itu saya berkesempatan menjadi pemateri pelatihan bertajuk: Pembelajaran Menulis yang Asyik, Menggairahkan Plus Menginspirasi.  Dari sekitar 50 peserta yang semuanya adalah guru Bahasa Indonesia (SMA), yang tergolong rajin menulis kurang dari 10 persen! Dari jumlah itu, yang mengirimkan tulisannya ke media massa adalah 0 persen!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa gerangan penyebab kelumpuhan itu? Bukankah dalam keseharian mengajar, mereka sudah begitu rapat dengan aktivitas menulis. Meski dalam pengertian yang sempit. Seperti mencatat di papan tulis, menulis jurnal materi pelajaran, menulis presensi, mengoreksi tugas siswa, membuat silabus pelajaran-pembelajaran, dan sebagainya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulan awal saya, sebab guru lumpuh menulis adalah justru karena kelewat dekatnya mereka dengan aktivitas menulis itu (dalam pengertian sempit). Menulis dipahami sebagai sesuatu yang alamiah belaka. Sudah tradisi dalam pengertian yang negatif. Hingga dianggap sudah selesai. Menulis, ya menulis pelajaran. Titik. Dunia kata tidak dianggap sebagai pengetahuan. Sehingga pengkajian terhadap perkembangan yang menyertainya pun, macam spiritual reading, quantum writing, speed reading, dirasa tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beda salju dan es krim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kondisi demikian kalau boleh saya serupakan, memasarkan budaya menulis (esai, artikel, resensi, cerpen, kolom, karya ilmiah, dan seterusnya) di tengah keriuhan kegiatan mencatat pelajaran di kalangan guru, bak pinang tak berbelah dengan menjual es krim di kutub utara. Es krim itu tidak laku, lantaran di kutub utara (sekolah), ruahan es (dingin salju) tak berbatas jumlahnya, dan dapat ditemukan di setiap waktu, dan tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal salju dan es krim adalah dua hal yang berbeda. Bahwa keduanya sama-sama dingin, iya. Tapi bagaimana proses keduanya mewujud, tentu sangat berbeda. Salju bersifat alamiah, tetap, mengikuti kaedah kausalitas natural, dan tidak disengaja. Sedangkan es krim bersifat sengaja, by design, pekat rekayasa. Kehadiran es krim, mensyaratkan kreatifitas dan inovasi. Dingin itu dimasak, dibumbui, disajikan secara menarik. Jadilah es tidak sekadar menawarkan dingin. Tapi juga memberikan pengalaman yang berbeda-beda di tiap lidah pencecapnya. Dingin menjadi bernilai, ada harganya. Orang pun rela merogoh saku untuk bisa mencicipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, keakraban guru dengan dinginnya salju dapat dijadikan modal awal, untuk kemudian dikembangkan menjadi dinginnya es krim. Bukan sebaliknya. Lalu, di mana kemampuan guru memproduksi es krim (tulisan arti luas) mesti ditempatkan?  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menggali Makna Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama, kaum pendidik, golongan cerdik pandai merumuskan tujuan pembelajaran, tidak semata-mata agar manusia mampu bertahan hidup. Tapi juga mengembangkan kehidupan lebih bermakna.  Serta turut memuliakan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kemampuan menulis pada guru harus diarahkan pada, meminjam istilah Machado, keterampilan mengajar belajar. Kalau selama ini ada pameo: guru biasa, memberi tahu; guru baik, menjelaskan; guru pintar menunjukkan; maka harus ditambah satu lagi: guru luar biasa, mengilhami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia (guru luar biasa yang prigel menulis) mampu menggerakkan siswanya untuk mencari dan menemukan beragam bahan pembelajaran. Melalui proses membaca dan menulis secara mandiri. Ia tindih dan berikan makna baru, tradisi menulis (menikmati dingin salju) yang sebelumnya sudah mbalung sungsum itu. Buat siswa, pelajaran mengarang menjadi sarana menemukan diri. Sebuah proses berdimensi kepemimpinan (leadership) dan kewirausahaan (entrepreneurship).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebab keterampilan menulis dapat ”mencetak” guru yang mengilhami? Ini tak lain tak bukan karena tabiat asli yang dimiliki oleh aktivitas menulis. Yaitu memberi kesempatan orang bereksperimen dengan bahasa, kata-kata dan kesukarannya. Memungkinkan perkembangan penalaran individu yang kritis, dan independen. Merupakan sarana menemukan sesuatu. Melejitkan ide baru, sarana ungkap diri, melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep. Membantu menyerap dan memproses informasi, melatih berpikir aktif serta mengembangkan pemahaman dan kemampuan menggunakan bahasa. Mudahnya menulis akan ”memaksa” seseorang untuk melakukan aktivitas membaca, menyimak, dan berbicara. Itu artinya buat guru, menulis adalah sarana pembelajaran seutuh usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, kebutuhan siswa 10-20 tahun yang akan datang akan berbeda dengan kebutuhan siswa sekarang. Jika para guru tidak mau belajar dengan menambah pengetahuan, terbuka terhadap perkembangan terkini inovasi pembelajaran, menciptakan teknologi pembelajaran baru—semuanya dapat direngkuh melalui aktivitas menulis—maka kredibilitasnya akan jatuh di hadapan siswa. Tentu itu kabar buruk buat dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilustrasi : taufik79.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-3739425525092281998?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/3739425525092281998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/para-guru-menulislah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3739425525092281998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/3739425525092281998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/para-guru-menulislah.html' title='Para Guru, Menulislah!'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TS_KAcodHsI/AAAAAAAAAJ8/Q7a8kEq0JU0/s72-c/menulis2.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5310675980247408140</id><published>2011-01-06T02:31:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:23:29.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Para Pemuda, Menulislah!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TSWaqjbKzmI/AAAAAAAAAJ0/mA9NmZ_OkBw/s1600/writing.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 135px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TSWaqjbKzmI/AAAAAAAAAJ0/mA9NmZ_OkBw/s200/writing.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559019370913123938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naga-naganya, sangkaan yang dikeluarkan penyair Taufik Ismail, yang menyatakan bangsa ini rabun membaca, lumpuh menulis harus segera direvisi. Apa pasal? Coba tengok perkembangan keberaksaraan, terutama pada golongan muda. Komunitas baca tulis, baik yang off line maupun online terus bertumbuhan. Komunitas puisi bunga matahari, komunitas pasar buku, komunitas bambu, mitra netra, komunitas historia, indo-harry potter, rumah pelangi, masyarakat tjerita silat, rumah dunia, 1001buku, dan forum lingkar pena, adalah beberapa untuk sekadar menyebut contoh. Bahkan nama komunitas terakhir disebut, hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun (berdiri tahun 1997), ratusan judul buku telah diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar membesarkan hati juga datang dari dunia penerbitan buku. Penulis-penulis muda, rerata kelahiran medio dan akhir tahun 70-an terus bermunculan. Di Bandung ada Anton Kurnia, Kurniasih, dan Dinar Rahayu. Di Jakarta ada Binhad Nur Rohmad, Eka Kurniawan, Muhidin M. Dahlan, dan Donny Gahral Adian. Di Yogyakarta ada Islah Gusmian, Eko Prasetyo, Galang Lufityanto dan Puthut EA. Di Semarang ada Eko Sugiarto, Slamat Sinambela, dan Habibburrahman El-Shirazy. Di Solo ada Afifah Afra, Rianawati, dan MN Furqon. Di Serang ada Endang Rukmana, Najwa Fadia, Firman Venayaksa, dan Ibnu Adam Aviesina. Masih banyak berderet nama penulis muda lainnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Geliat keberaksaraan golongan muda juga dapat dicandrai melalui tulisan mereka di koran dan majalah. Lebih-lebih kini ada kecederungan tiap media secara khusus menyediakan ruang/rubrik untuk penulis muda (khususnya mahasiswa). Misalnya: Akademia (Kompas Jawa Tengah), Prokon Aktivis (Jawa Pos), Debat (Suara Merdeka), Suara Mahasiswa (Kedaulatan Rakyat), Wacana Mahasiswa (Wawasan), Dialektika (Solo Pos), Teras Muda (Matabaca), dan Suara Mahasiswa (Seputar Indonesia).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa makna geliat keberaksaraan golongan muda tersebut? Apakah kesadaran itu lahir secara otonom, dari dalam diri? Atau dipengaruhi, tepatnya dirangsang oleh sesuatu yang berasal dari luar? Apa kira-kira faktor pendorong utama beringsutnya posisi golongan muda, dari generasi yang sebelumnya—meminjam istilah Bondan Winarno—tongkrongan global, paradigma lokal, ke tongkrongan global, paradigma global?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Strategi perluasan pasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gairah anak muda dalam merayakan buku, dan membangun literasi, saya  melihatnya lebih banyak ditentukan oleh apa yang terjadi di luar mereka. Dengan bahasa yang berbeda, mereka akibat bukan sebab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebab pertama, perkembangan sosial ekonomi media. Media bekerja atas dasar interaksi dengan pembaca. Salah satunya melalui rubrik surat pembaca dan opini. Keduanya, di samping memunyai arti partisipasi juga berarti pendalaman pasar. Besar kemungkinan, oleh media, golongan muda sekarang dinilai lebih memunyai daya beli ketimbang generasi seumur mereka, pada sepuluh tahun lalu. Dan seiring berjalannya waktu, ketika mereka dewasa dan beranjak mapan bisa diproyeksi menjadi pelanggan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itu sebab mengapa sekarang media lebih memilih mengintensifkan pasar yang sudah ada ketimbang mencari daerah pemasaran baru. Lebih baik memancing di kolam yang masih banyak ikannya, daripada mencari kolam baru, yang belum tentu ada ikannya. Umpannya berupa penambahan rubrik yang mengudang partisipasi pembaca. Sehingga pembaca (ikan), terpancing (menjadi pelanggan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klausa kedua, meningkatnya derajat penghargaan terhadap hak cipta karya intelektual (tulisan). Penghargaan itu berupa perolehan jenang (royalti dan honorarium), sebagai rejeki yang kentara. Dan jeneng (reputasi, nama baik, kompetensi), rejeki yang tidak kentara. Perolehan jeneng dan jenang terbukti berhasil memberikan keyakinan pada golongan muda untuk menjadikan menulis sebagai sandaran hidup—sebagai satu-satunya profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang perolehan jenang, sulit bagi untuk tidak menyebut penulis novel Ayat-Ayat Cinta (A2C), Habibburrahman El-Shirazy. A2C sampai dengan Mei 2007 (terbit Desember 2004) telah memasuki cetakan ke-22. Dan telah terjual sebanyak 240.000 eksemplar. Jika besaran royalti adalah 10 persen saja, Anda dapat menghitung sendiri, berapa ratus juta rupiah yang masuk ke kantong Habib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja di tengah tekanan sosial, pengangguran kian membengkak, lowongan pekerjaan semakin menciut, jumlah sarjana terus bertambah, jalan hidup menjadi penulis tak salah untuk dicoba. Mulailah golongan muda memberanikan diri menulis dan mengirimkan tulisannya ke media dan penerbit. Meski tulisan lebih sering diperlakukan layaknya pakaian. Dipermak, ditambal, dijahit  (revisi), dijual (dikirimkan ke media/penerbit) lagi. Hingga mereka lebih dekat sebagai pengasong tulisan ketimbang (calon) penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mereka tak menyerah. Agaknya mereka paham betul dengan apa yang pernah dikatakan dramawan WS. Rendra, dengan sedikit revisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas satu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tidak lagi merdeka tanpa beban sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong&lt;br /&gt;dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal mula ketiga, perkembangan teknologi percetakan dan kemudahan mendirikan penerbit buku. Jika tulisan atau naskah buku ditolak terus, tidak perlu pergi ke dukun, apalagi sampai bunuh diri. Terbitkan saja sendiri—menjadi penerbit atas bukunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah cetakan dapat disesuaikan dengan isi saku. Penanda atas akvitas tersebut dikenal dengan istilah self publisher (penerbit swakelola). Penerbit swakelola memungkinkan penulisnya menjadi editor, layouter, pencetak dan pemasar sekaligus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkal keempat, percepatan teknologi informasi, khususnya internet. Jika sebelumnya orang menulis catatan harian di kertas, kini beralih di komputer. Dan bisa langsung ”diterbitkan” dalam bentuk blog (weblog). Orang pun seketika bisa langsung membaca ”buku” tersebut. Tak jarang karena isi suatu blog bagus, membuat penerbit tertarik, lantas menerbitkannya dalam bentuk buku (kertas). Selain blog, aktiv di mailinglist juga bisa menjadi media caper (cari perhatian) ke penerbit. Pendeknya, internet memudahkan tiap orang meniti jalan menjadi penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ujung dari tulisan ini, dengan lantang ingin saya serukan: hai golongan muda, menulislah! Tunggu apalagi, (mumpung) zaman tengah berpihak padamu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5310675980247408140?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5310675980247408140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/para-pemuda-menulislah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5310675980247408140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5310675980247408140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2011/01/para-pemuda-menulislah.html' title='Para Pemuda, Menulislah!'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TSWaqjbKzmI/AAAAAAAAAJ0/mA9NmZ_OkBw/s72-c/writing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2012072976359281009</id><published>2010-12-29T23:04:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:24:17.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Gerakan Membaca di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwxhhpGVGI/AAAAAAAAAJs/rQ6xdUcmrtg/s1600/TBM%2540mall.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwxhhpGVGI/AAAAAAAAAJs/rQ6xdUcmrtg/s400/TBM%2540mall.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556370492304544866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Agus M. Irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entry atau lema paling mengemuka dalam konteks kampanye minat baca di tahun 2010 adalah wacana pendirian taman baca di pusat perbelanjaan. Disebut sebagai TBM@Mall. Pada bulan Mei, bertepatan dengan Hari Pendidikan. TBM@mall diluncurkan. Kalau tidak salah ingat di Banten, Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan TBM di mal ini bertujuan mendorong minat baca pengunjung mal, yang mayoritas remaja. Asal tahu saja, skor minat baca remaja Indonesia saat ini adalah 393 atau di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), yakni 492. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehadiran TBM@Mall diharapkan akan memperluas minat baca masyarakat. Sehingga mereka bukan hanya datang ke mal untuk belanja atau mencari hiburan, melainkan mencari ilmu, informasi, serta mengembangkan karakter serta jiwa wirausaha melalui beragam bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sasaran utamanya adalah remaja, diharapkan TBM@Mall tidak melulu menyiadakan buku bacaan, tapi juga berderet varian layanan lainnya, misalnya (bisa nonton) film, berselancar di dunia maya (internet), pelatihan, dan cafe. Dengan begitu paling tidak TBM bisa menjadi alternatif tempat anak-anak muda nongkrong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini menjadi bagian dari target Kemdiknas di tahun 2010, yaitu membuka 561 TBM, yang terdiri atas 23 TBM@Mall, dua TBM di rumah sakit, 36 TBM di Balai Belajar Bersama (TBM di ruang publik yang bukan di mal), 50 TBM untuk daerah terpencil guna mengantisipasi putus sekolah (peningkatan minat baca), dan 450 TBM keaksaraan (rumah singgah dan panti-panti sosial). Sampai dengan tulisan ini selesai disusun, &lt;br /&gt;saya belum mendapat informasi, target 561 TBM itu tercapai atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal prakarsa TBM@Mall disosialisasikan ke publik, muncul banyak keberatan. Di antaranya menganggap program ini tidak pro rakyat kecil. Daripada digunakan membuat dan membiayai TBM di mal bukankah lebih baik digunakan untuk membuka TBM di pasar tradisional, di pesantren, di masjid, dan lain-lain tempat yang lebih mewakili kebutuhan mayoritas khalayak. Begitu dalih pihak yang kontra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberatan lain muncul karena mal dianggap lembaga yang berorientasi pada melulu keuntungan ekonomi, mana mungkin bisa bersanding dengan taman baca yang memunyai pamrih sosial. Apalagi, ini kata seorang wartawan Koran Tempo, ketika seseorang masuk ke mal, ia telah kehilangan dirinya. Mal-mal yang berpenampilan menarik, dengan desain dan cat yang mencolok, menghidupkan kota bagai cahaya yang mampu menarik laron-laron terbang mengelilingi lampu yang bersedia jatuh dalam baskom berisi air sebagai perangkap untuk meniadakan mereka. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwvnhh4bRI/AAAAAAAAAJM/FSnNNMwOWwY/s1600/baru1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwvnhh4bRI/AAAAAAAAAJM/FSnNNMwOWwY/s400/baru1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556368396330233106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam pengertian yang moderat, menurut saya TBM@Mall lebih tepat disebut sebagai private space. Karena menempati lokasi yang memiliki struktur kepemilikan yang jelas (swasta), dan dari sono-nya berorientasi profit ekonomi pula. Dalam definisi yang lebih progresif, TBM@Mall lebih cocok disebut sebagai alternative space. Sebuah ruang/tempat yang memberi pilihan alternatif bagi komunitas dan individu untuk mengaktualisasikan dirinya lewat kegiatan-kegiatan atau program-program yang diselenggarakannya. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Makna filosofis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan filosofis yang patut dipahami mengapa TBM@Mall ini diluncurkan. Pertama, mal sekarang ini telah menjadi tempat tetirah banyak orang. Tidak saja bagi mereka yang termasuk ke dalam kelas menengah (secara ekonomi dan pendidikan), tapi juga kelas rendah. Tidak pula memandang asal daerah (desa-kota), gender (laki-perempuan), usia (anak-muda-tua). Semua lumer dalam kesibukan aktivitas di mal. Merayakan kegembiraan di mal adalah hak setiap warga negara. Begitu kira-kira kalimat mudahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan adanya TBM di mal, diharapkan ada internalisasi kesadaran yang kurang lebih sama. Yaitu membaca (buku) adalah hak setiap warga negara. Tidak peduli kaya miskin, muda tua, semua berhak mendapatkan kemudahan akses bacaan. Tiap warga negara memiliki kesempatan membaca dan memaknai apa yang baca itu. Dan yang diharapkan dari pemaknaan itu akan meningkatkan pula pemahaman terhadap situasi kehidupan, sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya. Baik secara sosial maupun ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mal identik dengan aktivitas membeli (konsumsi), terutama barang guna memenuhi kebutuhan fisik. Dan aktivitas tersebut dilakukan dengan segenap rasa suka cita. Secara tidak langsung, mal juga menjadi ukuran identifikasi golongan menengah (mapan). Dalam ungkapan yang berbeda, saat seseorang pulang dari mal, citra diri dan gengsi diri meningkat. Tingkat penghargaan terhadap diri menaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mal juga menjadi salah satu ikon budaya pop. Dan selama ini saat budaya pop disandingkan dengan budaya ”konvensional”, kerap ditempatkan pada posisi saling menegasi.  Seperti yang dapat Anda baca pada matrik berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwRYmhmBI/AAAAAAAAAJU/YczGcdgJBpc/s1600/baru2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwRYmhmBI/AAAAAAAAAJU/YczGcdgJBpc/s400/baru2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556369115488294930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari titik itu, pintu makna filosofis yang kedua, kehadiran TBM di mal bisa dimasuki. Kehadiran aktivitas membaca (buku) di mal sama penting dan menggembirakannya dengan belanja di mal—sebagai salah satu bentuk gaya hidup (budaya) populer. Kesejajaran posisi itu yang hendak disasar. Membaca buku ada adalah aktivitas yang bergengsi. Membaca buku tidak identik dengan kacamata tebal, kuper, tidak gaul, terasing, dan membosankan. Yang kemudian berlangsung adalah 2 in 1 (two in one). Dua jenis belanjaan dapat dilakukan dalam satu tempat. Belanja barang untuk pemenuhan kebutuhan fisik, dan belanja (membaca) buku untuk pemenuhan kebutuhan otak dan hati. Dan keduanya tidak lagi ditempatkan dalam posisi saling menegasi. Tapi saling melengkapi. Simbiosis mutualisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Gerakan membaca di Indonesia, dapat saya kategorikan ke dalam tiga fase atau gelombang. Gelombang pertama (1.0), keaksaraan teknis. Bertujuan mengentaskan masyarakat dari ketidakmampuan mengenal huruf dan mengeja kata. Dengan kata lain yang dikejar adalah perbaikan statistik angka melek huruf (kemampuan membaca). Gelombang kedua (2.0), keaksaraan fungsional. Bertujuan menjaga agar kemampuan yang membaca (dan menulis) yang sebelumnya telah diperoleh tidak hilang. Kembali menjadi buta huruf. Pada fase ini, prioritas program yang dihelat adalah mengembangkan minat baca masyarakat pada media teks.  Gelombang ketiga (3.0), keaksaraan budaya. Inilah tujuan ”akhir” gerakan membaca. Yaitu aktivitas membaca telah menjadi bagian hidup keseharian masyarakat. Telah menjadi gaya hidup. Telah menjadi budaya. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwgZR_vfI/AAAAAAAAAJc/u32JtnGSKsw/s1600/baru3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwgZR_vfI/AAAAAAAAAJc/u32JtnGSKsw/s400/baru3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556369373368663538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TBM@Mall masuk kategori gerakan literasi gelombang ketiga (3.0). Ia secara kreatif harus mampu mengawinkan antara buku, hobi, dan komunitas (buku dan hobi yang mencakup pengetahuan, bahasa dan budaya). Ia harus mampu mengejawantahkan makna, bahwa literasi (keberaksaraan) menjadi bagian dari hidup keseharian. Maka kegiatan yang paling pas di TBM@Mall, menurut saya, model kelas dan klab yang disesuiakan dengan karakteristik pengunjung. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwrspeQxI/AAAAAAAAAJk/PTaOFLQeSGM/s1600/baru4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwwrspeQxI/AAAAAAAAAJk/PTaOFLQeSGM/s400/baru4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556369567545967378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana arah dan strategi gerakan membaca di tahun 2011? Dugaan saya, helatan program literasi akan lebih dimoninasi oleh gerakan literasi gelombang tiga. Sasarannya dan pegiatnya pun yang semula di pinggiran (periphery), identik dengan masyarakat desa (rural), bergeser ke pusat (urban). Dan gerakan membaca di gelombang ketiga ini, buku tidak selalu menjadi pusat, dan menjadi akhir perjalanan. Sebaliknya, ia sekadar menjadi pintu pembuka, awal perjalanan. Bergeser ke beragam aktivitas literasi rekreatif.   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk Tarlen Handayani atas beberapa inspirasi dan informasi Tobucil yang turut pula mewarnai tulisan ini. &lt;br /&gt;Foto : Wien Muldian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2012072976359281009?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2012072976359281009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/gerakan-membaca-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2012072976359281009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2012072976359281009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/gerakan-membaca-di-indonesia.html' title='Gerakan Membaca di Indonesia'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRwxhhpGVGI/AAAAAAAAAJs/rQ6xdUcmrtg/s72-c/TBM%2540mall.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-806485783388259153</id><published>2010-12-23T17:23:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:25:13.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Tiga Ragam Pengelolaan TBM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRP2OHYVmkI/AAAAAAAAAIA/6PVLhDyL2Zo/s1600/Presentation1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRP2OHYVmkI/AAAAAAAAAIA/6PVLhDyL2Zo/s320/Presentation1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554053487837682242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa membaca itu penting, saya kira semua sepakat. Tapi bagaimana strateginya agar kesadaran itu dapat berubah menjadi aksi nyata berupa meningkatnya budaya baca, itu yang tidak sama. Ada banyak siasat, salah satunya adalah dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Penggunaan kata taman, selain lebih menimbulkan kesan rekreatif, sekaligus untuk menunjukkan bahwa TBM bukanlah sekadar tempat berkumpulnya buku layaknya perpustakaan. Tapi menyediakan beragam bentuk layanan. Mulai dari konsultasi pertanian, hingga klinik penulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jawa Tengah sampai dengan awal tahun 2008,  ada sekitar 300 TBM yang tersebar di tiap-tiap kabupaten. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah. Dari 300 TBM itu, pola pengelolaannya dapat saya bagi menjadi tiga ragam.  Pola pengelolaan adalah berkaitan dengan bagaimana strategi yang digunakan TBM untuk memasarkan aktivitas membaca (dan menulis). Atau yang biasa dikenal dengan istilah keberaksaraan (literacy).  Untuk lebih memudahkan saya dalam memaparkan tiga ragam pengelolaan itu, saya akan langsung menyebut nama TBM sebagai contoh di tiap-tiap ragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, TBM Bergema. Bergema singkatan dari Bersama geliat masyarakat. Bergema berada di desa Patak Banteng, kecamatan Kejajar, sekitar 27 kilometer sebelah utara kota Wonosobo. Atau hanya sekitar 2 kilometer sebelum komplek Candi Dieng. Terletak persis di lembah Dieng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi gerakan minat baca yang dilancarkan Bergema menggunakan pendekatan keaksaraan fungsional. Secara mudah keaksaraan fungsional dapat dimengerti sebagai kemampuan seseorang mengenal aksara dan memanfaatkannya untuk  meningkatkan perolehan materi atau pendapatan (kesejahteraan ekonomi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud nyata programnya adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang dapat dijadikan rujukan bertani dan berkebun. Selain itu bekerjasama dengan gabungan kelompok tani, secara periodik Bergema diberi kepercayaan menggulirkan sejumlah dana pinjaman mikro. Cara ini telah berhasil mengikis pelan-pelan praktik ijon, serta menjauhkan petani dari para lintah darat (rentenir). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, TBM Warung Pasinaon. Pasinaon bermakna tempat belajar. TBM ini berlokasi di Bergaslor, kecamatan Bergas, kabupaten Semarang.  Pasinaon menjadikan, terutama, ibu-ibu paruh baya sebagai sasaran utama. Salah satu sebabnya adalah masih tingginya angka buta aksara yang terjadi pada ibu-ibu paruh baya tersebut. Dan ini sangat mungkin representsi yang berlaku pada tingkat lebih luas, yaitu Jawa Tengah.  Jateng menduduki rangking dua setelah Jawa Timur, propinsi berpenduduk buta huruf tertinggi di Indonesia. Dan 60 persennya adalah para ibu-ibu yang tinggal di pedesaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas strategi apa yang ditempuh oleh Pasinaon?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Pasinaon&lt;br /&gt;Mereka membuat media bernama Koran Pasinaon. Meskipun menggunakan kata koran, media tersebut berbentuk majalah. Kalau dilihat dari isinya, Koran Pasinaon lebih cocok disebut sebagai koran ibu. Lantaran rubrikasi dan isinya ibu-ibu banget. Termasuk para penulis (wartawan)nya juga ibu-ibu semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Pasinaon digunakan sebagai sarana untuk merawat kemampuan membaca yang telah dipunyai para ibu-ibu, agar mereka tidak kembali menjadi buta huruf. Koran Pasinaon terbit sebulan sekali. Sampai dengan edisi 22 April - 21 Mei 2010 ketebalannya sudah mencapai 20 halaman. Padahal di awal terbitnya, sekitar awal 2010, hanya 10 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, sebagian isi Koran Pasinoan berupa tulisan tangan dari wartawannya. Menariknya lagi, tiap tulisan yang dimuat, diberi honorarium sebesar Rp15.000. Kalau dilihat dari jumlah nominalnya sangat kecil. Tapi kalau dilihat dari prosesnya, uang tersebut sangat besar nilainya. Karena penulisnya adalah para ibu-ibu paruh baya yang sebelumnya buta aksara. &lt;br /&gt;Melalui Koran Pasinaon, secara tidak langsung TBM Warung Pasinaon mengabarkan kepada publik luas bahwa salah satu cara untuk mempertahankan sekaligus mengasah kemampuan membaca adalah dengan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pendidikan keaksaraan, TBM Pasinoan menjadi sarana pembelajaran dan hiburan masyarakat, serta sarana untuk memperoleh dan memproduksi informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, TBM Guyub. Berbeda dengan Bergema dan Pasinoan, TBM yang beralamat di jalan raya Bebengan 221 Boja, Kendal ini memusatkan aktivitasnya pada pendarasan karya sastra. Sasaran pembacanya pun kebanyakan adalah para remaja. Meskipun tidak sedikit pula yang datang ke Guyub adalah mereka yang sudah sepuh dan masih anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Guyub berlokasi di desa, koleksi bacaan yang dimiliki tak kalah dengan isi koleksi perpustakaan perguruan tinggi.  Orhan Pamuk, Satanic Verses anggitan Salman Rushdie, bertumpul buku karya Franz Kafka, dan Garcia Marquez dapat ditemui di Guyub. Daftar karya-karya kelas dunia itu dapat diperpanjang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi karya sastra berupa dramatic reading, bedah buku, pelatihan menulis (puisi) dan pementasan menjadi beberapa strategi Guyub merawat minat baca para remaja. Dengan begitu kegiatan para remaja tidak melulu datang, baca, pinjam, dan mengembalikan buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menghilangkan kendala keadministrasian pengelolaan sekaligus menumbuhkan kesadaran moral untuk senantiasa jujur, Guyub meniadakan kartu anggota. Pengunjung diminta mengisi isi daftar buku yang hendak dipinjam. Masa waktu pengembaliannya pun fleksibel. Sama sekali tidak ada jaminan. Tidak pula harus menyerahkan fotokopi KTP atau Kartu Pelajar. Jaminanannya hanya satu: moral.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan tentang tiga ragam pengelolaan TBM di atas mengantarkan kita pada satu simpulan: hendaknya gerakan sosial, termasuk ajakan untuk gemar membaca, yang dalam wujudnya adalah TBM harus berbasis pada kebutuhan masyarakat, bukan merujuk pada kebutuhan pengelola.●&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOTO : Wien Muldian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-806485783388259153?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/806485783388259153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/tiga-ragam-pengelolaan-tbm.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/806485783388259153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/806485783388259153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/tiga-ragam-pengelolaan-tbm.html' title='Tiga Ragam Pengelolaan TBM'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRP2OHYVmkI/AAAAAAAAAIA/6PVLhDyL2Zo/s72-c/Presentation1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-4254813899430982597</id><published>2010-12-21T22:34:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:26:37.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Merayakan Kedangkalan Melalui Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRGdFYJrXTI/AAAAAAAAAH4/6eUS6eLwMV8/s1600/buku1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRGdFYJrXTI/AAAAAAAAAH4/6eUS6eLwMV8/s320/buku1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553392531232480562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tak seperti dulu. Ditahbis sebagai anak rohani manusia. Hasil perenungan dan permenungan atas kenyataan hidup penulisnya. Menjadi karya yang bersifat sangat personal. Dicandra sebagai sumber kedalaman, kebajikan, dan pencerahan. Oleh karenanya buku dibaiat pula sebagai penentu arah peradaban bangsa. Buku sebagai cara merayakan kedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang terjadi sebaliknya. Buku justru menjadi panggung merayakan kedangkalan. Salah besar jika buku disangka sebagai semata-mata karya individual/personal. Kini ia sudah menjadi karya komunal. Bahkan industrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Modus pendangkalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Proses pendangkalan di dunia perbukuan, paling kurang, melalui tiga 3 (tiga) modus. Yaitu pertama, kontradiksi. Menulis buku semula dijadikan sarana untuk menghadirkan substansi (isi), bukannya ikon. Harapannya ketika seseorang mendaras suatu buku, yang ia tekuni adalah isi buku, bukan si penulis buku. Dengan begitu, antara pembaca dan penulis tetap ada jarak. Keberjarakan tersebut akan memampukan pembaca bersikap adil sekaligus jujur dalam menimbang isi buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini menulis buku justru menjadi arena menguatkan citra ikon. Menjadi arena penglepasan hasrat semesta kecil. Berupa keinginan memiliki publisitas, kemenangan, popularitas, kelimpahruahan harta, dan keterkenalan. Yang kesemuaannya oleh Yasraf (2003) digolongkan pada bentuk-bentuk budaya peng-aku-an (the culture of narcissism).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin bukti? Masuklah ke toko buku, lihat deretan judul buku yang terpajang di rak bertuliskan: Bahasa. Anda akan bertemu dengan beragam judul buku yang menjadikan perolehan uang dan keterkenalan menjadi titik pijak ajakan penulisnya kepada pembaca agar terjun ke dunia penulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tentang etos kreatif dan motivasi peng-aku-an ini, jauh-jauh hari telah diingatkan penyair Rendra: “Penulis harus secukupnya saja menyesali kegagalan atau mensyukuri kesuksesan. Ia tidak boleh terjerat oleh sukses atau kegagalan karyanya. Kegemaran berkokok atas suatu sukses atau menangis pilu karena suatu kegagalan akan menyebabkan ia kerdil. Pikiran dan jiwa tidak lagi merdeka tanpa beban sehingga kemurnian jiwa sukar lagi didapatkan. Pada hakikatnya, seorang penulis harus memahami bahwa nama itu kosong dan ketenaran itu hampa, hanya jalan hidup yang nyata.”&lt;br /&gt;Kedua, penyederhanaan. Simplifikasi diperoleh dengan cara mendistorsi makna atau pengertian penulis. Dulu, untuk menjadi penulis, seseorang harus melalui proses panjang. Rela bergumul dengan kenyataan hidup, kepahitan, penolakan, ketidakpopuleran, menjalani dunia sepi, kerelaan untuk “antri”. Pendek kata, menjadi seorang penulis betul-betul menjadi seorang anak kehidupan-kebudayaan. Bukannya anak struktur (penerbit, sekolah menulis, pelatihan kepenulisan)—seperti yang saat ini berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ketika seorang penulis lahir sebagai anak struktur maka yang terjadi kemudian adalah ia akan pandang hanya dari sisi (teknis) keterampilan menulisnya. Bukan kediriannya yang meliputi adanya api peduli (cinta), keterlibatan, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai universal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya karya-karya epigon dapat saya ajukan sebagai salah satu asnad atau bukti betapa lahirnya penulis-penulis anak struktur (penerbit) ini tengah menjadi kecenderungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tak kalah menarik untuk disimak adalah, gejala yang terjadi di kalangan penulis muda—cepat memiliki pretensi untuk mengajari orang lain menulis. Salah satunya dengan mendirikan sekolah menulis (struktur). Baik secara online (e-mail) maupun offline (kelas). Besaran “investasi program” yang dipatok masing-masing lembaga pun berbeda. Termasuk durasi waktu pelatihan. Meskipun tiap sekolah menulis memunyai kurikulum yang berbeda, mereka bertemu dalam satu titik, yaitu menjadikan keterampilan menulis sebagai tujuan utama. Mudahnya orang ikut sekolah menulis dijamin akan menjadi penulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taruhlah, klaim mencetak penulis itu benar. Maka yang akan terjadi kemudian dapat ditebak, yaitu lahirnya penulis-penulis instan. Sekali muncul, setelah itu selesai. Bentangan tema yang ditulispun biasanya hanya terbatas pada buku-buku praktis (how to/self help).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, komodifikasi. Buku yang semula dinilai sebagai bentuk tingkah laku budaya (cultural behavior), dan produksi budaya (cultural production) kini direduksi perannya hanya sebagai produk budaya (cultural product). Hukum-hukum yang berlaku pada buku yang dinilai sebagai produk budaya, sama persis seperti yang berlaku pada artifak kebudayaan fisik. Pada titik ini, secara substansial buku dapat dipersamakan dengan meja, kursi, mobil, sepatu atau benda-benda kebudayaan fisik lainnya. Sebagai artifak buku menjadi suatu benda fisik yang telah berdiri sendiri. (Buku dalam Indonesia Baru, Ed. Alfons Taryadi, 1999; 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling kasatmata dari praktik komodifikasi ini adalah pameran buku. Di dalam pameran, buku lebih sering ditempatkan sebagai murni barang. Pengaturan buku yang dipamerkan tidak didasarkan pada kategori tema, tapi pada kesamaan harga. Sudah begitu pengaturan letak buku pun acak kadut. Sehingga ada kesan yang dijual bukan buku sebagai karya intelektual (noble industry) tapi semata-mata kertas (pabrikan).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asnad lain berupa munculnya buku-buku yang menjanjikan kekhusyukan ibadah, tapi didekati dengan metode praktis (sistematisasi). Sebuah upaya yang justru membuat sesuatu yang semula bersifat transenden menjadi profan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, rupa-rupanya antikedalaman telah menyapa kehidupan dunia perbukuan. Kini, buku telah menjadi bagian dari hasrat konsumerisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-4254813899430982597?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/4254813899430982597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/merayakan-kedangkalan-melalui-buku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4254813899430982597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4254813899430982597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/merayakan-kedangkalan-melalui-buku.html' title='Merayakan Kedangkalan Melalui Buku'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TRGdFYJrXTI/AAAAAAAAAH4/6eUS6eLwMV8/s72-c/buku1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5523247986226110572</id><published>2010-12-04T06:11:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:27:36.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Pustakawan 2.0: Gaul, Trendi, dan Ahli</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPpPtFBsjdI/AAAAAAAAAHw/JnKia1O0Xds/s1600/art.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPpPtFBsjdI/AAAAAAAAAHw/JnKia1O0Xds/s320/art.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5546833526922186194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anomali! Ketika pemerintah menyatakan angka melek aksara lebih dari 90 persen, pada saat yang sama minat masyarakat berkunjung ke perpustakaan masih rendah. Berdasarkan hasil jajak pendapat tentang minat baca yang pernah dilakukan Kompas (14/2/2009) dari total responden yang dicuplik secara sistematis di beberapa kota besar seperti Kota Semarang, Solo, Purwokerto, dan Tegal: 75,5 persen mengaku tidak pernah berkunjung ke perpustakaan dalam sebulan terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendahnya intensitas kunjungan ke perpustakaan tersebut bisa menjadi ukuran rendahnya pula tingkat minat baca. Mengapa perpustakaan? Karena di tempat inilah para pendaras buku berkumpul. Mereka pergi ke perpustakaan dengan sengaja, bukannya iseng. Ramainya jumlah pengujung dapat dibaca sebagai tingginya minat baca. Sebaliknya jika jumlah pengunjung dan peminjam buku bisa dihitung dengan jari, maka itu artinya minat baca masyarakat masih rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, faktor-faktor apakah yang membuat orang enggan datang ke perpustakaan? Benarkah semata-mata karena memang tidak mempunyai minat baca? Atau karena faktor lain? Misalnya karena akses ke lokasi yang sulit, kenyamanan ruang baca, sikap para staf/pustakawannya, varian layanan yang diberikan, serta sistem sirkulasi (meminjam dan mengembalikan) yang tidak memudahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa temuan di lapangan, keengganan datang ke perpustakaan (terutama perpustakaan daerah/milik pemerintah) ternyata lebih banyak disebabkan oleh sikap para staf dan pustakawannya yang kurang bersahabat. Rata-rata mereka bermuka masam, jutek, saat melayani pengunjung tidak menunjukkan antusiasme yang tinggi, cenderung malas-malasan, dan sesama staf sering terlihat menggerombol di pojok ruang—ngrumpi. Sudah begitu ketika ditanya tentang suatu buku yang hendak dicari/dibutuhkan, jawaban yang seringkali muncul: silahkan cari sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sikap demikian sangat tidak menguntungkan bagi upaya mengkampanyekan kegemaran membaca. Pustakawan sebagai orang yang senantiasa berlekatan dengan media baca, seperti buku dan media teks lainnya justru menampakkan diri sebagai pribadi yang tidak menyenangkan. Sebuah promosi negatif, jika tidak mau disebut menggembosi ikhtiar menggenjot minat baca masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat perusahaan, buku adalah produk yang akan dijual, dan pustakawan menjadi pemasarnya (marketers). Dalam proses memasarkan itu, pembawaan diri, sikap, perilaku (attitude) para marketers menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan. Oleh karenanya membangun kompetensi perilaku atau sikap (behaviour competence) bagi tiap-tiap pustakawan, dalam konteks mengefektifkan perpustakaan sebagai pusat gerai adab sekaligus untuk menghilangkan anomali melek aksara, menjadi sangat penting. &lt;br /&gt;Lebih-lebih di tahun-tahun mendatang. Tahun di mana bakal terjadi perubahan besar-besaran menyangkut pergeseran sistem simpan dan temu-kembali, yang semula manual (katalog, koleksi, dan pelayanan berbasis atom/kertas) berubah menjadi digital, otomasi—berbasis image, byte, sistem komputer— library 2.0. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Library 2.0 (perpustakaan generasi kedua) mensyaratkan adanya pustakawan yang gaul, trendi, sekaligus ahli. Gaul mempunyai pengertian bahwa seorang pustakawan harus lincah berinteraksi dan berkomunikasi tidak saja dengan pemustaka tapi juga pihak-pihak yang berkepentingan, berkaitan, dan berurusan dengan perpustakaan. Atau lebih tepat disebut sebagai pihak yang berkaitan dengan kampanye peningkatan budaya baca. Misalnya jurnalis, penerbit, toko buku, penulis, klub (pembaca) buku, komunitas literasi, dan media massa. Baik cetak maupun elektronik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mampu memposisikan diri sebagai jembatan atau penghubung atas berbagai macam bentuk kepentingan antar stakeholders dan shareholders budaya baca. Karena yang sudah-sudah, misalnya penerbit ketika ingin masuk ke perpustakaan, taruhlah perpustakaan daerah (kabupaten/kota) dengan menawarkan program pameran buku kerap menghadapi kesulitan karena tidak ada orang perpustakaan yang berani “pasang badan”. Padahal dalam acara pameran buku itu diadakan pula acara pengiring, seperti bedah buku, jumpa penulis, hingga pelatihan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena respon yang diharapkan muncul dari perpustakaan tidak sebesar harapan penerbit, acara yang ditawarkan tersebut menemui kegagalan. Selama ini kegagalan penawaran bentuk kerjasama itu biasaanya karena persoalan dana, dan keterbatasan sumber daya manusia. Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh, yang demikian bukanlah sebab, tapi akibat. Akibat dari sikap tertutup dan tidak percaya diri terhadap tawaran kerjasama yang diulurkan dari pihak luar/penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kebutuhan seorang pustakawan yang gaul dan mempunyai sikap hidup dan pola pikir yang terbuka menjadi penting. Ia akan terus berupaya menambah jejaring, sehingga perpustakaan bisa benar-benar hidup, dan semakin dicintai oleh publik pengguna atau masyarakat pemustaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap gaul ini juga bisa memunculkan ikatan emosional yang kuat antara pengunjung dengan pustakawan. Sehingga segala bentuk sikap dan gaya pustakawan berada dalam satu tarikan nafas dengan upaya untuk memasarkan perpustakaan tempat ia bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaul ini juga menyangkut pemanfaatan teknologi. Apalagi di jaman ini, di mana internet semakin tumbuh dan berkembang. Pustakawan harus menjadi orang pertama yang tercerahkan melalui yang ia baca. Pustakawan harus memiliki akun sendiri di situs jejaring sosial, menjadi bagian dari ”jamaah facebookiyah”, mejeng di friendster, juga jika memiliki video yang bagus, tentu yang berkaitan dengan program budaya baca bisa ia unggah ke youtube. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situs jejaring sosial tersebut pustawakan bisa berkomunikasi dengan pemustaka secara pribadi, tanpa harus disertai dengan perasaan pekewuh (sungkan) layaknya saat bertemu di kantor. Di situlah seorang pustakawan bisa melampiaskan ”bakat narsis”nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaul melalui situs jejaring sosial, bisa digunakan pustakawan untuk menginformasikan buku-buku terbaru koleksi perpustakaan, jadwal acara perbukuan, hingga menjadi cara ia ”mengedukasi” publik untuk misalnya bagaimana melakukan katalogisasi buku, baik secara manual maupun elektronik (otomasi). Termasuk misalnya menjadi konsultan bagi keluarga atau pribadi yang ingin mendirikan perpustakaan keluarga, dan taman baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktif di situs jejaring sosial, seorang pustakawan 2.0  wajib hukumnya memiliki website pribadi, minimal blog. Di situ bisa menjadi ajang bagi pustakawan untuk menuliskan catatan-catatan (tidak) penting berkaitan dengan pekerjaannya maupun pengalaman keseharian. Lebih baik lagi jika diisi dengan tulisan atau content yang spesifik. Blog dan website bisa menjadi bukti transformasi diri yang terjadi pada diri pustakawan, dari yang sebelumnya hanya seorang pembaca, bergeser menjadi seorang penulis. Meskipun baru menjadi penulis blog. Menulis di blog juga menjadi cara paling baik untuk menerapkan doktrin manajemen modern: tulis apa Anda dikerjakan, kerjakan apa yang Anda tulis! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pengertian trendi dalam makna yang paling dasar adalah menyangkut penampilan dan cara berpakaian. Selama ini pustakawan memakai seragam atau uniform yang sama, yaitu lazimnya seragam PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sehingga terlihat sangat resmi, menjadikan kesan birokratisnya menjadi sangat kental. Seorang pustakawan di tahun-tahun semua serba ”cair” hendaknya menggunakan ”seragam” yang tidak formal. Kalau tidak selama sepekan penuh, minimal seminggu sekali. Taruhlah tiap hari sabtu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk tampilan trendi itu misalnya dengan memakai kaos yang bertulisankan kata-kata penuh motivasi yang berkaitan dengan ajakan untuk membaca. Tidak lupa menyematkan pin budaya baca pula di kaos dan topi. Kalau biasanya memakai celana kain, bisa jug memakai celana jeans. Kesan trendi ini akan mempersempit jarak antara pustakawan, yang pada akhirnya perpustakaan sebagai institusi dengan pengunjung. Terutama mereka anak-anak muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung cara demikian juga memberikan pengertian kepada anak-anak muda, ternyata cinta buku tetap masih bisa berpenampilan modis. Apalagi sekarang era budaya pop yang sangat luber dengan ikon-ikon produk massa seperti kaos, topi, pin dan aksesoris lainnya. Itu semua bisa dipinjam ”bentuk, wujud atau wadahnya” (context) untuk kemudian ”isinya” (content) diubah dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya mempopulerkan perpustakaan (ajakan membaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penindihan ikon budaya pop untuk kampanye budaya baca (dan menulis) juga bisa digunakan sebagai pintu masuk untuk melancarkan program kampanye keberaksaraan fungsional. Contoh sederhana bagi pengunjung, khususnya anak-anak muda yang sudah memiliki usaha pembuatan kaos atau merchandiser atau yang baru akan memulai bisa menggunakan tema ”buku dan budaya baca” sebagai salah satu varian tema produk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku dan aktivitas membaca merupakan produk unggulan, tentu saja cara-cara penawaran yang dipilih pun mestinya dengan cara-cara yang unggul pula Ini penting karena, kesan yang muncul di sebagian besar anak-anak muda, khususnya para remaja, perpustakaan, buku, identik dengan kacamata tebal, tidak keren, tidak gaul, tidak punya teman, terlalu serius, dan tidak fun (menyenangkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan uniform para pustakawan tersebut, apalagi disertai pula dengan perubahan sikap atau attitude, para pengunjung akan semakin tertarik untuk mengenal perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tentu saja sikap dan cara membawa diri (gaul dan trendi) harus diletakkan pada dasar penguasaan keterampilan atau keahlian tertentu. Seorang pustakawan harus mempunyai keahlian yang spesifik (expert), dan bisa mengomunikasikan keahlian yang dimiliki tersebut. Misalnya ada pustakawan yang sangat expert tentang rak buku. Mulai dari model atau pola, pilihan bahan, penempatan, hingga anggaran yang dibutuhkan. Nah dari keahliannya tersebut, bisa ia gunakan untuk menjalin relasi lebih akrab dengan pengunjung, baik pribadi atau pun mewakili institusi, yang hendak membuat rak buku/setup perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian yang spesifik yang dimiliki seorang pustakawan akan memudahkan perpustakaan dalam membuat varian program layanan. Salah satunya bisa dibuat klub buku yang didasarkan pada minat-minat tertentu. Misalnya ada pustakawan yang ahli di bidang teknologi informasi. Melingkupi perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Sehingga ia bisa menjadi tempat acuan bagi pengunjung yang mempunyai masalah dengan komputer dan jaringan internet. Ia menjadi penggerak utama pembentukan klub komputer. Di setiap pertemuan bisa digunakan untuk membedah buku terbaru tentang komputer, saling berbagai tips aplikasi, termasuk pembicaraan yang mengarah kepada bisnis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, diperlukan pula pustakawan yang pintar menulis, dan tulisannya telah banyak dipublikasikan media dan penerbit. Keahlian khusus yang menjadi merk/brand untuk masing-masing pustakawan tersebut dapat menjadi magnet tambahan buat perpustakaan selain buku dan koleksi lainnya. Sehingga ada ikatan emosional-fungsional yang kuat antara pustakawan dengan pemustaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustakawan yang mahir menulis bisa menggagas klub menulis. Klub tersebut diikuti oleh pemustaka yang tertarik dan berniat belajar menulis. Yang memfasilitasi sekaligus jadi mentor adalah pustakawan yang pandai menulis. Jika tidak pandai, minimal ia mempunyai jejaring ke penulis mapan. Sehingga penulis mapan tersebut bisa dihadirkan di forum klub menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain klub menulis bisa saja misalnya menelurkan program Klinik Baca Tulis (KBT). Program ini merupakan peniruan persis atas Posyandu atau Poliklinik yang memberikan pelayanan kesehatan fisik kepada masyarakat luas. Hanya saja, karena KBT, tentu pelayanannya tidak ditujukan kepada masalah fisik (sakit), tapi sakit yang berupa problem-problem membaca dan menulis yang mungkin, melilit mereka. Pasiennya adalah mereka yang ingin belajar membaca dan menulis, sedangkan dokternya adalah para penulis. Pelayanan diberikan secara cuma-cuma alias gratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama penggagasan KBT, pertama, adalah untuk mengoptimalkan peranan perpustakaan sebagai penggerak utama (prime mover) menuju masyarakat berkesadaran membaca dan menulis. Sebagai salah satu kegiatan yang dapat membawa masyarakat pada pencapaian peradaban yang tinggi. Kedua, ingin menampung keluhan dan semacamnya berkaitan dengan buku, membaca, dan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBT bersedia menjadi keranjang sampah atau wadah apapun yang bermanfaat bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya. Karena sungguh tidak mudah seseorang yang ingin bertanya soal buku yang baik dan menarik, dan juga soal kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan, menemukan orang yang tepat untuk melayani keinginan bertanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, KBT ingin membuat dan melontarkan isu ke tengah masyarakat tentang pentingnya membaca dan menulis (buku). Merangsang tumbuhnya potensi membaca dan menulis di tengah masyarakat luas. Klinik ini mencoba memangkas kendala-kendala yang mengerangkeng seseorang untuk memunculkan potensi membaca dan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi dan tujuan KBT di atas sebagian besar merupakan penulisan ulang, dengan sedikit modifikasi, atas rumusan Hernowo yang tertulis dalam buku Main-Main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi (Kaifa, 2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin pentingnya, keahlian tersebut bukan malah membuat seorang pustakawan menjadi ”tidak tersentuh” tapi justru dengan keahlian khusus yang ia miliki itu bisa menjadi alat untuk sok kenal sok dekat dengan para pemustaka. Sampai di sini, muncul kesadaran baru: perpustakaan sebagai institusi garda terdepan penggerak kampanye budaya baca dan tulis harus mencari formulasi yang tepat untuk ”menjual” kompetensi yang tiap-tiap pustakawan miliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, syarat pengangkatan seorang pustakawan haruslah disertai dengan prasyarat kompetensi dasar atau keahlian khusus yang dikuasi. Kalau belum ahli, perpustakaan harus menciptakan mekanisme yang sifatnya built in (misalnya melalui kebijakan sertifikasi pustakawan) agar para pustakawan yang mempunyai minat di bidang-bidang tertentu itu bisa punya kesempatan belajar lagi untuk semakin mengasah kompetensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pustakawan generasi kedua juga harus mempunyai jiwa kewirausahaan. Yaitu kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumberdaya untuk mencari peluang menuju sukses institusi. Kreatifitas adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang. Inovasi adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Purbayu Budi Santosa (2004) performa kreatif dan inovatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa, sikap dan perilaku kewirausahaan, dengan ciri-ciri: Pertama, penuh percaya diri, indikatornya penuh keyakinan, optimis, berkomitmen, disiplin bertanggungjawab. Kedua, memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi, cekatan dalam bertindak dan aktif. Ketiga, memiliki motif berprestasi, indikatornya terdiri atas orientasi pada hasil dan wawasan ke depan. Keempat memiliki jiwa kepemimpinan, indikatornya adalah berani tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak. Dan yang kelima, berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan, oleh karena itu menyukai tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat meluncurkan Toko Buku Gramedia di Grand Indonesia, Jakarta (19/12/2008), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa bangsa yang maju pasti memiliki masyarakat yang maju pula. Masyarakat yang maju ditopang oleh masyarakat yang gemar membaca buku. Reading society menjadi prasyarat utama menuju advance society. Salah satu sarana penting membentuk reading society adalah perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan pernyataan Presiden SBY tersebut dalam bayangan saya, andai tiap pustakawan terutama mereka yang bertugas di perpustakaan milik pemerintah mempunyai kompetensi sikap dan skill berupa gaul, trendi, ahli, sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan, maka tujuan besar: advance society akan benar-benar segera terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Gaul, trendi, ahli. Tiga lema itu pula yang menjadi salah satu isi dari buku The Art of Library ini. Sejauh amatan saya, harus diakui jumlah literatur atau bacaan yang memuat perkembangan dunia literasi (keberaksaraan), khususnya tentang perpustakaan masih sangat sedikit. Dari yang sedikit itu pun, sebagian besar ditulis oleh orang yang justru tidak berkecimpung secara intens dan langsung di dunia pusdokinfo (kepustakawanan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada titik itulah, kehadiran buku ini menjadi penting. Tidak saja menambah jumlah bacaan yang masih sedikit itu, tapi lantaran ditulis oleh sosok yang telah bertahun-tahun bergelut di bidang arsip, dokumentasi, dan perpustakaan. Karena ditulis oleh seorang praktisi, tentu saja ide dan inspirasi yang muncul di buku ini bersumber dari pengalaman di lapangan. Oleh karenanya, tawaran-tawaran perbaikan dan wacana yang digulirkan pun sangat realistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbicara tentang kualifikasi yang harus dimiliki seorang pustakawan, serta perkembangan dunia baca tulis kaitannya dengan keberadaan perpustakaan, secara khusus, Endang Fatmawati, penulis buku ini, menyoroti perkembangan praksis pengelolaan perpustakaan di perguruan tinggi. Yang demikian wajar, mengingat sosok pustakawan berprestasi nasional ini dalam kesehariannya bekerja di perpustakaan perguruan tinggi (Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata ini, buku ini merupakan sebuah buku referensi penting dunia literasi yang patut dibaca dan dikoleksi. Buku referensi yang memberikan pijakan pengetahuan (kognisi), afeksi, dan simulasi seni mengelola library.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: The Art of Library--Ikatan Esai Bergizi tentang Seni Mengelola Perpustakaan&lt;br /&gt;Penulis: Endang Fatmawati, S.S., S.Sos., M.Si (Pustakawan Perguruan Tinggi Berprestasi II (DIKTI) 2009&lt;br /&gt;Kata Pengantar: Harkrisyati Kamil (Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia – ISIPII)&lt;br /&gt;Penerbit: BP UNDIP, Semarang&lt;br /&gt;Tebal Buku: xxii + 315 Halaman&lt;br /&gt;Cetakan Pertama: November 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5523247986226110572?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5523247986226110572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/pustakawan-20-gaul-trendi-dan-ahli.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5523247986226110572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5523247986226110572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/pustakawan-20-gaul-trendi-dan-ahli.html' title='Pustakawan 2.0: Gaul, Trendi, dan Ahli'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPpPtFBsjdI/AAAAAAAAAHw/JnKia1O0Xds/s72-c/art.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-4371867541172263369</id><published>2010-12-01T02:20:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:29:05.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Gelap di Dalam Mencari Terang di Luar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPYh5yjQ0hI/AAAAAAAAAHg/sudI6YDYO7U/s1600/jalan%2BCINTA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 230px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPYh5yjQ0hI/AAAAAAAAAHg/sudI6YDYO7U/s320/jalan%2BCINTA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545657267859280402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Cinta Para Pejuang. Ada 3 hal penting yang saya dapatkan dari buku anggitan Salim A. Fillah itu. Pertama, terbaca benar bahwa penulisnya sangat mencintai ilmu. Kedua, ajakan untuk menjadikan kisah-kisah para sahabat Rasul SAW sebagai acuan. Bukan selalu menjadikan teks yang ditulis oleh orang Barat, sebagai rujukan. Ketiga, seruan untuk senantiasa berjamaah. Bersatu dalam barisan yang diikat dengan tali bernama persamaan aqidah. Layaknya pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi (18) ayat 13-25. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkelompok untuk sesuatu yang bermanfaat, dan menjadi sarana untuk saling nasihat menasihati dalam sabar dan takwa. Mengasah kesadaran diri untuk berani mengambil tanggungjawab/amanah yang lebih berat. Jamaah yang pada akhirnya mampu melahirkan sosok-sosok yang langgeng (istiqomah) dalam berfikir dan bertindak untuk kebaikan umat muslim. Pada wilayah yang lebih luas. Dalam ranah persoalan kemanusiaan-kehidupan yang lebih dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah yang mencitrakan tongkrongan global paradigma global. Bukan sebaliknya tongkrongan global paradigma lokal. Satu ungkapan yang saya gunakan untuk menunjukkan bermunculannya berbagai komunitas (jamaah) yang didasarkan pada apa-apa (benda) yang dipunyai. Benda yang menunjukkan hasil dari kreatifitas dan teknologi canggih. Tapi benda tersebut digunakan untuk sesuatu yang entah. Sesuatu yang tidak ada sangkut paut dengan kebenaran. Alih-alih mampu memberikan kemanfaatan ke publik luas, justru semakin membuat pemiliknya, anggota jamaah/komunitas kian tercerabut dari akar persoalan umat yang sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca buku ini, ada semangat yang meluap-luap pada diri saya untuk mencari nama-nama sahabat Nabi. Sekaligus merekam peristiwa yang pernah berlangsung di antara mereka. Kejadian yang tergelar di masa-masa paling baik dalam jelujur kisah kehidupan manusia di dunia itu. Tidak hanya itu, juga kisah kehidupan dan akhlak generasi sesudahnya, yaitu generasi salafussaleh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu yang demikian tidaklah istimewa buat mereka yang karib dengan jalan dakwah dan dekat dengan jamaah. Tapi buat saya yang sebelumnya begitu dekat dengan wacana-wacana dekonstruksi, kajian-kajian komunisme sosialisme, lekat dengan komunitas-komunitas yang longgar dan liberal, baik dalam pemikiran, sikap, maupun tindakan, pilihan untuk kembali ke rahim Islam menjadi jalan yang tidak mudah untuk saya tempuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Cinta Para Pejuang membukan tabir yang selama ini menghijabi mata batin saya. Bahwa sumber terang yang saya cari selama ini selamanya tidak akan pernah memberikan pencerahan-penyadaran. Selagi di sini, di batin ini, di hati ini mengalami kegelapan. Gelap di dalam mencari terang di luar. Saya sibuk menyalakan lilin, membawanya berjalan, berharap nyala lilin itu mampu menerangi tiap langkah kaki yang saya ayunkan. Sementara, pada waktu berbarengan saya dengan sengaja menutupi mata ini dengan selembar kain tebal. Sebuah pemandangan yang paradoksal. Itulah kehidupan saya. Kehidupan sebelum menemukan Jalan Cinta Para Pejuang.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyakini, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua by design. Termasuk apa yang terjadi pada saya kaitannya dengan Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah, dan Pro U Media, penerbit buku itu. Walaupun kesan awal yang muncul, sepertinya serba kebetulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, ini agak bersifat pribadi. Begini ceritanya. Saya menikah akhir tahun 2004. Di awal tahun 2005 istri saya diundang menjadi salah satu pembicara di acara peluncuran majalah di Yogyakarta. Selain istri, ada pembicara satu lagi, ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Di sinilah untuk pertama kali saya mendengar nama Salim A. Fillah disebut. Ceritanya saat itu Ustadz Fauzil bertutur soal kecenderungan buku-buku epigon bertema pernikahan dini. Ia merujuk nama Salim sebagai contoh. Bukan contoh yang buruk, melainkan contoh yang baik. Meskipun tema sama, tapi Salim mampu menyajikan dengan adonan, dan cara penyajian yang berbeda. Demikian kira-kira ucap Ustadz Fauzil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai acara, sesampainya di rumah saya bertanya ke istri, Salim itu siapa? Maka mulailah istri saya bercerita panjang lebar. Mulai dari keberanian Salim nikah dini, kesannya terhadap buku karya Salim yang berjudul Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, hingga rencana mewawancarai Salim untuk salah satu majalah remaja terbitan Jakarta. Jujur dari cerita yang panjang lebar itu hanya satu yang menerbitkan rasa ketertarikan saya, yaitu bahwa istrinya Salim pernah nge-kos di rumah adik nenek istri saya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi ketertarikan itu tidak sampai membetot rasa ketertarikan saya untuk segera membaca buku karya Salim itu. Buat saya yang saat itu masih riuh dengan persoalan-persoalan besar—perkembangan politik, kekuasaan, praksis pendidikan, masa depan kemanusiaan, strategi perubahan, pengangguran, saluran transformasi, kemiskinan, dan persoalan-persoalan besar lainnya—buku tentang pernikahan, dini pula, saya anggap sebagai persoalan sepele nan domestik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Awal Juni 2009 saya diundang Forum Lingkar Pena Semarang menjadi pemateri pelatihan penulisan. Pelatihan berlangsung di gedung serba guna Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas  Negeri Semarang. Di sinilah saya bertemu dengan sosok yang saya dengar namanya kurang lebih 5 tahun lalu itu. Salim A. Fillah menjadi pemateri kedua. Kesan saya pada Salim hanya satu kata: muslim ideolog. Itu saja. Meskipun usia biologisnya masih muda, paling kurang jika dibandingkan dengan saya, tapi umur kesadaran dan luasan wilayah sosial dan tanggungjawabnya lebih tinggi nan luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertemuan yang ’tidak disengaja’ tersebut, lantas apakah saya serta merta mencari anak-anak rohani (baca: buku-buku)nya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya Allah SWT., ’memaksa’ saya untuk membaca karya Salim. Bagaimana cara Allah SWT memaksa saya? Ikuti terus tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2009. Pro U Media, penerbit buku asal Yogya, yang merupakan satu-satunya penerbit yang dipilih Salim—entah kalau yang terjadi sebaliknya, Salim yang dipilih penerbit—mengadakan lomba resensi buku. Singkat cerita, alhamdulilah resensi saya atas buku berjudul Republik Genthonesia menjadi pemenang pertama. Resensi tersebut saya kirim ke panitia, kalau tidak salah kira, pekan ketiga bulan Juli 2009, menjelang batas akhir penerimaan naskah lomba. Atau sekitar satu bulan setelah saya bertemu Salim. Jika pembaca berkeinginan mendaras hasil timbangan saya atas buku karya Mbah Dipo tersebut silakan berkunjung ke link berikut:  http://kubukubuku.blogspot.com/2009/07/dari-ceriwis-personal-ke-ceriwis.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 11 Oktober 2009. Saya memenuhi undangan penerimaan hadiah. Acara dikemas dalam acara asyik full manfaat bertajuk Syawalan Tumplek&lt;br /&gt;Bleg Pro-U Media. Ada satu ungkapan yang sampai sekarang masih saya ingat, ungkapan ini keluar dari salah satu pembawa acara yang bergaya gojek (bercanda) saat mencandai pengunjung yang mayoritas pelajar SMA dan Mahasiswa. “Hujan air saja tidak mau berangkat ngaji, bagaimana kalau di Palestina, di sana kan hujan peluru!” Ditimpali dengan suara hehehe di akhir ungkapan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di helatan inilah untuk kali kedua saya bertemu, bersalaman, bertegur sapa, dan maaf, ber-cipiki cipika ukhuwah dengan Salim. Di gelaran acara ini pula saya mendapatkan gambaran yang utuh atas diri Salim, karya, dan penerbit (orang-orang yang berhimpun di Pro U Media). Kelak Allah SWT., kembali mempertemukan saya dengan Salim di acara Temu Penulis Pro U—justru pada saat buku saya masih dalam proses penyuntingan—belum terbit. Baik sangka saya, barangkali Allah SWT., hendak mensegerakan proses lahirnya kesadaran pada diri saya.   &lt;br /&gt;Selain mendapatkan hadiah berupa uang tunai, saya juga mendapat hadiah buku. Ada sekitar 20-an judul buku, salah satunya adalah Jalan Cinta Para Pejuang. Dari titik inilah saya mulai mendaras karya Salim. Jadi proses pembacaan itu saya lakukan setelah saya mendapatkan bingkai dan kacamata yang lumayan benderang tentang kedirian penerbit dan penulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan tersirat dari Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, dan Salim A. Fillah adalah ketiganya bisa optimal karena berkah berjamaah. Penulis menjadi representasi penerbit. Demikian sebaliknya penerbit menjadi pintu awal para (calon) pembaca mengenal penulis dan karyanya. Integrasi seperti ini yang saya lihat sering lepas. Dan selimut integrasi itu satu yaitu kesamaan aqidah yang lurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa bentuk implikasi strategis paling nyata yang dihasilkan usai membaca Jalan Cinta Para Pejuang? Implikasi yang memberikan manfaat tidak saja hanya untuk diri si pembaca (personal), yakni saya, tapi juga lingkungan di sekitar saya (komunal-sosial). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lulus kuliah strata satu, Juli 2004 saya memutuskan diri untuk bekerja lepas, dengan alasan tidak mau terikat. Tepatnya tidak mau diperintah dan tidak mau terikat dalam komitmen berjangka panjang. Tiap tawaran pekerjaan yang mengharuskan saya memiliki atasan dengan jam kerja tetap—nine to five—saya tolak. Filosofi saya adalah tetap bekerja, bukan bekerja tetap. Jadi ada saja yang saya kerjakan. Mulai dari jualan buku, menjadi editor buku, penulis lepas di koran, menjadi trainer kepenulisan, hingga menjadi konsultan di BAPPENAS  (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Saya sungguh menikmati ‘petualangan’ itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada satu titik, saat sendiri, saat hening di kebeningan waktu menjelang fajar batin saya bertanya: sampai kapan saya akan menjalani kehidupan seperti ini. Kesenangan berpetualang, membuat saya hampir-hampir tidak memiliki sahabat, alih-alih jamaah yang ikatannya sekuat kerabat. Yang ada adalah semua relasi didasarkan pada target-target pekerjaan bersifat material. Tapi pada waktu yang sama, saya juga belum memiliki ketetapan hati untuk mengakhir episode petualangan itu. Hingga akhirnya saya ‘dipaksa’ oleh Allah SWT., untuk membaca Jalan Cinta Para Pejuang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu memberikan tambahan pemahaman dan kesadaran: sudah saatnya saya mengakhiri petualangan itu, dan beralih pada upaya untuk menyemai benih kebaikan dan perubahan, menyirami, menyiangi, memelihara hingga tumbuh dan berbuah. Gaya hidup soliter (superman, personal) harus saya ganti menjadi sikap hidup solider (superteam, komunal, berjamaah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Mei 2010, secara penuh saya bergabung ke dalam keluarga besar Sekolah Alam Islam Terpadu Auliya. Lembaga pendidikan yang berlokasi di Kendal, Jawa Tengah ini memberikan layanan pembelajaran mulai dari Play Group, Taman Kanak-Kanak, hingga Sekolah Dasar. Dan secara khusus saya diserahi tanggungjawab untuk membidani kelahiran SD-nya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAIT Auliya ini saya identifikasi sebagai tempat berhimpunnya orang-orang muda yang terus saja bermimpi tentang terbentuknya kesadaran umat yang menjadikan nilai-nilai islam sebagai sumber inspirasi bagi pengembangan dan pemberdayaan potensi kemanusiaan dalam kehidupan aktual. Serta melejitkan semangat berpengharapan kepada golongan yang lemah secara sosial, ekonomi, terutama pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat di Kendal telah tumbuh golongan menengah muslim. Golongan menengah dapat dicandrai melalui ukuran tingkat kesejahteraan ekonomi, peranan sosial, dan tingkat pendidikan. Jika merujuk pada sejarah perubahan peradaban yang senantiasa digerakkan &lt;br /&gt;oleh golongan menengah, maka para orangtua yang ’menitipkan’ putri-putrinya di SAIT Auliya ini memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Sungguh sayang, jika potensi itu hanya berhenti pada kata pontensi, lantaran tidak ada wadah yang berperan sebagai katalisator, penyatu, sehingga pontensi-potensi itu menjadi sinergi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAIT Auliya kami tempatkan sebagai wadah bagi para walimurid untuk berbagi informasi, inspirasi, empati, pengetahuan dan pemahaman tentang pendidikan dan kepengasuhan. Harapannya mereka akan menjadi sosok yang berkarakter, menjadi orangtua yang kredibel, soleh, cerdas, sekaligus profesional. Sebuah modal penting untuk memulai ikhtiar perubahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, dengan penuh takzim harus saya ucapkan: Jazakumullah akh. Salim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-4371867541172263369?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/4371867541172263369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/gelap-di-dalam-mencari-terang-di-luar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4371867541172263369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4371867541172263369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/12/gelap-di-dalam-mencari-terang-di-luar.html' title='Gelap di Dalam Mencari Terang di Luar'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPYh5yjQ0hI/AAAAAAAAAHg/sudI6YDYO7U/s72-c/jalan%2BCINTA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-7590903086228076263</id><published>2010-11-27T16:50:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:31:06.183-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Sarjana Kuadran Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPGoHX0WAXI/AAAAAAAAAHY/4N6Xtx1VSQY/s1600/61185_1614521400111_1148582869_1755177_1288116_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPGoHX0WAXI/AAAAAAAAAHY/4N6Xtx1VSQY/s320/61185_1614521400111_1148582869_1755177_1288116_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544397460875903346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Naiklah ke lantai tertinggi gedung bertingkat. Buka salah satu jendelanya, dan meludahlah. Maka dapat dipastikan ludah itu akan jatuh mengenai orang-orang di bawah gedung. Dan minimal satu dari orang yang terkena ludah itu adalah sarjana, pengangguran pula!” Demikian candaan yang saya dapat dari seorang pemateri pelatihan wirausaha beberapa waktu silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, Anda tidak harus percaya dengan guyonan satir motivator wirausaha itu. Tapi meskipun begitu, tetap saja cerita itu mengandung kebenaran. Paling kurang memunyai simpulan yang sama dengan banyak pengamat ekonomi bahwa angka pengangguran di negeri ini masih sangat tinggi. Baik yang absolut maupun relatif. Ironinya, tingginya angka pengangguran itu disumbang pula oleh golongan yang mestinya tidak lagi memiliki kendala untuk mendapatkan pekerjaan, yaitu para sarjana. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jumlah sarjana menganggur di Indonesia pada 2010 mencapai 1.142.751 orang atau naik 15,71 persen dibandingkan dengan 2009. (Kompas, 23/9/2010). Atau secara absolut naik 600 persen dibandingkan tahun 2005 (183.629 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebab para sarjana ini sulit mendapatkan pekerjaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, galibnya terjadi di hampir semua perguruan tinggi, indeks prestasi kumulatif (ipk) masih menjadi sesuatu yang utama untuk dikejar para mahasiswa. Ipk diperoleh dengan mengalikan bobot nilai suatu mata kuliah dengan jumlah sks tiap matakuliah tersebut dibagi seluruh sks yang telah diambil. Batasan angka tertinggi ipk adalah 4,0 (empat koma nol). Ipk menunjukkan kemampuan akademik mahasiswa dan seberapa jauh ia menyerap dan memahami matakuliah yang sudah diambil. Ukuran yang dipakai bersifat kuantitatif. Dengan kata lain ipk adalah hasil dari kerja otak kiri mahasiswa. Hanya merujuk pada kecerdasan intelektual (hard skill).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang salah dengan upaya mendapatkan ipk tinggi itu. Hanya saja yang patut direnungkan, ternyata ipk tinggi tidak menjamin para mahasiswa ini mudah diterima bekerja. Kalaupun diterima mereka sulit sekali mengembangkan karir. Apa pasal? Ternyata menurut hasil beberapa penelitian, kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola emosi atau tergantung pada tingkat kecerdasan sosialnya. Semakin cerdas sosial, semakin sukses. Demikian kira-kira kalau boleh saya sederhanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, dapat saya ajukan satu simpulan bahwa salah satu solusi yang dapat ditempuh untuk mengurangi angka pengangguran, terutama yang terjadi pada kaum sarjana adalah dengan meningkatkan kemampuan atau kecerdasan emosional mereka. Kalau kecerdasan intelektual diwakili dengan istilah indeks prestasi kumulatif (ipk dengan huruf kecil) maka kecerdasan emosional, sebut aja sebagai indeks peradaban kumulatif (IPK dengan huruf besar). IPK mencerminkan hasil kerja otak kanan. Bersifat kualitatif (soft skill) dan memiliki segi kemanfaatan jangkan panjang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada titik itu, saya kira akan menjadi pekerjaan rumah besar buat para pengelola perguruan tinggi, terutama di Jawa Tengah untuk merancang sistem perkuliahan yang nantinya tidak saja ipk para wisudawannya tinggi tapi juga juga level kesadaran kemanusiaannya (IPK) memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika antara ipk dan IPK ini kita buat menjadi garis yang saling menyalip (memotong), garis horizontal menunjukkan capaian ipk, sedangkan garis vertikal menunjukkan IPK, maka mestinya tujuannya pendidikan di perguruan tinggi adalah mendorong para lulusannya (sarjana) masuk ke dalam kuadran pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuadran pertama adalah kuadran yang memuat para sarjana berindeks prestasi kumulatif dan indeks peradaban kumulatif tinggi. Kuadran inilah yang paling ideal, lantaran menghasilkan sarjana yang mumpuni di ranah intelektual, dan menggetarkan di lapangan kesadaran. Yang selalu terjaga mata hatinya. Jika ada yang mengatakan bahwa mahasiwa adalah agen perubahan (agent of change), maka wujud aktualnya adalah sarjana/mahasiswa kuadran pertama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah kuadran kedua. Sarjana kuadran kedua adalah tipikal mahasiswa aktivis. Lantaran jarang masuk kuliah, indeks prestasi kumulatifnya dua koma astaghfirullah. Namun Indeks Peradaban Kumulatif-nya tiga koma masyaallah.  Taruhlah sarjana kuadran kedua ini tertolak saat melamar kerja di perusahaan, mereka akan cepat mengubah haluan. Tidak menjadi pencari kerja tapi pencipta lapangan kerja. Minimal memperkerjakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sarjana kuadran keempat? Kuadran keempat adalah untuk mahasiswa safety players. Dan ini menjadi kecenderungan umum mahasiswa. Lulus cepat, ipk tinggi. Jadi cara berfikirnya sangat linear. Ada dua nasib yang menanti sarjana kuadran keempat ini. Jika berkarir di akademik, yang paling logis dan jamak akan menjadi dosen. Andai berkarir di industri/perusahaan/birokrasi, sulit sekali untuk mendapatkan posisi kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling harus dihindari oleh para pemegang kepentingan pendidikan perguruan tinggi adalah menghasilkan sarjana kuadran ketiga. Di kuadran ini para mahasiswa yang lulus tidak saja berindeks prestasi kumulatif rendah, indeks peradaban kumulatifnya pun jeblok. Sudah tidak pintar intelektual, secara sosial pun bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya prestasi sarjana kuadran ketiga adalah meningkatkan tambunnya angka pengangguran dari kaum sarjana. Dan merujuk pada bentangan perangkaan tentang pengangguran, dengan berat hati harus saya katakan, mayoritas perguruan tinggi di Indonesia yang berjumlah tak kurang dari 2.900 perguruan tinggi itu masih menghasilkan sarjana kuadran ketiga ini. Duh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-7590903086228076263?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/7590903086228076263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/11/sarjana-kuadran-pertama.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7590903086228076263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7590903086228076263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/11/sarjana-kuadran-pertama.html' title='Sarjana Kuadran Pertama'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TPGoHX0WAXI/AAAAAAAAAHY/4N6Xtx1VSQY/s72-c/61185_1614521400111_1148582869_1755177_1288116_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8479899898739635658</id><published>2010-10-19T22:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:32:10.597-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Agar Indeks Prestasi Kumulatif = Indeks Peradaban Kumulatif</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: Sebuah epilog atas buku 24 Cara Mendongkrak IPK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran yang teramat sering digunakan untuk menilai sukses tidaknya seorang mahasiswa/sarjana adalah indeks prestasi kumulatif atawa IPK. IPK didapat dari skor nilai dikalikan jumlah sks (sistem kredit semester) dibagi jumlah total sks yang telah diambil. Skala tertinggi IPK adalah 4,00. Artinya jika IPK semakin mendekati 4,00 berarti semakin istimewa. Semakin sukses luar biasa! Terlepas apakah angka tersebut benar-benar mencerminkan kualitas orangnya atau tidak. Yang jelas IPK telah disepakati sebagai paramater atau ukuran keumuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan mahasiswa berlaku hukum tidak tertulis, tapi tahu sama tahu. Yaitu IPK minimal 3,00 sebagai IPK psikologis. Angka yang akan menimbulkan rasa aman sekaligus kebanggaan. Aman karena ”lebih mudah” mengisi lowongan kerja. Rerata perusahaan mensyaratkan IPK minimal pelamar 3,00. Dan bila si pelamar lulus dari perguruan yang kurang favorit, biasanya standarnya meningkat. Bangga, karena bisa melampui IPK 2,00. Seberapa besarnya angka di belakang koma, taruhlah 99 (2,99) tetap saja disebutnya ber-IPK dua koma. Beda dengan IPK 3 meskipun di belakang koma 01 (3,01) tetap disebut ber-IPK tiga koma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kecenderungan yang sering kali tidak bisa dibendung. Yaitu lulus hanya sekadar lulus meskipun indeks prestasi komulatif (IPK) tinggi, tapi penguasaan dan pemahaman terhadap ilmu yang dipelajari sangat kurang. Tak jarang ketika ujian nyontek, dengan berbagai macam cara. Dulu semasa saya masih kuliah, sangat mudah menemukan coretan-coretan berisi rumus, definisi, dan lain-lain di kursi kuliah, dipinggir-pinggir tembok, bahkan ada juga yang merajahkan contekan itu ke tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya sesuai dengan namanya universitas, sarjana yang hasilkan mempunyai kesadaran universal, mengumum, mensemesta. Orientasi tidak sekadar mencari dan mendapatkan pekerjaan, tapi beralih kepada upaya menciptakan lapangan kerja baru. Paling tidak kalau memang harus menjadi pekerja, harus diniati bagian dari pembelajaran, yang pada titik tertentu akan kelauar dan membangun bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau menjadikan pekerjaannya itu sebagai sarana memberikan perhatian, kepedulian, dan bantuan-bantuan konkret kepada pihak-pihak yang membutuhkan.  Jadi sebenarnya, tidak masalah jika memang harus menjadi oranga gajian, yang penting bagaimana menempatkan gaji, uang dan pekerjaannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah dengan IPK tinggi akan menjamin kemudahan seorang sarjana menjalani julujur kehidupan karir dan pekerjaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Juli 2009, saya mengisi acara unjuk bincang di Universitas Muhammadiyah Magelang. Helatan tersebut diprakarsai oleh Dekanat Fakultas Ekonomi. Dalam sambutan pembukaannya, Bapak Dekan mengatakan bahwa, IPK tinggi memang penting. Tapi ternyata kenyataannya di lapangan, lulusan dengan IPK tinggi justru memiliki soft skill yang rendah. “Keterampilan lunak” itu meliputi kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, mengatasi konflik, dan lain-lain yang lebih mengedepankan kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan pak Dekan di atas menyisakan pertanyaan kunci: apa yang salah dengan sistem perkuliahan, sehingga indeks prestasi kumulatif yang mencerminkan prestasi intelektual tidak sama dengan indeks peradaban kumulatif yang merujuk pada kemampuan emosional atau soft skill tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari jawaban atas pertanyaan itu menjadi begitu penting. Tanpa ada upaya mencari jawaban yang sahih, maka yang kemudian terjadi adalah dominannya sikap pragmatisme. Satu-satunya yang hendak dikejar saat kuliah adalah IPK tinggi, tanpa memedulikan bagaimana IPK tinggi itu diperoleh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan amatan saya, temuan yang dikemukakan Pak Dekan telah mengandung jawaban. Yaitu, mengapa IPK tidak sama dengan “IPK” karena di dalam proses perkuliahan jarang sekali menggunakan pendekatan yang dapat mengoptimalkan potensi kecerdasan emosional yang dimiliki oleh setiap mahasiswa. Mahasiswa juga cenderung duduk, diam, pulang. Tidak mau ”bereksperimentasi” dengan potensi emosi yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bentuk nyata dari proses perkuliahan yang dapat melejitkan kecerdasan emosional mahasiswa? Saya kira salah satu jawaban yang dapat saya ajukan adalah persis seperti yang telah tertulis di buku ini. Keduapuluhempat cara mendongkrak IPK ini sepenuhnya saya susun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan emosional (soft skill) bukan semata-mata target-target intelektual (hard skill).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak berlebihan kiranya, jika buku ini saya sebut sebagai salah satu solusi atau jalan keluar agar Indeks Prestasi Kumulatif = Indeks Peradaban Kumulatif.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8479899898739635658?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8479899898739635658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/10/agar-indeks-prestasi-kumulatif-indeks.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8479899898739635658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8479899898739635658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/10/agar-indeks-prestasi-kumulatif-indeks.html' title='Agar Indeks Prestasi Kumulatif = Indeks Peradaban Kumulatif'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-2979693411856182664</id><published>2010-08-10T18:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:34:03.941-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Minat Baca Anak Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TGIEF401ONI/AAAAAAAAAHA/LGqKtXM9xHY/s1600/NAILA_LUCU.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TGIEF401ONI/AAAAAAAAAHA/LGqKtXM9xHY/s320/NAILA_LUCU.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503966193800001746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku itu penting! Ini semua orang tahu, dan pasti setuju. Oleh sebab itu menjadi sangat beralasan, mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Karena dengan kebiasaan dan kecintaan membaca sejak dini, mereka ketika memelajari apapun akan menjadi lebih mudah. Semakin tinggi kemampuan dan kecintaan terhadap kegiatan membaca, akan semakin tinggi pula tingat kesenangan dan kegembiraan anak-anak ketika belajar. Mereka akan lebih mudah memahami setiap pelajaran di sekolah. Yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi akademik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana dengan minat baca anak Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan riset lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga realita, paling kurang, di balik fakta temuan PIRLS tersebut. Pertama, jumlah perpustakaan Sekolah Dasar di Indonesia masih sangat sedikit. Mengapa demikian? Karena mayoritas anak kenal, dan membaca buku adalah dari perpustakaan sekolah. Meskipun sekarang ini Taman Bacaan Masyarakat sudah bertebaran di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data terakhir, di Indonesia terdapat 169.031 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Artinya, jika tiap sekolah memiliki satu perpustakaan, seperti yang diamanahkan oleh UU Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka ada 169.031 perpustakaan. Jika kondisi demikian dapat terwujud, tentu anak-anak akan memperoleh kemudahan dalam mengakses bahan bacaan. Dan pasti hasil riset PIRLS akan berbicara lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang terjadi tidak begitu. Di Indonesia,  Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan baru sekitar 1 persen lebih sedikit. Persentase sekecil itu pun belum ditilik lebih dalam. Jika iya, saya pastikan angkanya akan semakin menciut. Misalnya menyangkut seberapa banyak koleksi buku yang dipunyai. Apakah keragaman bacaan yang dimiliki sudah cukup memenuhi harapan pemustaka. Bagaimana kondisi fisik perpustakaan (sarana), dan prasarana lainya (buku, rak buku, sistem pengolahannya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi jika pertanyaan kunci ini dilontarkan pula: apakah petugas yang mengelola perpustakaan adalah pustakawan, atau sekadar guru non job yang dikaryakan. Sehingga perpustakaan yang ada sekadar menjadi tempat buku-buku berhimpun, bertumpuk-tumpuk, kumal, terselimuti debu tebal. Tanpa ada program-program kreatif dan gila yang ditujukan untuk memarketing-kan perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita kedua dari fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah karena tidak ada integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara matapelajaran yang diberikan dengan kewajiban siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari sumber pemelajaran di luar buku teks yang digunakan oleh guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu contoh sederhana, kita tidak memiliki standar minimal tentang bacaan wajib buku yang harus dikhatamkan siswa di tiap jenjang pendidikan, entah itu berdasarkan jumlah (quantity) maupun judul-judul tertentu (quality).  Alih-alih secara bertahap dan rutin ada pengecekan tingkat kemajuan bacaan siswa, baik yang menyangkut bacaan yang diwajibkan (required reading), bacaan yang dianjurkan (recommended reading), dan bacaan menyangkut pengetahuan umum (general knowledge).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar cermin: perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realita ketiga, rendahnya minat baca anak Indonesia karena, pengalaman pramembaca dan membaca (berkenalan dengan buku) yang dialami anak kurang menyenangkan, jika enggan menyebutnya buruk. Buku, sebagai media teks yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat minat baca dikenalkan pada anak-anak dengan cara yang tidak menarik. Bahkan menimbulkan pengalaman yang traumatik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya mereka dikenalkan pada buku untuk pertama kalinya adalah berupa buku pelajaran yang tebal (menurut ukuran anak), sudah begitu, isinya melulu tulisan, ukuran hurufnya pun kecil-kecil, tidak ada gambarnya lagi. Tentu saja keharusan membaca buku yang demikian, laksana menyuruh anak untuk membenci buku secara berjamaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun giliran anak-anak tengah mendapatkan keasyikan membaca buku, meskipun dalam bentuk komik atau cergam (cerita bergambar), buru-buru—terutama para orangtua—melarang keras, disertai semburan kata ancaman. Difatwakan pada anak-anak bahwa membaca komik dan cergam hanya akan membuat si anak malas belajar dan bodoh. Padahal komik bisa menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengembangkan imajinasi, serta ragam bacaannya tingkat yang lebih luas dan tinggi. Karena apa yang dibaca sesungguhnya mengikuti perkembangan wawasan, cara berfikir, dan kebutuhan pembacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, promosi yang buruk dari orangtua tentang buku pada anak juga turut menyukseskan rendahnya minat baca anak. Promosi buruk itu berupa ketiadaan bahan bacaan di rumah, serta minusnya keteladanan dari orangtua.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-2979693411856182664?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/2979693411856182664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/minat-baca-anak-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2979693411856182664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/2979693411856182664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/minat-baca-anak-indonesia.html' title='Minat Baca Anak Indonesia'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TGIEF401ONI/AAAAAAAAAHA/LGqKtXM9xHY/s72-c/NAILA_LUCU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5188194913004241140</id><published>2010-08-01T15:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:35:49.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Peluang Usaha Kerani Pustaka</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;Kebetulan sabtu, 5 juni saya diminta jurusan perpustakaan UNDIP, semarang untuk menjadi salah satu narasumber seminar nasional bertajuk “Peluang Bisnis dalam Perpustakaan”. Seminar yang berlangsung di Gedung Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, yang diikuti tak kurang 200 peserta itu—sebagian besar mahasiswa perpustakaan—menghadirkan pula Dr. Ir. Putut Irwan Pudjiono, M.Sc selaku kepala PDII LIPI) dan Dra. Ninis Agustini Damayani, M. Lib (sekprog Magister IIP UNPAD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah petikan makalah yang saya sajikan.&lt;br /&gt;----------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga syarat kunci paling tidak, agar aktivitas bisnis atau wirausaha bisa dicangkokkan di dalam perpustakaan. Tanpa ada tiga asumsi kunci itu, maka kegiatan bisnis di perpustakaan, saya pastikan akan berhenti hanya pada kata peluang, untuk tidak menyebut wacana. Di luar itu, aktivitas bisnis justru bisa menjadi pemicu timbulnya perpecahan di antara para kerani buku itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tiga faktor kunci itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah berkaitan dengan payung hukum (aturan tertulis). Dibenarkan atau tidak di dalam perpustakaan ada kegiatan bisnis, atau aktivitas yang memang diarahkan pada perolehan keuntungan dan pendapatan ekonomi (uang). Ini harus clear dulu. Karena, seperti yang sudah kita ketahui, keberadaan perpustakaan selalu disandingkan dengan misi mencerdaskan anak bangsa. Dan di dalam upaya mencapai misi itu perpustakaan (biasanya) diharamkan untuk mencari keuntungan ekonomi. Kalau ternyata berdasarkan aturan tertulis tidak boleh, ya jelas upaya menindihkan aktivitas bisnis ke dalam perpustakaan akan menjadi sulit, jika enggan menyebutnya mustahil. Jika tidak ada payung hukum yang jelas dan kuat—yang membolehkan—otomatis pembicaraan mengenai peluang usaha dalam perpustakaan kita hentikan sampai di sini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kunci kedua adalah berupa kesediaan tiap orang yang berkerja di perpustakaan (staf, karyawan, dan terutama pustakawan) untuk mentransformasi diri. Dari yang semula bermental pekerja, menjadi bermental pebisnis, atau dengan kata lain memiliki jiwa wirausaha. Menurut Prof. Purbayu, Guru Besar Fakultas Ekonomi UNDIP, sekaligus pegiat studi Ekonomi Kelembagaan, identifikasi seseorang yang memiliki jiwa wirausaha, meliputi antara lain: Pertama, penuh percaya diri. Indikatornya penuh keyakinan, optimis, berkomitmen, disiplin bertanggungjawab. Kedua, memiliki inisiatif. Ukurannya adalah penuh energi, cekatan dalam bertindak dan aktif. Ketiga, memiliki motif berprestasi, terdiri atas orientasi pada hasil dan berwawasan ke depan. Keempat memiliki jiwa kepemimpinan. Parameternya adalah berani tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak. Dan yang kelima, berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan, oleh karena itu menyukai tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat ketiga, yang harus dipenuhi agar aktivitas bisnis bisa jalan di perpustakaan adalah berupa adanya sistem (mekanisme, prosedur) yang adil, terbuka, partisipatif dan dapat dipertanggungjawabkan. Terutama dari segi keuangan. Dan yang begini ini mengandaikan adanya seorang pemimpin yang mampu memetakan kondisi anak buahnya. Baik menyangkut penguasaan hardskill, softskill, maupun potensi yang bisa create dari kedua jenis penguasaan itu. Sistem yang baik akan mencegah terjadinya perasaan dizalimi (diperlakukan tidak adil), tiap orang memiliki kesamaan untuk maju, berkembang, serta kesempatan mengaktualisasikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sistem yang baik, maka usaha bisnis justru hanya akan memicu terjadinya kecemburuan dan sak wasangka antar karyawan, staf, dan pustakawan. Dan besar kemungkinan, rentetan kejadian yang bakal berlaku adalah turunnya tingkat kualitas layanan pada pemustaka. Tentu saja ini harus dihindari. Jangan sampai layanan inti (dasar, basis) perpustakaan yang merupakan menu utama, justru terganggu akibat layanan bumbu (tambahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak kalah penting, jalannya sistem ini harus dikomandani oleh sosok pimpinan yang kuat. Dalam pengertian ia mampu memaksa (mengerem) anak buahnya yang kelewat maju untuk berhenti sejenak—membatasi seringnya keluar memenuhi undangan menjadi pembicara atau narasumber workshop—dengan memberikan kesempatan pada orang lain untuk turut maju pula. Karena tanpa kehadiran sosok pimpinan yang kuat, maka yang kemudian bakal terjadi adalah yang pinter bakal tambah pinter, yang kuper kian kuper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi konsekuensi, secara ekonomi (gaji), kesejahteraan hidup golongan pustakawan yang kelewat maju harus dipenuhi. Tanpa itu, sangat sulit menahan mereka untuk menolak, atau memberikan kesempatan pada orang lain untuk menggantikan dirinya sebagai pembicara dan trainer. Pengereman itu juga penting agar kapasitas yang dimiliki para kerani pustaka ini lebih banyak dimanfaatkan dan difokuskan pada penguatan dan pengembangan institusi. Berorientasi ke dalam, bukan keluar. Harapannya yang akan terbangun kemudian adalah tidak semata-mata kredibilitas personal, tapi tidak kalah penting dengan itu adalah kredibilitas komunal (lembaga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ketiga syarat tersebut ada, maka baru kita bisa meneruskan pembicaraan ke bentuk-bentuk nyata potensi usaha yang bisa dikembangkan di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar jenis usaha yang bisa dijalankan diperpustakaan dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, yang bersifat rutin. Kedua, isidental. Ketiga, membership (sistem keanggotaan pemustaka). Oke, kita mulai dari yang pertama terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis yang bisa dijalankan secara rutin ini dapat dibagi lagi menjadi dua bentuk, yaitu perpustakaan dan non perpustakaan. Rutin di sini dalam pengertian kontinue, terus berkelanjutan (setiap hari/waktu). Termasuk ke dalam bisnis rutin perpustakaan adalah mulai dari foto copy, copy data, layanan informasi, hingga denda. Sedangkan yang termasuk bisnis rutin non perpustakaan misalnya, warung internet (warnet), kantin atau cafe, toko buku kecil, yang kesemuaannya dapat digolongkan ke dalam layanan tambahan atau pendukung perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang pertama, bagaimana yang kedua?&lt;br /&gt;Peluang usaha kategori isidental yang dapat dikembangkan diperpustakaan misalnya dengan menggelar beragam pelatihan atau workshop. Mulai dari workshop sistem kemas ulang informasi, katalogisasi, pelatihan membaca capat, workshop menulis, setup perpustakaan keluarga (rumah), hingga program pustaka di radio atau televisi. Waktu penyelenggaraan workshop sepenuhnya ditentukan sendiri oleh perpustakaan. Bisa dengan sehari selesai, atau yang bersifat kelas dan sistem paket. Misalnya untuk workshop menulis tingkat dasar terdiri atas 4 kali pertemuan, dan berlangsung sepekan sekali. Sedangkan tingkat lanjut 8 kali pertemuan, dan berlangsung sepekan dua kali. Kelonggaran menentukan waktu itulah mengapa usaha bisnis ini digolongkan bersifat isidental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain workshop, kegiatan bisnis isidental lainnya adalah berupa pameran. Apapun itu, selama berkaitan dengan perpustakaan (informasi dan buku). Taruhlah pameran buku. Tentang pameran buku ini beragam varian bisa dihelat. Misalnya pameran buku tematik, berdarakan asal penerbit, berkaitan dengan perayaan tertentu (World Book Day, Hari Buku Nasional, Bulan Bahasa, Hari Aksara Nasional, Hari Perpustakaan (?), bazar buku-buku impor, pameran buku diskin dan yang sejenis dengan itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kin tentang sistem keanggotaan. Apa pasal membership saya masukkan sebagai varian bisnis yang bisa diterapkan di perpustakaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya. Sistem keanggotaan bisa dibuat secara bertingkat. Misalnya bronze (perunggu), silver (perak), gold (emas). Pembedaan tiap tingkatan didasarkan pada fasilitas layanan yang diberikan. Misalnya mulai dari jumlah eksemplar buku yang boleh dipinjam, durasi jam pemakaian fasilitas internet, selain itu bisa pula meminjam koleksi lainnya, misalnya DVD dengan jumlah yang ada pembedaannya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem membership bertingkat dapat mendatangkan cash flow secara cepat. Hitung-hitungan matematika ekonominya seperti ini. Sebagai contoh, ada 1000 anggota dengan jenis keanggotaan gold, dengan harga Rp100.000 (jenis dan angka ini hanya untuk memudahkan penghitungan saja). Membership tersebut berlaku selama 1 tahun. Artinya ada uang kas masuk sebesar Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). Taruhlah lamanya waktu peminjaman buku maksimal 2 minggu. Berarti dalam setahun, tiap anggota memiliki kesempatan meminjam minimal sekitar 26 kali. Perpustakaan akan ”merugi” jika tiap pemustaka siklus pinjam-mengembalikan kurang dari satu minggu. Misalnya seminggu sekali (berarti dalam setahun 52 kali meminjam buku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada kenyataannya, tidak semua pemustaka, bahkan hanya sebagian kecil saja yang rentang masa pinjam kembali kurang dari 2 minggu. Mayoritas mereka 2 minggu sekali. Jadi lebih kepada alasan agar tidak kena denda. Nah tentu saja ini menguntungkan buat perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, ternyata dari 1000 pemustaka tersebut yang betul-betul aktif menggunakan/memanfaatkan keanggotaannya (biasanya) kurang dari 50 persennya. Artinya perpustakan dalam kondisi tersebut sudah untung Rp50.000.000 berasal dari ”sumbangan” pemilik kartu keanggotaan yang nganggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? ”Bisnis membership” sangat menguntungkan bukan? Apalagi jika mau dikembangkan lagi, misalnya dengan bekerja sama dengan lembaga perbankan.. Bentuk kerjasama itu misalnya, kartu membership bisa difungsikan pula sebagai kartu debet. Sehingga ketika ada keterlambatan pengembalian, secara otomatis, saldo yang terdapat di kartu akan terdebet. Dan jika habis, bisa ”mengisi ulang” kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan lembaga perbankan, kerjasama mengenai membership ini juga bisa dilakukan dengan menggandeng para merchand. Misalnya kartu anggota bisa dimanfaatkan pula sebagai kartu diskon untuk pembelian buku, dan rak buku. Dan masih banyak lagi kemungkinan kerjasama yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu tadi peluang usaha yang bisa dikembangkan di perpustakaan. Lantas bagaimana halnya dengan peluang bisnis/wirausaha yang bisa dilakukan oleh para (sarjana) kerani pustaka? Modal penting apa yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan agar ia bisa berlaku dan berfikir laksana seorang wirausahawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ini saya punya sedikit cerita. Sekitar awal Mei 2010 saat berada di perayaan hari buku sedunia (World Book Day Indonesia) saya bertemu dengan Edi Dimyati. Edi bekerja sebagai pengelola dokumentasi di majalah remaja ”HAI” Jakarta. Pekerjaan Edi tidak jauh-jauh amat dari latar belakang pendidikannya, yaitu sarjana ilmu perpustakaan. Menariknya Edi baru saja meluncurkan buku pertamanya berjudul&lt;br /&gt;Panduan Sang Petualang: 47 Museum Jakarta. Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat profil 47 museum di Jakarta. Oleh Edi, ke-47 museum tersebut diklasifikasikan menjadi 10 kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi menampilkan profil tiap museum tidak dari segi kulitnya (luar-formal), atau data kerasnya, seperti kapan museum berdiri, terbagi menjadi berapa ruang, dan lain-lain yang sejenis itu, layaknya buku panduan selama ini yang dibuat pengurus museum, tapi lebih ke data lunaknya. Pembahasan tiap museum dilengkapi dengan foto-foto eksklusif-berwarna (karena memang secara khusus dikerjakan oleh juru foto profesional), fakta-fakta menarik dan unik yang jarang sekali orang tahu, serta profil komunitas yang bertalian erat dengan museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa hubungannya antara wirausaha dengan Edi yang menulis buku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pembacaan saya atas ”fenomena Edi” tersebut kira-kira seperti ini: kemampuan inti yang musti dipunyai seorang pustakawan adalah: katalogisasi, dokumentasi, dan klasifikasi—kalau salah mohon dikoreksi. Selama ini teks, terutama yang berbentuk buku menjadi objek utama dari ketiga ranah penguasaan hard skill itu. Akibatnya, pustakawan lebih banyak berada di belakang meja. Kuper alias kurang pergaulan. Menarik diri dari pikuk kehidupan. Tersembunyi di balik tumpukan buku dan gunungan arsip/dokumentasi. Dalam konteks itu, seberapa besarpun capaian yang telah diraih oleh seorang kerani perbukuan (pustakawan), tetap saja ia berposisi sebagai konsumen, bukan produsen. Masih menjadi user, bukan producer. Belum bisa memberikan nilai (value).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Edi Dimyati, ketiga bentuk keterampilan inti tersebut cakupannya diperluas. Tidak semata-mata hanya digunakan untuk menangani teks, tapi lebih dari itu, yaitu konteks. Perspektifnya tidak sempit. Tidak hanya terbatas pada ruang perpustakaan atau gudang arsip, tapi diperluas hingga di dunia luar sana, yaitu lapangan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi berhasil mengambil hal-hal yang substansial dari ketiga bentuk keterampilan basis tersebut. Nampak jelas, Edi menempatkan museum-museum yang berada di Jakarta sebagai ”teks-teks” yang bisa didekati, diolah, serta dikemas dengan pendekatan ilmu perpustakaan. Hasilnya? Buku ciamik berjudul 47 Museum Jakarta itu dapat dihadirkan. Bergeserlah peran Edi yang semula konsumen bacaan, kebetulan ia bekerja sebagai penata dokumentasi (sulih istilah pustakawan) di Majalah HAI Jakarta, kini menjadi produsen bacaan. Kecintaan terhadap profesi ”mendesak” Edi melakukan transformasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelasnya modal penting apa yang harus ada agar seoranga (calon) pustakawan memiliki semangat wirausaha—dalam konteks peluang bisnis dalam perpustakaan—adalah rasa cinta. Cinta terhadap pustaka, dan pernik-pernik sistem dan disiplin kerja yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi ke pembahasan tentang semangat wirausaha dalam konteks tema seminar hari ini ”Peluang Bisnis dalam Perpustakaan”, saya akan membedahnya dengan mengajukan 3 (tiga) pertanyaan mendasar. Pertama, apa sebenarnya definisi (makna) wirausaha itu? Kedua, mengapa wirausaha penting? Peluang-peluang apa saja yang dapat dimasuki, dikerjakan, dan dikembangkan oleh seorang sarjana perpustakaan. Dengan deskripsi yang berbeda: apa yang bisa dikerjakan bukan bekerja sebagai apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya saya mulai dengan menjawab pertanyaan pertama. Secara harfiah (makna teks) entry wirausaha disamakan artinya dengan lema wiraswasta. Yaitu orang yang pandai atau berbakat mengenali produk (dan atau jasa) baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk, memasarkannya, serta mengatur modal operasinya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua). Jadi berdarkan makna tektual tersebut, seorang wirausahawan (entrepreneur) itu beda maknanya dengan ”pengusaha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengusaha adalah hanya semata-mata menjadi orang yang punya usaha atau memperdagangkan sesuatu. Dan sesuatu itu dari segi karakteristik produk, cara produksinya tidak mengandung unsur kebaruan. Tidak ada value (nilai) baru yang muncul dari produk yang diusahakan tersebut. Ini berbeda dengan wirausahawan. Ia mampu menciptakan value baru, yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai inovasi. Buah dari cara berfikir yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan makna wirausaha di atas akan membantu Anda untuk menciptakan, mengembangkan, dan fokus kepada satu atau dua jenis usaha. Baik produk maupun jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tadi tentang batasan pengertian wirausaha. Sekarang kita beranjak ke pertanyaan kedua, mengapa wirausaha itu penting? Jawaban atas pertanyaan ini juga bisa membantu para (calon) sarjana ilmu perpustakaan memunculkan semangat/motivasi untuk berwirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 (dua) alasan yang dapat saya ajukan, apa sebab wirausaha itu penting. Alasan pertama, ini sekaligus alasan klise dan klasik, yaitu sempitnya lowongan pekeraan—secara umum. Dengan kata lain, karena pertumbuhan angkatan kerja melampui pertumbuhan kesempatan kerja, dapat dipastikan banyak angkatan kerja yang tidak terserap alias menganggur. Dan yang demikian terjadi pula pada golongan sarjana atau lulusan perguruan tinggi. Tentang tingginya tingkat pengangguran kaum intelektual ini, mari kita simak beberan perangkaan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2005, sarjana yang menganggur sebanyak 183.629 orang. Setahun kemudian, yakni 2006 tercatat 409.890 lulusan tidak memiliki pekerjaan. Pada tahun 2007, jumlahnya sekitar 740.000, awal tahun 2009 bertambah mendekati angka satu juta atau lebih dari 900.000 sarjana yang menganggur. Dan sampai dengan Agustus 2009&lt;br /&gt;jumlah pengangguran dari kalangan sarjana telah meningkat menjadi 13,08 persen.&lt;br /&gt;Jadi tren kenaikan rerata pertahun sarjana menganggur di Indonesia sekitar 20 persen. Tentu saja, kenyataan ini bisa menjadi bom waktu, mengingat setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, berdasarkan UU Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan mengharuskan tiap sekolah mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga SMA harus memiliki perpustakaan. Bahkan secara eksplisit ada satu pasal yang menyatakan minimal 2 persen dari anggaran belanja sekolah harus dialokasikan ke pengembangan perpustakaan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data terakhir, di Indonesia terdapat 169.031 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (32.962), Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah serta Sekolah Menengah Kejuruan (17.792). Jumlah seluruh sekolah tingkat dasar dan menengah tersebut adalah 219.785. Jika sekurang-kurangnya diperlukan satu orang saja tenaga (teknis) perpustakaan di tiap-tiap sekolah, maka seluruh sekolah tersebut memerlukan sebanyak 219.785 orang/pustakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hitung-hitungan, keharusan dan kejelasan anggaran tersebut memunculkan rasa optimisme tersendiri buat para sarjana perpustakaan. Optimisme itu didasarkan pada tingkat kepastian bahwa mereka akan diterima bekerja sebagai pustakawan di sekolah-sekolah. Tapi harap diingat, ini Indonesia bung! Apa-apa yang tertulis dan sudah menjadi keputusan (kebijakan), dalam kenyataannya belum tentu akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau bukti? Paling dekat, sudah hampir tiga tahun UU Perpustakaan diluncurkan, belum juga PP (Peraturan Pemerintah)-nya keluar. Padahal PP menjadi syarat sekaligus acuan bagi dikeluarkannya peraturan/landasan hukum di bawahnya (daerah) yang lebih bersifat menyeluruh dan aplikatif. Belum lagi silang sengkarut—mungkin lebih tepat disebut permasalahan dan tantangan—yang tengah berlangsung di tubuh kepustakaan Indonesia sendiri. Mulai soal profesionalisme pustakawan, akuntabilitas dan kredibilitas, pendanaan dan standardisasi, serta landasan ilmu dan pemanfaatan teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, lebih baik optimisme itu jangan terlalu tinggi-tinggi deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih kedua, mengapa wirausaha patut dilirik para sarjana (perpustakaan), tak lain tak bukan adalah lantaran kesempatan yang terbuka sangat lebar. Ini berkaitan dengan upaya pencapaian tujuan yang lebih besar, yaitu turut ambil bagian ”membantu” pemerintah mengatasi angka pengangguran sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sampai dengan tahun 2006, jumlah entrepreneur di Indonesia baru mencapai 0,18 persen atau hanya memiliki 400.000 entrepreneur dari jumlah penduduk 220 juta. Padahal untuk mencapai negara yang dianggap makmur, Indonesia perlu meningkatkan jumlah entrepreneur menjadi 1,1 persen atau menjadi 4,4 juta entrepreneur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David McCleland, seorang psikolog sosial berpendapat suatu negara akan menjadi makmur apabila mempunyai wirausahawan (entrepreuneur) sedikitnya dua persen dari jumlah penduduk. McCleland tidak berlebihan. Paling tidak jika kita membaca struktur masyarakat yang terdapat di beberapa negara manca. Singapura misalnya.Menurut laporan Global Entrepreuneurship Monitor (GEM) tahun 2005, negara transit ini memiliki wirausaha sebanyak 7,2 persen dari total penduduk (tahun 2001 hanya sebesar 2,1 persen). Amerika Serikat, yang mendapat sebutan lokomotif perekonomian dunia, pada tahun 1983, dengan penduduk sebanyak 280 juta sudah memiliki enam juta wirausaha ( 2,14 persen) dari total penduduknya (Purbayu, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan bahasa yang sedikit hiperbolis, kalau Anda ingin berkontribusi kepada bangsa dan negara, maka salah satu jalannya adalah dengan menjadi entrepreneur. Paling kurang selfemployee alias memperkerjakan sendiri. Sehingga bisa mengurangi angka pengangguran. Meskipun satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukanya pintu usaha bisnis juga didorong oleh perkembangan teknologi informasi, terutama internet. Internet memungkinkan bisnis dijalankan dari kamar tidur (kos). Anda tidak perlu mengontrak, alih-alih membeli gedung untuk kantor yang bisa memakan dana puluhan hingga ratusan juta. Demikian pula untuk proses produksi, agar bisnis jalan Anda tidak perlu menunggu harus memiliki pabrik dan gudang sendiri. Hingga proses distribusi pun, Anda tidak harus menuggu hingga memiliki mobil sendiri. Maka ada istilah ”SOHO”, akromin dari small office home office. Idiom yang mengacu pada pengertian bahwa bisnis bisa dijalankan dari rumah. Berkantor di rumah menjadi sesuatu yang lumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih dapat memberikan gambaran nyata sekaligus menjawab pertanyaan ketiga, bidang garap apa (bisnis) yang bisa dimasuki oleh para sarjana perpustakaan, berikut akan saya berikan (sekadar) contoh. Yaitu bisnis rak buku yang saya integrasikan dengan layanan jasa kepustakaan. Lebih lengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak! Beberapa diantaranya: bisa menjadi penerbit buku, agen naskah (literary agent), editor, penerjemah, penulis, instruktur (tutor) tentang budaya baca dan manajemen perpustakaan, pengembang software sistem otomasi perpustakaan, pembuat sistem pangkalan data, guru menulis, jurnalis, dan peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam profesi yang besar kemungkinan bisa dikekola dengan pendekatan manajemen bisnis modern itu—artinya skala ekonominya dapat diperbesar—saya turunkan dari kelengkapan kecakapan yang harus dimiliki oleh seorang sarjana (informasi) dan perpustakaan yang meliputi: problem solving, information literacy, speaking, independent work, group work, writing, dan reading. Jadi tidak semata-mata mahir dalam keterampilan utama (hard skill), tapi juga keterampilan penunjang (soft skill). Lantaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sarjana yang menganggur mayoritas disebabkan oleh rendahnya soft skill atau keterampilan di luar kemampuan utama dari sarjana yang bersangkutan.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5188194913004241140?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5188194913004241140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/peluang-usaha-kerani-pustaka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5188194913004241140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5188194913004241140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/peluang-usaha-kerani-pustaka.html' title='Peluang Usaha Kerani Pustaka'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-5613261359923626688</id><published>2010-08-01T02:42:00.002-07:00</published><updated>2011-04-03T08:36:32.933-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Ujian Nasional dan Minat Baca Siswa</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;—pernah termuat di Suara Merdeka—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Ujian Nasional (UN) 2010 untuk SMA telah diumumkan. Ada banyak kegembiraan lantaran lulus. Tapi ada juga kabar sedih karena gagal. Nilai yang diperoleh di bawah standar minimal kelulusan. Akibatnya, tidak bisa ditawar lagi: harus mengulang. Menariknya, persentase terbesar matapelajaran (mapel) yang harus diulang adalah Bahasa Indonesia. Mapel yang selama ini oleh siswa dianggap paling mudah. Yang tak kalah menarik, buat mereka yang nilai Bahasa Indonesia-nya lulus pun, rata-rata nilainya paling rendah dibandingkan dengan mapel lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi di Jawa Tengah (Suara Merdeka 5/5), tidak ada siswa dari seluruh SMA/MA di 35 kabupaten/kota yang mendapatkan nilai mapel Bahasa Indonesia 10 (sempurna). Baik dari Jurusan IPA, IPS, ataupun Bahasa. Pada program IPA, rata-rata Bahasa Indonesia 7,86 (Kabupaten Purbalingga), Bahasa Inggris 8,40 (Kabupaten Demak), Matematika 8,13 (Kabupaten Demak), Fisika 8,67 (Kabupaten Demak), Kimia 8,81 (Kota Tegal), dan Biologi 8,42 (Kabupaten Kudus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk program IPS, rata-rata Bahasa Indonesia 7,39 (Kabupaten Banjarnegara), Bahasa Inggris 7,95 (Kabupaten Demak), Matematika 8,49 (Kota Pekalongan dan Kabupaten Demak), Ekonomi 7,74 (Kabupaten Demak), Sosiologi 7,53 (Kabupaten Demak), Geografi 6,90 (Kabupaten Kendal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan program Bahasa, rata-rata Bahasa Indonesia 7,39 (Kabupaten Pekalongan), Bahasa Inggris 8,84 (Kabupaten Rembang), Matematika 9,46 (Kabupaten Peka-longan), Sastra 7,78 (Kabupaten Boyolali), Antropologi 7,37 (Kota Magelang), Bahasa Asing 9,39 (Kabupaten Batang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pentingnya, mengapa bisa terjadi demikian? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan negarakah (pemerintah)—politik Bahasa Indonesia? Seperti yang pernah ditulis Suara Merdeka di lembar Tajuk Rencana-nya (1/5). Atau akibat dari sikap para siswa yang meremehkan (menggampangkan) mapel Bahasa Indonesia? Pernah suatu kali, kolega saya yang kebetulan guru mapel Bahasa Indonesia di suatu SMA Negeri di Kabupaten Batang mengeluh, karena para siswanya berlaku kurang ajar, sepertinya tidak butuh diberi pelajaran Bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau para siswa ini semata-mata hanya korban? Korban dari model pemelajaran Bahasa Indonesia yang tidak menarik, jika tidak mau disebut membosankan. Jadi nilai buruk itu sekadar akibat, bukan sebab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berderet kemungkinan sebab itu bisa saja benar. Tapi bisa aja meleset, meskipun tidak seluruhnya salah. Tulisan ini tidak hendak melihat satu persatu kebenaran atau ketidakbenaran dari beragam kemungkinan sebab tersebut. Saya lebih tertarik untuk menambah satu analisis (sebab) lagi, dan menurut saya ini kunci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab utama mengapa nilai mapel Bahasa Indonesia jeblok adalah karena rendahnya  kemampuan logika dan pemahaman para siswa terhadap teks bacaan. Mereka tidak terbiasa membaca isi teks bacaan dengan kritis dan cermat. Deskripsi teknisnya seperti ini: bagaimana mungkin mereka bisa menjawab pertanyaan (baca: memilih jawaban) dengan benar, memahami maksud pertanyaannya saja tidak mampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana kemampuan logika, pemahaman kritis dan cermat tersebut dapat diperoleh? Satu-satunya cara adalah dengan (banyak) membaca. Membaca, oleh karena itu, sangat penting ditekankan dalam mapel Bahasa Indonesia. ”Apabila matapelajaran Bahasa Indonesia di sekolah sudah dapat menjadikan anak-anak asyik membaca, dan akhirnya mencintai kegiatan membaca,” ujar Hernowo (2009),  “sebenarnya tugas utama matapelajaran tersebut sudah tercapai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebab barangkali, di beberapa negara maju, aktivitas membaca (buku) menjadi bagian terpenting dalam menu pemelajaran di sekolah—tidak hanya saat berlangsungnya pelajaran bahasa. Di Jepang misalnya, para siswa diwajibkan membaca selama 10 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Metode pendidikannya dibuat sedemikian rupa sehingga para murid terdorong aktif membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Jepang, lain pula Belanda. Di negeri kincir angin ini, peningkatan minat&lt;br /&gt;baca disiasati dengan mengharuskan para siswa memperkaya pengetahuan dengan&lt;br /&gt;membaca, ditunjang sistem perpustakaan (sekolah) yang memenuhi kebutuhan mereka. Sementara itu di Singapura minat baca para siswa ditumbuhkan lewat kurikulum. Misalnya guru mengharuskan siswa menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan dukungan sebanyak mungkin buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah menarik, adalah yang dilakukan pemerintah Australia. Para siswa&lt;br /&gt;dibekali dengan semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan&lt;br /&gt;hasil membaca dan penilaian atas buku yang dibaca dilakukan setiap hari, sebelum&lt;br /&gt;kelas dimulai. Guru menyuruh setiap siswa menceritakan isi buku yang telah&lt;br /&gt;dibacanya. Dengan begitu siswa-siswa di negeri kanguru ini tidak hanya gila baca&lt;br /&gt;tapi otot tangan mereka juga terlatih untuk menulis (GirlieZone, 2010). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat kita? Aktivitas mendaras buku belum dijadikan menu wajib di setiap subjek pembelajaran di sekolah. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia sekalipun. Kalau toh ada kegiatan membaca buku, itu bersifat seketika, tidak sengaja, mendadak, reaktif, bukan bagian dari sistem yang dirancang secara tetap, dan terukur. Satu contoh sederhana, kita tidak memiliki standar minimal tentang bacaan wajib karya sastra yang harus dikhatamkan siswa di tiap jenjang pendidikan, entah itu berdasarkan jumlah (quantity) maupun judul-judul tertentu (quality).  Alih-alih secara bertahap dan rutin ada pengecekan tingkat kemajuan bacaan siswa, baik yang menyangkut bacaan yang diwajibkan (required reading), bacaan yang dianjurkan (recommended reading), dan bacaan menyangkut pengetahuan umum (general knowledge). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran, bila International Educational Achievement menempatkan minat baca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Dari 39 negara yang dijadikan sempel penelitian, Indonesia menempati urutan ke-38. Penilaian UNESCO dan IEA itu antara lain yang mendorong UNDP (United Nations&lt;br /&gt;Development Program) menempatkan Indonesia pada urutan rendah dalam hal&lt;br /&gt;pembangunan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, agar dalam UN, Bahasa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri dan tidak menjadi “jebakan kelulusan”, sudah saatnya kegiatan membaca teks (buku) menjadi pusat orbit setiap aktivitas belajar mengajar di sekolah. Tanpa itu, agak gelap saya membayangkan masa depan pemelajaran mapel yang oleh banyak orang disebut cermin bangsa itu.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-5613261359923626688?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/5613261359923626688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/ujian-nasional-dan-minat-baca-siswa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5613261359923626688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/5613261359923626688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/ujian-nasional-dan-minat-baca-siswa.html' title='Ujian Nasional dan Minat Baca Siswa'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-8366264970599355274</id><published>2010-08-01T02:42:00.001-07:00</published><updated>2011-04-03T08:37:43.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>TBM dan Kisah Sukses Triyan</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;—pernah termuat di Suara Merdeka—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Fitriyan Dwi Rahayu. Siswa SMP Negeri 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa tengah itu tidak saja ditelpon Presiden SBY, tapi juga dicium Bibit Waluyo, Gubernur Jateng. Telpon dan cium itu didapatkan Triyan, sapaan akrabnya,  lantaran ia memeroleh nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi tingkat nasional.  Nilai yang dicapai dari empat mata pelajaran hampir sempurna yakni 39,8 atau dengan nilai rata-rata 9,95. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasianya, hingga Triyan mampu mendapatkan nilai hampir sempurna? &lt;br /&gt;Ini yang tidak banyak diungkap, salah satunya adalah karena ia rajin membaca. Membaca apa saja. Kebetulan rumah orangtuanya, menjadi tempat perpustakaan umum kelurahan (TBM, Taman Bacaan Masyarakat). Tidak kurang 5.000 eksemplar buku dan majalah terdapat di TBM tersebut. Di sinilah Triyan banyak menghabiskan waktu menurutkan kegemarannya membaca. Dan kebiasaan membaca tersebut membuat Triyan merasa lebih mudah saat  memelajari/belajar sesuatu. Apapun itu. Termasuk matapelajaran sekolah. Buat penyuka novel Laskar Pelangi ini, membaca sama dengan belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak hendak memperpanjang sebab musabab kesuksesan Triyan, alih-alih berbicara tentang (kontroversi) UN. Saya lebih tertarik untuk melihat segi lain dari kisah sukses Triyan ini, yaitu keberadaan TBM, dihubungan dengan capaian prestasi akademik siswa—Triyan sebagai representasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendukung pendidikan&lt;br /&gt;TBM merupakan salah satu program aksi peningkatan dan pengembangan budaya baca. Program ini digagas sebagai bentuk sikap afirmatif pemerintah Indonesia terhadap Prakarsa Keaksaraan untuk Pemberdayaan (Literacy Initiative for Empowerment-LIFE) canangan UNESCO. Inisiatif tersebut dipahami sebagai kerangka kerja strategis global sebagai kunci mekanisme pelaksanaan untuk mencapai tujuan dan sasaran Dasawarsa Keaksaraan PBB (United Nations Literacy Decade-UNLD) pada skala internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus TBM dimasudkan pula untuk mendukung program pendidikan keaksaraan sehingga para aksarawan baru tidak menjadi buta aksara kembali akibat ketiadaan sarana pendukung untuk mempertahankan kemampuan membaca. Dengan deskripsi yang berbeda, TBM merupakan sarana pembelajaran dan hiburan masyarakat. Serta sarana untuk memperoleh informasi. Harapannya pada masyarakat masyarakat akan tumbuh minat, kecintaan, serta kegemaran membaca dan belajar,  sehingga dapat memperkaya pengetahuan, wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, pemahaman norma dan aturan, sekaligus juga dalam hal pemberdayaan masyarakat. (Dikmas, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan akhir tahun 2007, jumlah TBM di Jawa Tengah tak kurang ada  281. Cukup tinggi mengingat di tahun 2003-2005 masih sekitar 139 TBM. Peningkatan jumlah tersebut erat kaitannya dengan program pengentasan buta huruf yang  digeber pemerintah propinsi. Dan ini wajar, karena angka buta huruf di Jawa Tengah masih terbilang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan akhir tahun 2008, jumlah penduduk buta aksara yang berusia 15 tahun ke atas 1.872.694 orang (laki-laki 674.170 orang, perempuan 1.198.524 orang). Jumlah total itu sekitar 7,80 persen dari total angka buta huruf nasional yang berjumlah 10,162,410 orang. Jumlah penduduk buta huruf tersebut, jika dilihat dari angka absolutnya—dibandingkan dengan 32 propinsi lainnya—Jawa Tengah menduduki peringkat kedua, setelah Jawa Timur. Padahal berdasarkan riset literasi yang pernah dilakukan UNESCO ada pertalian yang erat antara kebutahurufan dengan tingginya tingkat kemiskinan. Itu sebab barangkali angka kemiskinan di Jawa Tengah tidak kunjung menipis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berdasarkan beberan perangkaan tersebut, fokus kegiatan TBM memang belum bisa dilepaskan dari program pengentasan buta huruf dan “merawat” yang sudah melek huruf agar tidak kembali menjadi buta huruf. Hanya saja, andai kedua fokus kegiatan tersebut 100 persen tercapai, pertanyaan besarnya adalah program apa lagi yang harus dilayankan ke masyarakat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itu, saya kira kisah sukses Triyan mendapati dasarnya. TBM harus pula memberikan fasilitasi pada anak-anak sekolah (siswa) baik SD, SMP, maupun SMA. Bentuk fasilitasi itu berupa penyediaan buku-buku bermutu, penuh inspirasi, memberdayakan, serta sesuai dengan tingkat kebutuhan (preferensi) para siswa. Ini penting, karena hanya pada siswa yang gemar membaca sajalah, matapelajaran rumit dapat dipahami secara lebih mudah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dengan banyak membaca akan memberikan pula beragam perspektif kepada siswa. Mereka akan mengenakan banyak ”kacamata” saat memandang satu situasi. Dan yang tak kalah penting, melalui aktivitas membaca mereka akan dihadapkan pada satu dunia yang penuh dengan kemungkinan, harapan, kesempatan, dan cita-cita. (Yurnaldi, 2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perluasan kelompok sasaran TBM ini sekaligus bisa melengkapi, untuk tidak menyebut menutupi, kebolongan sistem yang terjadi di pendidikan (sekolah) kita. Kebolongan itu berupa kondisi perpustakaan sekolah yang “hidup segan mati tak mau.” Adanya tidak menggenapkan. Ketiadaannya tidak mengganjilkan. Serta sonder  sistem yang terukur menyangkut perkembangan bacaan para siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taruh kata, TBM benar-benar bisa mengambil peran yang ditinggalkan oleh sekolah tersebut, dugaan kuat saya, kisah sukses Triyan tidak lagi menjadi sukses personal, tapi bergeser menjadi sukses komunal, bahkan sangat mungkin berubah menjadi sukses kolosal.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-8366264970599355274?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/8366264970599355274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/tbm-dan-kisah-sukses-triyan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8366264970599355274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/8366264970599355274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/tbm-dan-kisah-sukses-triyan.html' title='TBM dan Kisah Sukses Triyan'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-6253702077347111566</id><published>2010-08-01T02:33:00.001-07:00</published><updated>2011-04-03T08:39:14.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HELATAN LITERASI'/><title type='text'>Minat Baca Warga Kendal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TFU_5iJVraI/AAAAAAAAAGo/VU9pA-do4gE/s1600/kendal3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TFU_5iJVraI/AAAAAAAAAGo/VU9pA-do4gE/s320/kendal3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500372777553997218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Juni lalu, saya dan kawan-kawan di Kendal menggelar acara perbukuan bertajuk Kendal Book on The  Street. Sesuai namanya, acara ini bertujuan mengampanyekan aktivitas membaca di ruang publik. Tempat yang kami pilih adalah sisi timur-selatan alun-alun Kendal. Terletak persis di sebelah komplek kantor kabupaten Kendal. Sasaran program ini adalah para orangtua dan anak-anak. Karena satu-satunya pihak yang paling berkewajiban mengenalkan buku dan aktivitas membaca kepada anak-anak adalah para orangtua. Kebiasaan membaca yang dilakukan kedua orangtua akan menjadi model kampanye baca yang efektif buat anak-anak. Karena anak-anak biasa cenderung meniru apa-apa yang dilakukan orang dewasa, terutama kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu tentu saja ada berderet pamrih yang hendak kami raih. Beberapa diantaranya sebagai ajang mempromosikan kegiatan membaca buku pada masyarakat Kendal. Sarana menjalin keakraban antara anak dan orangtua, dengan buku sebagai media atau sarananya. Mempopulerkan aktivitas membaca  di Kota Kendal melalui kegiatan di ruang publik yang menggembirakan. Menumbuhkan minat membaca, diskusi, cinta kehidupan dan ilmu pengetahuan. Meningkatkan derajat kebutuhan masyarakat akan pustaka (buku). Mencerdaskan dan menerbitkan pencerahan kepada khalayak, khususnya para orangtua, di Kota Kendal. Serta mensinergikan program antara pihak-pihak yang berperan (stakeholders) dalam upaya meningkatkan budaya baca masyarakat Kendal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berderet pamrih itu, kami dekati dengan menawarkan beragam menu acara yang bersifat partisipatif, menyenangkan sekaligus memuat unsur edukasi juga. Misalnya kuis tebak jumlah buku, lomba berburu buku (menjawab pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan di buku yang dipamerkan), saatnya ayang mendongeng, workshop origami (seni melipat kertas dari Jepang), parade mewarnai gambar, hingga klinik perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk terakhir yang disebut, secara khusus Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kendal menghadirkan mobil baca sekaligus beberapa pustakawan sebagai ”dokter”. Para peserta yang hadir bisa mengonsultasikan kesulitan dan meminta tips dan tahapan ketika akan membuat perpustakaan keluarga (home library).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, acara berlangsung sukses. Hanya saja, dari segi jumlah pengunjung, berada di bawah perkiraan. Tapi saya kira—kalau boleh berapologi—yang demikian adalah sesuatu yang lumrah. Mengingat acara Kendal Book on The Street ini adalah kali pertama dihelat di wilayah kabupaten Kendal. Kami menempatkan acara ini sebagai ayunan langkah pertama dari seribu jangkah yang disebut sebagai Kendal Membaca dan Menulis. Yaitu terbentuknya masyarakat Kendal yang memiliki budaya baca dan tulis yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa catatan yang dapat saya bubuhkan, begitu Kendal Book on The Street usai. Pertama, rupa-rupanya di (kota) Kendal telah tumbuh kelas/golongan menengah. Baik dari segi pendidikan maupun ekonomi. Asnad yang dapat saya ajukan adalah berupa angka pembelian buku. Meskipun para orangtua yang datang tidak sampai 200 orang, tapi mayoritas mereka membeli buku-buku yang dipamerkan. Tepatnya memborong, karena rerata buku yang dibeli lebih dari 3 eksemplar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya dilihat dari segi masadepan pertumbuhan kemanusiaan masyarakat Kendal, bolehlah kami terburu-buru mengatakan ada harapan baik. Mengingat di mana-mana perubahan sosial (perbaikan kualitas kehidupan masyarakat jamak) mayoritas digerakkan oleh kelas menengah. Tentu dengan asumsi, anak-anak dari keluarga kelas kelas menengah yang gemar membaca buku ini bakal tumbuh menjadi pribadi yang berkesadaran dan memiliki keberpihakan (sensitif) terhadap persoalan-persoalan khalayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, acara perbukuan, kampanye minat baca, haruslah dikemas secara menarik sekaligus melibatkan audiens. Pengunjung/peserta tidak bisa lagi ditempatkan hanya sebagai objek. Mereka harus dilibatkan dalam acara, mulai awal hingga akhir. Sehingga ada proses transformasi kesadaran bahwa acara tersebut bukan milik panitia, tapi milik mereka. Mereka tampil menjadi subjek (pelaku).  Salah satu kunci kemasan yang menarik adalah dengan menindih ikon aktivitas budaya pop: bermain, bersenang-senang, sekaligus ada unsur pemelajarannya. Banyak aksi, tapi dengan tetap memperhatikan substansi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sudah saatnya para stakeholder (toko buku, penerbit, pekerja buku, penulis, pemerintah, perpustakaan pemerintah, forum Taman Bacaan Masyarakat)&lt;br /&gt;dan shareholders (komunitas “nonbuku”, media massa/pers, jurnalis, lembaga pendidikan, perusahaan, keluarga pecinta buku, dan budaya masyarakat)&lt;br /&gt;budaya baca di Kendal unjuk gigi ke publik luas. Unjuk gigi itu dapat ditempatkan sebagai momentum gerakan masif program Kendal Membaca (dan Menulis). Selama ini aktivitas yang sering menyedot perhatian publik Kendal adalah olahraga dan musik. Tidak saja karena keduanya memang dari sononya sudah terkenal, tapi juga karena ditawarkan, dipromosikan dan digelar secara besar-besaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya hal yang sama harus dilakukan pula—untuk mengampanyekan pentingnya aktivitas membaca dan menulis di Kendal. Tanpa itu masifikasi gerakan membaca di Kendal layaknya menjual es di kutub utara sana. Sulit!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-6253702077347111566?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/6253702077347111566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/minat-baca-warga-kendal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6253702077347111566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/6253702077347111566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/08/minat-baca-warga-kendal.html' title='Minat Baca Warga Kendal'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/TFU_5iJVraI/AAAAAAAAAGo/VU9pA-do4gE/s72-c/kendal3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-4081698331406959619</id><published>2010-07-31T15:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:41:10.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Komunitas Literasi 3.0</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku, semula bersifat personal, kini komunal. Para penggila buku berhimpun dalam sebuah komunitas, kelompok, paguyuban, atau apapunlah namanya. Mereka saling berbagi pengalaman membaca, bertukar informasi perihal buku baru, dan lain sebagainya. Kelompok ini biasa disapa dengan sebutan komunitas literasi. Kata komunitas untuk menunjukkan himpunan orang-orang yang disatukan oleh kesamaan hobi dan nilai (value). Sedangkan literasi merujuk pada makna baca tulis (buku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas literasi ini lahir, tumbuh, dan berkembang tidak di lingkungan yang vakum. Siklus dan gaya gerakan mereka senantiasa bertalian dengan aktivitas dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Itu sebab, komunitas literasi mengalami perubahan bentuk dan gaya pula. Akibat dari upaya mengakomodasi, dan imitasi terhadap perubahan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan saya, komunitas literasi telah mengalami tiga kali gelombang pergeseran, jika tidak mau disebut sebagai perubahan. Boleh juga disebut sebagai tiga generasi. Generasi pertama, komunitas literasi yang semata-mata berbasis pada perpustakaan. Kegiatannya melulu meminjam, membaca buku, mengembalikan. Sudah itu saja. Inilah kegiatan paling minimal yang dapat dihelat oleh komunitas literasi generasi pertama (1.0). Karena aktivitasnya bersifat sangat teknis, birokratis, dan formal, menyebabkan sifat keanggotannya memiliki angka turn over (keluar-masuk) tinggi. Aktivisnya selalu gonta-ganti. Keberadaannya sering kali on off. Masih sangat tergantung pada satu ketokohan. Yang biasanya selain menjadi ujung tombak, juga menjadi ujung tombok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas literasi generasi pertama ini masih bisa dijumpai, terutama di desa-desa. Masih terjadi demikian karena memang akibat dari terbatasnya sumber daya, fasilitas, askes informasi, jaringan, dan sarana-prasarana. Komunitas literasi masih sama dengan perpustakaan. Kalau mau kita perluas makna komunitas literasi generasi pertama ini, khususnya dari segi model kegiatannya, maka perpustakaan pemerintah, baik yang berada di kecamatan, kabupaten dan provinsi, jika operasi perpustakaan hanya mendasarkan pada pinjam, baca, mengembalikan, maka perpustakaan yang demikian masih masuk ke dalam kelompok komunitas literasi generasi pertama. Semua aktivitas berjalan dengan sistem temu langsung atau tatap muka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu komunitas literasi generasi pertama. Bagaimana yang kedua (2.0)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas literasi generasi kedua, adalah komunitas baca tulis yang telah memperluas kegiatannya/varian layanannya tidak semata-mata pinjam buku, baca, dan mengembalikan. Ada banyak acara yang digelar untuk menambah efektifitas gerakan pemasyarakatan minat baca. Mulai dari peluncuran dan bedah buku, jumpa penulis, workshop kepenulisan, lomba membacakan buku cerita (read aloud), dan lain sebagainya. Pendek kata, komunitas literasi 2.0 ini telah menyadari betul, buku, meskipun sebagai produk budaya bersifat sangat superior (unggul), sekaligus mulia, tapi jika tidak dipasarkan, atau dipasarkan tapi dengan cara-cara yang kuno (tradisional/lama/inferior) maka tidak ada atau hanya sedikit saja orang yang mau “beli”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varian layanan itu didasarkan pada satu kausa mendasar. Yaitu adanya kesadaran: isi (content-buku) itu penting, tapi belum cukup. Agar menarik konsumen (pengunjung), dan mereka mau membeli (membaca), maka isi tersebut harus dikemas secara menarik (context). Jadi (aktivitas membaca)buku tidak ”dijual” tapi ”dipasarkan.” Maka buku itu harus dipasarkan dengan beragama kegiatan yang mengarah pada mobilisasi massa, populer, dan nyatai tanpa harus kehilangan substansi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini di Indonesia, komunitas literasi yang demikian (generasi kedua ini) telah menjadi kecenderungan umum. Seperti yang bisa kita baca di katalog program World Book Day 2010 Indonesia. Di katalog bertajuk “Kepergok Membaca” yang dikeluarkan oleh Forum Indonesia Membaca tersebut memuat kurang lebih 50 komunitas literasi. Mereka berasal dari beragam daerah: Jakarta, Wonosobo, Muntilan, Serang, Surabaya, Solo, Bandung, Sumedang, hingga Manado. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak bentuk dan strategi memarketingkan budaya baca. Tapi dari sekian banyak siasat itu, mayoritas masih bertemu pada satu lokus yaitu menjadikan buku sebagai pijakan awal gerakan, untuk kemudian dikemas dengan beragam program kreatif. Di dalam komunitas literasi generasi kedua ini, dari segi modus kontak para eksponennya agak sedikit berbeda dengan komunitas literasi generasi pertama. Selain dengan tatap muka (offline), mereka juga melengkapinya dengan model komunikasi maya (online). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, komunitas literasi generasi ketiga (3.0). Komunitas ini memaknai entry  literasi tidak terbatas pada “baca tulis” apalagi “buku” belaka. Lebih luas dari itu. Literasi mereka artikan sebagai kemampuan yang diperlukan oleh seorang atau sebuah komunitas untuk ambil bagian dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan teks dan wacana. Dengan deskripsi yang berbeda: Literasi tidak semata-mata mencakup persoalan membaca dan menulis (performative), namun bergandengan pula dengan aspek lain, seperti ekonomi, politik, hukum, teknologi (fuctional),  serta pendidikan, sejarah, dan gaya hidup (informational-epistic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ciri paling kentara dari komunitas literasi generasi ketiga ini adalah dijadikan ikon budaya pop (musik, nonton, jalan-jalan, bermian, film, fotografi, internet, game online, animasi, ngobrol) sebagai titik pijak gerakan. Semuanya bisa digerakkan secara online. Artinya sesama eksponennya tidak harus atau wajib bertatap muka langsung. Dan nampaknya ke depan, komunitas literasi generasi ketiga inilah yang bakal mendominasi. Baik dari segi kelahirannya (munculnya komunitas baru), magnet perhatian publik, maupun publikasi aktivitasnya.♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-4081698331406959619?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/4081698331406959619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/komunitas-literasi-30.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4081698331406959619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/4081698331406959619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/komunitas-literasi-30.html' title='Komunitas Literasi 3.0'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-7077419407877092825</id><published>2010-07-31T15:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:42:05.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>Membangun Budaya Baca</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya baca. Frase itu sering kita dengar dan baca saat kita berbicara atau mendaras tulisan bertema “membaca.” Ada satu istilah lagi yang tak kalah sering kita dengar/baca, yaitu “minat baca”. Kedua frase itu memiliki intensitas makna yang berbeda. Lantas di mana letak perbedaannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh bacaan saya tentang keberaksaraan, minat baca maknanya lebih bersifat datar, sekadar menggambarkan tingkat ketertarikan seseorang (bangsa) terhadap teks, tidak harus buku. Yang penting teks, medianya bisa macam-macam: buku, koran, majalah, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan budaya baca, adalah suatu kondisi dimana aktivitas membaca sudah/belum menjadi bagian yang lekat dan mengikat kehidupan sehari-hari seseorang. Pendek kata, untuk seseorang yang sudah memiliki budaya baca tinggi, buatnya tiada hari tanpa membaca! Dan rujukan teks yang dibaca biasanya buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada judul artikel ini ”Membangun Budaya Baca”. Jika “budaya baca” kita sepakati sebagai satu lema (entry), maka ada dua lema dalam tajuk tersebut: “membangun”, dan “budaya Baca”. Tentu saja, meskipun tanpa ada kata “tinggi” yang mengikuti lema budaya baca, saya yakin 100 persen, pembaca mengerti arah dari frase itu, yaitu ”Budaya Baca (yang) Tinggi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas timbul tanda tanya lagi, apa ukuran suatu masyarakat/bangsa dikatakan memiliki budaya baca yang tinggi? Siapa (institusi) yang paling berhak (kompeten) mengukur tingkat minat suatu bangsa? Bagaimana cara mengukurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini ditulis bukan untuk tujuan menjelaskan secara khusus ukuran-ukuran yang  biasa dipakai untuk mengategorikan level budaya baca seseorang/masyarakat. Atau perdebatan yang terjadi mengenai acuan-acuan tersebut. Meski demikian, ada satu ukuran yang, jika belum diterima sepenuhnya, paling tidak telah dijadikan ukuran tingkat budaya baca di mayoritas negara. Yaitu jumlah judul buku baru yang diterbitkan per tahun per satu juta penduduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data terkini, dengan penduduk 225 juta setiap tahun, Indonesia baru bisa menghasilkan 8.000 judul buku. Artinya di Indonesia, 35 judul buku baru per satu juta penduduk. Dari angka itu, kita tidak bisa mengelak, budaya baca bangsa Indonesia masing rendah. Karena tergolong di rerata negara berkembang, ukuran paling minimal (sedang) adalah 55 judul buku baru per satu juta penduduk.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertalian dengan lema pertama judul artikel ini: “membangun” maka, menurut saya, ada dua pihak penting yang memiliki peran dan keharusan  membangun budaya baca (buku). Pertama Pemerintah. Baik yang berada di daerah (kabupaten/kota dan propinsi), maupun pusat. Wujud peranannya berupa aturan atau regulasi (undang-undang, kepres, perda, dan lain-lain yang sejenis dengan itu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya (kita?) bukan pemerintah, juga tidak (sedang) mewakili pemerintah, maka pembicaraan tentang peran pemerintah saya cukupkan sampai di sini. Kita beralih ke pihak yang memiliki peran penting membangun budaya baca berikutnya yaitu masyarakat. Untuk memudahkan membaca peta partisipasi, masyarakat ini saya pecah menjadi beberapa bagian, yaitu penerbit, penulis, distributor, toko buku, pers (jurnalis), dan individu. Karena sebagian besar dari kita—adalah individu, yang bukan penerbit, distributor buku, dan jurnalis maka saya lebih tertarik untuk meneruskan artikel ini dengan pertanyaan: peran apa yang bisa kita (sebagai individu maupun kelompok individu) mainkan untuk membangun budaya baca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Mendiknas M. Nuh mengatakan bahwa minat baca masyarakat kita di sementara golongan tinggi. Hanya saja tingginya kesadaran membaca itu tidak ditransfer ke golongan masyarakat lain yang minat bacanya masih rendah. Kalaupun ada jumlahnya masih sangat kecil/minimal, sehingga hasilnya tidak siknifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari sangkaan Pak Menteri yang menurut saya sangat layak untuk diperdebatkan, taruhlah kita yang rajin membaca koran ini adalah golongan yang dikatakan pak Nuh sebagai golongan yang berminat baca tinggi, maka sudah selayaknyalah kita membagi kesadaran pentingnya aktivitas membaca itu kepada khalayak yang lebih luas. Caranya? Salah satunya adalah dengan berjejaring membentuk komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang komunitas ini, pertengahan April lalu, secara khusus saya diminta menyunting teks katalog program World Book Day Indonesia 2010 yang dirayakan di Pasar Festival dan Museum Mandiri, Jakarta. Katalog tersebut selain berisi rangkaian acara, terutama adalah memuat profil beragam komunitas literasi. Ada sekitar 50 (lima puluh) komunitas literasi tersurat di katalog tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana komunitas dapat diartikan sebagai kumpulan atau himpunan sekelompok orang yang peduli satu sama lain lebih dari yang semestinya. Biasanya mereka dipersatukan oleh kesamaan kepentingan, hobi, dan nilai. Sedangkan literasi secara mudah bisa kita maknai sebagai tingkat kemampuan (minat) seseorang berelasi dengan dunia teks (buku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di katalog tersebut, ada komunitas yang aktivitas keaksaraannya masih terbatas pada kemampuan teknis mengenal huruf, ada yang sudah mulai meningkat ke fungsional (membaca buku berkaitan dengan aktivitas/pekerjaan), ada pula yang sudah tiba pada kemampuan tertinggi, membaca sebagai aktivitas wajib dalam setiap jelujur waktu hidup sehari-hari (sudah menjadi budaya/gaya hidup).     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik, khas, dan beda. Simpulan itu yang saya dapatkan saat menekuni lembar demi lembar profil komunitas (jejaring) literasi yang terhimpun di katalog tersebut. Ada banyak komunitas yang strategi gerakannya melalui “jalan melingkar”. Untuk sampai pada aktivitas membaca sebagai bagian dari hidup (budaya baca) mereka menjadikan hobi dan kesenangan—dua penanda utama budaya pop—sebagai pintu masuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar menyebut contoh, ada komunitas nonton film (Indo-Startrek), komunitas penggemar foto 3 dimensi (Stereofoto-ID), komunitas role play (rp) game online berbasis tek (IndoHogwarts), komunitas ngobrol berbahasa Inggris (BritZone English Club),  dan komunitas FOSCA (Forum of Scientist Teenagers). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpul akhir saya, tingginya budaya menonton dan bicara, sudah tidak relevan lagi dipakai sebagai biang kerok rendahnya minat baca buku. Mengingat keduanya bisa “ditindih” untuk membangun budaya baca. Kuncinya hanya satu: berjejaringlah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-7077419407877092825?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/7077419407877092825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/membangun-budaya-baca.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7077419407877092825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/7077419407877092825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/membangun-budaya-baca.html' title='Membangun Budaya Baca'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-161778934308906446</id><published>2010-07-31T15:54:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T08:43:06.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESEI LITERASI'/><title type='text'>TBM @ Mall</title><content type='html'>&lt;span class="full post"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;: agus m. irkham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Mei lalu, di Balai Belajar Bersama City of Tomorrow (CiTo) Surabaya untuk kali kedua, Mendiknas  Mohammad Nuh meresmikan Taman Bacaan di Mal (TBM@Mall, baca TBM at Mall). Sebelumnya TBM@Mall dibuka di Jakarta, Serang, dan Makassar. Pembukaan TBM di mal ini bertujuan mendorong minat baca pengunjung mal, yang mayoritas remaja. Asal tahu saja, skor minat baca remaja Indonesia saat ini adalah 393 atau di bawah rata-rata negara-negara anggota OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development), yakni 492. Padahal skor Korea mencapai 556 dan Hong Kong-China 536.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehadiran TBM@Mall diharapkan akan memperluas minat baca masyarakat. Sehingga mereka bukan hanya datang ke mal untuk belanja atau mencari hiburan, melainkan mencari ilmu, informasi, serta mengembangkan karakter serta jiwa wirausaha melalui beragam bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sasaran utamanya adalah remaja, diharapkan TBM@Mall tidak melulu menyiadakan buku bacaan, tapi juga berderet varian layanan lainnya, misalnya (bisa nonton) film, berselancar di dunia maya (internet), pelatihan, dan cafe. Dengan begitu paling tidak TBM bisa menjadi alternatif tempat anak-anak muda nongkrong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini menjadi bagian dari target Kemdiknas di tahun 2010, yaitu membuka 561 TBM, yang terdiri atas 23 TBM@Mall, dua TBM di rumah sakit, 36 TBM di Balai Belajar Bersama (TBM di ruang publik yang bukan di mal), 50 TBM untuk daerah terpencil guna mengantisipasi putus sekolah (peningkatan minat baca), dan 450 TBM keaksaraan (rumah singgah dan panti-panti sosial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal prakarsa TBM@mall disosialisasikan ke publik, muncul banyak keberatan. Di antaranya menganggap program ini tidak pro rakyat kecil. Daripada digunakan membuat dan membiayai TBM di mal bukankah lebih baik digunakan untuk membuka TBM di pasar tradisional, di pesantren, di masjid, dan lain-lain tempat yang lebih mewakili kebutuhan mayoritas khalayak. Begitu dalih pihak yang kontra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalih terebut tidak salah, meskipun tidak seluruhnya benar. Karena Kemdiknas secara simultan juga membuka TBM di luar mal. Bahkan dari segi jumlah, jauh di atas TBM yang didirikan di mal. Tak terkecuali pula dari segi anggaran. Untuk program TBM@Mall, dalam setahun pemerintah hanya menyediakan uang sebesar Rp70.000.000 per TBM. Tentu dalam hitung-hitungan matematika ekonomi manapun uang segitu tidak akan cukup. Untuk sewa tempat, rekening listrik, dan kebersihan saja besar kemungkinan kurang. Dan memang pada akhirnya demi kesuksesan program ini, pengelola menggandeng pihak swasta dan pemerintah daerah (propinsi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna filosofis&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan filosofis yang patut dipahami mengapa TBM@Mall ini diluncurkan. Pertama, mal sekarang ini telah menjadi tempat tetirah banyak orang. Tidak saja bagi mereka yang termasuk ke dalam kelas menengah (secara ekonomi dan pendidikan), tapi juga kelas rendah. Tidak pula memandang asal daerah (desa-kota), gender (laki-perempuan), usia (anak-muda-tua). Semua lumer dalam kesibukan aktivitas di mal. Merayakan kegembiraan di mal adalah hak setiap warga negara. Begitu kira-kira kalimat mudahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan adanya TBM di mal, diharapkan ada internalisasi kesadaran yang kurang lebih sama. Yaitu membaca (buku) adalah hak setiap warga negara. Tidak peduli kaya miskin, muda tua, semua berhak mendapatkan kemudahan akses bacaan. Tiap warga negara memiliki kesempatan membaca dan memaknai apa yang baca itu. Dan yang diharapkan dari pemaknaan itu akan meningkatkan pula pemahaman terhadap situasi kehidupan, sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya. Baik secara sosial maupun ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mal identik dengan aktivitas membeli (konsumsi), terutama barang guna memenuhi kebutuhan fisik. Dan aktivitas tersebut dilakukan dengan segenap rasa suka cita. Secara tidak langsung, mal juga menjadi ukuran identifikasi golongan menengah (mapan). Dengan kata lain, saat seseorang pulang dari mal, citra diri dan gengsi diri meningkat. Tingkat penghargaan terhadap diri menaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari titik itu, pintu makna filosofis yang kedua, kehadiran TBM di mal bisa dimasuki. Kehadiran aktivitas membaca (buku) di mal sama penting dan menggembirakannya dengan belanja di mal. Kesejajaran posisi itu yang hendak disasar. Membaca buku ada adalah aktivitas yang bergengsi. Membaca buku tidak identik dengan kacamata tebal, kuper, tidak gaul, terasing, dan membosankan. Yang kemudian berlangsung adalah 2 in 1 (two in one). Dua jenis belanjaan dapat dilakukan dalam satu tempat. Belanja barang untuk pemenuhan kebutuhan fisik, dan belanja (membaca) buku untuk pemenuhan kebutuhan otak dan hati. Dan keduanya tidak lagi ditempatkan dalam posisi saling menegasi. Tapi saling melengkapi. Simbiosis mutualisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang&lt;br /&gt;Secara khusus, Semarang (representasi dari Jawa Tengah) sebenarnya telah ”dipesan” oleh Mendiknas untuk dibuka pula TBM@Mall. Amanah itu dalam beberapa kesempatan telah saya konsultasikan dengan beberapa pihak terkait. Menyangkut siapa yang dipandang mampu menjadi pengelolanya. Baik satu lembaga tertentu maupun konsorsium. Dari segi tempat, saya juga sudah sempat survei, dan DP Mall menjadi tempat yang saya andalkan. Karena berada di lokasi yang sangat setrategis. Terletak di bilangan perkantoran pemerintah, bisnis serta lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, karena kendala (terutama) komunikasi, serta ketiadaan lembaga pengelola yang memenuhi syarat (legal, kapabel, dan kredibel), amanah itu harus saya kembalikan lagi ke Pak Menteri. Sayang sekali memang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7956494316217857873-161778934308906446?l=kubukubuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kubukubuku.blogspot.com/feeds/161778934308906446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/tbm-mall.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/161778934308906446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7956494316217857873/posts/default/161778934308906446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kubukubuku.blogspot.com/2010/07/tbm-mall.html' title='TBM @ Mall'/><author><name>Agus M. Irkham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06201888426012687882</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/ShK4CdQ41WI/AAAAAAAAAEY/NDudkRnLi0Q/S220/irkham.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7956494316217857873.post-148749219148643020</id><published>2010-03-08T16:43:00.000-08:00</published><updated>2011-04-03T08:43:59.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='RESENSI BUKU'/><title type='text'>Melongok Politik Perberasan Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/S5WaejxQZJI/AAAAAAAAAGg/PhxBD-PwilI/s1600-h/cover+POLITIK+BERAS(2).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dgUlEqr5QKQ/S5WaejxQZJI/AAAAAAAAAGg/PhxBD-PwilI/s320/cover+POLITIK+BERAS(2).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446429174163072146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="full post"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : &lt;br /&gt;Politik Beras dan Beras Politik&lt;br /&gt;Penulis :  &lt;br /&gt;Purbayu Budi Santosa&lt;br /&gt;Penerbit : &lt;br /&gt;Badan Penerbit Universitas Diponegoro&lt;br /&gt;Tebal :  &lt;br /&gt;xxviii + 289 hlm&lt;br /&gt;Cetakan I : &lt;br /&gt;Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Pengurangan kemiskinan harus dengan program &lt;br /&gt;yang menyentuh langsung mereka yang terjerat kemiskinan. &lt;br /&gt;Sayang, tidak 1 persen pun dari 20 miliar dollar AS &lt;br /&gt;dana Bank Dunia yang mengalir ke kredit mikro.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;—Muhammad Yunus—&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda yang sangat kentara bagi hadirnya modernisme akhir (baca: kapitalisme lanjut) adalah pergeseran pola konsumsi dan produksi. Konsumsi yang semula berdasarkan kebutuhan atau nilai guna, bergeser pada nilai tanda (baca: gengsi). Sementara pada sektor produksi, tidak lagi melulu berkutat pada competitive advantage, tapi telah bergeser pada produksi citra (image). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi dan produksi kini melaju pada satu titik: hiperealitas. Istilah yang digunakan Baudrillard untuk menjelaskan keadaan runtuhnya realitas, yang diambil oleh rekayasa model-model (citraan, halunisasi, simulasi), yang dianggap lebih nyata dari realitas sendiri, sehingga perbedaan antara keduanya menjadi kabur (Yasraf, 2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bingkai ekonomi, hiperealitas tersebut adalah economic bumble.  Kondisi perekonomian yang merujuk pada kondisi besar di luar, tapi kosong di dalam. Apa yang terlihat dari luar, sungguh berbeda dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi di dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jejak praksis ”ekonomi balon udara” dalam ranah mikro berekonomi—konsumsi—adalah kebijakan pangan (baca: perberasan) di Indonesia&lt;br /&gt;Keinginan pemerintah untuk mengendalikan inflasi—sebagai ukuran kestabilan ekonomi makro—menjadi single digit membuahkan kebijakan: impor beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga beras di luar negeri memang lebih murah—akibat pengusahaan yang efisien—ketimbang harga di dalam negeri. Tapi bukan berarti hal ini menjadi ayat pembenaran impor. Karena impor yang terus menerus akan berbahaya. Terjadinya peningkatan impor hanya akan memicu kenaikan harga beras internasional. Karena dalam jangka panjang semakin besar ketergantungan terhadap impor, harapan untuk memperoleh pasokan beras murah justru tidak terjamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impor hanya relevan untuk mengendalikan harga dalam jangka pendek. Bukan malah dijadikan salah satu instrumen politis demi memperolah kesan (citra) bahwa pemerintah mampu meraih swasembada pangan (beras). Atau minimal disangka mampu mencipta dan menjaga kestabilan ketersediaan beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stok beras yang diperdagangkan di pasaran dunia hanya 11-12 juta ton per tahun. Atau sekitar 5 persen dari total produksi global. Indonesia jumlah penduduknya besar dan pengeluaran untuk beras sekitar 25 persen dari pendapatan rumah tangga. Sangat riskan jika Indonesia mengandalkan pasokan beras dari pasar internasional. Penekanan terhadap harga kebutuhan pokok (pangan murah), terutama pangan (beras) melalui impor justru menjadi langkah balik komitmen pemerintah merevitalisasi pertanian dan mengangkat hidup petani.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan pangan murah (cheap food policy) selama ini menggunakan instrumen operasi pasar. Alasannya berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1999, sebagian besar (76 persen) rumah tangga adalah konsumen beras  dan hanya 24 persen sisanya produsen beras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perkotaan, konsumen beras sekitar 96 persen atau hanya empat persen saja yang merupakan produsen beras. Di pedesaan, konsumen beras sekitar 60 persen atau hanya 40 persen penduduk desa yang merupakan produsen beras. Implikasinya setiap kenaikan 10 persen harga beras, akan menurunkan daya beli masyarakat perkotaan sebesar 8,6 persen dan masyarakat pedesaan sebesar 1,7 persen atau dapat “menciptakan” dua juta orang miskin baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi Petani Indonesia&lt;br /&gt;Bagaimana sebenarnya memahami politik perberasan di Indonesia? B
